
Queen menganggukkan kepalanya kemudian berterimakasih, dan melangkahkan kakinya perlahan mendekati Varo.
Dia berdiri tepat di hadapan pria yang tengah tenggelam dalam tidur lelapnya itu, dengan tatapan yang sulit diartikan.
Namun kalian salah besar, jika mengira Queen akan membangunkan Varo. Queen hanya memandangi wajah Varo selama beberapa menit, seolah itu adalah kali terakhir dia dapat melihat wajah itu.
Dan setelahnya, Queen melangkah pergi meninggalkan Varo di sana.
Dia menaiki mobilnya setelah sempat menengok kembali ke arah Varo yang masih tertidur pulas, "Jalan, pak!"
Beberapa jam pun berlalu, sejak kepergian Queen dari sana.
Plak!
Varo terbangun, karena gigitan nyamuk-nyamuk nakal itu. Dia duduk dan melihat ke sekelilingnya.
Varo mengerutkan keningnya kemudian menatap jam di pergelangan tangannya, "Sial! Kenapa aku bisa ketiduran?!"
Dia segera bangkit dan berlari ke arah security yang kini sudah berganti orang, karena pergantian jam kerja.
"Maaf pak, apa bu Queen sudah pulang?" tanyanya.
Security itu menganggukan kepalanya, "Iya mas, sudah sejak tadi perusahaan kosong." Meski ia tidak tau kapan Queen keluar dari perusahaan, namun dia sudah memastikan jika perusahaan sudah dalam keadaan kosong.
"Shitt!" Varo mengumpat kesal dalam hati, sembari menghampiri motornya.
Dia menghidupkan mesin motor itu dan mulai melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan area perusahaan.
Sebenarnya dia masih tak ingin menyerah untuk menemui Queensa, namun hari yang sudah terlampau malam, membuat dia tak dapat mewujudkan keinginannya itu hari ini.
Varo menghela nafas panjang, "Besok pagi buta, gue bakalan ke rumah Queen dan nungguin di sana sampai dia keluar rumah." Tekadnya.
*
Keesokan paginya, Varo bangun dari tidurnya saat ayam jantan baru saja berkokok. Tidak seperti dia yang biasanya selalu bangun kesiangan.
Varo bergegas pergi, tanpa sepengetahuan ketiga sahabatnya. Dia benar-benar akan menunggu Queen di depan rumahnya, sampai gadis pujaan hatinya itu keluar.
"Gue nggak mau kehilangan lo, Queen. Gue cinta sama lo, dan itu bukan sekedar cinta monyet." Varo melajukan motornya dengab kecepatan tinggi, agar dia lebih cepat sampai di kediaman Queensa.
Dan hanya butuh beberapa puluh menit bagi Varo, untuk sampai di rumah Queen. Tentu saja karena hari yang memang masih sangat pagi, sehingga jalanan kota yang biasanya selalu padat merayap itu, masih sangat lengang dan terkesan sepi.
Dia berhenti tak jauh dari gerbang kediaman Queen, karena dia tau jika dia tak akan diizinkan masuk seperti sebelumya, jika dia meminta izin pada security.
Sehingga dia lebih memilih untuk menunggu dengan duduk di atas motornya, sambil memandangi lantai atas kediaman Abraham, berharap salah satu jendela balkon itu terbuka dan memperlihatkan sosok gadis cantik, yang sangat dia rindukan.
Detik demi detik terus berlalu, hingga menit berganti dengan hitungan jam. Varo sedikit gusar, karena sejak tadi tak ada tanda-tanda orang keluar masuk ke rumah itu.
"Kenapa dia belum keluar juga ya?" Varo menatap ke arah jam tangannya, "Udah jam 10, seharusnya dia udah keluar buat kerja dari tadi. Tapi kenapa dia belum keluar?"
Tak kuasa menahan diri, Varo pun melangkah menghampiri security yang berjaga di rumah besar itu.
"Maaf pak, apa bu Queen ada di rumah?"
"Kamu lagi?" Security itu terlihat menghela nafas panjang, "Bu Queen sudah berangkat."
Varo menautkan alisnya. Berangkat? Kapan? Tapi, bagaimana bisa? Dia berada di sana sejak jam lima pagi, tapi dia belum melihat satu mobil pun keluar dari kediaman itu.
"Saya sudah nunggu sejak jam lima pagi tadi, pak. Tapi saya nggak lihat ada orang keluar masuk rumah ini, kapan Queen berangkat?"
Sontak saja Varo semakin mengerutkan keningnya, "Semalam? Dia pergi kerja malam-malam?" tanya Varo dengan tidak percaya.
"Bukan kerja, tapi non Queensa sudah berangkat ke luar negeri tadi malam."
Duar!
Seolah ada petir besar yang menyambar di siang bolong yang sangat panas itu, Varo pun terdiam tanpa kata.
Pikirannya berkecamuk dan terus saja saling melontarkan berbagai spekulasi, yang selalu berakhir pada satu muara yang sama. Queen pergi meninggalkannya.
Namun Varo masih berusaha untuk berpikir positif, "Berangkat ke luar negeri? Apa dia ke sana untuk urusan pekerjaan, pak?"
Ya, itulah alasan yang paling masuk akal dengan kepergian Queensa yang begitu mendadak, menurut pandangannya.
Setidaknya, kalau memang Queen pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis dan pekerjaan, dia pasti akan kembali dalam beberapa hari. Paling lama mungkin satu minggu.
Meskipun satu minggu itu adalah waktu yang sangat lama bagi Varo untuk menunggu, tapi setidaknya itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Namun sayangnya, security itu memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan harapan Varo.
"Non Queen pergi ke luar negeri untuk sekolah. Katanya dia akan tinggal dan melanjutkan kuliahnya di sana."
Blar!
Kilatan kenyataan yang begitu pahit dan mengejutkan, kembalu membuat Varo terdiam. Tubuhnya meluruh hingga terduduk di atas tanah, dengan tangan yang menutupi wajahnya.
Sontak saja, security itu terkejut dan berusaha menyuruh Varo untuk berdiri, "Mas. Masnya kenapa? Jangan duduk di situ mas, kotor!" ujarnya pada Varo, namun Varo masih tetap terduduk dengan wajah yang bersembunyi di balik kedua telapak tangannya.
"Aaaarrrrggghhh!" Tiba-tiba saja Varo menjerit sekuat tenaga, dengan kepala yang menengadah ke langit.
Tentu saja hal itu membuat sang security terkejut, "Mas, tolong jangan berisik. Pak Mario sedang sakit, nanti beliau terganggu. Lebih baik anda pergi, sekarang."
Bukan bermaksud untuk tidak berperasaan, tapi dia hanya menjalankan tugasnya sebagai penjaga keamanan di kediaman Abraham.
"Kenapa Queen? Kenapa?"
Bukan bermaksud untuk tidak berperasaan, tapi dia hanya menjalankan tugasnya sebagai penjaga keamanan di kediaman Abraham.
"Kenapa Queen? Kenapa?" Tanpa terasa, air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
Varo berjalan gontai menyusuri jalanan. Dia bahkan meninggalkan motornya di sana, di tempat dia menunggu sang pujaan hati yang ternyata sudah pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata perpisahan pun terucap.
Langit yang mulanya cerah, perlahan berubah. Awan putih perlahan berubah menjadi mendung yang menaung.
Hingga akhirnya tetes air mata langit yang pertama jatuh ke bumi, di susul oleh tetes-tetes berikutnya.
Varo yang sedang dalam fase lelah hayati pun, duduk di trotoar dengan kepala yang menengadah pada langit.
Senyum miris tampak jelas terlukis di wajah tampannya, yang kini tengah menggambarkan kesedihan yang mendalam.
"Bahkan langit aja tau se sakit apa hati gue, Queen. Kenapa lo tega ninggalin gue kayak gini? Harus se keras apalagi usaha gue buat dapetin maaf dari lo, Queen?"
...Season 1 TAMAT!!!...
...Yang mau tau kelanjutannya, tunggu season duanya ya.😁...