
...Seperti biasa ya bestie......
...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupaðŸ¤ðŸ˜˜...
...***** Happy Reading Bestie *****...
"Di sini, aw." Varo menunjuk ke arah dadanya, "Coba buka deh, kayaknya luka gue beneran kebuka lagi."
Queen pun segera menyibak baju yang Varo pakai tanpa pikir panjang, karena uang terpenting saat ini adalah melihat apakah bekas luka jahitan Varo benar-benar terbuka lagi.
"Sebelah mana? Di sini nggak ada luka kok?" Queen yang tak menemukan bekas luka pun semakin mendekatkan kepalanya untuk mencari dengan lebij teliti.
"Ini, di sini." Varo menarik kepala Queen dengan posisi telinga kanan Queen menempel tepat di dadanya, membuat Queen bisa merasakan detak jantung Varo yang sepertinya berdetak diatas kecepatan normal detak jantung manusia.
"Kamu ngerjain aku ya?" Queen kembali memukul-mukul Varo, tapi kini tidak dibagian dada, melainkan kaki. Dan Varo kembali mengaduh, dengan ekspresi yang lebih meyakinkan dari sebelumnya, "Nggak usah akting lagi deh, Al. Udah nggak mempan!" seru Queen dengan bibir manyunnya.
"Gue nggak bercanda, Micin. Beneran sakit woy! Liat tuh darahnya ampe kena selimut gue." Varo menunjuk kearah selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya, dimana benar-benar terdapat bercak merah disana, yang tentu saja auto membuat Queen panik bukan kepalang.
Tanpa banyak kata, Queen segera berlari mencari kotak p3k yang kebetulan tersedia di kamar Varo. Bagi A4, kotak p3k adalah benda yang sangat penting dan pastinya kerap mereka butuhkan. Karena mereka sering kali terluka dalam perkelahian, apalagi Varo yang sering terluka karena ulah kedua orang tuanya yang tak berhati nurani itu.
"Siniin kaki kamu, biar aku obatin dulu." Queen dengan begitu sabar dan telaten membersihkan, juga membalut ulang luka di kaki Varo, membuat pemuda tampan itu tersenyum manis menatap Queen yang tengah fokus mengobati luka di kakinya.
Dan entah sadar atau tidak, Wajah Varo semakin lama semakin dekat pada Queensa.
Queen yang merasakan adanya sinyal bahaya yang mendekat pun, segera mengangkat kepalanya untuk memastikan kebenaran firasatnya.
Namun Queen sangat terkejut kala kepalanya menabrak sesuatu dengan sangat keras, karena dia yang mengangkat kepalanya secara tiba-tiba.
Duak!!
"Aaarrrgghhh!"
Varo menjerit keras, kala hidungnya terasa nyeri akibat sundulan maut dari kepala Queen yang sekeras batu.
"Ya ampun, Al. Sorry, aku nggak sengaja. Lagian ngapain juga kepala kamu di situ?" Queen dengan panik menempelkan kapas yang tadi dia pakai untuk membersihkan luka di kaki Varo, ke hidung pria itu yang mengeluarkan darah.
"Micin!" Namun bukannya berterimakasih, Varo justru sangat kesal dengan apa yang Queen lakukan.
Bagaimana tidak? kapas yang Queen pakai itu sudah dia tetesi dengan alkohol. So, bisa kaliam bayangkan sendiri bukan apa yang Varo rasakan? Ya pasti baunya agak sempriwing-sempriwing sedap, semacam itulah kiranya.
"Ups, sorry." Queen menampilkan deretan giginya, plus mengangkat dua jarinya sebagai tanda damai.
"Oh My God! Baru juga beberapa jam gue berduaan sama lo, udah dapet dua luka. Gimana kalau kita nikah, bisa-bisa tiap hari lo lakuin kdrt ke gue. Auto tewas gue, otw ke alam baka, dapet gelar permanen, ALMARHUM!"
...*******...
...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...
...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...
...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....
...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...