
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Dan tentu saja itu membuatnya terkejut sekaligus salah tingkah, karena bisa-bisanya dia membayangkan wajah Varo di saat crusial seperti itu.
Dominic menatap lekat wajah Queensa, "Kau menyukainya, Queen. Dan aku sudah kalah, bahkan sebelum aku sempat berjuang," ujarnya dengan tatapan yang berubah menjadi teduh.
"Jangan bercanda, Uncle. Bagaimana mungkin aku mencintainya? Dia yang memaksaku menjadi pacarnya, tapi aku kan tidak setuju."
Pletak!
Queen memegangi dahinya dengan bibir yang mengerucut lucu, "Sakit, Uncle. Kenapa kau menyentil jidatku yang cetar membahana ini?"
"Siapa suruh otak cerdasmu ini tidak kau gunakan? Dia bisa memaksakan kehendaknya, tapi kau sangat bisa untuk menolaknya, Baby Queen. Kau adalah bayi kecil paling keras kepala yang pernah ku kenal, tapi bagaimana bisa seorang Queensa Abraham yang selalu membuat kepalaku pusing dengan keras kepalanya ini, bisa kalah dengan paksaan dari seorang pria?"
Queen terdiam mendengar ucapan Dominic.
Dia baru menyadari, jika dia tak sepenuhnya menolak perasaan Varo.
Dominic benar, dia sangat bisa dan sangat mampu untuk menolaknya.
Tapi kenapa dia menolak?
Itu karena dia belum menyadari, jika Varo sudah menerobos dinding hatinya tanpa permisi, dan mengukir namanya di dalam sana.
Terlebih dengan adanya salah satu pepatah lama yang mengatakan jika benci dan cinta memiliki perbedaan yang tipis, setipis kertas tisu.
Dan bukan tidak mungkin, jika selama ini dia masih mengartikan jika perasaannya pada Varo tak lebih dari sekedar dendam, padahal tanpa dia sadari perasaan dendam itu perlahan mulai berubah.
"Kejarlah dia, sebelum kau menyesal." Dengan berat hati Dominic mengatakan hal itu. Padahal dalam hatinya Dominic berkata, "Kejarlah dia sebelum aku tersadar dan menyesali keputusan bodohku untuk melepasmu dan mengubur cintaku, Queen."
Queen melepas pelukannya dan berlari kearah Lea. Dia mengatakan pada Lea untuk memasukkan kembali motornya, yang masih berada di tengah sirkuit.
"Lea aku pergi dulu,"
"Queen tunggu, tadi ada--"
Belum sempat Lea menyelesaikan ucapannya, Queen sudah lebih dulu meninggalkannya sendirian di sana.
Dengan tergopoh-gopoh, Queen keluar dari sana dan melaju dengan kecepatan penuh menggunakan skutiknya.
Tapi saat Lea menolehkan kepalanya, dia terkejut bukan main karena wajah yang sejak tadi dia kagumi dari kejauhan, kini sudah berada tepat di hadapannya.
"Astaga apa aku sudah mati? Kenapa ada malaikat se tampan ini di hadapanku?" gumam Lea dengan suara lirih, namun masih terdengar jelas ditelinga Dominic.
Pletak!
Dominic meyentil jidat Lea dan berkata, "Apa kau baru saja mengataiku malaikat pencabut nyawa, bocah?"
"Hah, mana ada? Aku baru saja memuji ketampananmu, tau!" Lea menyangkal ucapan Dominic, dengan bibir yang mencebik kesal, "Untung saja kamu ganteng, kalau nggak... udah ku sentil balik ginjalmu itu," ujar Lea.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...