
Mereka makan dengan tenang sampai Edward meletakkan alat makannya, Leathina merasa ada yang aneh. Troy dan Nina menurunkan tangannya dari meja makan memegang senjatanya yang mereka sembunyikan.
Suasana semakin menegang tidak ada yang bergerak, lilin yang menerangi berkedip-kedip akibat hembusan angin yang tiba-tiba berhembus kencang.
Leathina hendak berdiri tapi Edward memintanya untuk tetap duduk di tempatnya tidak ada yang berani bergerak.
Hanya manik mata mereka yang berkedip-kedip was-was dengan sekitar.
Edwar memakai penutup wajahnya kemudian membentangkan tangannya di depan Leathina, mengambil posisi siap siaga untuk melindungi Leathina mewanti-wanti dari mana serangan akan muncul.
…
Adam memacu kudanya secepat mungkin sesekali menoleh melihat ke belakang, jauh di belakang sana terdengar suara gemuruh yang juga berjalan ke arah yang sama.
“Aku harus sampai sebelum mereka datang, semoga aku tidak terlambat.”
Laju kuda Adam semakin kencang, pondok tempat mereka tinggal tidak jauh lagi.
…
KABOOOOOMMMM!!
Serangan menerobos atap pondok tepat di atas meja makan, Edward menarik lengan Leathina ke depan sementara Troy dan Nina menjadi perisai di samping kanan dan kiri.
Bersamaan dengan ledakan cahaya terang menyelimuti disertai dengan angin kencang.
“Akh!” Leathina memekik.
Pinggangnya seperti dilillit sesuatu dan tertarik ke arah berlawanan.
“LEATHINA!”
Edward panik setengah mati saat ada sesuatu yang menarik Leathina dengan kekuatan besar tapi kekuatan Edward juga tidak lemah hingga terjadi saling tarik menarik.
“Brak!”
Pintu pondok di dobrak Adam masuk secepat yang ia bisa, sayangnya ia terlambat musuh yang mengejar sudah sampai lebih dulu.
Melihat situasinya tidak bagus Adam menerjang maju ke dalam cahaya namun terpental kembali tapi di ujung belatinya ada sedikit noda darah itu berarti Adam berhasil menggores lawannya.
Cahaya yang menyilaukan mulai redup dan angin kencang tadi juga berhenti seorang pria muncul setelahnya.
“Penyihir Agung?! Bagaimana bisa?” Troy tidak percaya persembunyian mereka ditemukan.
“Zeyden!” Leathina juga ikut terkejut. “Bagaimana bisa kau datang?”
“Leathina, aku merasakan aura sihirmu. Kemarilah semua orang menunggumu, ayah dan adik-adikmu semuanya mengkhawatirkan mu.” Zeyden meminta Leathina untuk melepaskan diri dan pergi ke sisinya Zeyden tahu betul Leathina dapat dengan mudah melepaskan diri dari pria bertopeng yang menahannya itu.
Brak!
Ed melompat menyerang Zeyden menghindar melepaskan tangan Leathina yang sempat ia pegang.
“Ed? Ketua guild tentara bayangan.” Zyeden beringsut mundur takut melukai Leathina dengan sihirnya, serangannya yang sembrono dapat mengakibatkan ledakan dan pasti akan melukai Leathina juga.
Ed memberikan Leathina pada Adam dan Troy untuk dilindungi agar ia bisa bertarung dengan leluasa. Ed sendiri menahan Leathina untuk tidak menyerang Ed takut Leathina di tuding bekerja sama dengan guild pembunuh bayaran sepertinya, jika berita seperti itu menyebar maka citra Leathina akan buruk dan berakhir diintrogasi nantinya.
“Selama ini kalian yang menculik Leathina?! Hari ini aku bersumpah akan membawa pulang Leathina kembali!” Zeyden tidak habis pikir Leathina diculik oleh orang-orang berbahaya seperti mereka, terlebih Leathina langsung diawasi oleh pemimpin mereka.
Pimpinan tentara bayangan terkenal sangat misterius belum pernah ada yang melihatnya secara langsung kecuali target yang akan dia bunuh, Zeyden merasa ada yang aneh melihat pimpinan mereka menampakkan diri seperti sekarang terlebih berhubungan dengan Leathina yang sekarang dicari semua orang.
“Pantas saja Leathina tidak bisa lepas, itu karena kau.” Ucapan Zeyden ditujukan pada Ed.
Ed terkekeh pelan mendengar ucapan Zeyden. “Saya tidak tahu tuan penyihir agung akrab dengan nona Leathina, saya banyak mendengar bahwa anda tidak terlalu menyukai anak duke ini tapi kenapa?” Ed mencemoh Zeyden yang tiba-tiba peduli dengan Leathina.
“Leathina aku merasakan sihirmu beberapa saat yang lalu, sihirmu pasti ditekan olehnya hingga sulit aku rasakan. Beruntung aku merasakannya sejenak dan langsung datang, aku janji aku akan membawamu pulang.”
Leathina berpikir keras bagaimana bisa Zeyden bisa merasakan sihirnya sekarang padahal selama ini dia baik-baik saja.
‘Ah kalung pemberian Almo! Ternyata seperti itu.’
Teringat kembali saat Edward menemukan Leathina waktu itu Leathina melepaskan kalungnya sebentar, kali ini juga sama ia melepaskan kalung pemberian Almo saat mandi tadi.
“Boss! Adam menghampiri Ed memberitahukan bahwa orang-orang dari kerajaan sedang menuju ke pendok untuk menangkap mereka.
Ed mendengar derap kaki kuda yang datang secara bergerombol.
Zeyden menyadari Ed sedang lengah yang mengambil kesempatan untuk menyerang, membuat Ed terpojok sejenak.
“Saat kesatria kerajaan datang kalian tidak akan bisa kemana-mana, kalian pasti berpikir aku datang sendiri bukan. Ini adalah akhir dari kejayaan pimpinan tentara bayangan.”
“Adam, bawa dia pada si penyewa.” Ed memberi perintah.
“Bos yakin?” Adama memastikan, takut bosnya itu menyesal nantinya.
“Cepat! Bawa dia.”
Adam langsung paham ia membawa Leathina bersamanya.
“Nina, ikot dengan Adam!”
“Baik, Bos!”
Nina berlari munyusul Adam kini di pondok hanya tersisa Ed, Troy dan penyihir agung, serta puluhan tentara yang kini berbaris di luar mengepung pondok itu.
“Tidak! Leathina.” Zeyden berniat menyerang tapi langsung di hadang oleh Troy.
“Urusanmu disini masih belum selesai tuan.”
“Akh! Sial!” Zeyden mengumpat, ia kesal setengah mati saat mereka berdua selalu menghalanginya untuk mengejar Leathina.
“Aku bersumpah akan aku bunuh kalian!”
Pertarungan semakin sengit Zeyden kewalahan menghadapi Troy yang seperti batu dan Ed yang sepertinya tidak bisa di sentuh, walaupun Zeyden kuat dia akan tetap kesulitan menghadapi dua buronan elit itu.
“TAK!”
Winter yang menunggu mereka di luar berjaga untuk menangkap siapapun yang kabur dari dalam pondok merasakan ada yang aneh, sebab sedari tadi di dalam terdengar suara pertarungan yang sengit tapi belum juga ada yang keluar dari pondok itu, Winter memberi instruksi siaga dan dia sendiri masuk ke dalam bangunan yang sudah hampir roboh itu.
“Winter kenapa kau lama sekali!” Teriak Zeyden kewalahan, Winter yang membantunya membuat pertarungan menjadi imbang.
“Apa yang terjadi.”
“Ada orang lain lagi!” Seru Zeyden was-was.
Angin tiba-tiba berhembus kencang, beberapa atap pondok bakan lepas, tiang-tiangnya pun berayun kencang. Kemudian muncul pusaran angin besar ke arah mereka.
“BRAKK!”
Seseorang terjatuh dari dalam pusaran angin.
“Akh! Sial,” umpatnya kesal sebab mendarat dengan kepala lebih dulu.
“LEATHINA!” Serunya kemudian bangkit tapi kemudian sadar bahwa dia sedang berada di tengah-tengah pertarungan.
“Aelfric?”
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Winter.
“Ah! Kalian berdua sudah tahu, aku merasakan keberadaan Lea di sini.”
“Baguslah kau datang, Leathina di culik orang-orang ini komplotannya baru saja membawa Leathina kabur melalui pintu rahasia di dekat perapian.”
“Sial, aku akan mengejar mereka kalian urus orang-orang itu.” Tanpa menunggu jawaban Winter langsung menyusul menyusuri sebuah pintu kecil menuju lorong bawah tanah.
“Troy, Ayo!” Troy mengangguk patuh kemudian keduanya mengambil kesempatan untuk kabur saat Zeyden dan Aelfric lengah karena ingin ikut bersama Winter mengejar Leathina.
“Akh! Sial!” Zeyden mengumpat kesal saat lawannya kabur.
...***...