
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Di sisi lain...
Varo dan teman-temannya yang sudah sampai di lokasi pertemuan mereka dengan sang produser, kini tengah menunggu kedatangan orang yang kemungkinan besar akan membuat nama band mereka melejit jika bisa mencapai sebuah kesepakatan, hari ini.
"Lan, gue penasaran alasan apa yang buat lo sampai bales chat gue kayak semalem? Jangan bilang kalau lo suka sama si micin luar angkasa itu?!" tanya Varo dengan berbisik pada Alana.
Sebenarnya sudah sejak tadi, dia ingin menanyakan hal itu pada Alana.
Seperti kata pepatah, rasa penasaran bisa membunuhmu dan karena itulah Varo tak ingin memendam rasa ingin tau alias penasaran bin keponya itu terlalu lama.
Alhasil dia menanyakan hal itu saat ini, saat Adam dan Alvin tengah asik dengan game online favorit mereka berdua.
"Kalau gue bilang iya, emang lo bakal percaya?"
Alana tampak tenang menjawab pertanyaan Varo, masih sambil fokus pada layar ponselnya yang entah sedang melihat apa di dalam sana.
"No! Gue nggak percaya." Dengan tegas Varo menolak percaya dengan perkiraannya sendiri, benar-benar aneh karena dia sendiri yang menebak tapi dia juga yang menolak percaya dengan begitu tegasnya.
"So, buat apa lo masih nanya? Apa lo cemburu?" goda Alana sambil melirik Varo dengan alis yang dia naik turunkan.
"Big No, Alana! Mata gue masih belum minus apalagi katarak, seenggaknya gue nggak mungkin suka sama cewek micin luar angkasa itu. Udah nama kayak merek micin, penampilan kayak alien... oh my God, bisa sial tujuh turunan gue kalau sampe suka sama dia."
Varo menyilangkan tangannya di depa dada sambil menggelengkan kepalanya, membuat Alana tersenyum penuh arti pada sahabatnya itu.
Apa iya Varo masih akan mengatakan hal seperti itu pada Queensa, atau justru melakukan hal yang sebaliknya.
Tapi sebenarnya Varo bukanlah tipe pria yang menilai seseorang dari penampilan ataupun kastanya, hanya saja dia memang suka berbicara blak-blakan alias tanpa filter sama sekali.
Dan banyak orang yang mengira Varo adalah sosok yang sombong, padahal itu hanya karena mereka yang belum mengenal Varo lebih dekat saja.
Akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu pun datang juga, seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang sangat rapi itu tengah berjalan ke arah meja mereka.
Keempat remaja itu pun berdiri dan mempersilahkan pria paruh baya itu untuk duduk.
Mereka pun memulai meeting kecil-kecilan itu, dan mencari titik temu untuk rencana kerjasama mereka hingga akhirnya sebuah kesepakatan pun tercapai.
"Bisakah kalian tampil di sini untuk membuatku semakin yakin mengontrak band kalian?" tanya pria paruh baya itu.
Keempat pemuda itu pun mengangguk mantap, karena cafe itu juga adalah salah satu cafe milik pria di hadapan mereka jadi mereka tak perlu sungkan.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...