I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 216



Edward membuka pintu dan dilihatnya Nina datang sendiri.


“Mereka sudah datang?” tanya Edward pada Nina.


Nina mengangguk mengiyakan, “Iya Tuan mereka sudah datang mereka masih dalam perjalanan kesini, sesuai yang telah anda prediksikan sekarang Troy tengah mengawasi mereka dan Adam sedang memberikan interaksi pada anak yang menguping pembicaraan kita.” Nina menceritakan seluruh kejadian yang sekarang tengah berlangsung pada Edward.


“ Baiklah kerja bagus, kembalilah ke tempat jagamu aku akan memberitahu Leathina terlebih dahulu untuk meminta bantuannya agar mereka tidak sadar bahwa kita telah mengetahui rencana mereka.” Ucap Edward memberitahukan Nina.


Nina kembali mengangguk paham kemudian segera melaksanakan apa yang dikatakan Edward.


“Apa yang terjadi?” tanya Leathina ketika melihat Edward datang kembali dan sayup-sayup mendengarkan percakapan antara Edward dan Nina barusan.


“Leathina seperti yang kita bicarakan tadi bahwa orang-orang sekarang sangat terobsesi untuk menemukanmu setelah mengetahui kemampuanmu itu, dan sekarang ada yang datang untuk mencarimu aku tidak tahu dari mana mereka mendapat kabar tentang keberadaan dirimu tapi sepertinya mereka bukan orang dari keluargamu ataupun dari kerajaan.” Jelas Edward memberitahukan Leathina.


“Jadi maksudmu sekarang aku berada dalam bahaya?” tanya Leathina yang mulai paham dengan situasi mereka sekarang.


Edward mengangguk mengiyakan kemudian duduk di samping Leathina.


“Jadi apa rencana mu? Aku yakin kau tidak datang tanpa persiapan setelah mengetahui bahwa sekarang ada yang datang untuk mencariku?” tanya Leathina dan ditatapnya Edward yang kini duduk di sampingnya.


“Pemilik penginapan ini bekerja sama dengan mereka karena menginginkan hadiah yang di tawarkan, kau harus tahu bahwa Duke Leonard Yarnell, ayahmu itu ternyata sedikit gila dia menawarkan harga tinggi hanya untuk menukarkan informasi yang belum tentu kejelasan dan kebenaranya.”


Leathina mendengarkan Edward dengan tenang kemudian hanya tersenyum simpul mendengar bagaimana frustasinya sekarang ayahnya di kerajaan karena ia belum juga kembali.


“Karena hadiah itu orang-orang ini dapat dengan muda mendapatkan informasi dan si pemilik penginapan ini ternyata melihatmu dan melaporkan pada mereka kemudian sekarang dia datang untuk memeriksa apakah informasi yang diberikan si pemilik penginapan benar atau palsu.”


“jam berapa sekarang?” tanya Leathina menyela kalimat Edward.


“Sekarang tengah malam, sebentar lagi mungkin pagi dan waktu teraman untuk mereka bergerak, mereka pasti berfikir bahwa kita semua sedang tertidur tapi tenang saja Adam, Nina dan Troy akan melakukan tugasnya dengan baik.”


“Kenapa kita tidak pergi saja sebelum mereka datang?” tanya Leathina.


“Aku juga ingin melakukan itu karena tidak ingin kamu terlibat pertarungan nantinya tapi aku harus tahu dari mana mereka berasal, apa tujuannya mencarimu dan untuk siapa mereka bekerja.” Jawab Edward. “Jadi Leathina untuk sekarang kamu harus berpura-pura tidak sadarkan diri jika mereka masuk ke dalam sini di saat itu kami akan menyergapnya dan mengintrogasi mereka, tenang saja aku pastikan kau akan aman.”


“Baiklah aku paham, tapi Edward.”


“Ada apa?” tanya Edward.


“Bisakah kau memberiku semacam senjata untuk melindungi diri?  tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.”


Edward mengangguk paham kemudian merogoh mencari sesuatu di balik pakaiannya dan beberapa saat kemudian Edward mengeluarkan sebuah belati kemudian langsung diberikan pada Leathina. “Gunakan ini.” Ucapnya sambil menyerahkan belatinya, “Sebenarnya aku tidak ingin kamu bertarung tapi apa yang kamu katakan tidak bisa aku abikan benar katamu tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya, baiklah Leathina kalau begitu aku juga akan pergi sekarang.” Ucap Edward kemudian mengambil posisi agar tidak terlihat di dalam ruangan itu. “Hati-hati.” Ucapnya sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Leathina.


Ruangan yang ditempati Leathina seketika menjadi hening ia bahkan bisa mendengar deru nafasnya sendiri. Beberapa saat kemudian samar-samar terdengar suara derap langkah kaki beberapa orang yang semakin mendekat, Leathina langsung mematikan semua sumber cahaya sengaja ia lakukan utuk mencegah gerak bebas orang-orang yang akan datang mengunjunginya itu dan membantu Edward agar keberadaannya tidak mereka ketahui.


Setelah mematikan semua sumber cahaya cepat-cepat Leathina naik ke atas tempat tidur menyimpan belatinya di bawa bantalnya agar mudah ia raih jika terjebak dalam bahaya kemudian merapikan selimut hingga menutupi badannya sampai batas dadanya dan terakhir menutup matanya kemudian berpura-pura tertidur seperti yang diminta Edward padannya.


“Trak!” terdengar derit pintu ruangan yang ditempati Leathina sekarang terbuka perlahan.


Seorang anak mengintip masuk sebentar memastikan tidak ada siapa-siapa di dalam setelah itu langsung membuka lebar pintu. “Ini ruangannya tuan.” Ucapnya sopan.


“Apa ada seseorang yang menemaninya di dalam?” bisik si pemilik ruangan pada pekerjannya itu.


Ban kembali melihat masuk ke dalam memeriksa seluruh sudut ruangan dengan matanya tapi tidak menemukan siapa-siapa di dalam kecuali bayang-bayang seorang perempuan yang berbaring dengan tenang di tempat tidur. “Sepertinya tidak ada tuan, mungkin teman-temannya sedang keluar karena ruangannya sangat gelap.” Ucap Ban memberitahu si pemilik penginapan.


“Benarkah?” tanyanya sekali lagi dengan senyuman lebar di wajahnya. “Kebetulan sekali,” gumamnya merasa sangat beruntung.


“Nah tuan-tuan silahkan masuk, sepertinya perempuan yang anda cari ada di dalam dan tenang saja dia sekarang sedang tertidur jadi tidak akan sadar jika anda masuk.” Ucap si pemilik penginapan dengan senangnya mempersilahkan dua orang degan jubah hitam.


Tanpa berlama-lama dua orang yang datag bersama si pemilik ruangan dan ban langsung masuk ke dalam kemudian menyalakan pematik apinya agar bisa melihat dalam kegelapan dan perlahan-lahan mendekati Leathina.


Namun beberapa saat kemudian pematik api yang mereka gunakan sebagai sumber cahaya mati karena diterpa angin yang cukup kencang membuatnya kesulitan untuk menyalakan pematiknya kembali.


“Astaga lilinnya mati.” Gumam si pemilik ruangan. “Hei! Cepat kau nyalakan lilinnya.” Bisiknya pada Ban yang masih mengekorinya dari belakang sementara dia sendiri langsung menuju jendela yang terbuka dengan lebar kemungkinan menutupnya.


“Ba- baik tuan.” Ucap Ban kemudian terburu-buru keluar untuk mengambil api.


“Duh. Siapa yang membuka jendela kamarnya malam-malam begini, akan saya tutup.” Ucap si pemilik penginapan berbasa-basi pada dua tamunya itu. “Tenang saja tuan, anak buahku akan segera datang membawakan api dan menghidupkan lilin-lilinnya.” Sambungnya lagi sambil cengengesan berusaha membuat tamu sumber uangnya itu merasa nyaman.


Beberapa menit kemudian Ban masih belum juga datang sementara si pemilik penginapan dan dua tamunya itu sudah gelisah menunggu dalam kegelapan.


“Apa anak itu belum datang?” tanya salah satu dari dua tamu si pemilik penginapan yang datang untuk melihat Leathina.


“Sebentar lagi dia akan datang tuan.” Jawab si pemilik penginapan gugup.


Beberapa menit kemudian Ban masih tidak kunjung datang membuat si pemilik penginapan menjadi kesal dan menggerutu. “Duh anak itu kenapa lama sekali sih!” ucapnya kesal karena lama menunggu sementara Ban tidak kunjung datang. “Saya akan pergi untuk memanggilnya tuan silahkan tunggu sebentar lagi.” Ucapnya kemudian beranjak pergi dengan meraba-raba karena takut tertabrak saat berjalan dalam kegelapan.


“Akh! Kenapa lampu di lorong juga mati sih.” Gerutunya bertambah kesal saat berhasil keluar tapi semua lilin-lilin di luar juga padam.


“Tuan, anda mau kemana?” tiba-tiba terdengar suara Ban dari kegelapan membuat si pemilik penginapan senang kembali karena tidak lagi repot-repot mencarinya dalam kegelapan.


“Kau kemana saja, mereka dari tadi sudah menunggu.” Ucapnya melampiaskan kekesalannya.


“Saya minta maaf tuan, api di tungku mati jadi saya harus mencari pematik api dulu di belakang.” Jawab Ban.


“Baiklah cepat nyalakan pematiknya dan tunjukkan jalan kembali ke dalam, mataku sakit melihat dalam kegelapan.” Gerutu si pemilik penginapan.


“Tuan bagaimana jika pematik apinya mati jika terus dinyalakan karena isinya habis, saya akan menyalakannya di dalam nanti agar bisa menyalakan lilin untuk sekarang biar saya saja yang menuntun anda ke dalam, tenang saja anda tidak akan tertabrak saya hapal seluruh jalan dalam penginapan ini.”


“Iya, iya, terserah kamu saja! Tapi kamu harus cepat-cepat nanti mereka marah dan tidak mau membayar informasi yang aku jual pada meraka.”


Ban kemudian meraih tangan si pemilik ruangan kemudian menuntunnya kembali ke ruangan yang mereka maksud.


“Sudah sampai tuan.”


 “Brak!”


Gumam Ban pelang dan langsung menutup pintu kembali setelah mereka masuk ke dalam.


“Kalian sudah datang?” sambut salah seorang yang datang bersama mereka tadi.


“Cepat nyalakan lilinnya, kami harus segera kembali setelah memastikannya sendiri.” Ucap yang satunya lagi tidak sabar karena terburu-buru.


Setelah pintu di tutup terdengar derap langkah kaki melangkah perlahan kemudian terlihat percikan api saat pematik dinyalakannya kemudian mendekatkannya pada lilin, setelah itu berjalan ke tempat lilin lainnya hingga seluruh ruangan kini telah mendapat penerangan.


Sementara dua orang tadi tidak lagi memperdulikan sekitarnya karena telah mendapat pencahayaan yang cukup untuk memeriksa targetnya, keduanya kemudian segera berjalan medekati tempat tidur.


“Dia yang kalian cari?” tanya seseorang tiba-tiba membuat mereka berdua terkejut dan refleks menyerang.


“Aku orang yang tadi kalian suruh untuk menyalakan lilin yang padam.” Jawabnya sambil menunjukan pematik api yang tadi ia gunakan.


“Dimana si pemeliki penginapan? Kenapa kau ada disini?” tanyanya lagi merasa was-was dengan orang berbadan besar di hadapannya itu.


...


“Ban cepat nyalakan lilinnya!” pinta si pemilik penginapan tidak sabar.


Tidak ada jawaban dari orang yang disuruh hanya derap langkah berat yang terdengar mendekat ke arahnya.


“Ban?” panggilnya lagi.


Si pemilik penginapan merasakan bahwa yang ada di ruangan bersamannya itu bukanlah Ban, karena mendengar langkah beratnya itu. Ban yang memiliki tubuh kurus dan sepatu yang selalu digunakan Ban tidak mungkin menimbulkan suara derapan sebesar yang di dengarnya sekarang karena sol sepatunya sudah rusak.


“Siapa kau?!” tanya si pemilik penginapan yang sekarang menjadi sangat waspada.


“Oh! Kau ternyata tidak sebodoh yang aku pikirkan ya.”


“Akh! Kenapa kau ada disini, dimana Ban?” pekik si pemilik penginapan terkejut saat sebuah lilin dinyalakan dan memperlihatkan  siluet Adam yang kini berada bersamannya.


“Ban?” tanya Adam yang mengulangi pertannyaan si pemilik penginapan.


“Iya dimana anak itu?” tanya si pemilik penginapan lagi emosi. “Tadi aku mendengar suaranya kenapa tiba-tiba malah kau yang ada disini!”


“Entahlah aku tidak tahu.” Jawab Adam dengan mengangkat bahunya, masah bodoh dengan emosi si pemilik penginapan yang sepertinya sebentar lagi akan meledak karena merasa dibohongi oleh pekerjannya sendiri.


“Kau pasti berbohong, cepat katakan dimana anak itu?” teriak si pemilik penginapan benar-benar marah. “kalau kamu tidak mau memberitahukannya maka aku yang akan mencarinya sendiri.” Ucapnya kemudian mencoba keluar dari ruangan.


“Brak!”


“Akh!”


Saat si pemilik ruangan mencoba untuk ke luar Adam menghadangnya kemudian mendorongnya dengan keras ke belakang hingga menabrak beberapa perabotan.


“Ah! maaf, aku tidak sengaja.” Ucap Adam setelah sengaja mendorongnya. “Ini pasti karena ruangannya masih gelap jadi aku tidak sengaja menabrakmu.” Sambungnya lagi kemudian segera berkeliling menyalakan tiap-tiap tempat lilin yang ada di dalam ruangan tersebut hingga bukan lagi siluet yang dapat dilihat sekarang keduannya bisa saling melihat dengan jelas.


“Kau gila ya!” seru si pemilik penginapan sambil bersusah payah berdiri kembali, “Biarkan aku keluar aku sbuk.” Ucapnya kemudian kembali mencoba keluar.


“Brak!”


Adam kembali mendorongnya hingga terjatuh.


“Tuan sayangnya kamu berurusan dengan orang yang salah.” Bisik Adam kemudian mengambil sebuath tali dan mulai mengikat tangan dan kaki si pemilik penginapan.


“Hei! hei! apa yang kau lakuakn, lepaskan!” teriaknya memberontak tapi tidak cukup kuat untuk melepaskan diri dari Adam yang sepenuhnya sudah mengikat kedua kaki dan tangannya.


“Ah! Kau sekarang seperti babi guling yang siap untuk dipanggang.” Gumam Adam puas dengan hasil kerjannya.


“Kenapa kau melakukan ini? Aku tidak pernah berbuat masalah denganmu. Lepaskan brengsek!” Ucap si pemilik penginapan masih berusaha untuk memberontak melepaskan diri.


“Kau kira aku tidak tahu kalau kamu menjual informasi tetang kakak iparku.” Jawab Adam, tidak puas ia mengikat tangan dan kakinya, adam kini juga menyumbat mulutnya agar tidak lagi bisa membuat keributan.


“Hupppt! Ampppt!” jerit si pemilik penginapan berusaha berteriak meminta tolong.


“Jangan terlalu sibuk meminta tolong karena tidak akan ada yang bisa menolongmu sekarang,” Ucap Adam memberitahu kemudian menonton si pemilik penginapan sejenak yang sekaranng meliak liuk berusaha melepaskan diri.


“Jika kamu butuh alasan kenapa kamu di perlakukan seperti ini maka akan aku beritahu dengan senang hati, pertama kamu tidak menjaga privasi penyewamu baru kali ini aku datang ke penginapan tapi mejual informasi pengunjungnya pelayanan di penginapanmu buruk aku tidak suka yang kedua bisa-bisanya bentukan sepertimu menghina bentuk tubuhku. Aku kira cukup disni saja, aku akan mengurusmu nanti.” Ucap Adam kemudian memukul bagian belakang leher si pemilik penginapan hingga pingsan.


Dengan langkah terburu-buru Adam meninggalkan si pemilik penginapan setelah menguncinya dari luar kemudian pergi ke ruangan Leathina menyusul Nina dan Troy yang sudah pergi lebih dahulu.


“Trak!”


Adam membuka pintu dilihatnya dua orang berjubah telah diikat  dan tergeletak begitu saja di lantai.


“Ah! Sudah dibereskan ya, aku sepertinya agak terlambat.” Gumamnya kemudian ikut masuk ke dalam bergabung bersama dengan Edward, dan dua rekannya yang lainnya.


...


Setelah pintu ditutup terdengar derap langkah kaki melangkah perlahan kemudian terlihat percikan api saat pematik api dinyalakan kemudian mendekatkannya pada lilin, setelah itu berjalan ke tempat lilin lainnya hingga seluruh ruangan kini telah mendapat penerangan.


Sementara dua orang tadi tidak lagi mempedulikan sekitarnya karena telah mendapat pencahayaan yang cukup untuk memeriksa targetnya, keduanya kemudian segera berjalan mendekati tempat tidur.


“Dia yang kalian cari?” tanya seseorang tiba-tiba membuat mereka berdua terkejut dan refleks menyerang.


“Siapa kau?” tanyaanya saat melihat bukan si pemilik penginapan yang datang menyalakan lilin atu anak yang bekerja di penginapan tersebut, yang datang adalah laki-laki dewasa dengan badan besar laki-laki itu kini menghadang keduanya yang hendak meliha Leathina.


“Aku orang yang tadi kalian suruh untuk menyalakan lilin yang padam.” Jawabnya sambil menunjukan pematik api yang tadi ia gunakan.


“Dimana si pemeliki penginapan? Kenapa kau ada disini?” tanyanya lagi merasa was-was dengan orang berbadan besar di hadapannya itu.


“Kenapa aku disini?” Troy mengulang pertanyaanya. “Tentu saja untuk menangkap kalian.” Jawabnya kemudian langsung menghantam salah satunya hingga terpental ke belakang.


Melihat temannya diserang membuat rekannya marah dan kembali menyerang Troy.


“Akh!” tiba-tiba Nina muncul mengunci pergerakannya kemudian membantingnya hingga ikut terpelentang bersama temannya.


Melihat keduanya masih meringkuk kesakitan Troy tidak lagi membuang waktu dan langsung mengikat keduannya.


“Lepaskan!” mereka berdua memberontak tapi daya cengkram tangan Troy tidak mampu mereka lepaskan namun masih memilih untuk berusaha melepaskan diri samapi Troy selesai melilitkan tali pada keduannya dan mengikat mereka secara bersamaan.


Leathina yang penasaran hendak terbangun tapi Nina mencegatnya meminta Leathina untuk tetap berpura-pura tidur kembali. “Kenapa?” bisik Leathina pada Nina yang kini sibuk menutup seluruh tubuhnya.


“Akan lebih baik jika mereka masih menduga-duga apakan anda benar-benar Nona Leathina yang asli atau bukan, dan mereka tahu bahwa anda sedang sakit akan menguntungkan bagi kita jika mereka terus berpikiran seperti itu karena itu berarti mereka akan meremehkan kita jika bepergian bersama orag yang sekarat.” Bisik Nina memberitahu Nina.


“Tapi aku kan juga penasaran dan bagimana jika aku benar-benar sekarat nanti, Nina?” gumam Leathina tapi tetap menurut dengan Nina.


“Maafkan saya Nona Leathina, bertahanlah sebentar lagi.” Bisik Nina kemudian berjaga di dekat Leathina khawatir jika tiba-tiba ada penyerangan lain yang datang dan kembali menargetkan Leathina.


...***...