
Edward beberapa kali melirik ke sekelilingnya saat Leathina sibuk berjalan-jalan, dirasakannya ada seseorang yang mengikuti mereka. Membuatnya menjadi lebih hati-hati dan selalu berdiri tepat di belakang Leathina berjaga-jaga jika seseorang benar-benar mengincar Leathina.
“Huh! Edward ada apa?” tanya Leathina saat dirasakannya Edward meningkatkan kewaspadaannya pada sekelilingnya.
“Ah, tidak ada Leathina. Aku hanya berhati-hati, bukankah aku bilang hari ini aku adalah pengawal mu.”
Leathina mengerutkan keningnya menatap wajah Edward dengan serius.
“Tidak! Aku tahu ada yang tidak beres bukan? Katakan padaku!” tanya Leathina tegas.
“Sepertinya ada seseorang yang mengincar kita, aku tidak tahu jika dia mengincar ku atau malah mengincar mu.”
“Jadi seperti itu kau khawatir karena Sese mengikuti kita, aku juga merasakannya sejak aku keluar dari toko barang antik tadi aku tidak tahu jika kau akan sekhawatir ini Edward. Kalau begitu kita pulang saja sekarang.”
“Tidak apa-apa, selama aku ada di sekitarmu mereka tidak akan bisa mendekatimu atau melukaimu Leathina.”
“Kau tidak boleh menjadikan tubuhmu sebagai tameng untukku Edward, apa kau pikir kau itu makhluk abadi dan tidak akan bisa mati?!”
“Tapi tetap saja aku masih bisa melindungi mu Leathina.”
“Sebaiknya kita pulang saja sekarang.” Leathina menarik paksa Edward untuk pulang Edward tidak bisa menolak dan akhirnya menuruti Leathina.
Edward dan Leathina akhirnya pulang, Leathina kembali berjalan ke jalan utama untuk mencari kereta yang bisa mereka berdua tumpangi.
“Leathina naik disini.” Tiba-tiba Edward menarik Leathina dan melompat memasuki kereta secara acak dan di saat bersamaan puluhan anak panah menghujani kereta yang mereka naiki.
“Hek! Ada apa ini?!” pekik si pemilik kereta kuda.
“Tuan cepat jalan!” teriak Edward memberitahu dan si kusir pun segera memacu kudanya dengan terburu-buru meninggalkan tempat tersebut.
“Itu Yasmine!” gumam Leathina saat mengintip di cela-cela didinding kereta kuda dan melihat dari kejauhan seorang wanita bertudung hitam berdiri di tengah-tengah kerumunan orang.
“Dia masih hidup?” tanya Edward.”
“Iya dia masih hidup, aku sangat yakin bahwa yang tadi itu Yasmine.”
“Adam dan Troy masih memburunya tapi dia betul-betul sulit untuk di tangkap, bukankah dia wanita lemah yang hanya mengandalkan bantuan orang lain, kenapa tiba-tiba bisa seagresif itu?”
“Itu karena dia telah menjual jiwanya pada iblis, dia menukarnya dengan kekuatan. Sepertinya pikirannya sudah tidak normal lagi selain keinginan untuk membalas dendam.”
“Jadi begitu, seharunya aku tidak membawamu keluar Leathina. Ini sangat berbahaya untukmu.”
“Tidak juga, bukankah aku yang memang ingin keluar ke kota.”
“Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri, kenapa juga masalahku jadi masalahmu.” Ucap Leathina dengan nada bercanda sementara Edward hanya diam saja memperhatikan Leathina.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai pada jalan yang menghubungkannya dengan mansion keluarga Yarnell, Edward meniru yang dilakukan Leathina ia memberikan beberapa koin emas dan segera meminta si kusir pergi meninggalkan tempat mereka turun.
“Ayo!” ucap Leathina kemudian terburu-buru menuju dinding pembatas.
Edward kembali melingkarkan tangannya di pinggang Leathina dan dalam sekali lompatan mereka berdua telah berada di dalam mansion.
“Ah, jubahnya.” Leathina cepat-cepat melepaskan jubah yang ia kenakan dan menyembuyikannya di semaka-semak, Leathina juga melakukan hal yang sama dengan jubah milik Leathina.
“Ada apa Leathina?” tanya Edward saat dilihatnya Leathina termenung menatap jubah yang tadi mereka kenakan.
“Kenapa Alex bisa menegnaliku padahal aku memakai jubah untuk menutupi wajahku dan rambutku, dia bahkan memanggilku dengan sangat yakin.”
“Sudah aku bilang kan. Dia berbahaya, jangan dekat-dekat dengannya dan jangan mejadi akreab dengan orang itu.”
“Ah, apa kau masih marah karena aku memikirkan tentang Alex lagi.” Pikiran jail Leathina kembali mencuat di otaknya dan kembali membuat Edward kesal.
“Leathina apa yang kau lakukan di tempat sepi seperti itu dan berduaan dengan laki-laki.”
“Ah, Nicholas. Sejak kapan kau kembali?” Nichola stiba-tiba saja muncul entah dari mana membuat Lethina hanya bisa menyambutnya dengan senyuman.
“Ketemu!” teriak Aelfric saat akhirnya berhasil menemukan Edward Leathina.
“Prajurit melaporkan bahwa kau menghilang sejak pagi, jadi aku datang mencari mu. Ayah sekarang sangat khawatir dan karena kau yang tiba-tiba menghilang semua prajurit yang ditugaskan untuk menjagamu dihukum sekarang.”
“Kenapa serunyam itu! Aku kan hanya pergi berjalan-jalan di luar sebentar.” Gumam Leathina pelan.
“Ayo kembali, matahari sudah hampir tenggelam.” Ucap Nicholas kemudian segera membawa Leathina bersamanya.
“Anda juga Pangeran Edward dan Tuan Aelfric, kembalilah ke kerajaan.”
Edward dan Aelfric tidak memperdulikan apa yang di katakan oleh Nicholas. Mereka berdua tetap mengikuti Leathina.
“Leathina!”
“Leathina!”
Panggil duke Leonard dan Winter hampir bersamaan saat dilihatnya Leathina yang datang dengan Nicholas.
“Salam pangeran Edward.” Sama Winter sopan.
“Kalian tidak usa terlalu formal denganku, lagi pula aku hanya pangeran kedua.”
“Walau bagaimana pun anda tetaplah seorang pangeran.” Jawab Winter.
“Untuk apa kalian berdua ke mansion ku?” tanya duke Leonard.
“Aku datang untuk mengunjungi anda tuan duke. Ayahku mengutusku ke sini untuk mencari kebenaran mengenai hutan hitam yang akhir-akhir ini menjadi sangat tidak terkendali.”
“Bukankah kau sudah tahu apa penyebabya? itu karena bos disana marah. Kalian juga mendengar Farkas mengatakannya.” Gumam Alefric pelan.
“Penyebabnya masih belum di ketahui, dan benar bahwa penghuni huan hitam akhir-akhir ini menjadi jauh lebih agresif. Mereka telah memasuki beberapa desa yang berada di dekat hutan hitam.” Ucap Duke memberitahukan Edward.
“Bagaimana dengan para penduduk sekitar?” tanya Edward.
“Mereka telah kami pindahkan untuk sementara waktu, kami juga menugaskan beberapa kesatria dan prajurit untu berjaga dan melindungi mereka. Sampaikan pada Raja untuk tidak terlalu khawatir, aku akan mengurusnya dengan baik.”
“Baiklah aku paham, akan aku sampapikan pada ayahku. Kalau begitu saya akan kembali sekarang.”
Setelah mendengar laporan duke Leonadr Edward pun kembali ke kerajaan bersama dengan Aelfric.
“Aelfric yang kecewa karena belum berbicara dnegan Leathina dan sudah harus kembali membuatnya terus mendengus kesal di sepanjang perjalanannya pulang ke kerajaan sementara Edward hanya terdiam tidak terlalu memperdulikan kelakuakn Aelfric.
“Apa yang terjadi ayah?” tanya Leathina yang berpura-pura tidak tahu berharap ayahnya menjawabnya dan bisa mendapatkan beberapa informasi baru mengenai hutan hitam.
“Disana kacau, tapi kau tidak perlu khawatir Leathina. Ayah akan mengurusnya.”
“Ah. Baiklah.”
“Padahal aku berharap dia menceritakan lebih banyak lagi tapi sepertinya dia benar-benar tidak ingin aku terlibat.” Batin Leathina saat ayahnya hanya mejawabnya dengan jawaban yang singkat.
“Kembalilah ke ruangan mu Leathina.”
“Baik ayah.”
“Paman, aku akan mengantarkan Leathina kembali ke kamarnya.”
“Baiklah Winter, Nicholas kau ikut denganku untuk mengurus beberapa kesatria dan prajurit yang akan di kirimkan ke perbatasan.”
“Baik ayah.” Jawab Nicholas patuh dengan duke Leoanrd walaupun sebenarnya di anagat ingin mengantar Leathina kembali ke ruanganya
“Leathina kau akan pergi ke perayaan ulang tahun ratu?” tanya Winter yang memecah kesunyian.
“Huh, apa?” Tanya Leathiana yang sedari tadi hanya melaun karena memikirkan kejadian yang menimpanyaa saat di kota tadi.
“Aku bertanya apa kau akan ke perayaan ulang tahun ratu?” Tanya Winter untuk yang kedua kalinya.
“Iya aku akan pergi, lagi pula aku akan dianggap tidak menghargai ratu jika aku melewatkan perayaan ulang tahun nya.”
“Kalau begitu apa kau mau berpasangan denganku?”
“Aku mau tapi hanya saja Pangeran Edward telah lebih dulu memintaku menjadi pasangannya.”
“Kalau kau mau kau bisa jadi pasangan keduaku.”
“Apa boleh?”
“Tentu saja.”
“Aku akan menunjukkan pada wanita-wanita penggosp itu!” Batin Leathina.
“Leathina apa telah terjadi sesuatu?” tanya Winter penasaran karena melihat Leathina tersenyum dengan ekspresi yang aneh.
“Tidak ada Winter. terimakasih telah mengantarku. Kau kemablilah dan beritirahat.” Setelah samapi di kamarnya Leathina langsung masuk.
“Nona Leathina.” Seru Adele saat akhirnya melihat Leathina.
“Anda dari mana saja? saya seharian menjadi Nona Leathina kemana-mana tapi tidak menemukan anda.” Tanya Adele yang khawatir dengan Leathina karena tiba-tiba menghilang.
“Aku bermain di taman belakang.” Ucap Leathina dengan tersenyum berharap Adele tidak menanyainya lebih banyak lagi agar ia tidak banyak berbohong untuk menutupi kesalahannya.
“Ah, baiklah. Silahkan bersihkan tubuh anda terlebih dahulu dan langsung beritirahat.” Ucap Adele yang kemudian hanya pasrah dan tidak bertanya lagi karena sekera apapun ia mencari tahu Leathina tetap tidak akan memberitahukan kemana ia pergi seharian.
“Terimakasih Adele.” Ucap Leathina setelah selesai membersihkan dirinya dan Adele membawakan makan malam untuk Leathina.
“Silahkan beritirahat Nona Leathina, besok anda akan sibuk.”
“Sibuk apa?”
“Untuk mempersiapkan diri menghadiri perayaan ulang tahun Ratu Juliette, apa ada lupa?”
“Perayaanya besok?!” tanya Leathina yang terkejut karena baru mengetahui waktu pelaksanaannya, selama ini Leathina hanya tahu bahwa akan ada perayaan.
“Iya Nona, saya telah mempersiapkan segala sesuatunya jadi Nona silahkan beristirahat dengan tenang.”
“Gaunku? Aku tidak harus ke kota kan?”
“Duchess Nice telah mempersiakan gaun untuk anda, silahkan Nona Leathina melihatnya.” Ucap Adele kemudian menunjukkan sebauh gaun yang telah rapi terpajang di ruangan Leathina.
“Itu gaunku ya.” gumam Leathina pelan.
Dilihatnya gaun berwaran biru tua dan di dekatnya juga ada sepatu dan aksesoris yang telah di sediakan Adele untuk Leathina gunakan besok menghadiri perayaan ulang tahun ratu Julitte.
“Aku belum memiliki hadiah yang akan diberikan untuk ratu.”
“Nona Leathina tenang saja, Duke telah menyiapkan hadiah dan hadiah yang tuan duke kirimkan tentu saja juga mewakili nama Nona Leathina.”
“Jadi begitu, baiklah aku jadi tidak usah repot-repotkan. Aku akan beritirahat sekarang, Terimakasih Adele.” Ucap Leathina yang kini telah berbaring di tempat tidurnya.
“Mimpi indah Nona Leathina.” Gumam Adele kemudaian segera keluar dari ruangan Leathina.
“Wah! Aku benar-benar melakukan banyak hal hari ini.” Gumam Leathina dan tidak membutuhkan waktu lama Leathina pun benar-benar tertidur.
...
“Bagaiaman degan Nona Leathina?” tanya Anne yang kebetulan melihat Adele baru saja keluar dari ruangan Leathina.
“Nona Leathina baik, kau seharusnya tidak datang ke sini Anne. Kau masih dalam masa hukuman.” Ucap Adele memperingati Anne.
“Aku tahu, aku hanya penasaran apakah Nona Leathina baik-baik saja atau tidak.”
“Seperti yang aku katakan Nona Leathina baik-baik saja, jangan khawatir.”
“Baiklah, termikasih telah mengantikan aku Adele.”
“Aku menggantianmu karena Duke yang memintaku, ayo kembali ini sudah malam.”
Mereka berdua pun sama-sama kembali ke kamar para pelayan berada dan kemudian berpisah saat telah sampai ke ruangan masing-masing.
...
“Nona Leathina ayo bangun.”
“Adele, kenapa ribut sekali?” tanya Leathina yang masih menggeliat di atas tempat tidurnya.
“Tuan duke kembali mengirimkan tentara tambahan ke perbatasan, mereka bersiap-siap untuk pergi sekarang.”
“Cuaca hari ini sepertinya sangat buruk.” Gumam Leathina.
Leathina melihat ke luar jendela dan dilihatnya langit sangat gelap seperti akan hujan tapi juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan turunya hujan.
“Nona ayo!”
“Acaranyakan malam kenapa harus bersiap-siap secepat ini?” Leathina yang masih belum sadar sepenuhnya masih menggeliat di atas tempat tidurnya dan mencoba untuk tiidur kembali.
“Nona Leathina harus bangun sekarang untuk bersiap-siapa, adan harus melakukan banyak perawatan. Maafkan aku karena melakukan ini nona Leathina.”
Adele di bantu dengan pelayan yang lainnya memaksa Leathina untuk bangun, dan walaupun Leathina masih dalam setengah kesadarannya Adele telah melakukan banyak hal. Ia bahkan dengan cekatan membersihakn rambut Leathina dan menatanya dengan rapi. Leathina baru benar-benar tersadar sepenuhnya saat Adele mengancamnya akan memandikannya.
“Apa sudah selesai?” tanya Leathina pada Adele dan melihat Adele masih sangat sibuk mengurusnya.
“Adele, kau tidak perlu membubuhkan banyak bedak di wajahku dan menata rambutku dengan bentuk yang aneh. Rambutku kau uraikan saja Adele.”
“Tapi Nona..?”
“Laukan saja apa yang aku katakan.”
“Baikah saya paham Nona Leathina.”
Adele mematuhi perkataan Leathina, ia hanya menerapkan sedikit bedak dan membiarkan rambut Leathina terurai. Adele yang tidak suka melihat rambut Leathina begitu polos pun memilih untuk menambahkan beberapa aksesoris di rambut Leathina.
“Apa begini tidak apa-apa Nona Leathina?” tanya Adele yang meminta persetujuan Leathina terlebih dahulu.
“Iya ini tidak masalah, ini cantik. Terimakasih Adele.” Ucap Leathina.
Setelah berjam-jam sibuk dengan apa yang akan dikenakan Leathina akhirnya Adele selesai tepat pada waktunya.
“Cuacanya benar-benar buruk hari ini.” Gumam Leathina pelan yang kembali melihat ke luar jendela dan melihat langit masih saja terlihat gelap dan tidak ada tanda-tanda yang memperlihatkan akan turunnya hujan, tidak ada angin kencang atau petir yang biasanya terjadi saat akan ada hujan lebat.
“Di luar benar-benar gelap Nona Leathina, mungkin akan turun hujan lebat atau bahkan badai, atau mungkin karena ini sudah menjelang malam jadi langitnya terlihat gelap.” Ucap Adele saat melihat Leathina terus melihat ke arah luar.
“Iya Adele, aku harap memang akan turun hujan atau badai.” Gumam Leathina pelan.
“Tok... tok... tok...”
Terdengar suara ketukan dari luar ruangan Leathina.
“Itu pasti tuan Nicholas yang datang menjemput Nona Leathina. Baiklah sudah waktunya nona Leathina pergi.” Adele mengawal Leathina dan kemudian segera membuka pintu dan dilihatnya Nicholas telah berdiri di depan pintu menunggu Leathina.
“Ayo! Semua orang sudah menunggu di bawah.” Ucap Nicholas kemudian mengambil tangan Leathina yang masih di pegang oleh Adele dan menuntunnya berjalan.
“Hati-hati di perjalanan anda Nona Leathina.” Ucap Adele melepas kepergian Leathina.
“Apa dia tidak ikut?” tanya Leathina yang beberapa kali menoleh ke belakang melihat Adele.
“Dia juga akan pergi tapi di kereta yang lain.” Jawab Nicholas.
“Wah! Kakak Leathina cantik sekali.” Seru Nora menyambut kedatangan Leathina.
“Kau sudah tidak dihukum lagi?”
“Ibu meminta ayah untuk mengiizinkan aku ikut, tapi hukumanku akan tetap berlanjut.” Bisik Nora pelan, takut ayahnya mendengarnya dan menambah hukumannya.
Mereka sekeluarga berada di kereta kuda yang sama untuk berangkat ke kerajaan. Tidak seperti dulu, Leathina kali ini tidak menolak saat ayahnya memintanya menaiki kereta yang sama dengan semua keluarganya.
...***...