
Varo sangat kesal, karena merasa hal itu sangatlah mengganggu. Dia berjalan dan menyambar dengan kasar, ponsel yang dia letakkan di atas nakas.
Namun, bukannya segera menekan tombol hijau dan menerima panggilan telepon itu, Varo justru menekan tombol merah.
Bahkan hal itu tak hanya terjadi satu atau dua kali, melainkan sampai lima kali.
Hingga akhirnya, tak ada lagi telepon masuk ke ponselnya. Namun sebuah notifikasi pesan masuk pun, terdengar.
Kita ketemu di taman xx, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Penting.
Varo tampak bergumam sambil mengetikkan pesan balasan, yang hanya bertuliskan satu huruf saja yaitu "Y".
Dia berdiri dan menyambar hoodie miliknya, kemudian melangkah keluar dari kamar, menuruni satu persatu anak tangga dengab suara langkah kaki yang terdengar menggema.
Suara itu, membuat perhatian para pria tampan yang tengah sibuk bermain catur itu, teralihkan pada Varo.
"Woy, Al. Lo mau kemana?" tanya Alana yang tak mendapatkan jawaban apa pun, dari Varo.
Varo bahkan tak menoleh ke arah mereka sedikit pun. Dia terus berjalan melewati mereka bertiga, seolah menganggap kalau ke tiga temannya itu adalah makhluk astral, alias makhluk gaib yang tidak kasat mata.
Adam bergumam, "Itu si Al kenapa dah? Aneh banget."
Alvin menoyor kepala Adam dan berkata, "Lo lupa? Si Al kan lagi ada masalah sama si cupu. Eh Queensa maksud gue," ujar Alvin yang langsung memandang Alana saat dirinya teringat sesuatu, "Tunggu deh Lan, bukannya si Queensa Queensa itu cewek lo ya? Lo kan pernah kenalin dia ke kita, waktu kita lagi meeting di cafe hari itu."
"Lah hooh, gue baru inget." Adam yang juga baru teringat akan hal itu pun, kini ikut menatap tajam ke arah Alana, "Jadi selama ini lo udah tau kalau Sasa itu, Queensa?"
Alana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ya gue emang kenalin dia ke kalian, tapi gue kan nggak pernah bilang sama kalian kalau dia itu cewek gue. Ya kan?"
Adam dan Alvin pun, mencoba mengingat kembali. Apakah benar jika Alana tak pernah mengatakan secara langsung, tentang Queen yang merupakan pacarnya.
"Iya sih... tapi kan waktu itu lo bilang sendiri, di depan mantannya si Silver Queen itu?" tanya Adam.
Alana pun akhirnya menjelaskan jika saat itu, dia hanya berniat menolong Queensa dari magadir yang datang tak diundang dan pulang tak diantar itu.
Alvin yang kini memgerti semuanya pun kembali bertanya, "Jadi selama ini lo tau siapa si Sasa sebenernya, dan lo nggak kasih tau itu ke kita?"
Alana mengangguk pasrah, melihat kedua temannya yang menggelengkan kepala.
"Keterlaluan lo, Lan. Lo kan tau kalau si Al suka sama si Sasa. Tapi kenapa lo nggak kasih tau si Varo, kalau Sasa itu bukan Sasa?!"
Alana tak kuasa menjawab pertanyaan Alvin, dan hanya bisa menunduk lesu, karena dia baru menyadari jika dia sudah melakukan kesalahan yang fatal.
Tapi mau bagaimana lagi? Di satu sisi dia sudah berjanji pada Queensa, untuk tidak mengungkapkan jati dirinya di depan siapa pun, yang tentu saja itu juga berlaku untuk Adam, Alvin dan juga Varo.
"Wah bener-bener lo ya, Lan. Kura-kura dalam perahu, alias pura-pura tidak tau!" ujar Adam sambil melirik sinis ke arah Alana, yang masih setia untuk bungkam.
Sedangkan kini, Varo tengah dalam perjalanan menuju tempat yang dia dan Queensa sepakati, untuk menjadi tempat pertemuan mereka.
Namun di tengah jalan, suara dering ponsel Varo membuatnya menepikan motornya sejenak, untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Nomor siapa nih?" gumam Varo yang sedikit penasaran, karena nomor itu mengirimkan sebuah foto padanya. "Foto apaan sih ini?" Varo membuka pesan itu dan mengamati foto itu dengan seksama.
Dan seketika ia menyadari siapa yang ada di foto itu, tangannya mengepal erat hingga buku-buku tangannya memutih. Giginya bergemelatuk dengan mata yang memancarkan aura membunuh yang begitu kentara.
Varo memasukkan kembali ponselnya dan melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Dia membelah jalan raya yang ramai lancar itu, hingga membuatnya mendapatkan makian dari para pengendara lainnya.
Namun tentu saja itu tak berpengaruh sama sekali untuk seorang Alvaro Graham, yang tengah dalam kondisi marah besar.
Dia terus memutar gasnya dengan gila, benar-benar gambaran nyata dari pepetah yang mengatakan, seperti orang yang sedang kebakaran jenggot.
Karena mengemudi dengan kecepatan layaknya pembalap, Varo pun sampai di tempat tujuan lebih cepat dari yang seharusnya.
Namun untungnya, Queen memang sejak awal sudah berada di sana. Tepatnya setelah dia pulang dari mansion Varo, dia langsung menuju ke tempat itu dan yakin jika Varo pasti akan datang.
"Var, kamu udah dateng?" sapa Queen yang berniat untuk sedikit berbasa-basi dengan Varo, yang baru saja sampai.
Namun Varo justru menjawabnya dengan ketus, "Lo nggak buta kan? Lo udah liat sendiri, jadi ngapain pake nanya?"
Queen ingin sekali marah. Namun mengingat niat awalnya yang ingin meminta maaf, dia pun sebisa mungkin menahan amarahnya.
"Var, aku..."
Belum juga sempat Queen menyelesaikan ucapannya, Varo sudah lebih dulu menyela, "Stop! Sebelum itu gue mau nanya sama lo." Varo mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pada Queen.
Queen membelalakkan matanya saat melihat foto di ponsel Varo itu, "Ini..."
"Kenapa? Lo kaget? Atau lo ngerasa makin bersalah?" tanya Varo sambil tersenyum sinis pada Queensa.
Queen kehabisan kata-kata, pasalnya foto yang terpampang di layar ponsel Varo itu, tidak lain adalah foto saat dirinya dan Dominic tengah bersama.
Dan lebih parahnya lagi, foto itu di ambil dari sudut yang dapat membuat orang salah paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Dari sudut di mana foto itu di ambil, membuat Queen dan Dominic tampak tengah berciuman.
"Tunggu dulu, Al. Ini nggak kayak yang kamu kira kok. Aku sama dia tuh bukan..."
"Bullshit!"
Queen terkejut mendengar Varo yang berteriak ke arahnya. Dan sebagai seorang keturunan Abraham, Queen adalah orang yang pantang untuk dibentak oleh sembarang orang.
"Lo mau bilang apa, hah?! Mau bilang kalau dia itu bukan siapa-siapa lo? Atau lo mau bilang kalau foto setingan?!"
Queen menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miris ke arah Varo. Awalnya dia pikir Varo adalah sosok yang berbeda, tapi nyatanya dia sama saja seperti pria lain yang pernah mendekatinya.
Dalam hati Queen kini mulai menolak keras, niat awalnya untuk meminta maaf pada Varo.