
Adam dan Nina membawa Leathina memasuki jalan rahasia, mereka bertiga lari mencapai ujung terowongan.
“Robohkan!” Teriak Nina meminta Adam menendang tiang penyangga di mulut terowongan, lalu meniup peluit dan muncul lah burung gagak dengan asap hitam menyelimuti burung itu.
Nina mengikatkan pesan di kaki burung yang dipanggilnya kemudian burung itu terbang tinggi dan menghilang.
“Jangan!” Leathina menolak.
“Ini harus dirobohkan Nona Lea, seseorang mengejar kami.” Adam tercegat oleh Leathina dan memaksa untuk merobohkan tiang penyangga.
“Bagaimana dengan Ed dan Troy?” Leathina khawatir dengan Edward dan Troy yang mereka tinggalkan di belakang.
“Tenang saja, mereka pasti akan selamat, Adam robohkan sekarang.” Nina memakaikan Leathina jubah miliknya kemudian menariknya pergi bergegas mengantarkan Leathina kembali sebelum terkejar oleh rombongan prajurit.
“BRAKK!”
Adam menendang semua penyangga di mulut terowongan dan langsung membuat tanah rubuh dan menutup mulut terowongan yang tadi mereka lalui.
…
“Akh! Sial!” Zeyden mengumpat kesal saat lawannya kabur.
“Aelfric, kejar orang yang berbadan besar tadi, aku akan mengejar yang bertopeng.” Pinta Zeyden kemudian bergegas mengejar tapi terhenti karena tidak mendapat jawaban dari Aelfric.
Aelfric malah mencari pintu rahasia di dekat perapian dan masuk ke sana mengikuti Winter untuk mengejar Leathina.
“Kau mau kemana?!”
“Aku mau menyusul Winter mengejar Leathina, aku tidak mau menyia-nyiakan tenagaku mengejar dua orang yang kabur tadi. Lagipula kamu tidak akan bisa mengejar mereka.”
“Kau meremehkan aku?”
“Aku tidak meremehkan mu, tapi mereka itu licik dan lebih licin dari ular. Jika bisa terkejar mana mungkin mereka masih berkeliaran pasti sudah tertangkap oleh kerajaan atau olehmu dari menara sihir, bukan?”
Seluruh tubuh aelfric kemudian hilang saat masuk ke dalam lubang dan sampai di terowongan bawah tanah.
“Di sini gelap sekali.” Gumamnya.
“Ah! Terimakasih Zeyden.”
Tiba-tiba muncul cahaya yang menerangi terowongan, Zeyden menyerah untuk mengejar dan ikut menyusul winter mengejar Leathina yang di bawa pergi.
“Mereka benar-benar sulit di tangkap.” Zeyden bergumam, teringat tadi saat mereka bertarung walaupun Zeyden menggunakan sihir tapi lawannya sama sekali tidak tersentuh.
“Ya, mereka itu kumpulan para monster gila. Tapi, untungnya mereka hanya bergerak jika dibayar saja kalau tidak mungkin seluruh kerajaan akan kacau karena kejahatan dimana-mana menurutku pimpinannya itu patut dipuji mengingat seluruh bawahannya yang patuh pada peraturan dan setia sampai mati.”
“Kau memihaknya?” Zeyden menuding, rasanya telinganya sedikit panas lantaran Aelfric dari tadi terus memuji musuhnya.
“Tidak aku hanya memujinya saja, tidak semua orang bisa mengendalikan banyak orang sepertinya.”
“Itu karena dia benar-benar orang jahat, orang yang tidak patuh akan langsung dieksekusi, tapi jika mereka hanya bergerak jika dibayar lalu siapa yang membayar mereka untuk menangkap Leathina?” Zeyden berpikir keras, siapa orang yang membayar mahal untuk Leathina.
“Menurutmu?” Aelfric balik bertanya, dia tidak terlihat bingung atau panik seperti Zeyden.
“Winter tahu sesuatu?!” Bola mata Zeyden membesar karena terkejut akhirnya dia tahu kenapa orang seperti Winter bisa tenang di hadapan pembunuh bayaran terlebih mereka mengincar Leathina.
Semenjak Leathina menghilang Winter selalu sangat sensitif, seluruh kabar tentang Leathina akan langsung dia konfirmasi dia bahkan memimpin pencarian Leathina ke pelosok-pelosok kerajaan. Mengingat bagaimana santainya dia tadi Winter pasti tahu sesuatu tentang pembunuh bayaran itu.
“Winter!” seru aelfric saat akhirnya berhasil menyusul Winter.
Winter berjalan kembali dengan terburu-buru dan bertemu dengan Zeyden dan aelfric yang ternyata menyusulnya.
“Winter kau pasti tahu sesuatu bukan!!” Tanya Zeyden tidak sabar, dari tadi dia merasa seperti orang bodoh yang kebingungan sendiri.
“Apa-apaan kau ini, lepaskan.” Winter mendorong zeyden yang menarik kerah bajunya.
“Kau pasti tahu sesuatu tentang Leathina dan pembunuh bayaran itu kan?! Apa jangan-jangan kau bersekongkol dengan mereka?!”
“Apa maksudmu?” Tanya Zeyden semakin bingung.
“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Leathina itu siapa untukmu? Bukankah kau sendiri pernah bilang dengan mulutmu sendiri bahwa kau sangat tidak menyukainya, jadi berhentilah bersikap seolah-olah seluruh usahamu itu untuk Leathina, kau terlihat menjijikkan Zeyden.”
“Apa maksudmu? Aku hanya ingin membantu untuk menemukan orang yang hilang.”
“Maksudmu sampai membuatmu gila seperti sekarang?” Tanya Winter.
“Aku…..” zeyden berpikir keras mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Winter barusan tapi otaknya tidak berfungsi dan tidak menemukan alasannya.
‘Benar kenapa aku bersikap aneh seperti ini? Apa hubunganku dengan Leathina? Dan kenapa aku harus peduli padanya bukankah hubungan kami tidak begitu baik sampai aku harus marah untuknya?’
Zeyden terdiam, memikirkan perilakunya yang lama-lama semakin aneh saja.
“Winter, aku penasaran kenapa kamu kembali?” Tanya aelfric penasaran setelah suasana kembali tenang.
“Mereka menghancurkan tiang penyangga di mulut terowongan lubangnya tertutup, aku terjebak di sana.”
“Bagaimana dengan Leathina.” Tanya aelfric hati-hati.
“Mereka kabur, aku akan kembali dan melaporkan kejadian ini pada Duke Leonard.
Mereka bertiga akhirnya sampai di ujung terowongan memanjat kembali dan kembali ke pondok, terlihat pondok itu sudah hancur dan tidak bisa dihuni lagi.
“Kalian menghancurkan pondok ini ya.” Gumam Winter sambil berjalan keluar, dilihatnya para prajurit yang ikut dengannya tadi masih setia menunggu di luar pondok.
“Laporkan!” Pinta Winter pada prajurit yang di percayakan tadi sebelum dia tinggal.
“Dua orang keluar dari pondok, satu pria yang kabur menggunakan penutup wajah dan satunya lagi berbadan besar dan keras seperti batu, kami berusaha menangkap mereka tapi berhasil kabur beberapa prajurit terluka karena menahan mereka.”
“Kalian tahu kemana mereka pergi?”
“Mereka berpencar, pria bertopeng itu berlari ke arah utara dan pria yang satunya berlari ke arah sebaliknya.”
“Baiklah kita akan kembali dan mempersiapkan pengejaran yang lebih mapan.”
Winter melompat naik ke kudanya sebelum pergi dia memastikan keadaan Zeyden dan Aelfric terlebih dahulu.
“Kalian kenapa tidak pulang saja, biarkan Duke Leonard yang mengurus ini terutama kau Zeyden ini adalah urusan keluarga Leonard tidak ada hubungannya dengan menara sihir.”
“Aku tahu.” Zeyden membenarkan perkataan Winter.
“Tuan Winter, maaf tapi bisakah kalian memberiku tumpangan aku tidak punya kendaraan untuk pulang.” Minta aelfric malu-malu.
“Aku juga tidak punya kendaraan untuk pulang, menara sihir jauh.” Celetuk Zeyden sambil melamun.
“Terus bagaimana kalian bisa sampai disini? Aelfric kau bahkan tidak ada di kerajaan bukankah kau ada di hutan?”
“Ah! Itu, aku merasakan aura sihir milik Leathina aku memaksa kesini dengan beberapa eksperimen ku dan tiba-tiba aku sudah sampai disini.”
“Baiklah, ikutlah dengan kuda prajurit.”
“Ah, terimakasih.” Aelfric segera naik ke atas kuda salah seorang prajurit.
“Bagaimana denganku?” Tanya Zeyden.
Winter menghela nafas panjang sebelum berbicara. “Kau kan punya sihir teleportasi.”
“Ah iya, aku lupa ternyata aku punya itu.”
Tanpa aba-aba Zeyden langsung hilang dari pandangan tertelan cahaya.
Winter dan yang lainnya pun bergegas kembali ke kerajaan.
...***...