
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Hingga pengkhianatan semua pria yang mendekatinya, begitupula dengan Alana yang menambahkan daftar bekas luka, seorang pria yang menyakiti Queensa bahkan sebelum mereka resmi jadian.
Queen menghela nafas panjang sambil menyambar ponsel yang tergeletak di sampingnya dan membuka aplikasi pesan chat berwarna hijau di ponselnya.
Ada dua pesan yang masuk yang tertampil di sana, yaitu pesan dari Selena dan kakaknya. Entah kenapa, saat hanya melihat ada dua pesan yang masuk, membuat Queen teringat pada sosok yang sudah meminjamkan bahunya sebagau tempat dia menumpahkan tangisnya.
Sosok pria yang berdiri tegap menyambutnya dengan tangan terbuka, berusaha membuatnya meluapkan segala rasa yang mengganjal di hatinya, sosok pria yang perlahan mengubah pandangan Queensa terhadapnya.
"Gue nggak nyangka si biang sial ternyata bisa se perduli itu sama gue. Padahal pas pertama kali ketemu gue, dia kayak anjing liat kucing. Bawaannya mau nyari masalah mulu."
Queen yang tersadar dari kahayalan gilanya karena sudah memikirkan orang yang menempati peringkat pertama, daftar orang yang paling ingin dia hindari itu.
Tapi entah kenapa, semakin Queen berusaha untuk tidak memikirkan pria itu, justri bayang-bayang Varo yang ada saat dia sedang terpuruk justru semakin merajai otaknya, dan bahkan membuatnya melupakan sejenak rasa sakit hati yang Alana torehkan dihatinya.
"Gue harus bilang makasih sama dia, seenggaknya dia itu udah berusaha buat ngehibur gue."
Queen pun mengetikkan pesan singkat ke nomor Varo yang berisikan sebuah ucapan terimakasih, karena Varo sudah meminjamkan bahunya untuk tempat nagi Queen menumpahkan air matanya.
Meskipun biasanya Varo selalu membercandai dan mengejeknya, tapi ternyata dia bisa bersikap bijaksana, pengertian dan dewasa di saat yang tepat.
Di saat yang sama, Varo yang kini masih dalam perjalanan pulang ke basecamp belum mengetahui jika ada pesan masuk dari Queen, karena tadi dia sempat mensilent ponselnya sehingga tak ada notifikasi pesan masuk.
Hingga saat motor yang Varo dan Adam tumpangi, berhenti di depan kediaman yang lebih tepatnya adalah markas mereka itu.
Dengan dibantu oleh Adam dan Alvin, Varo pun masuk ke dalan rumah besar itu dan langsung menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Varo menghela nafas lega saat tubuhnya sudah berbaring dengan nyaman di atas ranjang besar miliknya.
Dan tentu saja lebih nyaman daripada ranjang pasien di rumah sakit, sekalipun ruangan yang dia tempati merupakan sebuah ruangan VIP, tapi tetap saja rumah adalah tempat ternyaman bagi pemiliknya.
Adam dan Alvin pun meninggalkan kamar Varo, menuju kamar Adam untuk bermain game. Mereka menyuruh beristirahat, karena bagaimanapun dia masih dalam masa pemulihan.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...