
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Varo, gue boleh masuk?" tanya Alvin dengan hati-hati.
Karena saat Varo masuk ke basecamp terlihat jelas jika Varo sedang dalam suasana hati yang buruk.
Mereka juga sudah menduga apa yang membuat Varo seperti ini, namun mereka juga tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Varo dalam hal ini.
Jadi yang mereka bisa hanyalah terus memberikan support pada Varo, dan selalu menjaganya di saat dia sedang bersedih seperti ini.
Karena mereka tak ingin jika Varo mengikuti jejak kakaknya, dan meninggalkan dunia ini dengan cara yang tak bisa mereka bayangkan.
*
Varo pun mengijinkan Alvin untuk masuk, setelah dirinya menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Dia tak ingin memperlihatkan air matanya di depan siapapun, sekalipun itu sahabatnya sendiri.
Alvin ikut duduk di sebelah Varo, sambil melirik lembaran foto di tangan Varo yang sudah dia tau foto siapa itu.
"Lo harusnya bisa ikhlasin kepergian kakak lo, biar dua juga tenang di alam sana. Kalau lo masih terus kayak gini, dia di sana juga pasti bakal khawatir."
Varo tak menjawab ucapan Alvin, namun dalam hati dia juga membenarkan dan setuju dengan ucapan Alvin yang entah sejak kapan mendadak jadi bijak itu.
Dia memang harus berusaha untuk lepas dari belenggu masa lalunya, agar dia bisa menjalani hidupnya kini dan di masa depan dengan lebih baik lagi.
Setidaknya dia harus hidup tanpa bayang-bayang masa lalu yang sudah seperti tali kekang, sesuatu yang membuatnya tak bisa lari bahkan untuk menjauh sedikit saja dari ingatan-ingatan menyakitkan itu, rasanya begitu syulit.
*
Hari yang panjang pun akhirnya terlewati, dan saat ini Queen tengah bersiap pergi ke sekolah seperti biasa. Tentunya dengan dandanan ala-ala jelemanya itu.
"Let's start the day, Queensa. Hari baru suasana baru!" seru Queensa sambil mengepalkan tangannya, menyemangati diri sendiri.
Dengan langkah ringan Queensa menuruni anak tangga, dengan niat untuk segera pergi ke sekolah. Tak ada sedikitpun niatan untuk makam bersama, terbersit di otaknya.
Yups, tentu saja karena ada si nenek lampir dan adik tirinya itu yang selalu bisa membuat mood Queensa yang sedang baik, menjadi ambyar seketika.
Dia menghela nafas panjang sebelum berpamitan dengan ayahnya, meski tanpa menoleh ke arah sang ayah yang berada di meja makan, tentunya bersama mak lampir itu. "Queen berangkat dulu yah. Mau sarapan di sekolahan aja."
Melihat Queen yang berlalu begitu saja tanpa menoleh ke arahnya, membuat Mario hanya bisa menghela nafas panjang sambil menatap kepergian anak bungsunya itu.
Dan sesaat kemudian giliran Dion yang malah melakukan hal yang sama dengan sang adik, namun dengan alasan yang berbeda.
Dia masih merasa patah hati, dan berniat pergi bersama teman-temannya untuk sekedar menjernihkan otak dan hatinya.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...