
“Bagaimana dengan Leathina?” tanya Adam dilihat Leathina masih berbaring di tempat tidur dan belum pernah bangunan semenjak tidak sadarkan diri akibat di pukul oleh Edward untuk menenangkan nya.
“Nona Leathina masih tidur tapi mungkin sebentar lagi akan segera bangun, dan Adam ...” Panggil Nina.
“Iya ada apa?” Adam kemudian melihat Nina yang menatapnya dengan wajah serius.
“Kau jangan memanggil Nona Leathina langsung seperti itu, kau harus sopan padanya setelah mengetahui siapa dia sebenarnya. Jadi hati-hati.” Ucap Nina memperingati Adam agar tidak memanggil langsung Leathina dengan namanya.
“Ah, iya, iya, aku paham. Aku hanya kebiasaan saat bersama dulu dan belum tamu apa-apa tentangnya.”
“Padahal sebelumnya kau juga sudah tahu siapa dia, kau hanya pura-pura tidak tahu kan.” Celetuk Troy menyudutkan Adam di depan Nina.
“Iya, iya, aku salah. Tidak akan aku ulangi. Tapi apa yang harus kita lakukan jika Nona Leathina benar-benar bangun sementara tuan Ed masih belum datang?” Tanya Adam khawatir dengan Leathina, mengingat Leathina sebelum pingsan yang sangat bersikeras menolak untuk ikut dengan Edward sampai melarikan diri bahkan mengancam akan melompat dari tebing.
“Benar dia sepertinya meragukan kita, seharusnya sejak awal kita beritahukan saja.” Gumam Nina yang juga ikut khawatir.
“Kita tahan saja samapi Tuan Ed datang.” Celetuk Troy lagi sambil membenarkan posisi duduknya mengamati dua rekannya yang sibuk memilih Leathina.
“Memangnya kau bisa menahannya?” Tanya Adam, “Dulu di mansion pusat tentara bayangan kau berkali-kali menantangnya dan berkali-kali juga kalah olehnya, badanmu saja yang besar.” Cemooh Adam saat mendengar ucapan Troy barusan, kemudian mengungkit saat Troy berkali-kali dapat dikalahkan oleh Leathina dengan mudah.
“Eh! Aku pernah mengalahkannya sekali walau kalah dua kali.” Troy mengelak tidak terima di cemooh oleh Adam, Troy malah merasa dipermalukan tapi tidak bisa membantah kekalahannya waktu itu.
“Kita bisa dengan mudah menahannya terlebih kita ada tiga orang, tapi kita tidak tahu apa yang bisa Nona Leathina lakukan untuk menyingkirkan kita atau apa yang akan ia rencanakan untuk pergi meninggalkan kita tanpa ada yang tahu, tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan dan rencanakan.” Gumam Nina khawatir mengingat Leathina yang pintar terlebih menguasai bela diri dan dapat menggunakan pedang dengan sangat baik.
“Menurutmu apa yang membuatnya sampai berkali-kali mencoba melarikan diri dari keluarganya dan kini tidak ingin kembali ke kerajaan?” Ucap Nina setelah lama berfikir.
“Mungkin dia tahu akan dijadikan target oleh orang-orang serakah setelah tahu kemampuannya di ketahui banyak orang.” Jawab Troy.
“Itu mungkin saja, tapi bagaimana dengan dia yang dulu pernah mencoba lari dari semua orang. Seakan-akan mengetahui sesuatu yang tidak di ketahui oleh orang-orang.
“Seperti mengetahui bahwa dirinya sering menjadi target pembunuhan?”
“Betul, tapi apa alasannya ia menjadi target padahal tidak ada yang salah dengannya?” ucap Nina semakin bingung.
“Sebaiknya untuk sekarang kita pikirkan bagaimana cara menahan Nona Leathina saja jika bangun nanti selebihnya kita tanyakan langsung saja padanya setelah terbangun.” Ucap Adam memberi usulan kemudian mereka bertiga sibuk memikirkan bagaimana cara menenangkan Leathina nanti jika benar-benar bangun.
...
Edward yang baru saja keluar dari penginapan tiba-tiba merasakan seseorang tengah memperhatikannya dari kejauhan kemudian dilihatnya beberapa orang dengan tempat yang berbeda-beda sesekali melirik ke arahnya.
“Musuh?” gumam Edward saat melihat meeka semua sepertinya tengah mengawasi penginapan tempatnya menginap.
“Mereka datang untukku?” tanyanya pada dirinya sendiri mengingat banyak orang yang mengincarnya setelah melakukan berbagai pekerjaan untuk membunuh.
“Atau untuk Leathina?” gumamnya lagi kemudian segera pergi meninggalkan penginapan.
“Ah, ada dua kelompok ya?”
Edward sengaja meninggalkan penginapan untuk mencari tahu apakah mereka datang untuknya atau untuk Leathina dan menemukan bahwa ternyata mereka datang untuk dua tujuan itu, beberapa orag mulai bergerak mengikutinya saat meninggalkan penginapan dan yang lainnya terlihat masih tetap berada di posisi yang sama sembari mengamati penginapan yang ia tempati bersama dengan Leathina.
“Adam bersama dengan Leathina, dan sebentar lagi Nina dan Troy juga akan kembali ke penginapan, melihat dari penampilannya orang-orang yang mengamati penginapan sepertinya memiliki kemampuan bertarung yang lebih rendah dari Adam, Troy, dan Nina jika di bandingkan dengan pengalaman mereka tiga bawahan ku itu sepertinya lebih unggul jadi Leathina akan tetap aman walaupun aku pergi.” Batin Edward setelah selesai menganalisa musuhnya.
“Yang sepertinya akan jadi masalah adalah orang-orang yang mengikuti ku ini, sepertinya mereka memiliki kemampuan yang hebat makanya berani di kirim untuk menemui ku.” Gumam Edward kemudian berbelok di sebuah jalan kecil kemudian masuk ke dalam gang dan akhirnya menghilang.
Edward dengan cepat meninggalkan orang-orang yang mengikutinya kemudian keluar kembali dari gang dan berada di jalan utama berbaur dengan penduduk desa lainnya yang sibuk beraktifitas.
“Ah! Aku lupa menanyakan sesuatu pada mereka.” Gumam Edward kemudian kembali ke jalan kecil dan berhenti di mulut gang untuk menunggu orang-orang yang tadi menguntitnya.
“Ah! Itu dia!” seru seseorang yang datang dengan terburu-buru pada Edward yang sedang bersandar di dinding.
“Aku memang menunggu kalian, tapi kalian lamban sekali aku hampir pergi tadi.” Ucap Adam, “Jadi untuk apa kalian mencari ku bahkan mengikuti ku sampai disini? aku pikir kalian telah mengikuti ku terlalu jauh.” Tanya Edward santai kemudian kembali berdiri dengan tegap dan menghampiri orang-orang yang mengincarnya itu.
“Cepat bunuh dia!” seru seseorang yang tiba-tiba menerjang Edward.
“Srek!”
“Akh!”
Edward yang diserang secara mendadak tentu saja tidak akan diam dan balas menyerang dan karena tidak ingin menghabiskan banyak waktu Edward langsung menyerang titik vitalnya hingga berimbas vatal untuk si penyerang.
“Bos!” pekik yang lainnya dan langsung ikut menyerang.
“Oh! Dia pimpinan kalian ya.” gumam Edward sambil mengamati lamanya yang kini saling gantian menyerangnya.
“Sepertinya kalian dari guild lain ya? dilihat dari bagaimana kalian berani mendatangiku seperti ini aku jadi penasaran orang bodoh macam apa yang meminta kalian membunuhku dan yang lebih bodoh lagi kalian malah menyanggupinya tidakkah kalian berfikir akan mati di tanganku di banding berhasil membunuhku?” tanya Edward setelah melihat tato yang sama yang ada di tubuh orang-orang yang ingin membunuhnya itu.
“Kami pasti akan membunuhmu! Kau terlalu berbahaya jika tetap dibiarkan hidup dan berkeliaran.” Ucap orang pertama yang menyerang Edward, ia kini hanya bisa berbaring di tanah sambil menyetabilkan nafasnya untuk bertahan hidup.
“Bukankah kita sama-sama berbahaya? Jadi bagaimana kalau kalian membunuh diri kalian sendiri saja? Tapi sebelum itu aku perlu beberapa informasi dari kalian sebelum mati.”
“Jangan harap kau akan mendapatkan informasi dari kami.” Cemoohnya kemudian menolak Edward dengan keras.
“Ah, benarkah? Tapi sayang sekali sepertinya aku telah mendapatkan informasi dari kalian.” Ucap Adam.
“Srek!”
“Tak!”
‘Srek!”
Adam yang sedang terburu-buru langsung menyerang mereka bersamaan dengan sengaja ia mengincar titik-titik vital tubuh lawannya hingga mereka semua tidak lagi bisa bergerak menahan sakit karena mendapatkan luka serius di tubuh mereka.
“Kalian dari guild lain yang di bayar untuk membunuhku karena aku memang harus dilenyapkan bukan, mereka yang datang ke guild mu dan meminta membunuhku karena takut aku menjual informasi mereka yang pernah datang ke tempatku untuk mengajukan permintaan kotor, aku tahu segalanya jadi tidak usah terkejut.”
“Ba- bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa, sampah pengecut seperti mereka tidak usah datang meminta bantuan jika pada akhirnya takut ketahuan. tapi seharunya kau sebaiknya harus berfikir lebih jauh lagi setelah berhasil melenyapkan ku maka mereka juga pasti akan melenyapkan kalian karena melakukan yang mereka minta sepertiku, bukan?”
“Srek!”
“Akh!” pekiknya kesakitan saat Edward kembali mengayunkan pedangnya secara sembarangan.
“To- tolong jangan bunuh mereka.” Pintanya pada Edward setelah melihat orang-orang yang ikut datang bersamanya kini tidak lagi bisa bergerak.
“Ah! Kau bukan pemimpin yang mementingkan diri sendiri ya kau samapi memohon untuk anak buahmu di bandingkan dirimu sendiri, baiklah karena aku cukup sibuk dan aku menaruh sedikit respek padamu yang mementingkan anggota mu dibandingkan dirimu sendiri aku tidak akan membunuhmu, kecuali jika kalian ingin membunuh diri kalian sendiri karena tidak kuat menahan sakit.”
“A- apa maksudmu?”
“Akh! Huf.. huf.. huf.. ekh!” pekik salah satu orang yang mengikuti Edward berusaha menahan sakit.
“Bu- bun- uh aku, Ce- cepat!” pintanya degan susah payah.
Edward menghancurkan titik vital nya di bagian dada dan lehernya hingga kesulitan bernafas jikapun bisa maka ia harus bisa menahan sakit berkali lipat hanya untuk sekali menghirup dan menghembuskan nafas dan jika tidak segera diobati akan membuat siapapun yang mengalaminya lebih baik mati dari pada harus tersiksa.
“Sial, jadi ini yang dia maksud tidak akan membunuh kami samapi kami lebih baik mati dengan tangan kami sendiri, jika tahu akan jadi seperti ini lebih baik aku minta dia membunuh kami dengan cepat dari pada harus tersiksa seperti ini.” Ucap orang yang berperan sebagai pemimpin dalam kelompok mereka yang di perintahkan untuk membunuh Edward
Di desa kecil bahkan terpencil yang mereka tempati, sulit untuk menemukan dokter yang memiliki keahlian untuk membantu mereka, jika memang ada mereka tetap akan hidup dengan keadaan cacat seumur hidup.
...
Edward meninggalkan lawannya yang sudah tidak bisa bergerak lagi, keluar dari jalan kecil dan kembali ke jalan utama berbaur dengan orang-orang desa yang sibuk melakukan aktifitasnya sambil berjalan keluar dari desa Edward juga sesekali menanyakan pada kusir kereta yang lewat berharap ada yang pergi searah dengan tujuannya.
“Mau kemana tuan?!” tanya Edward ramah saat melihat sebuah kereta melintasinya dan mencoba menghentikannya, penutup wajah dan jubahnya ia lepas agar bisa berbaur tanpa menarik perhatian orang-orang.
“Kereta ini sepertinya akan ke kota untuk mengantarkan bahan-bahan perkebunan yang sudah di panennya untuk di jual di kota.” Batin Edward melihat sekilas isi kereta yang di penuhi dengan hasil panen dari desa.
“Mau ke kota.” Jawabnya singkat kemudian menatap Edward dari ujung kaki sampai ujung rambut berkali-kali.
“Hei Nak, melihat dari penampilanmu apa kau juga mau ke kota untuk mencari pekerjaan?” tanya si kusir setelah selesai mengamati Edward dari ujung kaki samapi ujung rambut.
“Ah! Iya tuan, saya ke kota untuk mencari tambahan uang.” Jawab Edward mengikuti alur yang terjadi begitu saja.
“Pakaian mu bagus, sepertinya harganya mahal dan wajahmu juga tampan.” Ucapnya fokus melihat wajah Edward yang bersih dan halus tidak seperti penduduk dari desa, “Apa kau kabur dari rumahmu karena ingin di nikahkan pada putri saudagar kaya ya?” tebaknya asal-asalan membuat Edward sedikit terkejut karena tebakannya yang luar biasa aneh.
“Ti- tidak pak, saya ke kota karena ingin mencari pekerjaan.” Ucap Edward mengelak.
“Ah! Tidak usah malu nak, hal seperti itu sepertinya sedang populer sekarang anak-anak dari keluarga kaya seenaknya membeli anak orang lain hanya karena mereka ingin saja menyimpan mereka seperti peliharaan. Ayo cepat naik kalau mau ikut ke kota!” si kusir sepertinya tidak mendengarkan penjelasan dari Edward yang ingin ke kota karena mencari pekerjaan bukan karena ingin dinikahkan, ia lebih memilih mebenarkan pendapatnya sendiri tapi untungnya dia mau mengizinkan Edward untuk ikut dengannya ke kota.
“Ah! Biarkan saja dia berfikir semaunya, lagi pula sebentar lagi akan berpisah.”
Edward akhirnya memilih untuk diam tidak ingin berdebat dengan alasannya ke kota dengan orang yang sepertinya memiliki keras kepala seperti itu.
“Pakai ini, bisa masalah jika saat perjalanan ke kota nanti ada anak saudagar kaya atau bangsawan kaya melihatmu dan ingin membeli mu.” Ucap si kusir sambil memberikan Edward sebuah topi untuk Edward gunakan hingga sedikit tertutupi.
Edward tidak membantah dan hanya menurut untuk mengenakan topi yang di pinjamkan untuknya. “Terimakasih.” Ucap Edward singkat kemudian memilih diam.
“Perjalanan masih jauh, dari pada itu lebih baik kau mengobrol denganku supaya tidak ngantuk, namaku Cade siapa namamu?” tanya Cade si pemilik kereta yang di tumpangi Edward.
“Artur, tuan Cade.”
“Ah, jadi namamu Artur ya!” serunya bersemangat setelah mengetahui nama Edward walaupun Edward hanya memberikan nama samaran padanya.
“Jadi setelah sampai di kota nanti pekerjaan apa yang akan kau ambil?” tanyanya lagi.
“Ah! Saya pikir tuan tidak mendengarkan alasanku tadi ingin ke kota.” Jawab Edward.
“Saya hanya bercanda, tidak usah diambil hati tapi perkataan ku tadi tentang anak bangsawan atau saudagar kaya yang membeli orang berwajah tampan atau cantik bukan candaan jadi jaga dirimu baik-baik saat di kota nanti.”
“Iya terimakasih atas peringatannya Tuan Cade.
“Jadi pekerjaan apa yang ingin kau ambil?” tanyanya lagi penasaran.
“Memangnya pekerjaan apa saja yang ada di kota Tuan Cade? Saya baru pertama kali ke sana jadi belum tahu.”
“Jadi kau belum pernah ke kota ya, sayang sekali ini akan jadi sulit untukmu! Kota yang akan kita datangi hanya kota kecil yang berada bahkan melewati perbatasan kerajaan jadi tidak terlalu semewah dan seramai kota-kota yang ada di kerajaan.”
“Jadi sulit untuk saya dapat pekerjaan ya?”
“Tidak juga, walaupun hanya kota kecil penduduknya cukup ramai tapi kau tahu sendirilah bagaimana kota kecil yang ada di luar kerajaan, tapi dengan wajah tampan mu itu kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah mungkin jadi pelayan di bar atau rumah hiburan hahaha.” Ucapnya kemudian di susul dengan tawanya yang meledak sementara Edward hanya menyunggingkan senyuman saja tidak habis pikir dengan pemikiran Tuan Cade yang begitu terbuka dan blak-blakan.
“Ah! Maaf, maaf, aku hanya bercanda. Kau bisa bekerja jadi pelayan di rumah makan mungkin akan ada yang mau menerimamu nanti atau menjadi pelayan di rumah bangsawan atau saudagar kaya tapi hati-hati jangan Sampai menjadi salah satu peliharaan mereka.”
“Iya akan saya ingat, Terimakasih telah memberitahukan Tuan Cade.”
“Iya, iya, sama-sama, suatu saat kau pasti akan berterimakasih padaku karena memberitahukan mu.”
“Tapi apa perjalanan ke kota masih jauh Tuan Cade?” tanya Edward setelag merasa telah melakukan perjalanan berjam-jam lamanya namun belum juga samapi di kota tujuan.
“Setengah hari lagi.” Jawab Tuan Cade santai.
“APA!”
Mengetahui perjalanan ke kota masih sangat jauh membuta Edward terbelalak tidak percaya.
“Kenapa kau teriak seperti itu kau mengagetkanku nak, perjalanan ke kota itu paling cepat sehari penuh mungkin besok kita baru akan sampai.” Ucap Tuan Cade menerangkan.
“Sial! Kenapa tidak biang dari tadi kalau kotanya jauh!” seru Edward masih terguncang.
“Aku pikir kau tahu, tidak mungkinkan kau melakukan perjalanan tanpa mencari tahu dulu.”
“Jika aku tetap melanjutkan perjalanan maka aku harus meninggalkan Leathina selama beberapa hari, sial aku harus kemabli, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya selama aku tidak ada!” batinnya khawatir dan hendak melompat turun dari kereta agar bisa segera kembali ke desa sebelumnya.
“Hei Nak!” cegat tuan Cade.
“Ah! Terimakasih atas tumpangannya Tuan Cade, tapi saya harus segera kembali ke desa tadi.”
“Kalau kau kembali sekarang kau pasti akan menginap di jalanan karena sudah tidak akan ada kereta lagi yang akan lewat dan waktumu akan lebih lama lagi untuk kembali, jadi tetap lanjutkan perjalananmu setelah mengantarkan barang-barang ini aku juga akan kembali ke desa kau bisa ikut dengan ku lagi.” Jelasnya.
“Ya, mungkin kau juga tidak akan kehabisan energi jalan kaki selama setengah hari pulang kembali ke desa. Lagi pula kenapa tiba-tiba kau ingin kembali setelah bersikeras ingin mencari pekerjaan di kota.”
“Ah! Ada seseorang yang harus saya jaga di desa.” Jawab Edward dengan suara lesu.
“Jadi kau sudah punya kekasih ya, aku sarankan kau ikut saja dulu ke kota dan kembali bersamaku setelah selesai mengantarkan barang. Aku yakin kekasihmu akan baik-baik saja, ini jalan terbaik yang bisa aku usulkan.”
“Iya baik, kalau begitu aku tetap akan ke kota.” Edward akhirnya pasrah dan kembali melanjutkan perjalanan.
“Jika saja ada kuda aku pasti sudah kembali.” Batinnya lagi.
“Hei! Nak, kau harus tetap semangat kekasihmu itu tidak akan berpindah hati dalam beberapa hari kecuali jika dia tidak menyukaimu.” Ucap Tuan Cade menyemangati Edward.
“Aku harap juga begitu.”
...***...