Queensa

Queensa
Queensa "120"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Varo pun menghela nafas lega setelah yakin jika orang itu adalah Queensa, "Ngapain sih lo pake begituan, Micin? Bikin gue jantungan aja lo, untung gue nggak ko'id gara-gara kaget!" gerutu Varo dengan kesal.


"Ya siapa suruh telepon di waktu yang nggak tepat, aku kan emang lagi pakai masker."


Queen memposisikan ponselnya sedemikian rupa, agar hanya wajahnya saja yang terlihat. Karena semua siswa di sekolah barunya termasuk Varo, mengira Sasa alias Queensa adalah orang miskin. Jadi jika dia melihat bagaimana penampakan kamar Queensa, tentu saja itu akan membuat Varo curiga.


Queen memilih merebahkan dirinya, sehingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Dia menunggu Varo memulai curhat alias curahan hatinya yang entah apa itu.


"Gue mau curhat sama lo tentang Mila."


Queen mengerutkan dahinya. Dia bahkan tak mengenal siapa itu Mila, dan kenapa Varo malah curhat tentang gadis bernama Mila itu.


Namun akhirnya Queen pun ingat dengan kencan antara Varo dan gadis itu, yang membuat dirinya kelelahan.


"Ooh... jadi nama cewek itu, Mila?" gumam Queen sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Queen pun menunggu Varo kembali melanjutkan ceritanya. Apa jangan-jangan pernyataan cinta Varo di tolak oleh gadis bernama Mila itu? Queen yang memang belum tau hasil dari kencan Varo pun, menjadi penasaran dibuatnya.


"Dia marah sama gue."


Queen menautkan alisnya. Marah? Marah kenapa?


Varo mengehela nafas panjang, sesaat sebelum dia melanjutkan curhatannya pada Queensa.


"Tadi gue makan bareng dia, tapi pas dia ajak gue ngobrol gue malah ngelamun dan nggak dengerin apa yang dia omongin."


"Ya terus dia marah. Dia ninggalin gue di cafe terus pulang naik taksi."


"Nggak kamu kejar?"


"Tadinya gue mau kejar dia, tapi malah gue yang dikejar. Dikejar-kejar sama orang gila, sampe gue harus ngumpet di bak sampah!" ujar Varo dengan kesalnya saat kembali mengingat moment bak sampah itu.


Tentu saja hal itu membuat Queensa langsung tertawa terbahak-bahak, tanpa bisa mengendalikannya. Padahal raut wajah Varo sudah benar-benar tak enak dilihat, seolah dia bisa membunuh seseorang hanya dengan tatapan matanya saja.


Queen yang menyadari hal itu pun, sebisa mungkin menahan tawanya dan menunggu Varo melanjutkan kembali ceritanya yang tadi tertunda karena tawa menggelegar Queensa.


"Terus tadi habis gue mandi, gue telepon dia tapi teleponnya malah sibuk terus. Apa mungkin dia berusaha ngehindarin gue, ya?"


"Mungkin iya, tapi mungkin juga enggak. Bisa aja kan dia emang lagi ada telepon penting."


Varo mencerna ucapan Queensa, dan menganggukkan kepalanya seolah baru saja mendapatkan pencerahan dari Queensa.


Tadi karena pikirannya sedang runyam dia memang hanya berpikir jika Mila sengaja membuat teleponnya sibuk, untuk menghindar darinya. Tapi setelah pikirannya kini sedikit tenang, dia pun membenarkan ucapan Queensa.


Mungkin saja Mila memang sedang menerima panggilan penting dari seseorang, hingga membuat teleponnya sibuk dalam waktu yang cukup lama.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...