Queensa

Queensa
Promo



Hay hay hay, bestie bestie ter the bestnya emak. Sini emak bisikin, emak punya judul baru nih.


Judul baru ini cocok buat kalian yang suka sama drama rumah tangga dengan konflik yang seberat beban hidup emak.


Pokoknya di judul ini emak bakalan bikin kalian banjir air mata, emosi dan lain sebagainya.😁


So, jangan lupa mampir ya... Nih emak kasih liat judul sama spoilernya.😘



...******* Happy Reading Bestie *******...


Plak!!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Kilatan amarah terpancar jelas dari tatapan sosok pria dihadapanku. Dialah Gunawan Wicaksono, Ayahku sendiri.


"Pergi, dasar anak tidak berguna!"


Tamparan keras tadi masih meninggalkan rasa sakit di tubuhku, tapi hal itu sepertinya masih tak cukup membuatnya puas. Kini sebuah ucapan menyakitkan terlontar dari bibirnya dan menorehkan luka dihatiku.


Tak ada sedikitpun terlihat belas kasihannya padaku, sebagai seorang Ayah. Baginya aku hanyalah anak tidak berguna, karena aku tak bisa memberinya uang.


Sakit, sangat sakit. Kata-kata menyakitkan itu, tak pernah kusangka akan keluar dari mulut orang yang kusebut Ayah. Laki-laki yang seharusnya menjadi cinta pertamaku, tapi ia justru menjadi orang yang menorehkan luka terdalam di hatiku.


Namaku Happy Kirana Agnesia. Tak seperti namaku yang berarti bahagia, kehidupanku justru selalu di naungi awan mendung pembawa duka dan nestapa.


Aku bahkan hampir lupa bagaimana rasanya bahagia, dan kapan kali terakhir aku merasakannya. Semua penderitaanku ini bermula sejak saat itu, tepatnya saat bisnis ayahku bangkrut. Sejak hari itu di dalam kamus hidupku hanya ada kesakitan, keputusasaan, dan kesedihan.


Ayahku yang syok dan tertekan karena jatuh miskin menjadi sering mabuk-mabukan dan gila judi. Alhasil semua itu berimbas padaku dan ibuku. Setiap kali ibu memintanya untuk mencari pekerjaan, dia justru menghajar kami tanpa ampun.


Karena itulah ibu terpaksa menggantikan tugas ayah menjadi tulang punggung keluarga, membiayai kehidupan kami dan membayar biaya sekolahku.


Awalnya aku berpikir untuk berhenti sekolah dan membantu ibuku meringankan bebannya. Namun ibu selalu saja menolakku dengan mengatakan, "Tetaplah bersekolah, jadilah anak yang pandai dan hiduplah lebih baik dari ibu dan ayahmu."


Tapi sayangnya di hari kelulusan yang aku dan ibuku nantikan, beliau justru pergi meninggalkanku untuk selamanya. Tanpa sepengetahuanku, Ibu ternyata mengidap penyakit mematikan.


Aku menangis sejadi-jadinya di atas makam ibuku, memeluk erat batu nisan yang bertuliskan nama orang yang paling kusayangi.


Tapi di saat seperti ini, orang yang menyebut dirinya ayah di hadapanku itu tak terlihat sama sekali. Bahkan saat aku mencari dan memberitahukan kabar duka ini, dia sama sekali tidak perduli.


Namun aku tetap harus bertahan hidup. Aku mencari pekerjaan kesana kemari berbekal ijasah SMA yang baru kudapatkan. Tapi tak ada yang mau menerimaku, hingga akhirnya aku memilih untuk berjualan kue keliling meneruskan usaha mendiang ibuku.


*


*


Aku menyusuri jalanan dengan tas besar berisi semua barang-barangku yang bisa kubawa. Ingin rasanya aku menangis, tapi air mataku seolah mengering karena terlalu banyak penderitaan dan rasa sakit yang sudah kualami.


Kakiku terus melangkahkan tanpa arah dan tujuan. Hingga langit yang tadinya cerah kini perlahan berubah kelam dan bernaung awan hitam, seolah langitpun ikut merasakan kepedihan hatiku.


Kuangkat wajahku menengadahkannya ke langit dan bertanya pada sang pencipta. Apa salahku, Tuhan. Kenapa Kau begitu tidak adil padaku, kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Apakah aku tidak pantas untuk bahagia sehingga yang Engkau berikan padaku hanya duka dan luka.


Perlahan pandangan mataku pun mengabur, hingga akhirnya semua berubah menjadi gelap dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu.


Saat aku terbangun aku sudah berada di sebuah kamar, yang aku tak tau siapa pemiliknya. Ku edarkan pandanganku menyapu seluruh ruangn itu, untuk mencari tas besarku.


Hingga saat sebuah suara terdengar dan mengejutkanku, "Kau sudah siuman?" Aku pun mengangguk, aku bisa menebak jika dialah orang yang sudah menolongku.


Aku menggelengkan kepalaku, karena aku memang tidak memiliki tempat tujuan saat ini. Aku juga sudah tidak memiliki seperserpun uang.


"Kau cantik, apa kau mau pekerjaan?"


Aku menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan antusias dan sebuah senyuman, lalu aku menganggukkan kepalaku dengan pasti. Saat ini memang itulah yang aku butuhkan, pekerjaan.


"Kau bisa menjadi wanita malam di tempat karaokeku ini."


Aku terkejut bukan main mendengarnya, bahkan tak pernah sekalipun terlintas dalam benakku untuk melakoni pekerjaan yang sering dipandang hina itu. Aku tak ingin menjual tubuhku demi uang. Tidak! Tidak akan pernah.


"Kau tidak harus menjajakan tubuhmu. Di sini ada juga pemandu karaoke yang tidak menerima jasa plus-plus, dan hanya bernyanyi juga menemani tamu untuk minum."


Sebenarnya aku tidak mau menerimanya, tapi aku harus bertahan hidup di tengah kejamnya dunia modern ini, hingga akhirnya aku terpaksa menganggukkan kepala.


Dan sejak saat itu aku resmi menjadi seorang pemandu karaoke, atau yang biasa mereka sebut dengan LC. Aku di latih dan bimbing oleh Mami, agar aku bisa menjadi seorang LC yang memikat para tamu.


*


*


Sejak hari itu terhitung sudah dua bulan lebih aku bekerja di tempat ini, dan malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya.


Aku mematut diriku di depan cermin, memastikan dress miniku yang ketat sudah terpasang dengan sempurna. Memastikan apakah ada yang kurang dengan riasan wajahku, karena itu akan berpengaruh pada pendapatanku malam ini.


Di tempat ini, para tamu akan memilih kami dari dinding kaca yang terhubung dengan ruangan khusus para LC. Dan nantinya Mami Viandra atau yang akrab kami paggil mami Via itu, akan memanggil kami dan mengatakan ruangan mana yang memesan jasa kita.


"Happy, room 15 ya." Aku mengangguk kemudian berdiri dari tempat dudukku.


Kupakai sepatu hak tinggi milkku, kemudian menyemprotkan parfum khas para LC yang aromanya tahan lama. Setelah semua persiapanku selesai, segera ku langkahkan kakiku menuju room yang dikatakan mami Via tadi.


Ruangan dengan lampu yang temaram, bau alkohol yang begitu menusuk hidung juga alunan musik yang begitu keras. Semua itu sudah menjadi hal biasa bagiku.


Kuhampiri pria yang menyewaku dan menjabat tangannya, kunyalakan sebatang rokok untuk kunikmati. Tak lupa juga kutuangkan minuman haram itu ke dalam dua buah sloki, lalu kuberikan satu untuknya.


"Siapa namamu?" Pria paruh baya itu bertanya padaku sembari menyelipkan anak rambutku yang nakal hingga menutupi wajahku.


"Happy." Aku tersenyum, meski dalam hati aku ingin sekali menangis. Sungguh nama yang tak sesuai dengan realita.


Kuputar musik dan mulai kunyanyikan lagu dangdut koplo yang sedang tren akhir-akhir ini, sambil mengajak tamu itu untuk berdiri dan berjoged mengikuti irama musik yang menggebu.


Setelah menghabiskan dua botol minuman berkadar alkohol tinggi, tamu yang menyewaku kini tengah meracau dan aku tak mengerti apa dia katakan.


Aku terkejut saat tiba-tiba saja dia mencengkram erat rahangku hingga membuatku kesakitan, "Wanita murahan! Apa kurangnya aku padamu, hah!? Beraninya kau bermain gila di belakangku!" Dia mendorong tubuhku hingga terlentang di atas sofa itu, lalu mengungkung tubuhku.


Sakit, sangat sakit. Tapi tenagaku jelas kalah darinya, aku tak bisa melawan. Tapi untungnya pintu terbuka di saat yang tepat. Seorang operator datang dan langsung membantuku.


Segera kulangkahkan kakiku meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke ruang tunggu. Ku dudukkan diriku di kursi ruang tunggu Lc, menunggu tamu selanjutnya yang akan memilihku.


Namun tak berselang lama, ponsel di dalam tasku pun berdering.


Alisku bertaut dan keningku mengkerut saat membaca nama yang tertera di layar ponselku, "Ayah?!"


...******* 😘😘😘😘😘 *******...


Gimana nih Bestie kecantol nggak? Kalau iya buruan di intip, nggak bakalan bikin bintitan kok meskipun cuma intip-intip.🤣