I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 242



“Kau sudah besar ya Nora.” Leathina pengap menopang tubuh Nora sementara itu  Nora masih saja memeluknya dengan erat, enggan untuk melepaskan kakak perempuannya itu.


“I-itu karena aku sudah besar.” Balas Nora sesenggukan.


“Kau harus melepaskannya Nora, kau membuat kakak Leathina pengap.” Nicholas menarik paksa Nora sengaja menjauhkannya dari Leathina.


Leathina menoleh saat mendengar Nicholas memanggilnya kakak dengan nada lembut, itu membuatnya ingin tertawa mengingat bagaimana kerasnya Nicholas membencinya dulu.


“Apa?!” Bentak Nicholas kemudian saat malu terus dilihat oleh Leathina. “A-aku lebih nyaman memanggilmu begitu.” Ucapnya lagi jujur.


“Terserah kamu saja.” Balas Leathina dengan jahil.


Pipi Nicholas memerah karena malu.


Nora berhasil dilepaskan mereka semua kemudian duduk berhadap-hadapan.


“Kamu pasti lelah sayang.”  Ucap ibu sambungnya memecah kesunyian saat mereka semua hanya diam tak ada yang berani memulai pembicaraan di ruangan itu.


“Saya baik-baik saja, ibu.” Balas Leathina ramah.


“I-ibu?!” Duchess gugup saat Leathina memanggilnya ibu dengan lembut tanpa ada sindiran seperti dulu, pipinya bahkan memerah karena senang.


“Kamu pasti kesulitan.” Akhirnya Duke Leonard buka suara setelah lama terdiam matanya pun masih bengkak begitu juga yang lainnya.


“Saya baik-baik saja Ayah.”


Leathina bingung saat ayahnya terlihat malu-malu saat ia memanggilnya dengan ayah.


‘Aku kan dulu pernah memanggilnya ayah kenapa dia jadi begitu?’ Batin Leathina terheran-heran.


“Syukurlah, sudah lama ayah tidak mendengar suaramu memanggilku. Terimakasih telah kembali dengan selamat.” Ucap Duke Leonard dengan mata berkaca-kaca.


“Ayah, kamu menangis?” tanya Leathina langsung.


“T-tidak, ayah tidak menangis.”


“Kakak kenapa lama sekali pulangnya?!” Tanya Nora nyaring. “Kakak Nicholas bahkan hampir gila di tinggal kakak Leathina.”


“T-tidak, aku tidak seperti itu, tapi tentu saja aku menunggu kepulanganmu.” Nicholas mengelak karena malu.


“Aku minta maaf, kalian tahu aku kesulitan untuk pulang bahkan aku hampir tidak bisa kembali dalam jangka waktu yang lebih lama jika saja ayah tidak mengirimkan tim pencari untuk mencari ku.”


“Benarkah? Bukan karena kami jahat pada kakak.” Tanya Nora dengan takut.


“Ummm..” Leathina ragu menjawab, “Sebenarnya mungkin juga karena itu kakak rasanya lebih baik menghilang saja.”


“Jadi begitu.” Jawab Nora dengan sedih, ia langsung menunduk murung begitu juga yang lainnya.


“Ma-...”


“Aku hanya bercanda, hanya bercanda.” Leathina memotong perkataan ayahnya, candaannya barusan ternyata memiliki dampak kuat terhadap keluarganya.


“Aku bukannya tidak mau pulang, tapi naga itu menyekap ku aku bahkan tidak bisa keluar dari sana jika diingat-ingat itu adalah masa paling aneh ke dua di hidupku bagaimana bisa ada naga yang tertarik padaku.”


“Kedua?” Tanya Nicholas.


“Ah, maksudku terlalu banyak kejadian luar biasa yang telah aku alami kalian pasti tau maksudku kan.”


“Benar, apa kakak masih ingat di mana tempat tinggal naga sialan itu? Kita bisa mengirim tentara untuk menghancurkan dan membunuhnya.” Nicholas dengan dendam menanyakan di mana sarang naga yang membawa Leathina berniat untuk membalas dendam kakaknya.


“Itu, adalah tempat yang bahkan manusia paling sakti dan kuat pun tidak bisa ke sana.”


“Apa maksudmu, jadi kakak di sana disiksa habis-habisan?”


“Tempat naga itu tinggal sepertinya berbeda dimensi dengan kita, saat mencoba melarikan diri aku bahkan hampir tidak bisa kembali hidup-hidup  jadi Nicholas lupakan rencana balas dendammu yang ada nanti kamu malah menjadi makanan mereka.”


“Mereka? Jadi naga itu ada banyak?” Nora agak terkejut mendengarnya.


“Naga itu sepertinya hanya ada satu, tapi selain dia ada banyak mahkluk buas yang tinggal di sana, jadi jangan berani macam-macam menganggu ketenangan mereka.”


“Tapi naga itu menganggu kita duluan kan?!”


“Bukan begitu yang sebenarnya terjadi, kau tidak ingat ada salah satu manusia yang mengganggunya duluan sebelum naga itu mengamuk.” Leathina mengingatkan.


Nicholas dan Nora mengangguk paham kemudian terdiam.


“Leathina cepatlah ke kamarmu dan beristirahatlah kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh.”


“Apa yang kamu lakukan Nora? Dan Nicholas?” Tiba-tiba saja Nicholas sudah berjalan di belakangnya.


“Aku menuntun kakak, siapa tau kakak lupa jalan ke kamar kakak.” Jawab Nora.


“Dan Nicholas?”


“Aku hanya mengawasi, semenjak kakak Leathina tidak ada Nora jadi sedikit nakal badanya saya yang besar tapi tidak dewasa sama sekali, aku takut dia akan terus menganggu kakak disepanjang malam.”


“Baiklah, aku berterimakasih tapi aku tidak mungkin melupakan tempat tinggal ku sendiri buka?”


“Benar, tapi dulu setelah mendapatkan musibah kakak bahkan lupa ingatan kan?” Nora kembali menjawab secara blak-blakan.


“Kalau itu sih kakak juga tahu.”


“Nah, kita sudah sampai.” Tiba-tiba Nora berteriak senang membukakan pintu kamar untuk Leathina.


“Ini, bersih.” Gumam Leathina saat melihat kamarnya sangat rapi bahkan sama sekali  tidak terlihat debu.


“Tentu saja itu karena aku merawatnya dengan sangat baik.” Nora dengan sangat bangga memberitahu Leathina.


“Bohong.” Celetuk Nicholas. “Tentu saja Anne yang setiap hari rajin membersihkan kamar kakak, bukannya kamu sering merusak barang-barang kakak Leathina?”


“Tidak, aku merawatnya.” Bantah Nora.


“Kalau tidak percaya lihatlah kakak Leathina, dia sering mengambil barang-barang kakak dan memindahkannya di kamarnya.”


“umm, benar beberapa buku, aksesoris dan beberapa benda milik kakak tidak ada di tempatnya ya.” Gumam Leathina saat mengamati barang-barangnya.


“Benarkan, dia mengambil barang punya kakak.”


“Itu, karena aku merindukan kakak Leathina.” Jawab Nora sedih dan merasa bersalah. “Besok akan aku kembalikan.”


“Tidak apa-apa kau bisa memilikinya sekarang, terimakasih telah merawat barang-barang ku Nora.” Ucap Leathina dengan lembut, membuat Nora kembali senang.


“Terimakasih juga Nicholas karena telah sangat menghawatirkan aku.”


“Bukan masalah, itu sudah jadi tugasku sebagai laki-laki dewasa di dalam keluarga.”


“Oh, benarkah?! Aku baru ingat aka jangan-jangan kamu sudah lulus dari akademi?”


Nicholas mengangguk dengan malu-malu. “Aku menjadi lulusan terbaik di angkatanku.”


“Wah, kerennya.”


“Aku, aku juga sebentar lagi akan memasuki akademi kekaisaran!” seru Nora tidak mau kalah.


“Wah Nora juga hebat yah.”


“Tentu saja, aku berlatih dengan keras agar tidak memalukan kakak Leathina.”


“Nah kalau begitu kalian kembalilah ke kamar kalian sekarang, terimakasih telah mengantarkan aku dengan selamat tuan-tuan kesatria.”


“Aku mau menemani kakak sampai tidur.”


“Eh, tapi kalian juga harus beristirahat, kakak tahu kalian berdua pasti sangat lelah juga.”


“Tidak bisakah kak? Setidaknya sampai kakak tidur setelah itu aku pasti langsung ke kamarku.”


“Baiklah, kalau begitu aku akan membersihkan diri dan mengganti pakaian sebentar.”


Leathina tidak bisa menolak kemudian langsung membersihkan dirinya sendiri karena para pelayan telah di perintahkan untuk istirahat, Leathina lalu memakai piyama yang telah disiapkan oleh ibunya sendiri kemudian segera beristirahat di dampingi kedua adiknya.


“Kakak tanganmu kasar.” Nora menggenggam tangan Leathina dan dirasakan tangannya kasar.


“Apa maksudmu, tangan kakak Leathina seperti itu karena dari kecil telah memegang pedang. Diamlah, dan biarkan kakak Leathina beristirahat.” Nicholas meminta Nora untuk tidak terus berbicara karena takut Leathina tidak akan bisa beristirahat jika adik bungsunya itu terus mengoceh.


“Benarkah?!”


“Iya, diamlah.”


“Baik.” Nora mematuhi perkataan Nicholas sementara Leathina hanya tersenyum mendengar keduanya beradu mulut.


...***...