Queensa

Queensa
Queensa "200"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Kini Alana berada di depan ruang operasi, dan sudah beberapa jam berlalu sejak para dokter masuk ke dalam sana. Lampu ruang operasi masih menyala hijau, yang menandakan jika para staff medis di dalam sana masih berjuang untuk menyelamatkan sang pasien.


Pikiran Alana benar-benar kalut saat ini, dan dia bahkan baru terpikirkan untuk menghubungi kedua orang tuanya untuk segera datang ke rumah sakit itu.


"Pulanglah segera jika kalian masih menganggapku sebagai anak kalian. Datang ke rumah sakit XX, aku tunggu."


Hanya itu kata yang dia ucapkan saat teleponnya tersambung dengan kedua orang tuanya yang saat ini masih berada di luar kota.


Dan kini Alana kembali memandang cemas ke arah pintu besi itu dengan jantung yang berpacu cepat. Hingga pada akhirnya lampu ruangan itu sudah berubah menjadi merah yang artinya operasi telah selesai.


Pintu itu pun terbuka menampilkan sosok dokter yang tentunya masih lengkap dengan segala atributnya setelah melakukan tindakan operasi, "Dok, bagaiman keadaannya?"


"Operasinya berhasil, dan pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi maaf, karena sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa agar pasien secepatnya sadar, karena jika tidak maka pasien akan dinyatakan koma."


Seperti tersambar petir kematian di siang hari, dunia Alana seolah runtuh seketika itu juga mendengar perkataan sang dokter.


Bagaimana bisa dia tidak syok, setelah sekian lama mereka tak bertemu kini justru mereka dipertemukan dalam keadaan yang begitu tidak menyenangkan sama seperti keadaan saat mereka berpisah dulu.


"Yang sabar ya mas, pasien membutuhkan dukungan penuh dari orang-orang terdekatnya. Beri dia suport agar semangat hidupnya kembali dan pasien bisa segera membuka matanya."


"Boleh mas, tapi setelah pasien di pindahkan ke ruang perawatan." Jawab sang dokter pada Alana dan setelahnya dia pun berpamitan, "Kalau begitu saya permisi dulu ya, mas."


Alana pun menganggukkan kepalanya, dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada sang dokter.


Beberapa menit kemudian, para suster tampak mendorong keluar sebuah brankar dari dalam ruang operasi. Dan Alana pun segera mengikutinya, menatap cemas wajah pucat yang tengah terbaring tidak berdaya di atas brankar itu.


Brankar itu didorong masuk ke dalam sebuah kamar VIP sesuai permintaan Alana, dia menginginkan perawatan terbaik bagi pasien itu tak peduli berapapun biayanya.


Saking paniknya Alana, dia sampai tidak menyadari jika hari sudah sore. Jarum jam yang melingkar di tangannya tampak menunjukkan pukul empat sore.


Dan seharusnya saat ini duo somplak sudah pulang sekolah, atau mungkin sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengunjungi Varo tentunya.


Kini Alana berdiri mematung tepat di sebelah gadis yang tengah berbaring tak berdaya di atas ranjang itu. Dia menggenggam erat tangan gadis itu dan menatap wajah itu dengan ekspresi sendu.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...