
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Tugas kalian untuk minggu ini adalah melakukan riset lapangan. Satu kelompok terdiri dari dua orang, dan kelompoknya sudah saya tentukan. Alana dan Selena, Rebecca dan Alvin, Maria satu kelompok dengan Marisa, ... , ... , dan yang terakhir Sasa dan Alvaro."
"What!?" ingin sekali rasanya Queensa berdiri dan menari reog saat itu juga. Kesal sekali rasanya mengetahui dirinya harus satu kelompok dengan orang yang paling ingin dia hindari.
"Ibu harap kamu tidak keberatan Sasa. Ibu sengaja membuat kamu satu kelompok dengan Varo, supaya kamu bisa membimbing dia. Karena ibu yakin kamu pasti bisa, membuat nilai Varo naik dan tidak lagi mendapatkan telur angsa setiap kali mendapatkan tugas."
Queen pun menghela nafas pasrah, sambil melirik jengah pada Varo yang tampak acuh tak acuh.
"Lo yang dapet telur angsa, kenapa jadi gue yang harus ikut susah?!" batin Queensa dengan rasa dongkol.
Tiba-tiba saja Varo menoleh ke arah Queen dan melihat mulut Queen yang tengah komat-kamit baca mantra.
Atau lebih tepatnya komat-kamit mengumpati nasib buruknya, yang sepertinya selalu sambung menyambung menjadi satu, setelah dirinya bertemu dengan Varo.
Benar-benar kesialan yang tak ada habis-habisnya.
"Jangan jelek-jelekin gue!" ucap Varo yang membuat Queensa seketika saja melongo.
Bagaimana mungkin Varo tau jika dia sedang mengumpat dalam hati. Apa mungkin dia punya kemampuan membaca pikiran?
Seolah mengerti dengan arti tatapan Queensa, Varo pun kembali berkata, "Gue bukan paranormal, cuma semua yang pengen lo ucapin udah tertulis jelas di muka lo yang abstrak itu."
Seenteng itu dia menghina wajahnya abstrak, memang dia pikir wajah Queensa itu lukisan!?
Mungkin itulah yang di maksud pepatah dengan mulut berbisa, bahkan kalimat sesingkat itu saja yang keluar dari mulut Varo, rasanya sudah mempu membuat lawan bicaranya mati berdiri karena kesal.
Dan memang benar jika lidah manusia itu bahkan lebih tajam daripada pisau belati, dan sekarang Queen mengerti arti kata pepatah lama itu setelah dirinya bertemu dengan seorang Alvaro Graham.
"Makasih pujiannya." Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari mulut Queensa, itupun dengan senyum kaku yang sangat ia paksakan.
"Sama-sama." Jawab Varo dengan santainya tanpa ada sedikitpun rasa bersalah yang tergambar di wajah tampannya itu.
Semakin kesal lah Queen mendengar jawaban yang terdengar santai itu meluncur keluar dari mulut Varo, "Kalo lo emang nggak mau senyum, ya jangan senyum. Ngeri, tau nggak sih? Kayak senyum psychopath!"
Ucapan Varo itu auto membuat Queensa sangat ingin menyumpah serapahi manusia minus akhlak itu, dan Alana yang sedari tadi mendengar perbincangan keduanya pun akhirnya menyela karena dia tau jika Queensa sudah terlampau emosi saat ini.
"Ehem! Hey cupu, lo mau tukeran kelompok sama gue? Biar si Varo sama Selena aja, terus lo sama gue."
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...