Queensa

Queensa
Queensa "199"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Alana pun berdiri dari duduknya, kemudian membalas pesan Yuk Yah dengan cara yang sama, seperti apa yang tadi wanita paruh baya itu lakukan.


"Saya ikut."


"Apa mas keluarganya?"


"Iya." Alana dengan tegas dan tanpa ragu menjawabnya, sehingga paramedis itu pun mengangguk dan segera membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit.


Tangan Alana mulai mengeluarkan keringat dingin, saat orang yang tengah terbaring lemah di hadapannya itu sedang mendapatkan pertolongan pertama.


Bahkan tubuh Alana bergetar hebat menahan tangis yang tak kunjung reda sedari tadi, apalagi menatap tubuh yang masih bersimbah darah itu.


Tepat saat paramedis selesai memberikan pertolongan pertama pada sang korban, bersamaan dengan mobil ambulance yang mereka tumpangi juga sudah sampai di rumah sakit XX.


Benar, itu adalah rumah sakit yang sama dengan tempat Varo di rawat karena memang itu rumah sakit yang terdekat dari lokasi.


Brankar segera di dorong masuk ke dalam oleh para perawat untuk segera mendapatkan penanganan lebih lanjut. Alana juga masih setia mengikuti para perawat yang mendorong brankar itu menuju ruang gawat darurat.


"Mas, tolong tunggu di luar. Dokter akan segera menangani pasien sebaik mungkin."


Alana pun mengangguk pasrah dan menyerahkan segalanya pada sang dokter dan juga sang pencipta tentunya, tapi jelas saja dia sangat berharap jika semuanya akan baik-baik saja.


Di kursi tunggu, Alana terus saja was-was. Dia sangat tidak tenang menunggu dokter yang menangani pasien itu keluar, lalu memberitahunya keadaan sang pasien.


Hingga akhirnya sang dokter pun selesai melakukan pemeriksaan pada pasien itu. Dia keluar dan segera menghampiri Alana untuk menjelaskan tentang kondisi pasien.


"Maaf mas, kondisi pasien sedang kritis. Dia harus segera di operasi karena ada pendarahan di dalam kepalanya, dan kami membutuhkan persetujuan dari anggota keluarga."


"Saya saja dok, saya keluarganya. Lakukan yang terbaik, tidak perduli berapapun bianyanya." Alana pun menyetujui perkataan sang dokter untuk segera melakukan tindakan operasi, untuk menyelamatkan nyawa pasien yang saat ini tengah berada dalam masa kritis.


"Baik, silahkan anda urus administrasinya agar kami bisa segera melakukan tindakan."


"Baik dok, segera lakukan operasinya dan saya akan urus administrasinya." Alana pun segera berlari menuju bagian administrasinya setelah sang dokter menganggukkan kepalanya.


Alana tidak perduli berapapun biaya yang harus dia keluarkan, asalkan pasien itu selamat. Dia pun segera mengurus segala administrasi dan juga data-data mengenai pasien.


*


Kini Alana berada di depan ruang operasi, dan sudah beberapa jam berlalu sejak para dokter masuk ke dalam sana. Lampu ruang operasi masih menyala hijau, yang menandakan jika para staff medis di dalam sana masih berjuang untuk menyelamatkan sang pasien.


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...