Queensa

Queensa
Queensa "115"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Dan mereka semua terkejut mendapati Dion dan juga mbok Ijah, yang sudah berdiri sambil menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda. Jika Dion sudah tertawa lepas tanpa beban, sedangkan mbok Ijah hanya bisa mengulum tawanya.


"D-dari kapan lo di situ bang? Terus ngapain lo ketawa, kesambet jin botol?!" tanya Queen dengan gugup, namun dia tutupi dengan kegalakannya.


"Udah lama... banget. Kalau nggak salah, dari zaman penjajahan." Dion pun kembali tertawa, setelah berhasil membuat sang adik tercinta salah tingkah seperti itu.


Hingga akhirnya sebuah hadiah istimewa pun menyapa wajah tampannya. Yup, bantal terbang itu kini sudah tergeletak di lantai setelah berhasil menyapa wajah tampannya hingga membuat tawanya berhenti dan berganti dengan bibir manyun.


"Yaelah dek. Nggak bisa banget liat orang bahagia. Ini pertama kalinya gue liat muka lo itu merah banget kek tomat, bener-bener kayak orang baru jatuh cinta. Padahal kan lo udah punya selusin lebih Magadir."


"Sialan lo!" Lagi-lagi Queensa melemparkan bantal miliknya ke arah Dion, namun kali ini dengan sigap Dion menangkapnya.


Alana pun tertawa melihat tingkah kakak beradik itu, yang sudah membuat suasana canggung tadi menghilang seketika dan berganti menjadi suasana yang hangat.


Sedangkan Selena justru kembali terpana, melihat tawa sang pangeran berkuda putih di hadapannya itu.


Meskipun sudah dua kali bertemu, namun yang dia lihat hanyalah wajah datar dan dingin tanpa ekspresi dari seorang Dion.


Dan kini makhluk kutub utara berdarah dingin itu, tiba-tiba saja berubah menjadi makhluk berdarah panas yang bisa tertawa selepas itu. Benar-benar sangat berbeda, dan itu membuatnya semakin terpana pada sosok Dion.


"Hai, kita ketemu lagi. Kamu masih inget aku kan?" tanya Selena sambil memasang senyum paripurnanya.


Dion memperhatikan lekat-lekat wajah Selena, gadis cantik di hadapannya itu. Tapi dia tak ingat pernah bertemu dengan Selena, meskipun dia cantik namun Dion adalah sosok yang selalu dikelilingi oleh gadis-gadis cantik yang mengejarnya.


Sehingga hal itu membuatnya tidak terlalu memandang penting pada gadis-gadis semacam itu, begitu pula pada Selena.


Dion menggelengkan kepalanya dan membuat Selena sedikit kecewa. Namun dia tak marah, dia justru tetap menunggu Dion menyambut uluran tangannya dengan memulai kembali perkenalan mereka dari awal.


"Oke gak apa-apa kok kalau kamu nggak inget, kita kan bisa kenalan lagi. Namaku, Selena." Tetap dengan senyum sempurna, Selena setia menunggu Dion menyambut uluran tangannya dan mengatakan namanya meskipun dia sudah tau.


"Dion." Singkat, padat, jelas.


Kemana sosok hangat tadi? Kemana perginya tawa dan senyum manis, yang membuat ketampanannya semakin sempurna tadi? Kenapa makhluk kutub utara yang dingin itu justru kembali ke habitatnya, dan menjadi sosok berwajah datar tanpa ekspresi lagi?


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...