
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Meskipun Varo bukan anak kandungmu, tapi kau tak bisa memperlakukannya seperti itu! Kau juga bertanggung jawab mendidiknya, bukan cuma aku!"
Pertengkaran itu tak kunjung usai, membuat Varo membanting pintu kamarnya dengan keras lalu menguncinya dari dalam.
Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk miliknya, sambil menatap langit-langit kamarnya.
Seharusnya dia tak kembali, jika dia tau kedua orang tuanya tengah bertengkar untuk kesekian kalinya. Tepatnya setelah kematian kakak tiri Varo, anak kandung dari ayah tirinya itu.
Awalnya hidup Varo baik-baik saja, namun semuanya berubah setelah hari itu. Hari dimana Aliando, mendiang kakaknya, di temukan mati bersimbah darah di kamarnya sendiri.
Ada banyak sekali luka sayatan di pergelangan tangan Aliando, saat dia di temukan. Juga ada sebuah surat yang Varo temukan di atas meja Aliando.
Maafkan aku Ayah, aku tidak sanggup lagi menuruti keinginanmu. Aku lelah, aku tidak mau hidup seperti ini. Menjadi alat bagimu untuk memenuhi ambisimu yang tidak ada habisnya.
Aku tidak akan terkekang lagi setelah ini, dan aku akan terbebas dari segala rasa sakit yang membuatku menderita.
Selamat tinggal Ayah, dan selamat tinggal dunia.
Seperti itulah isi surat yang Varo temukan. Dia tak memberitahu ayahnya tentang surat itu, karena dia tau jika hal itu akan membuat ayah tirinya semakin terpuruk.
Tapi nyatanya, sang ayah sepertinya tidak juga jera. Dia justru membuat Varo menggantikan mendiang Aliando untuk menjadi yang terbaik, menuruti segala obsesi gilanya yang tidak ada habisnya itu.
"Kau lihat itu, Aliando. Sekarang aku mengerti apa yang dulu kau rasakan, dan aku juga paham kenapa kau lebih memilih untuk pergi dengan cara itu."
Hanya Varo yang mengetahui hal itu, dan selalu membantunya menyembunyikan penyakit mematikan itu dari kedua orang tua mereka.
Berawal dari yang sama-sama hancur, karena keegoisan orang tua mereka membuat mereka yang merasa senasib menjadi sangat dekat, bahkan melebihi kedekatan saudara kandung.
Aliando terus mencoba bertahan dan menuruti segala keinginan ayahnya, dan justru mengabaikan penyakitnya.
Bahkan setelah menjalani kemoterapi pertamanya, dia justru tetap berangkat ke perusahaan untuk membantu ayahnya.
Hal itu juga membuat kesehatannya semakin memburuk. Hingga entah sejak kapan, Aliando mulai menyerah dengan hidupnya.
Mungkin karena dia merasa jika semua usahanya tak pernah bisa memuaskan ambisi sang ayah, yang terus menuntutnya untuk menjadi lebih dan lebih baik lagi.
"Sekarang kau sudah tenang di sana bukan? Bolehkah aku menyusulmu saja?" Varo tersenyum miris, seolah sedang menertawakan kehidupannya yang jauh dari kata indah itu.
Kehidupan yang sangat kacau dan membuatnya ingin sekali mengakhiri hidup ini.
Tapi dia tak ingin mengikuti jejak Aliando, karena yang dia inginkan adalah hidup bebas dan tenang, bukan meninggalkan dunia ini dengan tenang.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...