
Setelah melihat Leathina menghabiskan makanannya Adam segera berjalan keluar dari kedai makanan diikuti oleh Leathina yang berlari kecil mengikutinya, walaupun Adam hanya berjalan namun kakinya yang Panjang selalu mengambil langkah lebar membuat Leathina kewalahan menyeimbangkan langkah kakinya dengan Adam.
“Adam ada apa?”
Leathina berlari-lari kecil dan berhenti tepat dihadapan Adam karena sikapnya yang tiba-tiba saja berubah.
“Apa kau marah padaku, karena pertanyaan ku menyinggung mu Adam?” Leathina kembali bertanya karena adam tidak meresponnya sama sekali dan malah sibuk melihat ke sekelilingnya
“Baiklah, baiklah, aku minta maaf aku tidak akan bertanya lagi Adam jadi bica... eh adam ada apa?”
Adam menarik tangan Leathina dan merangkulnya kemudian berjalan dengan terburu-buru memasuki keramaian dan berbaur dengan orang-orang yang juga tengah berlalu lalang di jalanan.
“Adam ada apa?”
“Jangan menoleh Lea, seseorang sedang mengikuti kita sekarang.”
“Benarkah? Siapa? Kenapa? Dan untuk apa dia mengikuti kita?”
“Mana aku tau, kau tanya saja sendiri.”
“Kau gila ya, kita bisa tertangkap jika aku bertanya langsung.”
“Nah kau tau, jadi bersikaplah seolah-olah kita dekat.” Mendengar perkataan Adam membuat Leathina juga ikut merasa was-was dan refleks ikut merangkul kembali Adam karena khawatir.
“Pfft.”
“Kau tertawa, adam? Kau kenapa tertawa? Kau sedang menertawakan aku ya?”
“Tidak, aku tidak tertawa. Ayo fokus dan jalan kedepan jangan menoleh atau berteriak untuk menarik perhatian.”
“Tapi bukankah kejadian ini sedikit familiar, adam?” Leathina mengigat – ingat kembali kejadian saat ia pertama kali bertemu dengan adam, saat itu dia juga diikuti oleh seseorang dan berakhir berjalan berdampingan.
“Aku tidak ingat Lea, ayo jalan saja.” Adam tersenyum tidak terlalu mempedulikan perkataan Leathina dan mengajak Leathina berjalan meninggalkan area perkotaan.
Mereka berdua akhirnya berakhir berjalan bersama dengan posisi saling merangkul adam merangkul Leathina di bahunya sedangkan Leathina melingkarkan tangannya di pinggang Adam karena Leathina tidak bisa balas merangkul Adam di pundaknya karena Adam jauh lebih tinggi darinya.
Leathina dan Adam selalu berjalan di area yang memiliki banyak kerumunan agar mereka tidak terlalu mencolok perhatian orang-orang dan agar mereka bisa terbebas dari orang yang kini sedang mengikuti mereka.
“Jangan menoleh. Lea!”
Adam menarik kembali kepala Leathina agar tetap fokus melihat ke depan, dan kemudian semakin menambah kecepatan mereka berjalan.
“Kau benar Adam, ada yang sedang mengikuti kita.”
Saat Leathina menoleh sekilas ia melihat beberapa orang yang juga mengenakan jubah mengikuti mereka, posisi orang-orang tersebut berjauhan dan juga tersebar dan berbaur dikerumunan agar tidak mencolok perhatian, jika Leathina tidak beberapa kali menoleh dan terus melihat orang-orang yang sama berjalan disekitarnya dia mungkin tidak akan menyadari bahwa ternyata bukan hanya satu orang tapi ada beberapa orang yang sedang mengikuti mereka berdua.
“Kau melihatnya? Percepat langkah kakimu Lea kita akan sedikit kerepotan.” Adam bertanya sambil melihat kesekelilinganya seperti mencari sesuatu dan beberapa meter didepannya ia melihat sebuah gang kecil.
Leathina mengangguk cepat menjawab Adam dan juga mempercepat langkah kakinya mengikuti apa yang dikatakan Adam.
Semakin cepat Adam dan Leathina berjalan semakin cepat pula orang-orag yang ada dibelakang mereka mengikuti langkah mereka dan semakin lama mereka sudah seperi orang yang sedang mengejar mangsanya, orang yang mengikuti mereka berdua tidak lagi ragu menunjukkan dirinya.
“Apa kita akan bertarung? Jumlah mereka lebih banyak adam.”
“Tenang saja, mereka tidak akan memulai pertarungan dikeramaian, apa lagi disekitar sini sedang ada pencarian oleh prajurit kerajaan jadi jika mereka bukan orang-orang bodoh mereka tidak akan bertindak gegabah.”
“Lea kemari!”
“Aww.”
Saat Adam melewati sebah gang kecil yang telah ia lihat sebelumnya Adam segera menarik Leathina memasuki gang tersebut dan segera berlari memasuki gang yang dimasukinya membuat Leathina terkejut karena ditarik secara mendadak.
...
“Tidak tau, tadi mereka berdua masih berjalan di depan.”
“Cepat cari, kita harus mendapatkan informasi yang dibawa laki-laki itu.”
Orang-orang berjubah tadi kehilangan jejak orang yang sedang mereka buru, mereka kemudian berpencar dan memulai pencarian.
...
Adam menuntun Leathina dan mengambil sebuah belokan di depannya untuk menghindari kejaran orang-orang dibelakangnya.
Setelah beberapa lama berjalan menyusuri gang yang mereka masuki akhirnya mereka melihat ujung gang yang sampai pada sebuah jalan, jalan tersebut terlihat cukup ramai dilalui oleh orang-orang hingga mereka berdua tidak terlalu menarik perhatian.
“Apa kita sudah lolos.”
Leathina menoleh kebelakang setelah itu melihat ke sekelilingnya untuk memeriksa keadaan sekitarnya tapi tidak melihat salah satu dari orang-orang yang mengejarnya tadi.
“Sepertinya begitu.”
“Syukurlah kalau kita sudah berhasil lolos. Ah, kita sudah diperbatasan kota rupanya.”
Palang perbatasan kota terlihat tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Leathina berjalan sambil mengibas-kibaskan tangannya untuk mengurangi peluhnya karena telah berlari cukup jauh.
“Tak”
“Kau tidak apa-apa Lea?”
Tidak sengaja seorang laki-laki yang tengah mengangkut sebuah karung menabrak Leathina hingga Leathina jatuh terduduk jubah penutup kepalanya hampir tersingkap untungnya Adam dengan cepat menarik kudung jubahnya dan memperbaikinya untuk Leathina agar tidak terbuka kemudian membantunya berdiri.
“Aku tidak apa-apa Adam.” Leathina segera berdiri dengan bantuan Adam dan memperbaiki jubahnya.
“Ah, maafkan aku.” Orang yang menabrak Leathina cepat-cepat membungkuk untuk meminta maaf atas ketidak sengajaanya menabrak.
“Tidak apa-apa.”
Leathina tidak terlalu mempermasalahkan kejadian yang menimpanya barusan dan segera melanjutkan perjalanannya kembali karena orang-orang disekitarnya mulai menjadikan mereka tontonan.
“Kau benar-benar tidak apa-apa Lea?” Adam berjalan mengikuti Leathina sambil ikut memeriksa keadaannya.
“Iya aku benar-benar tidak apa-apa, lagipula jika aku terluka aku langsung bisa menyembuhkan diriku sendiri.”
“Iya, iya, aku tahu. Tapi bukannya terlalu berbahaya menggunakan kekuatanmu terus – menerus?”
“Tenang saja tidak akan terjadi apa-apa.” “Yah semoga saja tidak terjadi apa-apa.” Leathina bergumam pada akhir kalimatnya hingga tidak bisa didengar oleh Adam.
“Permisi... Nona.. Nona Permisi?”
Seorang pria tiba-tiba memanggil Leathina dan mulai mengikutinya.
“Lea, kau mengenalnya?” Adam berjalan berdampingan dengan Leathina dan berbisik padanya.
“Jangan menoleh, Adam pokonya jangan sampai dia melihat wajahmu.”
Winter? Itu suara Winter, aku yakin itu suaranya. Duh waktunya buruk sekali aku terlalu banyak berlari hari ini tapi pokoknya aku tidak boleh tertangkap. Leathina mempercepat langkah kakinya kini gantian Leathina yang menuntun Adam ia menarik tangan Adam dan membawanya pergi bersamanya.
“Tunggu dulu! Nona.. Nona!” laki-laki tadi masih terus mengejar dan membuntuti Leathina dan Adam yang juga semakin cepat di depannya.
...***...