
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
Hingga dia melihat gadis itu berdiri di ambang pintu, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Hingga saat Queensa berlari sambil terisak, dia baru mengetahui alasan pasti kenapa Queen menangis.
"Siapa suruh lo berdua sibuk main HP. Tadi gue udah bilang sama kalian kalau gue mau keluar, salahin aja tuh kuping lo yang nggak peka."
Malas meladeni duo sengklek itu, Varo pun kembali ke atas ranjangnya untuk beristirahat. Meski dia sudah tidak memakai infus lagi, tapi luka-lukanya masih harus terus di cek setiap hari agar pemulihannya lebih cepat.
"Dasar temen lucknut lo, Al. Hiiih... gue pites juga lo!" Adam berpose seolah-olah dirinya hendak menghajar Varo, "Jangan tahan gue Vin, gue mau bejek-bejek si Varo! Mukanya ngeselin, anjir!"
"Siapa yang megangin lo, Adam Suherman! Mau ngehajar si Varo? Monggo, silahkan, saya ikhlas lahir batin, dunia akhirat."
"Sialan lo!" Adam pun menggeplak kepala Alvin, yang tidak mau diajak berkompromi untuk melakukan akting gobloknya itu.
Tak berapa lama, pintu kamar rawat itupun kembali terbuka.
Dan sosok yang kini berdiri di ambang pintu itu, tengah menatap ketiganya degan tatapan anehnya.
"Lo semua pada ngapain? Nggak pada ketempelan jin botol kan?" tanya Alana.
Benar, orang yang baru saja datang itu adalah Alana. Dia sengaja menyempatkan diri untuk menjenguk Varo, karena bagaimanapun tujuan awalnya memang untuk menjenguk sahabatnya itu.
Dan dia khawatir kalau teman-temannya mencari dirinya, yang seharusnya sudah bersama Varo sejak tadi tapi justru sama sekali beluk menampakkan batang hidungnya sampai mereka datang.
"Lo yang kenapa bege!? Darimana aja lo? Mampir ke kosan janda?" balas Adam dengan mulut nyinyirnya.
"Kayak lo enggak aja. Bukannya janda semakin didepan ya?" Adam dan Alvin pun tertawa, membuat Alana hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya mendekati ranjang Varo.
Tak seperti kedua temannya yang tampak ceria dengan tingkah konyol mereka, entah kenapa Alana merasa Varo sedang tidak baik-baik saja.
Dan sepertinya Varo juga melihatnya dengan tatapan yang... sedikit aneh menurutnya. Tak biasanya Varo menatap dirinya dengan tatapan seperti itu, tatapan seperti tidak suka melihatnya datang.
"Al, gimana keadaan lo?" tanya Alana.
"Baik." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Varo, dan dia justru menyambar buku komik milik Queensa yang gadis itu tinggalkan tadi untuk mencari kesibukan.
Dia hanya sedang tak ingin bersitatap dengan Alana saja saat ini, Varo tidak ingin tersulut emosi dan menghajar Alana saat ini.
Selain dengan alasan Alana adalah sahabatnya, dia juga kurang lebih bisa memahami bagaimana perasaan Alana saat ini. Dan kondisinya yang masih belum seratus persen pulih, juga tidak memungkinkan untuk dia melakukan baku hantam saat ini.
Alhasil Varo pun membaca komik One Piece milik Queensa yang tergeletak di samping ranjangnya, karema sang pemilik yang tadi buru-buru pergi untuk mencari Alana.
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...