Queensa

Queensa
Queensa "285"



Di lain tempat... Seorang pemuda tampan, tampak tengah berbaring di atas ranjang besarnya, dengan ponsel yang setia berada dalam genggaman.


Dia menatap layar ponselnya dengan wajah yang tampak bimbang dan ragu, "Telfon nggak ya?" Itulah dia yang pikirkan sejak tadi.


Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Varo, Alvaro Graham.


Sejak seminggu terakhir, dia terus merasa bimbang untuk mencoba menghubungi Queensa, atau tidak.


Dia ingin menghubungi Queensa, tentu saja karena dia merindukan gadis pujaan hatinya itu. Tapi di satu sisi, egonya yang tinggi terus saja menolak keras hal itu. Dia ingin Queen lah yang lebih dulu menghubunginya, dan meminta maaf padanya.


Tapi tentu saja, harapan dan keinginannya itu hanya menjadi angan-angan belaka, karena sampai saat ini, Queen lebih memilih untuk fokus mengurus perusahaan keluarganya.


Namun saat Varo sedanh asik melamun dengan rasa bimbang dan ragu yang terus melanda hatinya, trio somplak pun masuk dan mengganggu lamunannya dengan suara musik yang menggema.


Ketiga manusia somplak itu masuk sambil berjoged ria, mendengarkan musik dangdut yang menggoda pinggang author untuk ikut bergoyang.


Bimbang, ragu


Sementara malam mulai datang


Hasratku ingin bercermin


Tapi Cerminku pecah seribu


Pecah seribu


Ibarat bunga


Aku takut banyak kumbang yang hinggap


Aku tak mau Patah, patah, tangkaiku patah Aku tak mau


Alhasil, bantal tak berdosa di samping kepala Varo pun menjadi korban, atas kegilaan trio somplak. Dia dilemparkan begitu saja dengan keras, dan tanpa perasaan ke arah trio somplak.


Namun untungnya, Adam dengan sigap menangkap dan memeluknya dengan erat, "Nih bantal nggak berdosa tau, Al. Lo main lempar-lempar dia aja. Kalau nih bantal bisa ngomong, dia pasti udah mencak-mencak depan muka lo." Adam memonyongkan bibirnya, namun hanya dijawab dengan decakan kesal dari Varo.


Alana menggelengkan kepalanya, "Lo ada masalah apa sih, Al? Cerita aja ke kita, siapa tau kita bisa bantu."


Namun bukannya menjawab pertanyaan Alana, Varo justru kembali mengalihkan perhatiannya pada layar ponsel miliknya yang masih menyala.


Melihat respon Varo padanya, yang masih saja seperti itu sejak kedatangan Queensa terakhir kali ke basecamp mereka pun, membuat Alana memilih untuk diam dan tidak lagi bertanya.


"Woy, Al. Cerita napa lo, diem-diem bae." Alvin langsung mendudukkan dirinya di samping Varo, dan merebut ponsel di tangan Varo dengan cepat.


Varo yang sedang tak ingin berdebat pun, hanya berdecak sebal dan memilih untuk merebahkan dirinya, lalu menutupi wajahnya dengan selimut.


Adam yang kesal melihat Varo yang menjadi kekanakan seperti itu pun, ikut naik ke atas ranjang Varo dan menarik selimut itu dengan kasar.


Dia bahkan melemparkan selimut itu ke sembarang arah, yang tentu saja membuat Varo melotot tajam kearahnya.


"Lo bisa nggak sih, nggak usah lebay, Al!? Lo itu udah gede, cok! Lo bukan anak kecil lagi! Bisa nggak sih, lo bersikap sewajarnya?!" Entah mendapat keberanian dari mana, Adam menyerukan itu tepat didepan wajah Varo.


Bahkan Alvin dan Alana, juga ikut terkejut melihat keberanian Adam yang memarahi bahkan juga mengatai Varo.


Namun Varo yang seperti baru saja tersadar, hanya bisa terduduk dan diam membisu tanpa kata.


Hingga akhirnya Varo pun angkat bicara, "Gue bingung sama apa yang harus gue lakuin."


Varo menganggukkan kepalanya, "Gue pengen telfon dia, gue kangen. Tapi gue mau dia yang telfon duluan, dan minta maaf sama gue karena bohongin gue."


Sontak saja, trio somplak pun menepuk jidat mereka secara serempak.


Mereka benar-benar tidak habis pikir, seorang Varo yang biasanya begitu dingin, kejam dan tidak punya hati itu, kini justru menjadi seorang sadboy.


"Sekarang gue tanya deh Al sama lo. Lo itu siapanya Queen, sampe dia harus minta maaf sama lo?" Adam berusaha menekan emosinya demi bisa menghadapi Varo yang sedang dalam mode super menyebalkan ini.


"Ya pacarnya lah."


Adam menghela nafas panjang, "Pacar? Lo beneran pacaran sama dia, atau lo sendiri yang berpikir kalau dia itu pacar lo?"


Seolah tertohok dengan pertanyaan Adam, Varo kembali terdiam. Dia mengingat saat dia dan Queen bertemu di cafe hari itu, dimana Queen mengakui jika laki-laki yang ada di dalam foto bersama dengannya itu, adalah calon suaminya.


Dan ucapan Adam memang benar adanya, jika hanya dirinya lah yang menganggap Queen sebagai miliknya. Bahkan status mereka, juga adalah hasil dari jebakan batman yang dirancangnya.


Sedangkan untuk bagaimana perasaan Queen padanya, kurang lebih Varo sudah mengerti dari jawaban Queen yang mengatakan jika dia memiliki calon suami.


"Kenapa diem? Baru sadar kalau cinta lo itu bertepuk sebelah tangan?" tanya Adam yang begitu tepat sasaran, hingga membuat dia mendapat tatapan tajam dari Alvin dan Alana.


Sedangkan Varo justru hanya menganggukkan kepalanya, dan mengakui jika perkataan Adam itu memang sesuai dengan kenyataan yang ada.


Adam yang baru menyadari ucapannya itu sedikit keterlaluan pun segera menyahut, "Eh maksudnya lo harus gerak duluan, ya gerak duluan. Lo harus kejar cinta lo, Al. Jangan sampe lo baru nyesel pas Queen udah di samber orang lain."


Alana dan Alvin pun juga ikut mengangguk dan mendukung saran Adam, untuk Varo. Namun Varo malah menghela nafas pasrah.


Dia berkata dengan nada yang terdengar begitu kecewa, "Gue emang udah telat. Queen udah punya calon suami."


Sontak saja jawaban itu membuat ketiga teman senasib sepenanggungannya itu terkejut bukan main.


Terlebih Alana yang tau pasti jika Queen tidaklah memiliki pacar, apalagi calon suami.


"Jangan ngadi-ngadi deh lo, Al. Queen itu belum lulus SMA, mana mungkin dia punya calon suami?" Alvin yang tidak percaya dengan pernyataan Varo pun, mengungkapkan pandangannya.


Namun entah kenapa, Alana tampak tidak berniat sama sekali untuk memberitahu alana tentang kebenarannya. Kebenaran dimana Queen, sama sekali tidak memiliki calon suami, seperti yang Varo katakan tadi.


"Tapi itu dia sendiri yang bilang, Dam."


Adam meraup kasar wajahnya, melihat betapa letoy dan sad nya seorang Alvaro Graham.


Dia sama sekali tak bisa membayangkan, bagaimana reaksi para rival geng mereka, jika mereka melihat Varo yang seperti ini.


Adam memegang kedua bahu Varo dan menggoncangkannya kuat-kuat, untuk membuatnya sadar.


Dia pun berkata, "Itu bisa aja cuma alesan dia doang buat ngejauhin lo, Al. Makanya lo harus coba buat kejar dia lagi!"


"Hah?"


bocah iki, ben ora sableng!" Adam memberikan nafas naganya ke arah telapak tangannya, lalu menepukkannya dengan keras ke jidat Varo hingga menimbulkan bunyi.


Plak!


Menyadari jika dirinya tengah dikerjai oleh Adam, Varo pun menatap Adam dengan tajam.