Queensa

Queensa
Queensa "284"



Sudah seminggu berlalu, sejak Queen mengambil alih tugas sebagai CEO.


Queen benar-benar sangat sibuk, bahkan pada saat mengikuti tes kenaikan kelas pun, Queen terpaksa meminta jadwal khusus mengandalkan pengaruh pamannya yang merupakan kepala sekolah di tempatnya menuntut ilmu.


Pada saat pembagian rapor, pun hanya Dion yang datang untuk mewakili sang ayah, mengambil rapor Queensa ke sekolah.


Dan tentu saja hal itu membuat Varo kelimpungan untuk kedua kalinya. Entah kenapa firasatnya terus berkata ada hal buruk yang terjadi atau akan terjadi pada Queensa.


Selama seminggu ini, Queen berhasil beradaptasi dengan lingkungan perusahaannya.


Bahkan, orang-orang yang awalnya meragukan kemampuan Queen pun, kini mulai takjub dengan cara Queen menyelesaikan masalah yang ditinggalkan oleh Kirana.


Terlebih, beberapa proyek besar yang sebelumnya sulit untuk mereka dapatkan, Queen justru berhasil mendapatkan semua itu hanya dengan mengandalkan kecerdasannya dalam berbicara.


Karena itu lah, mereka perlahan mulai benar-benar menghormati Queen sebagai pimpinan mereka saat ini. Dan mereka juga mulai percaya pada kata pepatah, seekor harimau tidak akan melahirkan seekor kelinci tak berguna.


"Queen, ini laporan keuangan bulan ini." Alex menyerahkan sebuah dokumen pada Queensa.


Queen menerima dokumen itu dan membacanya dengan teliti.


Alex menatap Queen dengan bimbang, seperti orang yang sedang ragu ingin mengatakan sesuatu. Dan hal itu tak luput dari perhatian Queensa.


Queen meletakkan laporan keuangan itu di atas meja, “Ada apa? Katakan saja."


"Istrinya Pak Gilang datang ke perusahaan, dia bilang ingin bertemu dengan anda. Dia mengamuk di bawah dan mengatakan kalau kamu itu orang yang kurang ajar, karena tega menjebloskan suaminya ke dalam penjara."


Queen mengerutkan keningnya, "Panggil petugas keamanan, jangan sampai wanita gila itu menginjakkan kakinya di tempat ini."


"Baik," ujar Alex yang kemudian berbalik dan hendak melaksanakan perintah Queen.


"Tunggu!" Queen menghentikan langkah Alex dan berkata, "Kalau dia masih terus membuat masalah, panggil polisi dan sewa pengacara. Orang seperti dia itu sesekali perlu diberi peringatan."


Alex mengangguk kemudian turun ke lantai dasar.


Di sana, beberapa petugas keamanan berkumpul dan memegangi seorang wanita yang terus meronta.


"Lepaskan saya! Kalian tidak tau siapa saya!? Saya akan laporkan kalian ke polisi atas dasar penganiayaan!" Wanita bernama Sera yang merupakan istri dari Gilang itu, terus saja memberontak dalam cengkeraman petugas keamanan, "Mana bocah sialan itu! Suruh dia ke sini! Suami saya sudah bertahun-tahun mengabdi di perusahaan ini, tapi balasan yang suami saya dapatkan justru jeruji besi!" Sera semakin histeris, ia sengaja mengatakan hal tidak benar itu, agar citra Queen di depan publik, hancur.


"Sangat kejam pada karyawannya sendiri! Orang kayak gitu nggak pantes jadi pemimpin perusahaan!"


Alex memijit pelan pelipisnya, dia tau kalau wanita gila ini hanya akan semakin menjadi, jika di biarkan begitu saja.


"Maaf bu, tolong pergi dari sini dan jangan mengganggu ketertiban di sini." Alex mencoba untuk bicara baik-baik pada Sera.


Alex terkekeh pelan mendengar umpatan Seta, "Sebaiknya ibu pergi dari sini, sebelum saya memanggil polisi untuk menangkap anda. Atau jangan-jangan... ibu memang sengaja melakukan semua ini agar ibu bisa bersatu dengan suami ibu tercinta, di dalan penjara?"


Sera bungkam. Tentu saja dia tidak ingin berada di dalam penjara. Tujuannya kali ini hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada Queensa.


Karena setelah Gilang ditetapkan sebagai tersangka, semua aset yang telah mereka kumpulkan di sita oleh bank. Dan hal itu membuat Sera tidak bisa lagi berkumpul dengan teman-teman sosialitanya.


"Saya akan pergi setelah saya bertemu dengan bocah ingusan itu!" Sera masih menolak untuk menyerah.


Hingga saat suara ketukan heels, berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.


Queen menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap Sera dengan tatapan tajam yang begitu menusuk, "Saya sudah di sini. Jadi silahkan anda pergi sekarang."


Entah kenapa, Sera merasa terintimidasi dengan tatapan Queensa.


Namun dia berusaha keras menepis perasaan itu. Bagaimana bisa dia takut pada seorang gadis yang bahkan belum lulus SMA? Jadi dia tak memiliki alasan untuk merasa takut.


Lagi pula, ia percaya bahwa Queen tidak akan berani melakukan sesuatu padanya, di depan banyak orang.


"Keluarkan suami saya dari penjara dan cabut semua tuntutan kamu di pengadilan!" seru Sera.


Queen menyunggingkan senyum miring, “Dan atas dasar apa saya harus menuruti perkataan anda?"


Sera mengerutkan keningnya, "Orang yang kamu penjarakan itu adalah suami saya! Selama ini dia sudah mengabdi pada perusahaan ini. Seharusnya kamu itu tau balas budi! Kalau kamu penjarakan suami saya, bagaimana nasib saya dan anak-anak saya?! Kamu harus pikirkan semua itu."


"Sshhh!" Queen meletakkan jari telunjuknya di bibir, "Pertama, saya tidak seakrab itu dengan kalian. Kedua, suami anda tidak benar-benar tulus mengabdi pada ayah saya. Dan yang ketiga, kalau bukan karena suami anda yang bersekongkol dengan Kirana dan orang itu untuk mencelakakan ayah saya, sampai beliau hampir meninggal, apa suami anda bahkan bisa berada di perusahaan ini dengan jabatan yang tinggi?"


Queen terkekeh pelan, "Fitnah, pencemaran nama baik, mengganggu ketertiban umum dan..." Queen melirik beberapa vas bunga yang sudah pecah dan berserakan di lantai, "Merusak properti pribadi. Alex, panggil pengacara sekarang juga dan sematkan semua tuduhan itu pada perempuan gila ini! Karena dari yang saya lihat, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk bersatu dengan suami tercintanya."


Alex mengangguk dan tanpa basa-basi menghubungi pengacara untuk menangani kasus ini.


Dan tentu saja, Sera sangat tercengang dengan respon yang Queensa berikan. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa hasil yang ia dapatkan akan seperti ini.


"Dasar bocah sialan! Suatu hari nanti, kamu pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dasar perempuan berdarah dingin!" maki Sera pada Queen, dengan telunjuk yang mengacung ke arah Queensa yang masih menatapnya dengan tatapan acuh.


Petugas keamanan pun segera menahan Sera yang berusaha untuk menyerang Queensa.


"Bawa dia ke kantor polisi!" Queensa berbalik setelah mengatakan kalimat itu. "Berdarah dingin?" Queen terkekeh pelan mendengar sebutan yang Sera sematkan padanya.


Jika ia disebut sebagai manusia berdarah dingin, lalu sebutan apa yang pantas di berikan untuk Gilang.


Seseorang yang di beri uluran tangan saat sedang terpuruk, dan saat dia sudah diberikan posisi yang tinggi, dia justru menusuk penolongnya dari belakang, hanya karena iming-iming keuntungan.