
“Naik.” Ucap Ed’ tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya dan berhenti tepat di depan Leathina yang baru akan menaiki kudanya.
“Eh?”
“Naik.” Ed’ kembali mengulangi perkataannya saat melihat Leathina hanya memasang wajah kebingungan tanpa menggubrisi uluran tangannya.
“Tapi aku punya kuda sendiri Ed.” Jawab Leathina ketika telah kembali ke akal sehatnya.
“Naik .” Ucap Ed’ kembali sambil menarik tangan Leathina dan mengangkatnya naik ke atas kuda miliknya.
“Ta.. tapi kudanya.. kudanya Ed.” Leathina hanya gelagapan saat Ed’ memacu kudanya pergi bersama Leathina tapi malah meninggalkan kuda milik Leathina.
“Biarkan saja seseorang akan mengambilnya.” Ed’ menjawab Leathina yang terkejut sambil terus memacu kudanya pergi meninggalkan mansion milik Tesro diikuti oleh Adam dibelakangnya.
Kenapa tiba-tiba orang ini bertingkah aneh. Leathina melihat wajah Ed’ yang fokus mengendalikan kuda kemudian segera memalingkan wajahnya dan ikut fokus melihat ke depan.
“Bos! Ada kedai makanan di depan.” Seru Adam tiba-tiba saat melihat sebuah restoran yang cukup ramai di depan mereka.
“Kita tidak bisa makan di sana Adam, terlalu ramai.”
“Baik bos, kalau begitu kita makan di tempat lain saja.”
Mereka bertiga kemudian melewati tempat makan itu dan melanjutkan perjalanan mereka sambil mencari kedai makanan yang sepi.
“Kita akan menginap di sini dulu, besok baru kita meneruskan perjalanan.” Ucap Ed’ ketika melihat sebuah penginapan tidak jauh dari tempat mereka.
“Baik bos.”
Setelah melewati cukup lama berjalan Ed’ singgah di sebuah penginapan memesan dua kamar untuk mereka satu untuk digunakan Leathina dan satu kamar lagi untuk ditempat oleh Ed’ dan adam mereka juga menitipkan kudanya di sana setelah itu ketiganya kembali keluar untuk mencari kedai makanan dengan berjalan kaki karena terlalu mencolok bagi mereka jika terus mengendarai kuda di tengah keramaian.
“Di seberang jalan sana ada kedai makanan.” Adam menunjuk sebuah kedai makanan yang berada di seberang jalan, tidak terlalu ramai di kedai makan itu tapi masih ada pelanggan yang masuk dan keluar secara bergantian.
“Baiklah kita akan makan di sana.” Ucap Ed' sambil berjalan menuju kedai makanan yang di tunjuk oleh Adam tadi.
“Teng.. teng.. teng..” Lonceng yang sengaja di pasang di pintu kedai tersebut berbunyi saat Adam membukanya.
Mereka bertiga sengaja memilih meja yang berada di pojok ruangan agar tidak terlalu mendapat perhatian dan bisa mengawasi tempat tersebut dari sana.
Mereka bertiga memesan makanan yang sama, tiga porsi daging dan masing-masing segelas teh hangat untuk minuman mereka, mereka bertiga menikmati makannya tanpa bersuara dan hanya fokus menghabiskan makan masing-masing terutama Leathina yang memang sedari tadi sudah sangat kelaparan.
“Wah, kenyang sekali. Terimakasih makanannya.” Ucap leathina kegirangan sambil mengusap perutnya yang kini sudah terisi penuh dan energinya telah kembali, Adam hanya tertawa melihatnya sementara Ed’ tidak diketahui ekspresi apa yang ia munculkan dibalik penutup wajahnya itu hanya matanya yang juga ikut memperhatika Leathina.
“Oh astaga aku sekarang mengantuk karena kelelahan dan kekenyangan. Aku akan ke kamar mandi sebentar untuk mencuci mukaku.” Leathina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pelayan menanyakan dimana letak kamar mandi kemudian menghilang saat memasuki area belakang kedai.
“Hati-hati Lea.” Ucap adam setelah Leathina beranjak dan hanya di balas lambaian oleh Leathina tanda bahwa dirinya akan baik-baik saja.
“Hah, segar sekali.”
Leathina merasa kembali segar saat air dingin menyentuh wajahnya ia beberapa kali membilas wajahnya dengan air kemudian setelah merasa puas mengeringkan mukanya dengan lengannya setelah itu Leathina berjalan kembali di mana Adam dan Ed’ sedang menunggunya.
“Tak”
Seorang pria tiba-tiba menabrak Leathina hingga bahunya terbentur ke dinding.
“Kau.. kau.. wanita yang dicari keluarga Duke Yarnell!” laki-laki yang menabrak Leathina terus menunjuk-nunjuk ke arah Leathina kemudian laki-laki itu buru-buru merogoh kantungnya dan mengeluarkan selembar kertas berisi informasi dan gambar seorang wanita.
“Oh Astaga.” Pekik Leathina saat baru menyadari bahwa jubah penutup kepalanya tersingkap dan gulungan rambutnya terbuka hingga rambutnya jatuh terurai.
“Kau salah orang tuan!” teriak Leathina kemudian segera pergi meninggalkan laki-laki tadi.
Leathina berjalan dengan langkah terburu-buru ke meja tempat Adam dan Ed’ menunggunya.
“Kau sudah kembali Lea bagaimana peras.. eh lea?”
Leathina meletakkan beberapa keping uang di meja tempatnya makan dan belum sempat Adam menyelesaikan ucapannya Leathina telah menariknya bersamaan dengan Ed’ dan segera keluar dari kedai makanan itu.
“Ada apa Lea?” tanya Ed’ sambil terus mengikuti Leathina yang menariknya.
“Saat aku ingin kembali bersama kalian aku ditabrak seorang laki-laki dan tidak sengaja dia melihat wajah dan rambutku, laki-laki itu mengenaliku mungkin sebentar lagi dia akan melaporkanku pada prajurit.” Leathina berbicara sambil terus menarik Adam dan Ed’ keluar dari kedai itu.”
“Maksudmu laki-laki itu mengenalmu, bahwa kamu adalah Leathina?” tanya Adam pada Leathina untuk memperjelas kemudian dibalas dengan anggukan oleh Leathina dengan wajah panik.
“Lea!”
Ed’ dan Adam hampir bersamaan memanggil nama Leathian kemudian melepaskan genggaman Leathina dan gantian mereka yang menarik Leathina pergi, Ed’ menggengam tangan kanan Leathina sementara tangan yang satunya di pegang oleh Adam.
Ed’ berjalan agak di depan mereka untuk menuntun sementara Adam berjalan sejajar dengan Leathina dan tangannya yang satunya memegangi tudung kepala Leathian agar tidak tersingkap karena angin.
Sementara di kedai makanan yang mereka tinggalkan telah ramai karena pria yang menabraknya tadi terus berteriak-teriak mencoba menghentikan Leathina, saat Leathina menoleh kebelakang terlihat beberapa prajurit yang tengah mengintrogasi laki-laki tadi.
“Jangan melihat kebelakan Lea.” Adam mengingatkan Leathina agar fokus melihat ke arah depan saja, mendengar itu cepat-cepat Leathina mengangguk paham dan hanya melihat ke arah depan saja.
Saat melihat penginapan yang tadi telah mereka pesan Ed’ menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Leathina pada Ed’ saat Ed’ berhenti beberapa meter dari penginapan mereka.
“Kita tidak bisa masuk secara bersamaan. Adam masuklah terlebih dahulu dan gunakan kamar sendiri, aku dan Lea akan menyusul kemudian berpura-pura sebagai pasangan kekasih.”
Adam terdiam sebentar mencerna perkataan Ed’ terutama pada kalimat yang terakhir tapi buru-buru ia memasuki penginapan seperti yang dikatakan oleh Ed’.
Sepuluh menit kemudian setelah Adam masuk barulah Ed’ ikut masuk bersama dengan Leathina.
Ed’ menarik turun punutup wajahnya dan pelan-pelan warna rambutnya berubah menjadi coklat. Leathina yang melihat itu hanya membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang ia lihat tapi tidak berani bertanya karena mereka dalam keadan mendesak.
Ed’ memasuki penginapan dan berjalan menuju si penjaga penginapan dan melemparkan tiga keping emas di depannya.
“Tuan, aku dan pasanganku tadi telah memesan kamar. Aku membayarmu lebih karena aku tidak ingin diganggu malam ini.” Ucap adam pada si penjaga penginapan sambil merangkul Leathina.
“Oh, baiklah.. baiklah.. tuan. Tenang saja dan silahkan menikmati malam kalian dan aku menjamin dengan nyawaku tidak akan ada yang menganggu kalian.” Ucap si penjaga penginapan sambil mengambil tiga keping emas yang di lemparkan Ed’ didepannya.
Setelah mendapat jaminan dari si penjaga penginapan Ed’ kemudian segera pergi membawa Leathina ke kamar yang tadi ia pesan tapi belum beberapa langkah mereka berdua berjalan pintu penginapan telah di buka oleh beberapa orang prajurit.
...***...