Queensa

Queensa
Queensa "264"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Renata terdiam cukup lama. Dia meresapi semua ucapan Queen, dan dia sangat-sangat mengerti keputusan yang diambil Queensa adalah keputusan yang sangat berat.


Bahkan jika orang itu bukan Queen, Renata yakin jika orang itu pasti tidak akan melepaskannya, apalagi masih mau menanggung biaya hidup dan juga pendidikannya.


"Tidak, kau tidak salah. Keputusanmu juga tidak salah, bahkan kau sudah terlalu baik padaku. Aku terima keputusanmu, dan terimakasih, kak." Renata balik menatap Queen dengan mata sendu, "Aku masih boleh menganggapmu sebagai kakakku, kan?"


Mendengar pertanyaan yang sulit itu membuat Queen terdiam cukup lama, "Itu hakmu. Tapi aku mau atau tidak menganggapmu sebagai adikku, itu tetap menjadi hakku."


Renata menganggukkan kepalanya, kemudian meminta izin untuk membereskan barang-barangnya. Karena dia harus pergi secepatnya, dari rumah itu.


Saat Renata sampai di ambang pintu, Queen berkata tanpa menolehkan kepalanya ke arah Renata, "Tapi mungkin saja, waktu akan sanggup menghapus rasa benciku padamu, Renata. Keberangkatanmu akan di urus oleh asistenku. Sampai berjumpa lagi, Renata."


Renata tersenyum manis, saat mendengar ucapan perpisahan yang Queen berikan. Mungkin itu terdengar sangat tidak ramah bagi orang lain, tapi itu justru terdengar begitu indah di telinganya.


Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, Queen baru menoleh ke arah pintu kamarnya dengan tatapan yang sulit diartikan, "Semoga saja, saat kita bertemu lagi suatu hari nanti, sudah tidak ada lagi dendam dihatiku,"


Ketukan di pintu yang tiba-tiba terdengar, bersamaan dengan suara seseorang yang memanggil-manggil namanya, membuat Queen membuyarkan lamunannya.


Tok... Tok... Tok...


"Queen! Lo itu siap-siap mau ke rumah sakit, apa mau kondangan? Lama amat!" seru Dion yang sudah kesal, karena dia menunggu Queensa selama satu jam.


"Iya iya, udah kelar kok ini." Queen menyahut sembari berdiri dan melangkah menghampiri pintu kamarnya.


Cklak!


Pintu terbuka, dan menampakkan Dion dengan wajah kusut yang sudah mengalahkan kusutnya baju yang lupa disetrika.


Queen berjalan melewati Dion begitu saja sembari berkata, "Ya ampun, timbang nungguin gue beberapa menit aja manyun lo. Giliran nungguin gebetan buat respon lo yang lagi usaha PDKT aja betah banget."


Mendengar ucapan adik tercintanya itu, tentu saja membuat Dion benar-benar kehabisan kata-kata. Beberapa menit dia bilang? Ya memang sih, cuma sekitar 65 menit. Tapi itu sudah tidak layak untuk disebut dengan beberapa menit.


"Untung lo adek gue. Kalo enggak gue cubit juga ginjal lo!" umpat Dion dengan suara pelan, sambil mengangkat kedua tangannya gemas, dengan posisi seolah akan mencubit Queen.


Tanpa disangka, Queen justru menyahut dengan tenangnya, "Gue denger!"


Dion menghela nafas pasrah, karena berdebat dengan Queen sama saja menggali lubang kuburan dan mengubur diri sendiri. Tidak akan pernah bisa menang, dan pilihannya hanya satu, yaitu mengalah.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...