
“Apa Nora masih belum pulang? Tapi biasanya dia sudah pulang sejak dua jam yang lalu.”
Seorang pelayan yang biasanya bertugas mengurusi keperluan Nora kebetulan lewat pelayan itu ternyata baru keluar dari kamar Nora untuk mengambil seprei dan sarung bantal yang kotor dan kemerahan beberapa pakaian Nora pun terlihat dipenuhi lumpur.
“Oh! Sejak kapan kau ada didalam.”
“Salam Nona Leathina, saya sudah ada di dalam sejak tadi saya sedang membersihkan kamar tuan muda.”
Leathina mengernyit matanya memelototi lawan bicaranya karena kesal dari tadi mengetuk pintu atau berteriak tidak ada yang membalasnya padahal ternyata ada orang di dalam.
“N-nona apa ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan tadi takut pada Leathina.
“Kalau kamu dari tadi sudah ada di dalam, berarti tadi kamu mendengar ku mengetuk pintu atau setidaknya mendengar panggilanku kenapa tidak ada yang menjawabku?”
M-maaf Nona, saya pasti sangat fokus bekerja jadi tidak mendengar suara anda.”
“Kau berbohong kan?!”
“saya mana berani berbohong pada Nona Leathina.”
“Terus kenapa kamu menghindari mata saya, dan berkeringat dingin.”
“Ah- hahah, saya pasti kelelahan, kalau begitu saya permisi Nona Leathina.”
Pelayan itu terlihat sangat gugup lalu langsung ingin kabur setelah memberi salam.
“Akh.”
Sayangnya Leathina malah menarik kerah baju bagian belakangnya.
“Kenapa kau mau kabur, saya kan belum selesai bicara.”
“Maafkan saya Nona Leathina.”
Pelayan tadi akhirnya pasrah ia lebih takut melihat Leathina yang memelototinya.
“Apa tadi kau mendengar panggilanku?” tanya Leathina sekali lagi.
“I-iya nona saya dengar.”
“Nah kan! Kau tahu aku hampir kering menunggu di sini, kenapa kau tidak menjawab.”
“Itu- itu.” Yang ditanya malah tergagap sambil melirik ke arah pintu kamar Nora.
“Kau takut?” bisik Leathina lalu pelayan yang ditanyainya langsung mengangguk cepat.
“Kalau begitu,” Leathina menunduk lalu mereka berdua malah berjongkok di depan pintu kamar Nora.
“Apa Nora ada di dalam?”
“Ada Nora Leathina.”
“Kenapa dia tidak mau menjawab panggilanku?”
“Dia bilang, jangan bilang pada Nona Leathina saya lama di dalam karena disuruh tuan muda keluar kalau Nona Leathina sudah tidak ada.”
“Jadi apa yang sedang dia lakukan sekarang?”
“Dia sekarang sedang tidur.”
“Apa ada yang lain dengan dia? Atau adakah hal aneh yang kau lihat dari anak itu?”
“Tidak ada Nona, dia mungkin hanya kelelahan setelah kembali dari akademi.”
“Baiklah kalau begitu terimakasih, lanjutkan pekerjaanmu.”
“Terimakasih banyak Nona Leathina.” Ia pun terbirit meninggalkan Leathina.
Leathina penasaran dari mana lumpur dan bercak-bercak darah yang ada di pakaian nora berasal, jika pelayan tadi mengatakan tidak ada hal yang aneh berarti dia tidak melihat adanya luka di tubuh nora atau sejenisnya.
“Apa aku terlalu berlebihan menanggapi masalah ini, mungkin dia benar-benar hanya kelelahan saja kalau dia tidur besok saja aku datang lagi.”
Di luar tidak lagi terdengar suara Leathina Nora mengintip keluar dan merasa lega ia pikir kakaknya akan menerobos masuk, dengan menghela nafas berat Nora kembali masuk dan mengunci kamarnya dari dalam.
“Kenapa di kunci?”
“AAAaaaa!”
Pertanyaan yang begitu tiba-tiba mengejutkan Nora hingga jatuh kemudian meringis kesakitan.
“Kakak dari mana kau masuk!”
“Dari jendela, tentu saja.”
“Astaga!”
Nora histeris kemudian berlari ke jendela dan tidak melihat adanya tangga dibawa sana bertanya-tanya kenapa Leathina bisa masuk ke kamarnya padahal bukan lantai dasar.
“Bagaimana kakak bisa naik ke sini?”
“Bagaimana kalau kakak jatuh dan terluka, bisa patah kaki dan tangan, kakak ini benar-benar.”
“Ini kan karena kamu tidak mau bertemu dengan kakak, jadi tidak ada pilihan lain selain jalan jendela itu.”
“Maafkan aku.”
“Jadi kenapa kamu menghindari kakak?”
“T-tidak ada alasan, saya lelah takut kakak Lea khawatir.”
“Humm! Jadi kau tidak ingin kakak mengkhawatirkanmu ya?”
Nora mengangguk cepat meyakinkan Leathina.
“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan menemuimu lagi kamu juga tidak boleh menemuiku lagi agar aku tidak mengkhawatirkanmu.”
“Kenapa begitu?”
“Pokoknya kalau bisa kita tidak perlu saling kenal lagi seperti yang kau lakukan dalam beberapa hari ini.”
“T-tapi ….., Kakak ….”
Leathina kesal setelah susah-susah menunggu adiknya itu dan bahkan sampai memanjat dinding Nora malah berbohong dan tidak ingin dikhawatirkan, dengan hati sedikit kesal dia berjalan ke luar tidak lagi mempedulikan Nora walau adiknya itu memanggil-manggil namanya.
Leathina sengaja mengabaikan Nora agar nora tahu bagaimana rasanya diabaikan sudah beberapa hari Leathina tidak lagi mengunjungi Nora dan jika Nora datang ke padanya ia sengaja menghindar.
“Ada apa Nona Leathina?” Anne penasaran kenapa dua majikannya itu sepertinya perang dingin dan tidak saling bicara.
“Kenapa kau bertanya seperti itu!” Leathina kesal karena Nora masih tidak mau mengalah, mereka berdua tidak ada yang mau berbicara lebih dulu. ‘Baiklah kalau kamu masih mau diam-diaman aku akan meneruskannya sampai kau menyerah.’
“N-nona, kenapa jadi marah ke saya?”
“Siapa yang marah? Aku tidak marah kok!”
“Umm!” Anne diam tau kalau Nonanya sedang kesal sekarang.
“Anne!”
“I-iya Nona, saya siap melayani?”
“Kenapa kamu seperti orang yang takut padaku? Apa kau takut padaku?”
“Tidak, tentu saja saya tidak takut.”
“Anne malam ini aku akan keluar.”
“Lagi, Nona?”
“Lagi? Kau tahu aku sering keluar?” tanya Leathina penasaran.
“Tentu saja saya tahu, saya mengecek Nona setiap malam takut kalau nona sakit atau hilang tapi ternyata beneran hilang, sebenarnya nona ini kemana setiap malam!”
Leathina terkejut pasalnya Anne tiba-tiba berubah seperti ibu-ibu yang memarahi anak kecil.
“S-saya tidak kemana-mana kok.”
“Jangan berbohong, setidaknya kalau Nona mau keluar beritahu saya supaya saya tidak khawatir. Nona Leathina tahu kan waktu pertama kali Nona Leathina hilang malam-malam jantung saya hampir meledak tapi saya tahan takut kalau nona sengaja keluar tapi untungnya nona kembali.”
“Tenanglah Anne, aku minta maaf aku tidak akan mengulanginya lagi tapi Anne malam ini aku izin ingin keluar ya?”
“Tuh kan! Baru tadi saya bilang jangan sering-sering keluar malam.”
“Tidak kok, tadi kamu bilang kalau mau keluar kamu harus dikasih tau biar tidak khawatir.”
Anne memijat keningnya, dia tidak pernah bisa menang melawan nonanya itu.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi ya.”
“Tapi harus cepat kembali.”
“Iya, pasti.”
Entah bagaimana Leathina sudah siap dengan jubahnya dan malah sudah berdiri di ambang jendela, Anne panik ingin menarik masuk tapi Leathina sudah terlanjur memanjat turun.
“Ya Tuhan, rasanya separuh umurku sudah berkurang.”
“Kakak, apa kau di dalam?” terdengar suara Nora dari luar.
Cepat-cepat Anne menyusun bantal menyerupai bentuk orang dan menutupi dengan selimut agar lebih mirip dengan manusia yang sedang tertidur.
Anne keluar dan langsung menutup pintu tidak membiarkan Nora mengintip ke dalam.
“Ah! Tuan Muda Nora, maafkan saya tapi Nona Leathina sudah tidur silahkan datang lagi besok ya, kalau begitu saya mau ke dapur.”
Anne langsung lari menghindar takut jika Nora bertanya lebih lanjut lagi.
...***...