
“Eh, siapa itu?” tanya aelfric yang kebingungan saat tiba-tiba melihat gambaran ingatan lain yang muncul.
Di dalam gambaran ingatan tersebut aelfric melihat gambar aneh dan seorang anak kecil berambut hitam pekat yang tengah berada di dalam gendongan ayahnya serta seorang perempuan yang berjalan di samping mereka berdua, mereka tampak sangat bahagia.
“Ini ingatan siapa?”
Aelfric perlahan mendekatinya kemudian melihat orang-orang asing yang ada di ingatan Leathina dengan sangat serius, tapi sekeras apapun Aelfric berfikir ia tetap tidak mengetahui kenapa gambaran ingatan aneh tersebut bisa tiba-tiba muncul.
“Tempat tinggal mereka aneh,” gumam Aelfric saat melihat gadis berambut hitam yang masih berada di gendongan seorang pria membawanya masuk ke sebuah tempat tinggal berbentuk kotak dan menjulang tinggi ke langit.
“Woah apa itu kereta besi?” ucapnya lagi saat melihat sebuah besi berbentuk kotak dengan empat roda.
Beberapa ingatan yang lain pun bermunculan dan memperlihatkan anak tadi telah menjadi gadis berambut hitam .
“Isabella, kemari nak!”
“Huh! Isabella sapa itu?” tanya aelfric saat mendengar suara seseorang yang menyebutkan sebuah nama asing.
“Leathina! Apa yang kau lakukan.”
“Ini suara duke, kenapa dia memarahi leathina?” tanya aelfric ketika mendengar sebuah suara lagi.
“Uh, para rentenir itu datang lagi, Isabella keluar lah dan katakan pada mereka bahwa ayah tidak sedang di rumah sekarang.”
“Kenapa bisa ada anak campuran yang terlahir di keluarga terhormat seperti keluarga Yarnell.”
“Kemana ayahmu?! Sudah waktunya membayar hutangnya!”
“Nona Leathina mungkin anak haram.”
“Ah, aku lapar sudah berapa hari ayah tidak kembali semenjak para rentenir datang lagi menagihnya. Apa sekarang dia benar-benar meningalkan aku?”
Tiba-tiba gambaran-gambaran ingatan dua orang yang berbeda terus bermunculan, suara-suara mereka pun saling bersautan hingga berdenging di tleinga Aelfric karena telalu banyak gambaran ingatan yang tiba-tiba muncul. Pandang aelfric mulai kabur ia kemudian segera menutup telinganya yang kini terus berdenging karena mendengar rentetan-rentetan suara ingatan milik orang lain yang bercampur dengan ingatan leathina.
“Bahaya, penyimpanan ingatannya mulai kacau. Aku harus segera menemukan leathina dan membawanya kembali bersamaku, jika aku tidak sadarkan diri disini aku mungkin tidak akan bisa terbangun kembali.”
Aelfric pun tidak lagi ingin melihat ingatan-ingatan yang sudah sangat kacau dan menerobos gambaran-gambaran ingatan yang masih terus bermunculan.
“Apa-apaan ini! Kenapa ada dua ingatan dalam satu tubuh, apa leathina baik-baik saja sekarang?”
Lama Aelfric berusaha keluar dan terus menerobos gambaran ingatan yang masih bermunculan kemudian Aelfric melihat sebuah pintu lagi yang tidak jauh dari tempatnya berada. Ia dapat dengan mudah melihatnya karena disana tidak ada penghalang apa-apa selain sebuah pintu yang berdiri kokoh di tengah-tengan nya.
Aelfric pun mendatangi pintu yang ditemukannya itu kemudian segera membukanya dan mengintip masuk ke dalam.
“Aku tidak dapat melihat dengan jelas di dalam,” ucapnya setelah membuka pintu dan mendapati ternyata di dalam sana gelap dan tidak dapat melihat apa-apa, tapi Aelfric tetap masuk berusaha mencari petunjuk.
Mata aelfric kemudian melihat sebuah benang berwarna emas yang sedikit bercahaya dan sepertinya mengarah ke suatu tempat.
“Apa ini?” ucap Aelfric setelah mendekati benang emas yang dilihatnya dan mulai mengikutinya.
“Apa benang ini tidak ada ujung nya?” tanya aelfric saat mulai lelah berjalan mengikuti ke mana arah benang tersebut terurai. Aelfric masih belum menyerah walau pun telah merasa lelah berjalan ia tetap melanjutkan perjalananya mengikuti benang tersebut.
Setelah lama berjalan mengikuti benang ia akhirnya sampai pada ujungnya dan menemukan seorang wanita berambut hitam yang sedang meringkuk di ujung benang.
“Hei! Permisi.” Ucap Aelfric sopan mencoba mengajak wanita yang masih meringkuk itu berbicara.
“Apa kau mendengarku?” ucapn aelfric lagi saat tidak ada respon dari lawan bicaranya.
“Permisi nona? Nona?” sapanya lagi yang masih belum menyerah mengajak wanita yang ia temui itu untuk mengobrol bersama.
“Hei! Kenapa diam saja sih!” seru Aelfric geram karena masih tidak mendapat respon dari si wanita dan ia pun menyentuh pundak wanita berambut hitam itu untuk mengajaknya berbicara.
"Tak”
tiba-tiba nuansa gelap tadi kini berbuah menjadi putih seluruhnya, dan dilihatnya seluruh penjuruh tempatnya berada hanya berwarna putih dan menyilaukan mata Aelfric.
“Apa-apaan ini,” gerutu Aelfric sambil menutup matanya dengan lengannya karena merasa sangat silau hingga membuat matanya terasa sakit.
Setelah rasa sakit yang aelfric rasakan di matanya akibat silau cahaya yang tiba-tiba berubah menghilang, ia pun menurunkan lengannya kembali kemudian menunduk untuk memeriksa keadaan perempuan yang tadi berusaha ia ajak berbicara.
Perempuan berambut hitam dan bergaun putih tersebut kini mendongak dan menatap ke arah aelfric dengan serius tanpa berkedip, hal yang sama pun dilakukan aelfric karena terkejut melihat perempuan tersebut kini tidak meringkuk dan balas menatapnya.
“Aelfric?” ucap si wanita dengan nada tanya dan kebingunngan melihat aelfric yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Apa sekarang aku bermimpi? Kenapa anak ini tiba-tiba bisa muncul di hadapanku.” Batin Isabella yang sekarang sangat kebingungan melihat aelfric.
“Le- Leathina!” serunya saat mendengar wanita berambut hitam tadi berbicara dan menyembutkan namanya. “Si- siapa kau, kau bukan Leathina!” ucapnya lagi setelah menyadari bahwa yang di depannya itu ternyata bukan lah leathina, karena Leathina yang ia ketahui adalah berambut merah dan bermata biru.
“Siapa wanita ini? Sekilas ia terlihat mirip dengan leathina tapi jika dilihat baik-baik ia bukan lah leathina yang aku tahu.” Batin aelfric yang menjadi sangat kebingungan setelah melihat wanita berambut hitam itu baik-baik. Aelfric merasa sangat familiar dengan keberadaan wanita tersebut seakan mereka pernah bertemu sebelumnya tapi disisi lain aelfric tidak dapat mengingat dimana mereka pernah bertemu sebelumnya hingga merasa sangat akrab dengannya.
“Katakan, siapa sebenarnya kau ini?” tanya aelfric kemudian sedikit memundurkan dirinya beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan wanita berambut hitam yang ditemuinya itu.
Isabella yang melihat Aelfric sedikit ketakutan kemudian berdiri, dan segera pergi meninggalkan Aelfric.
“Sebaiknya aku pergi saja dulu sebelum anak ini mengetahui bahwa aku lah yang selama ini menempati tubuh leathina.” Batin Isabella yang berjalan pergi meninggalkan aelfric.
“Hei! Kau tidak ingin menjawabku?” teriak aelfric dan segera mengejar Isabella dan menghadangnya.
“Kau mau pergi kemana? Kau tidak bisa pergi kemana-mana lihatlah semuanya hanya dimensi putih tak berujung kemana pun kau pergi aku masih bisa melihatmu, jadi menyerah lah dan katakan siapa kau sebenatnya jangan membuang-buang waktu berharga ku.” Ucap aelfric yang berbicara sambil menunjukkan pada wanita yang ada di depannya itu ke sekelilingnya yang memang tidak memiliki sekat sama-sekali.
“Anak ini benar, aku tidak bisa pergi kemana pun sekarang. Aku terjebak disini tapi dia tidak akan mungkin percaya jika aku memberitahukan padanya bahawa aku lah yang menempati tubuh leathina sekarang.” batin isabella pasrah kemudian menghirup nafas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan melalui mulutnya.
“jadi siapa kau?” tanya aelfric lagi menyelidik.
“Namaku Isabella, kau pasti mencari seseorang bukan. Jadi sekarang jangan mengikuti aku dan urus urusanmu sendiri.” Ucap Isabella kemudian pergi meninggalkan Aelfric.
“Huh? Isabella itu kan nama anak tadi.” Gumam Aelfric saat melihat punggungung isabella yang kini berjalan meninggalkannya.
Aelfric memperhatika Isabella yang kini benar-benar pergi meninggalkannya tapi tiba-tiba ia tergerak untuk mengejarnya kembali saat jarak keduanya sudah sangat dekat aelfric meraih tangan isabella hingga membuat isabella tertarik ke belakang.
“Leathina!” panggil aelfric kemudian menunggu respon dari isabella.
Isabella hanya terdiam dan hanya balas menatap mata aelfric yang kini terus melihatnya.
“Benar, kau leathina!” ucap aelfric lagi yang semakin yakin karena tidak ada bantahan dari isabella.
“se- sebenarnya a- aku, ...” ucap leathina terbata-bata ingin menjelaskan yang sebenarnya pada aelfric agar tidak salah paham, isabella takut jika aelfric menuduhnya mencuri tubuh leathina.
“Untung lah aku menemukan mu, kau tahu sudah sejak tadi aku mencari-cari keberadaanmu,” ucap aelfric merasa lega dan kemudian langsung memeluk isabella karena sangat senang.
Isabella terkejut mendapati reaksi aelfric yang jauh berbeda dengan apa yang ia pikirkan tadi, aelfric malah menerimanya tanpa ada kata protes sedikit pun.
“Ayo Leathina kita harus segera kembali, semua orang telah menunggumu kembali,” ucap aelfric kemudian melepaskan pelukannya dan segera meraih tangan leathina.
“Aelfric, kau tidak ingin bertanya mengapa aku terlihat seperti ini.” Isabella yang kebingungan dan merasa aelfric terlihat sedikit aneh pun mulai bertanya padanya.
“Kenapa?” tanya aelfric lagi yang lebih bingung mendengar pertanyaan Isabella. “Kau tidak perlu menjelaskanku, aku tahu semuanya.” Ucap aelfric yang menjadi sangat bangga terhadap dirinya sendiri.
“Dari mana kau tahu?”
“Saat aku mencarimu tadi aku melihat gambran-gambaran ingatan tentang dirimu dan gambaran ingatan leathina yang bercampur. Jadi, bisa dikatakan kau adalah rengkarnasi dari leathina yang sebelumnya bukan. Tidak masalah bagaimana rupa dan bentukmu, yang terpenting bagiku adalah caramu memanggilku dan melihatku tetap sama.” Ucap aelfric kemudian kembali berjalan agar bisa kembali ke dunianya.
“Untung saja Aelfric bodoh.” Batin Leathina yang mersa lega ketika tidak harus bersusah payah menjelaskan segala sesuatunya pada aelfric.
“Terimakasih,” gumam Isabella pelan tapi masih dapat didengarkan oleh Aelfic.
“Untuk apa?” tanya aelfric sambil terus berjalan dan mengenggam tangan isabella.
“Terimakasih terlah datang menjemputku.” Gumam leathina pelan.
Aelfric berbalik sebentar ke arah leathina kemudian tersenyum dan setelah itu kembali melanjutkan jalannya mencari pintu yang tadi ia masuki.
“Tapi kau lama, aku benar-benar takut akan terjebak disini selamanya.” ucap leathina lagi karena sebelumnya ia memang benar-benar sangat ketakutan jika tidak ada orang yang akan berusaha untuk menjemputnya dan membiarkannya terjebak disana.
“Kau seharusnya tidak perlu takut dan menunggu dengan tenang, karena seseorang pasti akan datang menjemputmu. Jika bukan aku, ayahmu pasti yang akan datang, jika bukan pasti edward atau adik-adikmu, pokoknya tenang saja dimana pun kau berada pasti akan ada seseorang yang datang menjemputmu kau hanya perlu menunggu saja.” Ucap aelfric menenangkan isabella.
Isabella pun terharu mendengar perkataan Aelfric, tidak ia sangka bahwa semua orang akan sepeduli itu padanya.
“Jangan menangis,” ucap aelfric tiba-tiba dan tanpa menoleh ke arah Isabella lagi.
“Aku tidak akan menangis.” Jawab leathina kemudian segera tersenyum dan balas mengenggam tangan aelfric yang menuntunya keluar dari dimensi putih yang menjebaknya.
“Jadi aku harus memanggilmu apa? Isabella atau leathina?” tanya Aeflric yang masih fokus mencari pintu yang tadi ia lewati.
“Terserah kamu saja.” Jawab Isabella singkat.
“Kalau begitu aku akan memanggilmu Leathina saja.”
“Iya, itu tidak terdengar buruk.”
“Baiklah Leathina. Bisakah kau memberitahukan pada edward dan dua saudaramu itu untuk memperlakukan aku dengan baik saat kita kembali nanti.”
“Mereka masih suka menjahili mu?” tanya Isabella yang sedikit terkejut sekaligus merasa lucu karena Aelfric tiba-tiba mengungkit orang-orang yang memperlakukannya dengan buruk.
Aelfric tidak menjawab pertanyaan Leathina, ia hanya mendengus kesal kerena mengingat edward yang selalu menganggunya begitu pula dengan Nicholas dan Nora yang sepertinya tidak menyukainya.
“Hahapp,” Isabella tertawa tapi cepat-cepat ia tahan karena tidak ingin Aelfric tersingung. “Baiklah jika kita keluar dari sini maka akan aku beritahukan pada mereka agar bersikap lebih baik padamu.” Ucap Isabella sebelum aelfric berbicara kembali.
“Nah ini pintunya.” Aelfic akhirnya menemukan pintu yang tadi ia lewati ia pun segera membukanya dan segera keluar.
“Apa ini?” tanya isabella saat melihat banyak masa lalunya dan masih lalu milik leathina.
“Ini adalah gambaran ingatanmu.” Jawab Aelfric sambil terus berusaha mengabaikan gambaran ingatan leathina yang masih bermunculan, sebenarnya ia ingin tinggal sebentar lagi untuk melihat bagaimana leathina tumbuh besar tapi tidak bisa ia lakukan karena mereka berdua harus segera kembali.
“Tapi kota macam apa yang kamu tempati sebelumnya, kenapa terlihat sangat aneh. Lihat lah, bagaimana mereka bisa bepergian tanpa kereta kuda dan hanya menggunakan kotak besi ber roda itu. Bukankah itu seharusnya tidak bisa berjalan jika tidak ditarik dengan kuda.” Celetuk Aelfric yang masih bingun dan melihat keadaan kehidupan Isabella yang menurutnya sangat lah aneh.
Isabella tercengang ketika melihat gambaran ingatan miliknya sebelum meninggal di kehidupan sebelumnya, ia melihat dirinya sendiri yang masih sangat kecil digendong oleha ibunya sementara ayahnya juga berada disamping ibunya.
“Ayah, ibu, aku merindukan kalian berdua.” Gumam Isabella pelan dan lebih seperti berbisik.
“Ah, apa?” tanya Aelfric yang masih bisa medengar bahwa Isabella barusan sedang berbicara tapi tidak dapat ia dengar dengan jelas.
“Nah, ini pintu terakhir. Setelah kita melewatinya kita akan bisa kembali.” Ucap aelfric ketika akhirnya menemukan pintu terakhir yang bisa membawa mereka pulang.
“Benarkah?” tanya Isabella pada aelfric.
“Iya, tentu saja aku yakin.” Jawab aelfric kemudian membuka pintu. “Ayo.” Ucap Aelfric mengajak Isabella dan melangahkan kakinya terlebih dahulu.
“Iya.” Jawab Isabella yang menunggu aelfric masuk terlebih dahulu.
“Eh, ada apa leathina?” tanya Aeflric yang sangat kebingungan saat Isabella ternyata tidak mengikutinya.
“Kembalilah terlebih dahulu Aelfric, aku pasti akan menyusulmu. Aku harus tinggal disini lebih lama lagi.” Isabella melepaskan secara paksa gengaman tangan aelfric yang sedari tadi memengenggam tangannya kemudian mendorong aelfric dengan keras ke belakang hingga membuat aelfric mundur beberapa langkah.
“Tunggu! Tunggu dulu Leathina, jika begitu aku juga akan tinggal dan menemanimu.” Teriak aelfric menolak kembali sendirian.
Leathina melihat tubuh aelfric yang telah melewati pintu tersebut perlahan lahan memudar, dan agar aelfric tidak lagi bisa kembali la segera menutup pintu kembali menghalangi aelfric yang bersikeras untuk tinggal bersamanya.
“Katakan pada mereka yang sekarang sedang menungguku, bahwa aku pasti akan kembali,” seru Leathina memberitahu aelfric sebelum pintu benar-benar ia tutup.
...***...