
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Apa jangan-jangan ini?!" Sebenarnya Queen tak mau berburuk sangka. Tapi apa mau dikata, kalau yang dia curigai memang adalah orang yang sangat patut untuk dicurigai.
Siapa lagi kalau bukan ibu tirinya? Yap, nenek sihir tanpa tongkat sakti itu, adalah orang pertama yang Queen curigai menjadi penyebab penyakit lama ayahnya kembali kambuh.
Karena jika itu masalah perusahaan, sudah pasti beritanya akan tersebar sampai kemana-mana. Tapi saat ini belum ada sama sekali kabar buruk tentang perusahaannya, sehingga kecurigaan itu semakin mengerucut pada satu orang itu saja.
Tanpa menghentikan laju kendaraannya, Queen menelepon Dion untuk memberitahu kakaknya itu tentang kondisi ayah mereka.
"Halo Queen, gue baru aja mau telepon lo. Bokap masuk rumah sakit, kita harus kesana secepatnya."
Queen menghela nafas berat. Berat memang, sangat berat. Meski Queen sudah merasa kehilangan sosok ayahnya sejak kedatangan ibu tirinya, namun untuk kehilangan ayahnya secara nyata, tentunya dia tidak akan pernah siap.
"Gue juga udah tau bang, ini gue lagi perjalanan ke rumah sakit. Tadinya gue mau kasih tau lo, tapi ternyata lo udah tau."
"Jadi lo lagi sambil bawa motor?" tanya Dion.
Tak ingin berlama-lama, Queen mematikan sambungan telepon itu befitu saja. Dia kembali melajukan motor tuanya dengan kecepatan penuh, walaupun rasanya sama saja, karena tetap saja lajunya terasa sangat lambat.
Di tempat lain...
Seorang pria paruh baya, tampak tengah terbaring lemah diatas ranjang pasien, dengan segala alat medis yang melekat di beberapa bagian tubuhnya.
Dan di ujung ruangan itu, tepatnya di sebuah sofa panjang, tampak seorang wanita paruh baya tengah sibuk dengan ponselnya.
Bahkan seutas senyum justru terukir diwajahnya, saat dia mencuri pandang kearah ranjang sang suami.
"Tinggal satu langkah lagi, dan tujuanku akan tercapai." Kirana, tersenyum simpul sembari memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas.
Dan tak berselang lama, terdengar suara pintu yang terbuka. Membuat Kirana dengan sengaja mencubit pahanya dengan cukup keras, hingga membuatnya meneteskan air mata.
Tentu saja itu adalah air mata, yang akan menyempurnakan aktingnya di depan kedua anak tirinya itu.
Benar, yang baru saja masuk ke dalam ruangan rawat itu adalah Queen dan Dion. Mereka tampak tak memperdulikan Kirana sama sekali, bahkan untuk sekedar melirik ke arah wanita itu saja, mereka tidak sudi.
"Sialan!" umpat Kirana dalam hati, karena usahanya sama sekali tak membuahkan hasil. Bahkan justru membuatnya merasa sangat terhina, "Tunggu saja bocah ingusan. Akan kubuat kalian menyesal sudah menghinaku!" batinnya.
Dia berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya, agar tak meluap keluar dan membuat rencananya gagal total.
"Ayah." Queen menggenggam tangan ayahnya dan sebisa mungkin menahan bulir bening yang terus memaksa untuk keluar dari persembunyiannya.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...