
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Beliau mengatakan jika Varo memang mengalami benturan yang keras di bagian kepalanya dan menyebabkan gegar otak ringan, namun hal itu tak mungkin sampai berakibat fatal hingga membuat Varo stress seperti apa yang Adam dan Alvin khawatirkan.
"Gue bener-bener nggak ngerti gimana jalan pikiran si Varo. Secara nih ya, dia udah punya cewek secantik Mila, tapi dia malah mau main serong sama si cupu? Ya... walaupun gue nggak terlalu suka juga sih sama si Mila, soalnya keliatannya dia nggak tulus sama si Varo."
Adam dan Alvin masih saling melempar pandang, sambil terus menatap pada Varo yang masih melamun sejak Queensa pulang bersama Alana tadi.
Bahkan bakso yang Alana belikan saja belum tersentuh olehnya sama sekali, dan tadi saat Adam mencoba membujuk Varo untuk makan, dia hanya menjawab kalau dirinya belum lapar.
Padahal kan tadi dia sendiri yang request menu bakso itu pada Alana, saat ditawari.
Alvin pun berjalan menghampirinya Varo dan menepuk bahunya, membuat Varo terlonjak dan menarik kembali kesadarannya ke alam nyata.
"Nih makan dulu, habis itu lo harus minum obat terus tidur. Biar lo cepet sembuh dan bisa sekolah lagi, lo mau ketemu sama si cupu kan?"
Mendengar perkataan Alvin, Varo pun tersadar jika apa yang Alvin katakan memang benar adanya. Semakin cepat dia keluar dari penjara membosankan itu, semakin cepat pula dia bisa bertemu dengan Queensa di sekolah.
Tapi dia sudah memikirkan rencana agar selama dirinya dirawat di rumah sakit sekalipun, Queen akan datang dan menemaninya di sana. Rencana yang sudah pasti akan berjalan mulus, semulus jalan tol yang tanpa hambatan.
"Iya iya gue makan." Alvin pun menuangkan bakso ke mangkuk yang tadi dia minta pada suster untuk dibawakan ke ruangan itu.
Karena semakin cepat Varo sembuh dan keluar dari rumah sakit, maka mereka juga tidak perlu lagi berada di sana.
Di tempat yang begitu membosankan, tanpa ada wanita dan Play Station yang biasanya selalu menemani mereka menghilangkan kegabutan.
Meskipun di sana mereka juga masih bisa memainkan game online, tapi tetap saja suasana di rumah sakit sangat tidak menyenangkan.
Senyaman apapun ruangan itu, tetap saja itu rumah sakit. Dan rumah tetap adalah tempat paling nyaman bagi mereka, dan basecamp adalah rumah kedua bagi mereka.
Lagipula mereka juga tidak mungkin pergi bersenang-senang seperti biasanya, di saat salah satu teman mereka tengah terbaring tidak berdaya di atas ranjang pasien.
Mereka memang sangat setia kawan, dan benar-benar adalah contoh sahabat sejati. Sosok tanpa ikatan darah yang selalu ada di saat senang maupun susah.
Sosok yang selalu mengulurkan tangan di saat kita terjatuh, dan mengangkat tanga bersama di saat kita bersorak gembira.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...