Queensa

Queensa
Queensa "77"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


"Jangan senyum kalo nggak pengen senyum, jatuhnya horor senyum lo," ujar Varo dengan datar, namun justru terdengar begitu menyebalkan dan nampolable banget di telinga Queensa.


"Ha ha ha. Sangat lucu sekali bukan? Bikin jadi gemes," Queen mengepalkan erat tangannya, "Gemes pengen nampol!" sambungnya dalam hati.


Varo pun mulai mengerjakan soal yang Queensa berikan padanya dengan sungguh-sungguh, seolah dia benar-benar serius untuk belajar. Setidaknya itulah yang Queensa tangkap, dari Varo yang terlihat serius dengan lembar soalnya.


Beberapa menit kemudian, Varo sudah menyelesaikan semua soal yang Queen tulis di kertas itu.


Dia dengan bangganya memberikan lembar kertas soal yang sudah dia beri jawaban itu pada Queen, dan terlihat yakin dengan jawaban yang dia tulis tadi.


"Cepet juga." Queen menerima lembar soal itu dan mulai memeriksanya.


Alis Queen tampak bertaut saat melihat jawaban yang Varo sematkan, pada setiap soal yang dia buat. Sesaat kemudian, Queen tampak mengalihkan pandangannya pada Varo dan tersenyum.


Varo yang merasa yakin jika jawabannya benar semua itu, membusungkan dadanya seolah mengatakan jika dialah Alvaro Graham, cucu dari Albert Einstein yang IQnya di atas rata-rata.


Dia menaik turunkan alisnya menatap Queen seolah tengah berkata, gimana gue pinter kan?


Sontak saja Queensa langsung menyambar kantong plastik bertuliskan indoapril (nama disamarkan, takut dikira numpang iklan) bekas belanjaan itu dan menggunakannya untuk menutupi kepala Varo hingga leher.


Queen menjewer kedua telinga Varo, dan membuat si empunya mengaduh kesakitan juga terdengar sangat marah karenanya.


Mendengar kata meninggoy yang berarti mati alias is dead bin ko'id binti roh flying in the sky itu, Queen pun segera melepaskan kantong plastik itu dari kepala Varo.


Varo segera meraup udara dengan kasar, karena dia hampir kehabisan nafas gara-gara Queen yang menjadikan kantong plastik itu sebagai topeng kepala dadakan.


Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Varo pun mengumpati Queensa. "Lo apa-apaan sih? Berani banget lo kurang ajar sama gue, lagian salah gue apa anjir?!"


Queen menghela nafas panjang, sebelum dia akan memulai kultum dadakan juga ultimatum dan khotbah yang akan dia sampaikan pada makhluk tak berakhlak ini, entah berapa lama.


"Kamu itu salah banget. Ini jawaban macam apa? Kenapa jawaban kamu bisa kayak gini, satupun nggak ada yang bener!" gerutu Queen.


"Masa sih? Biasanya jurus andalan gue, walaupun satu pasti ada yang nyantol." Dengan sangat percaya diri, Varo justru membongkar sendiri bagaimana cara dia menjawab semua soal yang sudah susah payah Queensa buat untuknya itu.


"Jadi kamu tadi pakai ajian pamungkas ya?" tanya Queen dengan gigi yang bergemelatuk menahan tangannya yang sudah tidak tahan lagi untuk menguncir mulut menyebalkan Varo itu, "Terus kenapa tadi kamu harus sok-sokan serius begitu, kalau ternyata cuma pakai ajian pemungkas!?" geram Queen.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...