Queensa

Queensa
Queensa "247"



...Seperti biasa ya bestie......


...Tinggalkan like, komen, vote dan juga masukkan ke favorit! Jangan lupa🤭😘...


...***** Happy Reading Bestie *****...


Mario juga menjelaskan pada anak-anaknya, jika yang Kirana incar adalah harta mereka. Tapi dia tidaklah sebodoh itu, jadi dia sudah lebih dulu mengamankan semua aset berharga keluarga mereka.


"Jadi kalian tidak perlu khawatir. Kalau ayah tidak ada lagi di sisi kalian, maka kalian harus saling membantu satu sama lain, tetaplah saling menyayangi, dan jangan bertengkar. Ayah sayang kalian."


"Tidak ayah, jangan bicara begitu. Ayah akan sembuh, dan aku akan pastikan itu." Queen menggenggam erat tangan sang ayah dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Mario tersenyum manis menatap, ketiga anaknya bergantian. Meski dia tau smeua itu percuma, karena sebelum ini, dia sudah mencoba mencari penawar untuk racun misterius itu.


Tapi bahkan dokter paling hebat yang dia kenal pun, tidak tau jenis racun apa yang wanita jahat itu gunakan, sehingga sangat sulit untuk bisa menemukan penawarnya.


"Cepatlah pergi. Bawa Putri pergi dari sini, sebelum dia kembali. Atau semuanya akan kacau."


"Tapi bagaimana dengan ayah?" tanya Queen yang tidak rela meninggalkan ayahnya sendiri, terlebih berdua dengan nenek lampir itu.


Bukan tidak mungkin, kalau nenek lampir gila itu akan membunuh ayahnya dengan melakukan sesuatu, bukan? Itulah yang dia takutkan.


"Tenanglah, dia tak akan berani macam-macam sebelum tujuannya tercapai. Dia masih butuh ayah," ucap Mario meyakinkan anak-anaknya itu, jika dia akan baik-baik saja.


"Tapi~"


"Sudahlah Queen, ikuti saja mau ayah. Jangan sia-siakan pengorbanan ayah. Kita harus urus semuanya, sebelum dia mulai bergerak menjalankan rencana akhirnya." Sergah Dion yang mengingatkan Queensa, jika mereka masih harus mengurus segala aset milik keluarga mereka yang diamankan oleh sang ayah.


"Putri," panggil Mario pada Putri yang masih terdiam dengan kepala menunduk menatap lantai rumah sakit, sejak tadi.


"I-iya, om."


"A-ayah?" panggilnya dengan tergagap. Dia masih belum bisa percaya itu semua, rasanya seperti mimpi buruk yang membuatnya ingin sekali segera terbangun.


"Bolehkah ayah memelukmu?" tanya Mario dengan penuh harap.


Putri nampak ragu, namun belaian lembut di bahunya dan anggukan kepala dari Alana, membuat Putri menganggukkan kepalanya pada Mario.


Mario pun tersenyum bahagia dan memeluk Putri, anak kandungnya yang sudah lama terpisah dengannya itu.


"Jaga diri kalian baik-baik. Dan untuk kamu, Dion, Queen, asisten ayah akan membantu kalian dengan apa saja yang harus kalian lakukan untuk melawan wanita jahat itu."


"Baik ayah," jawab Queensa dan Dion, serempak.


Mereka memang harus segera pergi dari ruangan itu, sebelum Kirana kembali dan memergoki mereka semua berada di sana.


Terutama Putri, tentu saja. Karena tentu saja itu bisa merusak semuanya.


Mereka pun kembali ke ruang rawat inap milik Putri, untuk membicarakan langkah mereka selanjutnya.


"Lan, untuk saat ini gue minta tolong sama lo buat jagain adek gue. Kalau sampe ada apa-apa sama dia, abis lo di tangan gue!" Alana menelan ludahnya kasar, "Gue sama bang Dion harus pergi sekarang, karena kita nggak punya banyak waktu lagi."


...*******...


...Jangan lupa like, komen, vote dan sumbangkan sedikit poin kalian ya guys.🙈...


...Dukungan kalian adalah hal terindah yang selalu membuatku bahagia.🤣...


...Novel yang satu ini novel ringan ya guys, jadi maklumin aja kalau alurnya memang agak lambat....


...Kalau kalian nyari yang konfliknya berat seberat beban hidup author, kalian salah tempat.🙊...