I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 234



Leathina dan Troy kemudian segera pulang secepat yang ia bisa, Troy dengan sangat hati-hati menjaga Leathina karena ia berjanji dengan nyawanya untuk melindunginya di depan Edward saat Leathina keluar berbelanja bersamanya di kota.


“Kau jangan seperti itu Troy, biarkan aku membawa beberapa barang.”


Leathina meraih beberapa kantung belanjaan yang dibawa Troy tapi dengan gesit Troy menolak.


“Tidak bisa Nona Lea, keselamatan anda yang utama bagaimana jika nanti anda tergores. Aku bisa dipenggal ditempat.”


Mendengar Troy membuat Leathina menghembuskan nafas berat, memperhatikan Troy yang melebih-lebihkan keadaan membuatnya merasa tidak nyaman.


“Kau tidak ingin aku ikut lagi ya? Itulah kenapa kau tidak mau aku membantumu.”


“Ah! Tidak seperti itu Nona Lea, maksudku aku benar-benar sungguh tidak berani membuat Nona Lea membawa barang-barang ini, terlebih aku sangat kuat.” Troy memamerkan ototnya di depan Lea dengan bangga dan dengan percaya diri menunjukkan kemampuannya yang mampu membawa banyak barang dalam satu waktu sekaligus.


“Benarkah?” Leathina dengan sengaja memancing Troy.


“Benar, lihatlah bagaimana kuatnya aku.”


“Apa yang kau lakukan didepan Nona Lea, Bodoh!”  terdengar suara perempuan yang tiba-tiba memaki Troy.


“Ah, kita ternyata sudah samapi di rumah.” Ucap Leathina santa.


Terlihat bahwa Nina dan Edward tengah bersiap-siap keluar lengkap dengan pedangnya masing-masing yang menggantung di pingganya, mereka semua tidak sengaja berpapasan di pagar halaman.


“Akh!” Troy memekik ketakutan saat Edward menatapnya dengan intens, ia yang tadi dengan bangga memamerkan otot-ototnya di depan Leathina menciut kemudian berjalan mundur dan berlindung di belakang Leathina.


“Kenapa terlambat pulang? Apa ada masalah?” Tanya Edward khawatir, kemudian memisahkan Leathina dengan Troy secepatnya.


“Tidak ada, kami terlambat karena aku lupa waktu saat berjalan-jalan di pasar. Jangan terlalu menindas Troy, Ed.” Leathina tersenyum geli melihat Edward yang ingin bertengkar dengan Troy untuk mencegah pertengkaran yang sebenarnya Leathina segera menarik Edward kembali masuk ke dalam rumah kemudian diikuti Nina dan Troy dibelakangnya.


“Tapi, kalian mau kemana? Padahal matahari sudah hampir tenggelam?” Tanya Leathina saat melihat cara berpakaian Nina dan Edward yang rapi lengkap dengan senjata mereka masing-masing.


“Kami berencana menyusul Nona Lea ke pasar, Tuan Ed khawatir karena anda pulang terlambat.” Jawab Nina menjelaskan.


“Pfft.” Leathina menahan tawa sekaligus senang karena ada orang yang menunggunya pulang sekarang, “Benarkah?!” Tanya Leathina memastikan walaupun ia sudah tahu jawabannya.


“Kau jangan menertawakanku seperti itu, ini semua salahmu.” Edward dengan sedih menggengam tangan Leathina karena malu ditertawakan oleh Leathina.


Leathina semakin gemas melihat tingkahnya yang tiba-tiba menjadi manja, Leathina melirik ke sekelilingnya Troy dan Nina sudah tidak ada mereka berdua masuk ke dalam dapur membawa belanjaan yang sudah mereka beli di pasar sementara Adam masih sibuk dengan urusannya di luar dan baru akan kembali diwaktu makan malam nanti.


‘Ah, aku penasaran kenapa sikapnya tiba-tiba berubah seperti ini, ternyata hanya kita berdua diruang tengah sekarang pantas saja wibawanya hilang.’ Batin Leathina yang selama tinggal bersama dengan Edward setelah tiba di kerajaan membuatnya secara tidak langsung mengenal Edward.


Setelah beberapa kali mengakui perasaanya pada Leathina dan menunjukkannya secara blak-blakan dan tidak membuahkan hasil, Edward dengan tegas telah mengatakan pada Leathina secara langsung bahwa jika Leathina tidak menerimanya maka Edward akan merayu Leathina samapi Leathina menyerahkan dirinya padanya.


“Kenapa ini jadi salahku?” Tanya Leathina menggoda Edward.


Edward duduk dengan benar dan menatap Leathina serius.


“Itu karena kamu tidak mau menerimaku, makanya aku sekarang sedang merayu mu.” Ucap Edward tanpa malu-malu.


“Kau akan malu jika anak-anakmu melihatmu bertingkah seperti bayi.”


“Anak-anak?” Edward bingung menangkap maksud dari perkataan Leathina. “Aku bahkan belum menikah denganmu, bagaimana bisa ada anak-anakku yang melihatku.”


“Bukan itu maksudku, tapi Nina dan Troy. Kau tahu mereka terus mengikutimu seperti induk ayam. Kau akan malu jika mereka melihatmu bertingkah aneh seperti ini.”


“Siapa yang peduli, jika kau takut mereka melihatku seperti ini maka aku hanya perlu mencungkil matanya, mudahkan?”


Perkataan Edward yang sadis tidak lagi membuat Leathina terkejut karena sudah terbiasa, Leathina menatap Edward kemudian menghembuskan nafas berat bingung menghadapi tingkah Edward yang terus berubah-ubah dan aneh.


‘Wah! Lihatlah anak ini benar-benar terlahir dengan jiwa gelap. Ia bahkan tidak berkedip saat mengatakan akan mencongkel mata anak buah kepercayaannya, dasar pria gila!” Batin Leathina yang sebenarnya sedikit ngeri dengan Edward.


 “Ada apa?” Tanya Edward saat melihat Leathina sedang termenung.


“Ah, tidak apa-apa.”


“Benarkah?”


“Iya, sungguh. Aku baik-baik saja.”


“Tapi Leathina, apa kau benar-benar tidak ingin kembali ke keluargamu? Sudah hampir setahun lebih kita tinggal di pondok ini. Kamu bahkan memintaku untuk tidak lagi mengirim surat ke keluargamu.”


“Kau bilang aku harus berhati-hati bukan?”


“Iya betul.”


“Jika aku tiba-tiba kembali maka aku akan berada dalam bahaya, seorang teman yang aku temui dalam perjalananku memintaku untuk tidak kembali dalam beberapa tahun lagi pula aku baik-baik saja sekarang.”


Edward menatap Leathina serius membuat Leathina merasa tidak nyaman.


“Ada apa Ed?” Tanya Leathina.


“Temanmu yang kamu sebutkan itu laki-laki atau perempuan?” Tanyanya dengan serius. “Dan aku tidak pernah melihatmu dengan seseorang selama ini.


“Ah itu dia laki-laki, aku bertemu sebelum kamu menemukanku.”


“Kau akrab dengannya?”


Mendengar cara bertanya Edward membuat Leathina tidak nyaman.


“Kau sekarang sedang mengintrogasiku? Kau sekarang sedang mencurigaiku bukan?” Tanya Leathina.


“Tidak seperti itu, aku hanya khawatir dan iri dengan temanmu itu. Sepertinya kau sangat mempercayainya samapi kau mengikuti sarannya yang melarangmu kembali bahkan hanya sekedar mengirim kabar ke keluargamu saja kau sangat berhati-hati, apa sekarang kau masih berhubungan dengannya?”


“Kau tidak perlu khawatir, walaupun dia menjengkelkan tapi dia sangat baik padaku. Dan masalah aku bertemu dengannya atau tidak bukanya kau mengetahuinya. Kau selalu mengawasiku selama dua puluh empat jam.”


“Maafkan aku Leathina, aku melakukannya karena mengkhawatirkan mu.”


Leathina tidak lagi menjawab dan hanya memilih untuk diam, walaupun Edward memperlakukannya dengan sangat baik dan memperhatikan segala kebutuhannya dari ujung kaki sampai ujung rambut tetap saja caranya itu membuat Leathina tidak sedikit merasa tidak nyaman karena hal itu sama saja dengan mengurung Leathina dalam sangkar emas.


‘Aku khawatir suatu saat obsesi Edward tidak terkendali lagi, sifatnya diatur seperti itu di dalam karakternya. Aku bersyukur dia tidak segila yang dituliskan dalam novel namun tetap saja ini membuatku khawatir.’ Leathina kembali termenung, walaupun sekarang ia merasa aman tapi firasatnya mengatakan bahwa musibah yang akan menimpanya belum berakhir. ‘Semoga saja tidak akan ada masalah yang akan datang di masa depan.’


“Leathina, apa ada yang sedang khawatirkan?” Tanya Edward mulai khawatir melihat Leathina yang terus termenung.


‘Uh? Anak ini terlalu peka dengan sekitarnya aku samapi berfikir dia bisa melihat isi kepalaku.’


“Tentu saja tidak ada Ed, sudah aku katakana aku baik-baik saja. Setidaknya untuk sekarang.” Leathina tersenyum berusaha meredakan Edward yang sedari tadi terus mengkhawatirkannya tanpa alasan.


“Maksudmu akan ada masalah nantinya?” Tanya Edward lagi menangkap sesuatu dari kalimat Leathina barusan.


“Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja tadi saat di kota aku berpapasan dengan kereta dari kediaman Duke Leonard.”


“Duke Leonard, ayahmu?”


Leathina menganggu mengiyakan, membuat Edward terlihat ikut berfikir menduga-duga apa yang sedang terjadi di kerajaan.


“Tidak, tentu saja tidak. Troy merawatku dengan baik.” Leathina sebisa mungkin menenangkan Edward untuk melindungi Trioy. ‘Bisa-bisa Troy mendapat masalah nanti saat aku tidak melihatnya, sebaiknya aku memuji Troy agar tidak disalahkan karena sudah membawaku ke kota.’


“Syukurlah, kalau begitu.”


“Tiba-tiba aku teringat beberapa teman lama yang sudah lama ku tinggalkan.” Ucapan Leathina kembali membuat Edward menatapnya dengan serius.


“Kau masi punya beberapa teman lainnya?” Tanyanya pada Leathina.


Leathina tidak langsung menjawab ia memperhatikan baik-baik wajah Edward yang mengeras karena ia kembali menyebutkan memiliki teman yang lainnya. “Tentu saja, aku memiliki banyak teman.” Ucap Leathina dengan santai.


“Siapa? Apa aku mengenalnya?”


“Iya kau mengenalnya, tentu saja mereka juga temanmu.”


“Seingatku aku tidak punya teman.”


“Jangan begitu, kau bahkan pernah melakukan perjalanan panjang dengan mereka apa kau tidak ingat?”


Edward tampak berfikir keras namun pada akhirnya tidak menemukan orang yang Leathina maksud.


“Siapa?” Tanya Edwar kembali.


“Umm kau benar-benar melupakan mereka, padahal mereka sulit dilupakan, Bagaimana kabar Aelfric dan Farkas?” Tanya Leathina.


Edward tidak langsung menjawab alisnya kembali berkerut mengingat sesuatu.


“Ah, maksudmu anak manja bertelinga lancip dari ras peri dan anjing kampung itu?” Jawab Edward pada akhirnya mengingat siapa yang Leathina maksud.


“Kau kasar sekali menyebutnya seperti itu, Jangan menyebut Aelfric seperti itu dan Farkas bukan anjing dia serigala. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku jadi ingat saat tiba-tiba Farkas menyatakan perasaannya padaku hahah”


“Cih.” Edward mendengus kesal.


“Ada apa?”


“Kenapa kau harus bertemu dengan mereka sih, mereka berdua baik-baik saja. Aelfric yang awalnya tinggal dibawa pengawasanku kabur dan kembali ke kampung halamannya sementara Farkas memilih bekerja sebagai kesatria di bawah pengawasan ayahmu.”


“Ah! Jadi begitu syukurlah mereka baik-baik saja, aku jadi penasaran kedua adikku pasti juga sudah besar.”


“Leathina apa kau mau ….”


“Nona sebaiknya anda membersihkan diri sebelum waktu makan malam tiba, saya sudah meminta Troy untuk menyiapkan air untuk anda.” Tiba-tiba Nina keluar dan memotong pembicaraan Edward, membuat suasana menjadi hening sejenak. Nina yang merasa melakukan kesalahan karena suasana tiba-tiba merasa aneh hanya bisa menutup mulutnya secepat mungkin.


“Terimakasih Nina, aku memang mau membersihkan badan.”


“Ah, Ed apa ada yang ingin kau katakana tadi?” Tanya Leathina melihat Edward tidak lagi melanjutkan kalimatnya sementara biasanya ia akan memarahi siapa saja yang memotong  kalimatnya saat sedang berbicara.


“Tidak, tidak ada. Kau pergilah membersihkan diri dan kita akan makan bersama nanti.” Edward tampak tidak ingin meneruskan kalimatnya Leathina yang menyadarinya langsung mengangguk paham dan tidak bertanya lagi.


“Baiklah.” Ucap Leathina kemudian segera berjalan masuk ke dalam ruangan miliknya.


“Ada apa dengannya, tidak biasanya Edward bertingkah canggung seperti itu.” Gumam Leathina.


Dalam perjalanannya menuju ruangannya Leathina berpapasan dengan Troy yang juga baru saja keluar dari ruangannya membawa ember besar yang telah kosong.


“Oh! Nona Lea, airnya sudah siap.”Ucapnya dengan semangat menyapa Leathina.


“Terimakasih Troy, kau juga beristirahatlah sebentar kau pasti lelah.”


“Aku tidak apa-apa. Sudah aku bilang Nona Lea tidak perlu mengkhawatirkan aku.”


“Baiklah kalau begitu, aku akan masuk ke kamarku.”


“Silahkan.”


Setelah Troy pergi Leathina segera masuk ke dalam ruangannya di lihatnya sudah ada bathtub kayu yang telah terisi air di dalamnya.


“Mereka benar-benar menyiapkannya dengan baik, aku juga sebaiknya harus membalas kebaikan mereka nanti telah merawatku dengan baik.”


Leathina mulai melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandinya dan membersihkan dirinya sendiri, perhatiannya kemudian teralihkan pada lention yang memantulkan cahaya yang ia kenakan.


“Ah! Lention ini adalah pemberian Almo, aku penasaran bagaimana kabarnya sekarang, semoga sifat menyebalkannya berkurang. Dia hampir tau semua rahasiaku padahal aku menyembunyikannya mati-matian. Dia juga yang memintaku agar tidak kembali dalam beberapa tahun sebelum takdir sialku benar-benar terlewatkan. Apa aku pecahkan saja katanya jika aku pecahkan dia akan langsung muncul, ah! Jangan bisa-bisa Almo dan Edward akan bertengkar aku simpan saat mendesak nanti, setelah puas melihat Lentionnya Leathina segera memakainya kembali karena takut benda berharga itu hilang.”


‘Bagaimana ini, kalau dihitung-hitung sepertinya sudah cukup lama aku menghilang aku yakin Nora pasti sangat merindukanku sekarang.’


Tok Tok Tok


Leathina dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar membuatnya segera sadar dari lamunannya.


“Siapa?” Tanyanya dari dalam.


“Ini aku.”


Leathina mendengar suara berat dan dingin khas milik Edward, membuatnya langsung bisa menebak siapa yang berdiri dibalik pintu kamarnya sekarang.


“Iya, ada apa Ed?”


“Apa kau masih lama Leathina? Makanan sudah siap dan Adam juga sudah kembali, kalau sudah selesai segera keluar dan makan.”


“Iya, aku sudah selesai!” Teriak Leathina kemudian setelah itu terdengar suara derap langkah Edward yang meniggalkan pintu kamarnya.


Dengan terburu-buru Leathina menyelesaikan mandinya mengeringkan dirinya dan segera berpakaian menyusul Edward ke ruang tengah, dilihatnya semua orang sudah duduk di kursi masing-masing dan hanya tersisa kursinya yang kosong.


“Maafkan aku, kalian jadi harus menungguku.”


“Tidak apa-apa, ayo cepat kemari dan duduk di kursimu.”


Edward memanggil Leathina sambil menarikkan kursinya keluar agar Leathina bisa langsung duduk, makanan di piring miliknya juga sudah tersedia dengan sangat baik.


‘Kami tinggal bersama-sama sebagai orang biasa, tapi aku tetap di layani seperti seorang putri oleh mereka. Aku merasa tidak enak dan terbebani lain kali aku harus membicarakan ini aku bisa mengurus diriku sendiri.’


“Apa yang kau pikirkan.”


“Aaaa!”


Tiba-tiba saja Edward berbicara tepat di telinga Leathina yang sedang melamun membuat Leathina terkejut dan berteriak.


“Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kau pantas diperlakukan seperti ini.” Ucap Edward semaunya kemudian meniggalkan Leathina dan duduk di kursinya sendiri.


‘Apa Edward bisa membaca pikiran orang?’


“Tunggu apa lagi makan.” Ucap Edward yang terdengar memerintah, karena tidak mau berdebat Leathina hanya menurut begitu juga dengan Troy, Nina dan Adam yang sedari tadi hanya terdiam tidak berani berkomentar karena takut terkena imbas dari mood Edward yang selalu berubah-ubah.


...***...