I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 253



Edward segera melompat masuk setelah Leathina membukakan jendela untuknya dan langsung menutup kembali jendelanya agar tidak ketahuan orang lain.


“Kau mimpi buruk Leathina?”


“Kenapa kau bertanya?”


“Tadi air mukamu tidak bagus, dan kau menjerit saat baru terbangun tadi.”


“Tidak, aku baik-baik saja yang lebih penting kenapa kau datang kemari?”


“Kenapa lagi, tentu saja aku ingin melihatmu ayahmu selalu menolak permintaan kunjungan yang aku kirimkan jadi karena tidak ada pilihan lain aku terpaksa datang diam-diam begini.”


Leathina hanya mendesa melihat kekerasan kepala Edward, Leathina tahu sekeras apapun ia melarangnya untuk tidak datang Edward tidak akan mendengarkannya.


“Jadi apa yang ingin kamu katakan?” Tanya Leathina mengalihkan pembicaraannya.


“Ah! Iya, aku hampir lupa. Akan ada perjamuan di kerajaan dan orang-orang dari kekaisaran akan datang kau pasti akan diundang sebagai tamu kehormatan jadi persiapkan diri mu mungkin akan ada masalah besar yang terjadi disana.”


“Percuma saja, aku tidak akan datang ayahku pun tidak akan memaksakan aku untuk hadir walau aku mendapat undangan khusus.”


“Umm, kau bisa melakukan itu jika hanya raja Dylen yang kau hadapi tapi yang  mengundangmu dan memintamu datang adalah orang-orang dari kekaisaran kau tidak bisa menolak karena ratu menjamin kau akan datang.”


“Kenapa juga aku harus dipaksa datang seperti itu, ada urusan apa sih mereka sama saya kok sangat terobsesi.”


“Kabarnya kaisar sudah lama sakit dan hidupnya tidak akan lama lagi, mungkin mereka memintamu untuk menyembuhkan kaisar mereka.”


“Itu tidak bisa.”


“Kenapa?” tanya Edward penasaran.


“Sudah tidak bisa, pokoknya ya tidak bisa. Siapa mereka yang mau memerintah ku seperti itu aku bukan budak kerajaan atau siapapun jadi aku tidak perlu mematuhi siapapun jikapun mereka ingin menyerang kerajaan itu bukan urusanku!” Leathina bersikeras.


“Kenapa?” tanya Leathina.


Edward hanya memperhatikan Leathina merasa gemas melihat Leathina marah-marah, ia bahkan tersenyum padahal tidak ada yang lucu.


“Kalau kau tidak mau kau tolak saja seperti yang kau katakan tadi! Kalau kerajaan perang pun itu bukan salahmu, aku suka kamu yang tidak baik.”


“Maksudmu kamu suka aku karena jahat ya? Jadi aku terlihat jahat di matamu?!”


“Ah! Tentu saja tidak, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kamu jahat, maksudku aku suka walaupun kamu jahat.” Edward kelabakan karena Leathina tersinggung, ia berusaha menjelaskan tapi malah membuat Leathina semakin seperti perempuan jahat.


“Baiklah, baiklah, aku salah! Bukan maksudku berkata seperti itu yang ingin aku katakan adalah kamu tidak perlu baik pada semua orang karena tidak semua orang yang pantas diperlakukan dengan baik dan tidak semua orang layak mendapatkan pertolonganmu, maafkan aku.”


Leathina yang mendengar nya agak sedikit terkejut melihat Edward berbicara panjang lebar hanya karena tidak ingi disalah pahami.


“Baiklah, tapi kapan kau akan kembali? Sepertinya matahari sudah hampir terbit.”


“Benarkah?”


Leathina mengangguk membenarkan.


“Rasanya aku baru saja sampai dan belum terasa lama disini, kenapa waktunya berjalan cepat sekali.”


“Itu hanya perasaanmu saja, kau sudah lama berada di kamarku sekarang kau kembalilah ke kastil mu.”


Leathina mendorong Edward sampai ke jendela dan memintanya melompat keluar.


“Oh! Dan kau jangan suka menganggu Aelfric.”


“Kok jadi bahas lelaki lain saat aku mau pergi sih.”


“Duh, tidak seperti itu aku hanya merasa bersalah padanya karena dia datang jauh-jauh kesini hanya ingin menolongku.”


“Iya, iya, aku minta maaf dan terimakasih banyak telah menaruh banyak perhatian padaku.”


“Kalau kau merasa bersalah kau harus menolak semua hadiah pemberian dari laki-laki lain, aku akan memberikanmu hadiah yang lebih bagus dan mahal.”


‘Duh! Apa lagi sih maksudnya. Siapa lagi laki-laki yang dia maksud?'


“Itu maksudnya apa? Aku bahkan tidak pernah keluar?”


“Kudengar si penyihir sombong itu selalu mengirimkan mu hadiah.”


“Ah! Zeyden? Itu tidak benar aku hanya menerima bunganya karena merasa tidak enak dan hadiah lainnya aku kembalikan karena aku merasa terbebani.”


“Baiklah, bagus teruslah merasa terbebani dan jangan mengambil hadiahnya.”


“Iya, iya, aku tidak akan mengambil hadiahnya.”


“Baiklah, kalau begitu aku pergi.”


“Lain kali kalau kau ingin bertemu denganku datanglah secara resmi jangan diam-diam seperti ini kau seperti perampok tahu.”


“Iya, sebenarnya jika ingin jujur aku memang ingin menculik mu dan memenjarakanmu di kastilku.”


“Duh, aku geli mendengarnya lekas lah kembali atau aku berteriak ada penculik disini.”


“Iya aku pergi.”


Edward melompat keluar lalu dalam sekejap sudah hilang dan tidak terlihat lagi. Leathina menghela nafas lega lalu cepat-cepat menutup pintu takut terlihat oleh penjaga.


Matahari sudah terbit kembali dan Leathina tidak bisa kembali tidur karena kepikiran dengan mimpinya ditambah malah diganggu oleh Edward semalam.


“Ya Tuhan.” Jerit Anne saat masuk ke dalam kamar Leathina dan melihat Nonanya itu duduk lesu di sofa dengan mata hitam.


“Apa semalam anda tidak tidur? Anda begadang ya? Sudah aku ingatkan jangan tidur terlalu lama dan segeralah tidur kenapa Nona tidak mendengar sih lihatlah kantung mata itu, apa anda ini panda?” Anne mengomel sambil membantu Leathina membersihkan diri dan berganti pakaian.


“Husst! Jangan mengomel Anne, suaramu nanti terdengar semua orang yang tinggal di mansion ini.”


“Biar saja, nanti aku akan sampaikan pada semua orang untuk mengawasi nona Leathina selama dua pulu empat jam agar tidak begadang lagi.”


“Aku bukan anak kecil lagi Anne, aku sudah dewasa jadi tidak akan ada masalah jika aku sekali-kali begadang kan.”


“Tapi kesehatan Nona Leathina kan lebih penting.”


“Iya , iya, aku tahu kau menghawatirkan aku Anne. Tapi aku benar-benar baik-baik saja jadi kau tenang lah.”


Tidak ada jawaban dari Anne, setelah membantu Leathina mengganti pakaian dan merapikan diri Anne hanya langsung keluar tanpa berkata apapun lagi.


“Apa dia merajuk? Lucu sekal, dia mengomel seperti nenek-nenek tapi malah merajuk seperti remaja yang baru puber.”


 Leathina hanya kembali ke sofa nya dan kembali bermalas-malasan disana sepanjang hari.


“Astaga! Aku lupa, aku kan mau berbicara dengan dengan Nora kenapa aku bisa sampai lupa sih.”


Leathina dengan terburu-buru keluar pergi menuju kamar Nora tapi lama Leathina mengetuk pintu dan memanggil yang punya kamar tapi tidak ada jawaban dari si pemilik kamar.


“Apa dia belum, pulang ya? Apa aku kembali besok lagi saja? Atau kutunggu sebentar lagi siapa tahu dia belum pulang.”


Akhirnya Leathina menunggu di sekitar kamar Nora agar mudah mengetahui jika orangnya datang tapi sudah hampir setengah jam Leathina menunggu Nora tidak juga datang.


“Apa Nora masih belum pulang? Tapi biasanya dia sudah sejak dua jam yang lalu.”


...***...