
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Namun saat Varo baru saja menggulir layar ponselnya untuk mencari kontak Alana, dia mengurungkan niatnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Si Lana pasti udah tewas nih, tadi kan dia bilang dia capek. Lagian percuma juga kalo gue telepon pasti nggak bakalan diangkat juga."
Alana adalah tipe-tipe *****, alias tempel molor dimana dia bisa langsung tertidur hanya dalam waktu singkat jika kepalanya sudah menemukan bantal yang nyaman.
Dan membangunkan Alana adalah bencana terburuk bagi Varo dan ketiga teman lainnya, karena membangunkan Alana itu sangatlah sulit. Mungkin lebih sulit daripada memahami kode-kode keras dari perempuan.
"Dia kan kalo udah tidur kayak mayat!" Varo membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya dan mencoba memejamkan mata.
Namun bayang-bayang momen romantisnya bersama Mila tadi, terus saja membayang-bayanginya dan membuat Varo senyam-senyum seperti orang gila.
Jangankan untuk tidur, bahkan sepertinya untuk berhenti tersenyum saja sulit bagi seorang Varo yang sedang bahagia dengan hati yang berbunga-bunga itu.
*
Sedangkan Queensa kini sedang berada di dalam kamarnya, dan tengah melakukan video call bersama sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Selena.
"Oh My God! Gue masih nggak nyangka kalo lo beneran Queensa, cara makeup lo itu bener-bener the best tau nggak sih." Sudah berkali-kali Selena mengucapkan hal itu, dan selalu saja membuat Queensa gemas dengan tingkah sahabat barunya itu.
"Mau berapa kali lagi lo ngomong kayak gitu, Lena? Gue aja sampe bosen tau nggak." Queen terkekeh geli melihat wajah cemberut Selena, karena dia mengatakan bosan mendengar celotehan Selena yang masih tidak menyangka jika Sasa adalah Queensa dan Queensa adalah Sasa.
"Ada apa?"
"Mau pinjem laptop lo, punya gue lagi ngambek." Dion pun berjalan kearah Queen dan mengambil laptop yang ada di sebelah adiknya itu.
Yang tanpa dia sadari jika hal itu membuat seseorang yang berada tak jauh di sana itu terperangah dengan mulut menganga tidak percaya.
Dan tanpa mengucapkan terimakasih, Dion pun memutar tubuhnya dan keluar dari kamar Queensa untuk kembali ke kamarnya sendiri.
"Dasar aneh, seenggaknya bilang kek terimakasih. Bener-bener abang minus akhlak!" gerutu Queensa sambil kembali mengalihkan fokusnya ke layar ponselnya, namun yang dia dapati justru wajah cengo sahabatnya dengan mulut yang bahkan masih terbuka lebar, selebar pintu neraka.
"Lena," panggil Queen mencoba menyadarkan sahabatnya itu dari lamunannya yang entah apa, namun Selena tetap saja tidak merespon panggilannya sama sekali.
Bahkan sampai di panggil beberapa kali pun, Selena masih tetap setia dengan mode patungnya.
"Woy, Lena! Itu Goa lo tutup, woy! Ntar ada lalat silaturahmi bau tau rasa lo." Lagi dan lagi, Selena masih diam dengan pose yang sama sejak tadi seolah hanya raganya saja yang saat ini berada di sana, tapi tidak dengan jiwanya.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...