Queensa

Queensa
Promo karya baru



Hai hai hai everyone


Author mau kasih tau nih, kalo author punya buku baru. Judulnya "99 Days With You"



"Masih ingat jalan pulang rupanya? Ayah pikir kamu sudah lupa kalau kamu punya rumah."


Kata-kata itu membuat gadis cantik bernama Zevanya Baby Moreo itu tersenyum miris, kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap sang Ayah dengan tatapan acuh.


"Ternyata Ayah masih ingat kalau Baby ini anak Ayah? Baby kira Ayah udah lupa," ucap Baby yang memutar balikkan perkataan sang Ayah, dengan nada mencemooh.


Plak!


Baby menyentuh pipinya yang yang baru saja mendapat tamparan keras dari sang Ayah, dengan senyum getir. Sudut bibirnya robek, hingga mengeluarkan darah. Terbayang seberapa keras tamparan itu, bukan?


Namun tidak seperti layaknya seorang gadis yang akan menangis tersedu saat mendapatkan perlakuan semacam itu, Baby justru terkekeh dan menatap sang Ayah dengan tatapan meremehkan.


"Terimakasih untuk tanda cinta anda, tuan Moreo." Baby mengurungkan niatnya untuk tidur di rumah malam ini dan memilih pergi dari tempat yang hanya membuatnya muak itu.


Sesaat setelah bayangan menyakitkan itu lenyap, Baby terkejut dan menekan rem tangannya kuat-kuat. Tapi karena dia memaksa motor yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi itu untuk berhenti, ban belakang motornya sampai terangkat layaknya seorang freestyler yang tengah beraksi.


Netra hazel itu membulat sempurna, dan beradu tatap dengan sepasang mata biru setajam pedang yang memancarkan aura dingin di hadapannya.


Bagi Baby, dunia seolah berhenti berputar saat itu. Rasanya, semua makhluk di dunia ini menghilang begitu saja dan hanya menyisakan mereka berdua.


Sampai akhirnya, tatapan mereka terputus saat pemuda tampan itu menunduk untuk mengambil kembali topi miliknya yang terjatuh akibat insiden tadi.


"Sorry," ucap Baby dengan sungguh-sungguh.


Pria itu menatap Baby sekilas dan berlalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Tak ingin membuang waktu, Baby kembali melajukan motornya menuju sekolah yang jaraknya tinggal beberapa puluh meter lagi.


Dia menghentikan motornya dan menitipkan kuda besinya itu di warung makan langganannya, karena dia harus masuk ke sekolah dengan cara yang unik. Yaitu memanjat tembok.


Baby berdecak kesal dalam hati, "Gara-gara semalem nggak bisa tidur, gue jadi kesiangan!"


Tanpa berlama-lama lagi Baby mulai memanjat tembok sekolahnya yang memang tidak terlalu tinggi. Beruntungnya, hari ini Baby mengenakan seragam olahraga, sehingga dia bisa dengan mudah memanjat tembok itu dan masuk ke dalam sekolah.


Sebelum melompat turun, Baby memastikan keadaan sekelilingnya. Dan ternyata, guru yang biasa berjaga di depan gerbang masih ada di sana.


Di saat yang sama, seorang siswa berseragam putih abu-abu tampak berjalan santai melewati gerbang sekolahnya. Namun guru yang berjaga, tentu saja langsung menghentikan langkah siswa itu.


"Kamu terlambat. Siapa namamu?" Sang guru langsung melepaskan topi hitam milik siswa itu, "Kamu anak baru?" tanyanya sesaat, setelah dia melihat bet sekolah lain yang terpasang di seragam siswa itu.


Mata Baby membola, "Dia?!"


Saking kagetnya, Baby sampai kehilangan keseimbangan dan dia pun terjatuh dari atas tembok, hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Tentu saja suara itu menarik perhatian sang guru.


"Baby!"


Mendengar namanya disebut, Baby hanya bisa menatap guru itu sambil memamerkan senyum lima jarinya. Tapi percayalah, meski bibirnya tersenyum tapi hatinya tak henti melontarkan sumpah serapah.


Dengan langkah gontai, Baby berjalan menghampir sang guru.


Sebelum melangkah pergi, Baby sempat melirik sekilas ke belakang. Dia cukup terkejut saat mengetahui jika orang yang hampir dia tabrak, ternyata adalah siswa baru di sekolahnya.


Sesampainya di kelas, Baby sudah di sambut oleh empat orang temannya yang seolah tau apa yang baru saja dia alami.


"Nih," ucap Ichi yang merupakan salah satu temannya, sambil mengulurkan selembar kertas padanya.


Baby mengerutkan keningnya, "Apaan nih?"


"Bukannya lo di suruh buat surat koreksi diri?"


"Makasih Ichi! Lo emang temen gue yang paling pengertian, love you sekebon lah pokoknya." Baby tanpa ragu memeluk Ichi, membuat tiga temannya yang lain terkekeh.


Mereka berlima memang adalah teman baik, tidak perduli di sekolah maupun di luar sekolah. Lambang mahkota hitam di bagian belakang jaket yang mereka kenakan, adalah salah satu alasannya.


Kings, itulah nama geng mereka. Sebuah geng motor, dengan puluhan orang yang tergabung di dalamnya. Dan mereka berlima merupakan pentolan dari Kings, terlebih lagi Baby yang merupakan wakil ketua dari Kings.


Singkat cerita, saat ini Baby dan seluruh teman satu kelasnya, sudah berada di lapangan tengah. Berbagai macam alat olahraga tampak sudah siap, karena kebetulan hari ini guru olahraga mereka berhalangan hadir.


Ichi menepuk pundak Baby yang tampak tengah melamun, "Woy! Main basket yuk."


Baby mengangguk dan mulai bermain basket. Meskipun Baby adalah perempuan, tapi dia juga tidak terlalu buruk dalam permainan bola basket. Dia bahkan mampu mengimbangi permainan teman-temannya yang notabene adalah pria.


Tapi di tengah permainan, Baby tiba-tiba saja berhenti dan berjalan cepat meninggalkan lapangan.


"Loh loh loh, itu si Baby mau kemana?"


Ichi hanya mengangkat bahunya sambil berkata, "Mungkin kebelet." Mereka pun kembali melanjutkan permainan mereka, tanpa Baby.


Sedangkan Baby terus berjalan cepat menghampiri seseorang.


"Dor!" seru Baby sembari menepuk bahu orang itu dari belakang.


Tapi tampaknya, pria itu sama sekali tidak terkejut. Dia justru menoleh pada Baby, dengan ekspresi wajah yang sama. Tapi meskipun ekspresi wajahnya terkesan datar, namun tatapan matanya tetap menyiratkan aura dingin yang kuat.


"Hai, kita ketemu lagi." Baby mengulurkan tangannya pada pria itu, "Nama gue Baby, nama lo siapa?"


Satu detik, dua detik, hingga lima detik pun berlalu. Namun uluran tangan Baby tak kunjung mendapat sambutan, sampai akhirnya Baby melirik kearah name tag yang tersemat di seragam pria di hadapannya itu.


"Argantara, keren juga. Btw, lo pindahan dari sekolah mana?"


Lagi, pria bernama Argantara itu hanya diam tanpa berniat menanggapi pertanyaan Baby dan memilih untuk melanjutkan langkahnya. Tapi tentu saja, Baby tidak akan menyerah semudah itu. Dia terus mengikuti langkah Argan sambil bicara tanpa henti.


"Gue minta maaf ya, soal yang tadi pagi."


Argan menatap Baby dan pintu di depannya secara bergantian, membuat Baby ikut mengalihkan pandangannya ke arah pintu itu. Melihat papan bertuliskan 'Toilet laki-laki' di depan pintu itu, auto membuat Baby tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Argan melangkah masuk dan mengatakan sesuatu sebelum dia menutup pintunya, "Menjauhlah dariku, aku terlalu berbahaya untukmu."


Baby terdiam sesaat, namun kemudian seulas senyum tersungging di wajahnya. Sikap misterius Argan, justru membuat Baby semakin penasaran. Entah kenapa, tiba-tiba saja muncul keinginan yang kuat dalam hati Baby untuk mendapatkan Argan.


Baby tersenyum tipis sambil berkata dalam hati, "Menjauh? Nggak akan. Dalam kamus gue, larangan adalah perintah!"