I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 179



“Entah kenapa, aku merasa sedang diawasi oleh seseorang.” Batin Anne dan terus melihat kesekelilingnya untuk mencari-cari orang mencurigakan yang mengawasinya.


“Ada apa Anne, apa ada sesuatu yang menganggumu?” tanya teman-temannya saat Anne hilang fokus dan tidak memperhatikan apa yang teman-temannya katakan.


“Ah, tidak apa-apa.” Anne mengelak tidak ingin membuat temannya khawatir.


“Anne apa kau sudah membeli topeng mu?”


“Iya sudah, topeng ini terlihat lucu aku pilih yang ini saja.” Jawab Anne menujukkan topeng bermotif kelinci yang ia pilih secara acak.


“Itu cocok untukmu Anne.”


“Terimakasih. Tapi, apa kita memang benar-benar harus mekan di restoran aneh itu?”


“Tentu saja kita sudah terlanjur disini, jadi jangan sia-siakan kesempatanmu.”


“Betul, nikmati selagi bisa.” Ucap teman-tamannya yang lain dengan bercanda.


“Ayo.” Mereka pun bersama-sama menuju restoran dengan aturan topeng.


...


“Ayo. Kita juga harus bergerak.”


Karena kahwatir Nora tiba-tiba menghilang Leatina terus menganggam tangan Nora selama ia berada di keramaian saat mengikuti Anne.


“Tuan aku ambil yang ini.” Ucap Leathina yang langsung menyambar dua topeng hitam dan meleparkan beberapa keping koin untuk membayarnya.


“Nona uangmu kelebihan.” Teriak si pedagang tapi Leathina tidak mempedulikannya dan terus mengikuti Anne.


“Nora ambil ini dan cepat pakai.”


Leathina memberikan Nora salah satu topeng yang ia belinya dan meminta Nora untuk segera dipakai, Leathina juga mengenakan topengnya dan bergegas mengikuti Anne bersama teman-temannya.


“Kakak kenapa kita harus mengikuti Anne?”


“Itu karena aku penasaran kemana Anne akan pergi.”


“Bukankah dia hanya pergi menikmati waktu liburannya?”


“Umm... aku sedikit khawatir dengan Anne.” Gumam Leathina dan tangannya masih menggenggam erat tangan Nora sementara matanya masih fokus mengekori Anne.


Nora tidak lagi bertanya ataupun membantah perkataan Leathina ia pun akhirnya hanya menurut dan mengikuti Leathina walaupun sebenarnya tidak paham dengan apa yang sedang dilakukan oleh kakak perempuannya itu hingga harus menyelinap keluar ataupun membuntuti orang lain.


“Nora jika kau melihat hal-hal aneh tutup saja matamu, jangan melihat atau meliriknya, paham?”


“Hal-hal aneh seperti apa kak?”


“Seperti itu, kau tidak boleh melihatnya sama sekali sampai umurmu delapan belas tahun.”


Leathina menunjuk seorang wanita dengan pakaian yang sangat terbuka kemudian menganti posisi nya agar pandangan Nora tidak melihat wanita tadi.


“Pokoknya jangan, kau tidak boleh.” Gumam Leathina.


Nora pun tertawa karena mengetahui bahwa Leathina juga terlalu melindunginya akan hal-hal yang menurut nya bisa seperti itu. Di sepanjang perjalanan mereka, Leathina terus menerus menceramahi Nora apa yang bolah dan tidak boleh ia lakukan sebelum mencapai umur dewasa.


“Kak kita sudah sampai.”


“Oh, astag betul katamu. Ini pasti gara-gara perempuan tadi aku jadi lupa.”


“Jangan terlalu memikirkannya kak, aku pun tidak ingin melihatnya.”


“Baiklah, kamu memang anak yang pintar. Di dalam akan lebih banyak lagi jadi jangan melihatnya.”


Nora mengangguk paham mengikuti Leathina dengan patuh, kali ini gantian Nora yang terus menganggam tangan Leathina, karena melihat beberapa mata laki-laki yang kini mengekori Leathina.


Anne kini telah masuk ke dalam resteroan yang bertuliskan secret cafe, dua orang penjaga mencegatnya di depan pintu memintanya menulis sesuatu dan menandatangani sebuah lembaran masing-masing dari mereka termaksud Anne yang juga akan masuk.


“Nora jangan menandatanganinya ataupun menempelkan cap jarimu di kertas itu saat pendaftaran masuk nanti.”


“Kenapa kak?”


“Itu belum pasti tapi aku pikir itu sesuatu yang tidak harus kita dilakukan.”


“Tapi dari yang aku lihat persyaratan untuk masuk ke dalam harus malakukan cap jempol.”


“Ikuti aku, lakukan seperti ini.”


Leathina dengan sengaja menyentuh debu bahkan membiarkan seluruh tangannya terkena debu.


“Aku tahu ini akan berefek atau tidak tapi usahakan menyamarkan cap jempol mu.”


“Baik kakak Leathina, aku paham.”


Nora mengikuti apa yang dilakukan oleh Leathina, ia pun dengan sengaja mengoleskan telapak tangannya dengan debu yang ada di dinding.


“Silahkan cap jempol anda disini.” Ucap si penjaga menyodorkan sebuah kertas yang berisi dengan nomor kunjungan dan sebuah tempat cap jari di bawahnya.


Nora dan Leathina melakukan hal yang diminta oleh penjaga setelah itu barulah mereka berdua diizinkan untuk masuk ke dalam.


“Sebelah sini Nora.”


Leathina menarik Nora menuju pojokan restoran dan duduk di kursi yang sulit diperhatikan atau terlihat oleh orang-orang.


“Ini seperti restoran biasa kak, tidak ada bedanya.”


“Iya tapi tetap berhati-hati untuk berjaga-jaga siapa yang tahu jika nanti ada seseorang yang tiba-tiba memicu keributan.”


Leathina mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Anne berada, dan tidak beberapa saat kemudian Leathina menemukan Anne yang duduk bersama teman-temannya di bagian tengah restoran berbaur dengan pengunjung yang lainya.


...


“Ada apa?” tanya duke pada penjaga yang kini datang menghadapnya.


“Nona Leathina keluar bersama tuan muda Nora.”


“Kenapa kau melaporkan hal yang tidak berguna sepeti itu, memangnya kenapa jika mereka keluar dari ruangan mereka bersama.” Ucap Duke Leonard yang kemudian kembali fokus dengan dokumen-dokumennya.


“Tuan, maksud saya Nona dan Tuan muda keluar ke kota bersama.”


“Apa?! Sejak kapan?”


“Sejak beberapa jam yang lalu.”


“Kenapa kalian baru melaporkan padaku sekarang?”


“Nona berpesan bahwa dia dan tuan muda nora hanya pergi untuk berjalan-jalan ke kota sebentar.”


“Apa ada penjaga yang mengawal mereka?”


“Tidak ada tuan, nona pergi tanpa pemberitahuan jadi kami tidak sempat mempersipkan penjaga untuk mengawal mereka, nona bahkan tidak menggunakan kereta dan hanya menggunakan kuda.”


“Apa kau bodoh! Apa gunanya aku memperketat penjagaan jika kau membiarkannya pergi seperti itu.”


“Maafkan kami tuan, ini kesalahan kami.”


“Kemana mereka pergi?”


“Ke kota tuan.”


“Apa tidak ada lokasi detailnya?”


“Maaf tuan nona bilang hanya ingin ke kota untuk berjalan-jalan sebentar, nona tidak memberitahukan kemana detailnya ia pergi.”


“Segera kirimkan prajurit ke kota untuk mencari mereka berdua.”


...


“Tidak ada yang terjadi kakak Leathina, kita sebaiknya harus kembali sekarang para penjaga pasti telah memberitahu ayah dan ayah akan mengirimkan penjaga untuk mencari mu.”


“Diam lah, kita tunggu sebentar lagi. Lagi pula walaupun mereka mengirimkan prajurit untuk datang menjemput kita mereka tidak akan menemukan kita dengan mudah.”


“Salam Nona, bisakah kalian berbagi tempat duduk.” Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Nora dan Leathina dan meminta izin untuk duduk bersama.


“Disini penuh, silahkan duduk di tempat lain tuan. Kursi di sana juga kosong.” Nora langsung melebarkan duduknya sengaja memakai seluruh kursi dan melarang si pria tadi duduk.


“Kalau begitu aku akan duduk di samping nona muda ini.”


“Disana sudah ada yang punya.” Ucap Nora menolak si pria.


Leathina tidak terlalu mempedulikan laki-laki tadi, ia membiarkan Nora untuk mengurusnya. Leathina hanya fokus mengamati Anne dan teman-temannya, dilihatnya beberapa pria datang menghampiri Anne dan teman-temannya.


“Benarkah aku pikir kalian hanya berdua disini.” Ucap si pria yang kini melihat Leathina dan mencoba duduk di sampingnya.


Melihat tingkah si pria membuat Nora marah, cepat-cepat Nora berpindah tempat duduk di samping Leathina. Tidak membiarkan pria tadi duduk dengan Leathina.


“Lihat, disini sudah penuh jadi silahkan cari kursi yang lain tuan.”


“Kalau begitu aku akan duduk disini.”


“Maaf tanganku licin, kursinya jadi kotor silahkan duduk di tempat lain tuan.” Nora dengan sengaja menumpahkan air di kursi yang akan di duduki si pria tadi.


“Nona bukankah kita pernah bertemu sebelumnya.” Ucap si pria yang kemudian mengabaikan Nora dan malah melihat Leathina langsung.


“Maaf tuan mungkin anda salah oang, aku ada urusan jadi tolong menyingkirlah.” Ucap Leathina kemudian menundukkan kepalanya agar bisa melihat Anne karena pria tadi memblok pandangannya.


“Nona saya adalah pria yang menolong anda tempo hari.” Ucap si pria mencoba mengingatkan leathina, tapi sayangnya Leathina malah terlalu fokus dengan Anne.


“Ayo kita harus pergi!” Leathina menarik Nora untuk mengikutinya.


“Tuan aku rasa dari tadi anda sangat ingin duduk disini, nah silahkan duduk kami sudah mau pergi. Tidak usah berterimakasih.” Leathina berbicara sambil menepuk sekali bahu si pria dan langsung pergi bersama Nora.


“Selamat tinggal tuan.” Nora pun berpamitan tapi ekspresi wajahnya lebih seperti menghina pria tadi karena tidak berhasil mendapatkan perhatian Leathina, dan itu membuat Nora senang.


Leathina melihat Anne kini keluar dari restoran bersama teman-temannya sesaat setelah beberapa pria menghampiri mereka, tapi mereka tidak berjalan ke jalan utama melainka berbelok ke sebuah gang kecil yang ada di samping restoran tadi.


“Kakak tidak ada yang terjadi. Sebaiknya kita kembali hari semakin gelap, aku takut jika kakak kelelahan kakak akan jatuh sakit.”


“Diamlah Nora, mereka mungkin akan mendengarmu.”


Nora kembali patuh mengikuti Leathina karena itu lah perjanjiannya, Nora tidak lagi bertanya dan tetap mengikuti apapun yang dilakukan Leathina.


Tidak beberapa lama kemudian jalan yang mereka lalui ternyata jalan pintas menuju jalan utama, membuat Leathina yang semenjak tadi merasa was-was akhirnya merasa lega sedikit karena tidak ada yang terjadi dan tidak ada bahaya yang mereka temui.


“Sepertinya memang tidak ada apa-apa dan restoran tadi hanya tempat makan biasa, mereka juga sepertinya akan kembali. Ayo Nora kia juga harus segera kembali, ayah pasti sudah kahwatir sekarang.”


Nora mengangguk mengiyakan perkataan Leathina dan mereka berdua pun memilih untuk kembali.


“Hei Nona, Nona cantik bukankah kalian yang tadi ada di restoran sana.”


“Cepat sekali kembalinya.”


“Kenapa tidak bermain lebih lama bersama kami.”


Beberapa pria tiba-tiba mendekati Anne dan teman-temannya dan tanpa segan merangkul Anne yang baru pertama kali mereka temui.


“Lepaskan!” teriak Anne dan teman-temannya.


“Ada apa dengan kalian, apa kalian mabuk?!” bentak salah satu teman Anne yang marah karena sikap tidak sopan mereka terhadap wanita.


“Ini membuatku marah, ayo kita tinggalkan saja orang-orang aneh ini.” Mereka pun langung pergi tapi pria-pria tadi masih tetap mengikuti Anne dan kawan-kawannya hingga wajah pria-pria tadi memamerkan senyum menyeringai sementara Anne dan kawan-kawannya menjadi sebaliknya, mereka ketakutan dan tidak dapat bergerak saat salah satu dari mereka menodongkan pisau tepat di leher salah satu teman Anne.


“Apa yang pria-pria tidak berguna itu lakukan.” Gumam Nora kesal, karena membuat Leathina mengurungkan niatnya untuk kembali dan Leathina malah kembali membuntuti Anne.


“Ada yang anne.” Gumam Leathina dan dengan hati-hati mengikiti Anne yang kini dengan patuh berjalan bersama pria yang merangkulnya.


“Tadi mereka sempat memberontak saat mereka datang, kenapa sekarang jadi patu seperti itu. Mereka semua seperti orang yang sedan...”


“Maksud kakak seperti orang yang sedang jatuh cinta? Aku membacanya di buku, orang-orang yang sedang jatuh cinta rela memberikan apapun untuk orang yang disukainya jadi wajar jika mereka menurut mungkin karena mereka sudah saling menyukai.” Nora berceloteh dengan bebasnya karena sebenarnya dia suah ingin kembali  takut ayahnya akan marah padanya karena membawa Leathina keluar terlalu lama.


“Diamlah Nora lihat apa yang ada di leher mereka.”


Nora melihat apa yang dikatakan Leathina dan terkejut karena ternyata Anne dan teman-temannya dibawa pergi oleh penjahat.


“Kakak kita harus kembali ini berbahaya!” Nora yang panik langsung menarik Leathina untuk segera kembali.


“Ayo kita kembali dan beritahukan pada ayah, berbahaya jika kakak terlibat dengan mereka."


“Nora! Apa yang kau lakukan lepaskan, mereka sedang dalam bahaya sekarang!” Leathina memberontak dan melepaskan secara paksa Nora yang menariknya.


“Kau kembalilah dan laporkan pada ayah, minta Nicholas untuk datang bersama para prajurit.” Leathina meminta Nora untuk kembali lebih dulu sementara ia kembali mengikuti Anne yang kini sudah jauh di depan mereka.


“Tidak, tidak, kakak juga harus kembali bersamaku. Kakak Leathina bisa berada dalam bahaya lagi kali ini.”


“Terus kau akan membiarkan mereka begitu saja, bagaimana jika mereka berhasil kabur dan membunuh orang-orang tidak bersalah lagi mereka mungkin telah melakukan hal yang sama pada gadis-gadis sebelumnya.”


“Tapi kakak...”


“Kembalilah Nora dan laporkan pada ayah, akan terlambat jika aku harus kembali dan datang lagi. Kita akan kehilangan jejak mereka dan mereka pun akan berhasil melarikan diri.”


“Aku akan ikut dengan kakak.”


Terserah padamu tapi jika kau ikut kau harus mematuhi semua ucapanku dan jika kau kembali segar krimkan prajurit untuk menangkap mereka.”


“Aku ikut.”


“Baiklah, selalu berada di dekatku dan jangan pergi terlalu jauh.”


Nora mengangguk kemudian mengikuti Leathina yang sedang membuntuti para penjahat yang membawa Anne bersama dengan teman-temannya.


Mereka membawa anne dan teman-temannya pada sebuah gang sepi, disana juga ada beberapa pria yang menuggu mereka.


“Kami mebawanya tuan, ini wanita-wanita yang anda tandai di restoran tadi.” Ucap si pria menyodorkan Anne dan teman-temannya.


“Satu wanita bernilai dua kantung koin emas.”


“Apa ini aman?”


“Tentu saja aman, lihatlah mereka telah membubuhi cap tangan mereka sendiri dalam kertas yang mengatakan bahwa mereka menyerahkan diri secara suka rela.”


“Itu kertas yang tadi mereka isi saat masuk ke restoran.” Ucap Nora yang terkejut melihat kertas yang mirip ia isi sebelum masuk ke dalam restoran ia pun kemudian langsung menatap Leathina karena ucapan Leathina benar.


“Itu bagus maka aku bisa membawanya dengan aman tanpa harus di tangkap tentara kerajaan.” Ucap orang-orang yang tadi telah berada lebih dulu di gang sepi.


“Jangan sembarangan! Itu tidak benar, Kami tidak pernah menjual diri kami sendiri!” teriak Anne memberontak.


“Apa maksudmu nona, bukankah kalian secara suka rela membubuhkan cap tangan kalian di kertas ini, Kau tahu ini apa? Ini adalah sertifikat perdagangan manusia jadi kau milik kami sekarang.”


“Itu tidak mungkin!” jerit teman-teman Anne yang kini ketakutan dan hanya bisa menangis.


“Padahal kakak Leathina hanya memprediksinya, tapi prediksinya ternyata menjadi benar.” Batin Nora dan dilihatnya Leathina kini tengah serius memantau semua orang-orang yang menankap anne dan teman-temannya.


“Ini seperti sebuah transaksi.” Gumam Leathina setelah melihat dari kejauhan bersama Nora.


“Transaksi? Apa maksudnya kak, aku pikir mereka hanya kumpulan pria-pria mesum.” Nora kembali ikut memantau orang-orang yang membawa Anne.


“Ini transaksi perdagangan manusia.”


...***...