
Tatapan yang membuat sosok imut seorang Varo yang tadi sempat terlihat, kini hilang seketika seolah menguar bersama janji-janji si dia yang tak pernah menjadi nyata.
"Adamson Bellagio!!! Dasar juragan minyak wangi sialan! Berani-beraninya lo ngerjain gue hah!? Lo belum pernah di tampol ama banci?!" Varo yang kesal pun memanggil Adam dengan nama kecilnya, nama yang tidak semua orang ketahui karena suatu alasan.
Adam menghela nafas panjang, "Jangan panggil gue pake nama itu, Al." Adam yang biasanya tak pernah serius dalam menanggapi sesuatu, kini menatap Varo dengan wajah datar dan begitu serius.
Yang tentu saja itu membuat Varo merasa tak enak hati, karena sudah menyentil luka lama Adam yang sudah susah payah dia tutupi dari semua orang, selain mereka bertiga yang merupakan sahabat karibnya, tentu saja.
Varo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Sorry Dam, sorry. Gue kelepasan. Lagian lo sih pake bercanda, gue kan lagi serius butuh saran dari lo."
Adam mengangguk pelan, "Apa yang si Queen bilang itu belum tentu bener. Mungkin aja dia cuma mau cari alasan aja, buat bikin lo itu nyerah ngejar dia." Adam menatap lekat mata Varo, "So, lo tau kan apa yang harus lo lakuin sekarang?" tanyanya.
Varo terdiam sejenak untuk meresapi ucapan Adam, dan kemudian dia menganggukkan kepalanya setelah dia tau apa yang harus dia lakukan saat ini.
Varo bergegas turun dari ranjangnya dan menyambar ponsel serta jaket miliknya.
Tak lupa dia juga mengucapkan terimakasih pada trio somplak, terutama Adam yang sudah membantunya memecahkan masalah percintaannya.
Varo mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, dan tempat yang akan ia tuju adalah sirkuit, yaitu tempat dimana foto Queen bersama pria itu dimbil.
Darimana Varo mengetahuinya? Tentu saja karena foto itu diambil dari jarak jauh, yang masih memperlihatkan tempat duduk untuk penonton.
Dan jika digabungkan dengan profesi Queen yang merupakan seorang pembalap, tentu saja tempat itu adalah sirkuit.
"Queen, siapa pun lo dan apa pun yang terjadi, lo cuma milik gue. Selama gue masih hidup, gue nggak akan biarin orang lain buat milikin lo," tekad Varo sembari menambah kecepatan motornya, agar ia segera sampai ke sirkuit.
Dia sangat berharap, jika sesampainya ia disana, dia bisa bertemu dengan sang pujaan hati atau setidaknya dia bisa mendapatkan informasi tentang siapa pria yang ada di foto itu bersama dengan Queensa.
*
"Jadi maksud lo, cowok yang ada di foto ini beneran calon suaminya Queen?" tanya Varo yang entah sudah keberapa kalinya ia tanyakan.
Lea yang sudah bosan mendengar pertanyaan yang sama dari mulut Varo pun hanya bisa menghela nafas jengah, lalu mengangguk mengiyakan.
Dia sudah menceritakan apa yang dia ketahui dan juga praduganya yang menganggap jika calon istri yang Dominic maksud, memang adalah Queensa.
Terlebih setelah ia mendengar pernyataan Varo yang menanyakan apakah pria di foto itu, benar-benar adalah calon suami Queen, seperti yang Queen katakan.
"Lo udah nanya ke gue dari tadi. Sekarang giliran gue yang nanya ke lo. Sebenernya lo itu siapa? Gue belum pernah liat lo sebelumnya, lo temennya Queen?"
Varo menggeleng keras, "Bukan, aku bukan temannya tapi calon suami masa depannya." Tanpa menunggu jawaban dari Lea, yang terkejut atas pernyataan Varo tentang siapa dirinya, Vari bergegas meninggalkan tempat itu.
Dia kesal karena tak mendapatkan info apa pun, tentang pria di dalam foto itu. Sehingga dia pun berpikir untuk menyewa seorang detektif swasta, untuk membantunya menyelidiki identitas dan latar belakang Dominic.
Untungnya dia sudah mendapatkan alamat tempat tinggal Queensa, dari Alana. Sehingga kini dia tau tempat yang harus dia tuju untuk bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
*
"Saya Varo pak, saya cari Queensa. Queensanya ada?"
Security itu tampak berpikir sejenak dan kemudian menggelengkan kepalanya, lalu ia meminta Varo untuk segera pergi dari sana.
Varo yang kehabisan akal pun, memilih untuk pulang ke base camp A4 untuk berbagi beban pikirannya lagi bersama trio somplak.
Sepanjang perjalanan, Varo terus saja mengumpati kebodohannya yang dengan begitu mudahnya percaya pada sebuah foto, dan bahkan secara tidak langsung sudah menuduh Queen adalah wanita murahan.
*
Keesokan paginya, telepon Varo berdering menandakan adanya telepon masuk dari seseorang.
Dengan malas, Varo meraih ponselnya itu. Bagaimana tidak malas, dia tak mendapatkan kabar baik tentang Queensa sampai hari ini.
"Halo," sapa Varo tanpa melihat siapa penelepon itu.
Namun sesaat kemudian, Varo tampak meraup kasar wajahnya lalu meletakkan ponselnya dengan kesal.
Telepon itu berasal dari detektif swasta yang dia sewa. Orang itu mengabarkan jika yang dia dapat hanyalah nama pria itu, Dominic. Hanya itu dan tidak ada yang lainnya.
Tentu saja Varo kesal, karena nama itu dia juga sudah tau. Tapi apa mau dikata? Detektif itu mengatakan jika segala informasi tentang Dominic tidak dapat diakses, seolah ada sosok kuat di belakangnya yang melindungi data dirinya.
Varo yang kesal memilih untuk berjalan-jalan di taman dekat sana, agar setidaknya suasana hatinya dapat sedikit membaik.
Terlebih ketiga sahabatnya, saat ini tengah pergi ke danau xx untuk memancing. Dan memancing, adalah sesuatu yang paling tidak Varo sukai. Karena itulah, dia memilih untuk tetap di base camp.
Varo menghela nafas panjang, "Queen... apalagi yang harus gue lakuin sekarang?"
Hingha suara berat yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang, membuat Varo terkejut dan berbalik.
"Saya dengar anda sedang mencari saya, apa itu benar?" tanya pria yang tidak lain adalah Dominic.
Varo mengerutkan keningnya, karena dia tak merasa mengenali orang di hadapannya itu, apalagi mencarinya.
Dominic yang seolah mengerti arti dari tatapan Varo pun memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan, nama saya Dominic." Dom tersenyum ramah pada Varo, "Sekarang anda mengenal siapa saya, bukan?"
Varo membulatkan matanya, saat dia mendengar nama yang membuatnya kalut setengah mati, akhir-akhir ini.
Varo menerima uluran tangan Dom dan berkata, "Jadi lo cowok yang di foto itu? Orang yang Queen akuin sebagai calon suami?" tanya Varo dengan senyum sinis, sambil melihat Dom dari atas ke bawah lalu ke atas lagi seperti mesin scan, "Cih! Masa iya selera Queen kek gini? Ganteng sih, tapi tua!" batin Varo yang merasa jika dirinya lebih baik daripada Dominic.
Dom tersenyum manis kemudian menganggukkan kepalanya, "Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya sambil menunjuk ke arah taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, "Di sana."
Varo yang juga memiliki banyak hal untuk dibicarakan dengan Dominic pun, tentu saja menyetujui permintaan Dominic tanpa pikir panjang.