
“Terimakasih karena telah merahasiakannya tuan Alex, dan terimakasih telah menolong adikku dan mengantar mereka pulang.”
“Apa yang kau lakukan Leathina, kau tidak perlu membungkuk seperti itu padaku.” Cepat-cepat Alex menahan Leathina agar tidak membungkuk padanya.
“Tidak apa-apa, aku sangat berterimakasih padamu karena telah menyelamatkan aku sebelumnya.”
“Bukan itu maksudku, kau harus melihat ekspresi duke dan laki-laki di sebelahnya itu.” Bisik Alex pada leathina.
Leathina pun langsung melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Alex dan dilihatnya Duke Leonard dan Winter kini telah menatap Alex, tatapan mereka seakan mengatakan bahwa jangan dekat-dekat dengan Leathina atau kau akan menanggung akibatnya.
“Ah, maafkan aku. Mereka memang agak berlebihan jika aku dekat dengan seseorang.” Ucap Leathina merasa canggung dengan Alex.
Melihat Leathina yang tiba-tiba menjadi canggung membuat Alex malah tertawa dan karena Alex tertawa Leathina pun ikut tertawa dan merasa bahwa situasi mereka sangat lah lucu karena banyak mata yang mengawasi mereka sekarang, padahal mereka berdua hanya sedang mengobrol bersama.
“Leathina ayo kembali!” Duke Leonard langsung menutup tubuh Leathina dengan jubahnya kemudian menariknya naik ke atas kuda miliknya.
“Aku pergi dulu Alex, senang berkenalan denganmu.” Ucap Leathina sebelum benar-benar pergi.
Alex hanya tersenyum melihat duke pergi membawa Leathina setelah itu dia pun pergi meninggalkan lokasi dan menghilang setelah masuk ke jalan-jalan sempit.
“Kau mengenalnya?” tanya Duke pada Leathina.
“Aku tidak mengenalnya, apa ayah mengenalnya?”
“Ayah juga tidak mengenalnya, sebaiknya kau tidak usah bertemu lagi dengannya. Ayah rasa dia banyak menyimpan rahasia, dan bisa saja menyeretmu ke dalam keadaan yang berbahaya.”
“Saya mengerti ayah, lagi pula kami tidak akan bertemu lagi dia hanya orang yang kebetulan menolongku.”
"Baiklah. Tapi apa kau benar-benar tidak apa-apa? Nora mengatakan bahwa kamu terluka saat menolongnya.”
“Tidak aku tidak terluka ayah, Nora mungkin syok saat itu dan mengira darah yang ada di tanganku adalah darahku. Tapi apa nora baik-baik saja?”
“Nora baik-baik saja, ayah mengurungnya untuk sementara waktu kau jangan mengunjunginya dulu.”
“Eh, kenapa ayah?”
“Dia tidak mendengarkan perkataanku dan terus menganggumu.”
“Ah, jadi begitu. Ayah salah paham dan berfikir bahwa Nora lah yang memaksa ku untuk ke kota. Malang sekali nasibnya.” Batin Leathina.
“Kedepannya kau tidak usah membahayakan dirimu sendiri Leathina, beritahu ayah atau Nicholas. Paham?”
“Iya aku paham ayah. Kau tidak perlu memperlakukanku seperti anak kecil, maksudku bukankah dari dulu aku memang pemberani karena hidup sendiri sejak dulu.” Ucap Leathina sambil bercanda. Tapi, candaanya malah membuat Duke menjadi murung.
“Ah, ayah. Maksudku bukan untuk menyinggungmu aku hanya ...”
“Ayah tahu, aku tidak tersinggung. Hanya saja ucapanmu memang benar. Maafkan aku membiarkanmu tumbuh seperti itu.”
“Tidak masalah ayah.”
Setelah percakapan mereka tidak ada lagi yang berbicara diantara Duke Leonard dan Leathina, mereka sama-sama kembali merasa canggung karena takut saling menyinggung perasaan masing-masing.
“Nona Leahina”
“Leathina!”
Teriak Nicholas dan Anne secara bersamaan saat melihat Duke Leonard kembali dan membawa Leathina bersamanya di atas kudanya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Nicholas khawatir.
“Aku baik-baik saja Nicholas.”
“No- nona, maafkan aku.”
“Anne! Aku sudah memperingatimu untuk tidak mengunjungi tempat-tempat yang aneh tapi kau tidak mendengarkan perkataanku. Aku akan menghukum mu, mulai hari ini kau akan aku ganti.”
“Tidak Nona Leathina, jangan gantikan saya! Saya tahu saya salah tapi aku mohon, aku tidak akan mengulanginya lagi! Maafkan saya.”
“Baiklah, selama satu bulan kau aku pindahkan di area pencucian jangan mengunjungiku selama itu.”
“Tapi Nona?!”
“Itu hukuman mu, apa kau mau aku benar-benar menggantimu dengan yang lainnya?!”
“B-baiklah Nona, saya akan melakukan seperti yang Nona Leathina katakan.”
“Nicholas, aku akan membawa Leathina kembali lebih dulu. Kalian uruslah mereka dan kembali setelahnya.”
“Baik ayah.”
Duke Leonard meninggalakn Nicholas dan Winter yang masih mengurus sisanya, dan dia segera kembali ke mansion karena ingin memeriksa Leathina.
“Bagaimana kondisinya? Apa putriku baik-baik saja?” tanya Duke Leonard khawatir dengan kondisi Leathina.
Setelah sampai di mansion dengan terburu-buru ia langsung memanggilkan seorang dokter untuk memeriksa kondisi Leathina dan terus-menerus bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Nona baik-baik saja tuan, dia hanya mendapatkan beberapa goresan kecil.”
“Leathina bagaimana perasaanmu? Apa benar kau baik-baik saja?”
“Ah, ayah aku baik-baik saja. Bukankah dokter sudah bilang bahwa tidak ada luka yang serius.”
“Syukurlah, kalau begitu kembali lah ke ruangan mu dan beristirahatlah. Aku akan mengirimkan beberapa pelayan yang akan menggantikan Anne untuk sementara.”
“Baik ayah, terimakasih.”
Setelah berpamitan Leathina segera kembali ke ruangannya kemudian langsung mengambil jubah dan sepatunya yang ia selipkan di bawah tempat tidurnya.
“Bisa bahaya jika pelayan yang baru menemukan barang-barangku yang sering aku gunakan untuk menyelinap keluar, mereka pasti akan langsung memberitahukan ayah.”
“Eh, apa ini?” gumam Leathina saat tangannya menyentuh sebuah kotak yang di sembunyikan di bawah tempat tidur.
“Ini terkunci, mungkin kuncinya ada di laci.”
Leathina yang penasaran memeriksa semua laci dan tidak membutuhkan waktu yang lama Leathina menemukan sebuah kunci kecil yang di selipkan bersama barang-barang yang lainnya di dalam laci dan langsung memasukkannya ke dalam gembok yang mengunci kotak kayu yang di temukan Leathina di bawah tempat tidurnya.
“Cocok!”
Gumamnya saat mendengar bunyi engsel gembok yang terbuka.
“Ini barang-barang lama milik Leathina.”
Setelah berhasil membuka kuncinya Leathina menemukan beberapa barang-barang lama milik Leathina.
“Ah, ini bola salju yang dulu dihadiahkan Nicholas untuknya” gumamnya saat melihat sebuah bola kristal yang jika di gerakkan di dalamnya akan berguguran seperti salju. “Dan ini buku catatan ...eh? ini kan nama-nama yang aku lihat Leathina tuliskan di dalam gambaran ingatannya, jadi disini ya dia menyimpannya pantas saja aku tidak menemukannya dimana-mana ternyata disimpan dengan baik.”
“Tok.. tok.. tok...!”
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Leathina, membuat Leathina panik dan segera menyimpan jubah dan sepatunya di dalam lemarih bagian bawah kemudian kotak yang ia temukan ia simpan di atas meja miliknya hingga terlihat seperti sebuah dekorasi biasa.
“Siapa?!” teriak Leathina dari dalam yang masih sibuk menyembunyikan barang-barang miliknya.
“Saya pelayan pengganti yang di pilih Duke untuk melayani anda Nona.” Balas orang yang mengetuk pintu ruangan Leathina.
“Baiklah, masuk.”
Setelah di persilahkan masuk oleh Leathina beberapa pelayan kemudian masuk dengan membawa alat-alat untuk membantu Leathina memberishkan dirinya.
“Saya akan menyiapkan pakaian ganti anda terlebih dahulu Nona, sementara mereka akan menyiapkan air mandi untuk Nona Leathina.”
Leathina hanya mengangguk kemudian berpura-pura tenang dan duduk di pinggiran tempat tidurnya sambil menyilangkan kedua tanganya di depan dadanya.
“Airnya sudah selesai, saya akan membantu anda melepaskan pakaian nona Leathina.”
“Baiklah.”
“Saya juga akan membantu Nona untuk mandi.”
“Tidak usah, kalian keluarlah. Aku bisa membersihkan diriku sendiri tanapa bantuan kalian. Aku akan memanggil kalian lagi setelah aku mandi dan membantuku untuk berpakaian.”
“Baiklah Nona, kami mengerti. Jika anda yang Nona Leathina butuhkan silahkan memanggil kami, kami akan berjaga di depan pintu.”
Leathina hanya mengangguk mengiyakan dan setelah para pelayan keluar barulah Leathina mulai membersihkan dirinya sendiri.
Setelah Leathina selesai dengan ritual mandinya sendiri, ia kemudian baru memanggil pelayan dan tidak memakan waktu yang lama pelayan pun datang kembali dan membantunya untuk berpakaian.
Pelayan yang datang juga membawa makanan untuk makan malam Leathina yang sebelumnya ia minta pada pelayan.
“Terimakasih, aku akan merepotkan kalian dalam beberapa waktu kedepan.” Ucap Leathina setelah selesai menghabiskan makananya dan kemudian meminta pelayan untuk keluar karena ingin beristirahat.
“Ini sudah tugas kami nona.” Ucap si pelayan sopan kemudian segera keluar.
Setelah memastikan semua pelayan benar-benar telah pergi Anne kembali mengambil kotak kayu yang tadi tidak sengaja ia temukan di bawa tempat tudurnya dan membukanya kembali.
“Ini semua daftar nama-nama bangsawan yang memiliki bisnis gelap dan berbahaya bagi keluarga Yaenell, woah! Leathina benar-benar mempersiapkan sesutu yang luar biasa, mungkin karena ia ingin menjadi penerus keluarga jadi ia membuat ini sebagai bentuk peringatan.” Gumam Leathina sambil terus memeriksa dengan teliti semua nama-nama yang Leathina tuliskan.
“Ah, ini juga berisi jurnal yang menuliskan pengalaman hidupnya. Aku tidak tahu kalau dia juga hobi menulis yang beginian, sebaiknya aku menyalin nama-nama bangsawan yang selalu membuat masalah dengan ayahku.”
Leathina segera mengambil beberapa lembar kertas dan pena dan menyalin daftar nama bangsawan yang telah Leathina yang dulu selidiki sebeumnya.
“Nah sudah seesai, aku juga memasukkan keluarga Dante dan beberapa nama yang alas sebutkan tadi.” Gumam Leathina yang berharap usahanya tidak berakhir sia-sia.
“Ini belum terlalu malam.” Gumam nya kemudian segera beranjak dan bersiap-siap untuk pergi ke ruangan ayahnya karena ingin menyerahkan nama-nama yang telah ia salin secepat mungkin.
“Leathina!” panggil Winter yang tidak sengaja berpapasan dengan Leathina saat keluar dari ruangan kerja duke Leonard.
“Winter kau sudah kembali?!”
“Apa semua penjahatnya tertangkap?”
“Iya, terimakasih berkatmu kami dapat mengungkap kejahatan yang mereka lakukan.”
“Ah, itu hanya kebetulan tidak usah kau lebih-lebihkan Winter.”
“Leathina apa kau benar baik-baik saja?” tanya Winter yang terlihat khawatir saat melihat beberapa perban di tangan Leathina.
“Iya tenang saja, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil jadi tidak akan menjadi masalah kok.” Leathina mencoba menenangkan Winter yang masih terus melihatnya dengan tatapan khawatir.
“Tapi, apa yang membawamu kemari selarut ini Leathina? Seharunya kau beristirahat.”
“Ada sesutu hal penting yang harus aku diskusikan dengan ayahku.”
“Baiklah aku paham, kalau begitu aku pamit Leathina.”
“Iya, hati-hati dalam perjalananmu Winter.”
“Terimaksih.” Ucap Winter kemudian tersenyum dan segera mempersilahkan Leathina masuk ke dalam ruangan duke Leonard setelah itu barulah ia benar-benar pergi.
“Ayah aku datang.” Ucap Leathina setelah masuk ke dalam ruangan ayahnya.
“Leathina, kau seharunya bersitirahat sekarang. Apa yang membawamu ke ruangan ayah selarut ini?”
“Ada yang ingin aku beritahukan pada ayah.”
“Apa itu, katakanlah Leathina.”
“Ini ayah.” Leathina kemudian menyerahkan beberapa lembar kertas pada ayahnya.
“Apa ini?” tanya Duke Leonard kemudian segera mengambil lembaran kertas yang di berikan Leaithina untukknya.
“Ini?!” Ucapan duke tertahan, matanya fokus melihat semua daftar nama yang ada di dalam kertas.
“Ini nama-nama bagwasan yang ayah curigai, tapi dalam kertas ini sudah tertera sebagai tersangka dan daftar kejahatannya.” Ucap duke hampir tidak percaya dan ditatapanya Leathina dengan terheran-heran.
“Dari mana kau....?”
“Ah, jangan salah paham ayah. Alas Dante yang tadi kita tangkap membeberkannya saat menangkap ku, aku mengingat apa yang di katakan dan menuiskannya di keras ini.”
“Tapi bagaimana bisa kita percaya perkataan orang sepertinya Leathina?”
“Percayalah Ayah, jika ayah menyelidiki kejahatan dan temat-tempat yang ada di kertas itu ayah akan menemukan bukti nyata.” Leathina mencoba menyakinkan duke Leonard dengan perkataannya karena sepertinya duke Leonard masih terlihat ragu untuk percaya.
“Baiklah ayah paham Leathina. Ayah akan membagi beberapa tim dan menyelidikinya secara langsung.”
“Semoga catatan itu bisa membantumu ayah.”
“Terimakasih Leathina, sekarang kembalilah dan beristirahatlah di ruanganmu.”
“Baik ayah.”
Setelah selesai berdiskusi dengan ayahnya Leathina pun mematuhi perkataan duke Leonard dan langsung kembali ke ruangannya.
“Leathina?” Leathina mendengar seseorang memanggilnya dalam perjalanannya kembali ke ruangannya, refleks Leathina langsung mencari si pemilik suara.
“Nicholas, kau baru kembali?”
“Iya aku baru saja kembali dari penjara pusat, apa kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu Nicolas, apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka bukan?”
“Aku juga baik-baik saja, tapi untuk apa kau ke kota tanpa pengawalan bahkan tidak memberitahu aku atau ayah sama sekali?”
“Ah, itu hanya rencana mendadak untuk berjalan-jalan dengan Nora. Tapi sayangnya tidak berakhir baik, kau tidak perlu marah Nicholas.”
“Aku tidak marah Leathina, aku hanya khawatir. Bagaimana jika sesuatu yang lebih buruk terjadi padamu dan Nicholas!”
“Aku tidak berfikir begitu, jadi jangan terlalu khawatir lagi.”
“Baiklah, aku paham. Kau dari mana?”
“Aku dari ruangan ayah dan akan kembali ke ruanganku sekarang."
“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kamar mu.”
“Terimakasih.”
Nicholas mengantar Leathina kembali ke ruangannya, mereka jalan bersama hingga akhirnya terhenti setelah samyapi. Tidak ada percakapan diantara mereka berdua, mereka hanya saling melirik satu sama lain karena merasa canggung hanya berdua dalam waktu yang cukup lama.
“Sudah sampai.” Ucap Nicholas setelah sampai di depan pintu ruangan Leathina.
“Iya sudah sampai. Terimakasih telah mengantarku sampai ke kamarku.” Jawab Leathina dan tersenyum ceriah karena Nicholas mulai bersikap baik padanya dan tidak lagi berbicara dengan sarkas seperti biasanya.
“Kau sudah besar Nicholas!” ucap Leathina kemudian mengacak rambut Nicholas.
Nocholas tertegun saat Leathina menyentuh rambutnya, tidak ada tanggapan ia hanya terdiam dan menatap Leathina.
“Ah, ma- maafkan aku. Aku kelepasan karena gemas denganmu.” Ucap Leathina yang kemudian kembali menjadi canggung dan menarik kembali tangannya.
“Duh aku pasti sudah gila! Aku terbawa perasaan setelah melihat bola kristal Leathina yang dulu dihadiahkan Nicholas untuknya. Di tambah ingatannya yang tiba-tiba aku ingat.” Batin Leathina yang mengutuk dirinya sendiri karena kelewatan dalam bertindak.
Nicholas masih tetap terdiam tidak seperti biasanya yang langsung berceloteh tidak jelas saat Leathina menganggunya. Dan sikapnya itu lebih membuat Leathina khawatir.
“Kalau begitu aku akan masuk!” ucap Leathina kemudian terburu-buru masuk ke ruangannya.
“Leathina!” seru Nicholas kemudian menarik kembali Leathina, hingga Leathina terkejut dibuatnya.
“Nicholas, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja menyentuhmu!” Leathina yang gugup hanya bisa menutup matanya karena takut dipukuli dan Nicholas juga menggenggam erat tangannya.
“Tidak apa-apa, kakak.” Gumam Nicholas pelan kemudian memeluk Leathina.
Leathina tertegun tidak bisa berbicara atau pun bereaksi saat Nicholas tiba-tiba memeluknya di tambah memanggilnya kakak dengan nada lembut.
“Nicholas, apa kepalamu terbentur sesuatu? Katakan padaku aku bisa mengobatimu?” Leathina akhirnya bisa berbicara setelah kembali ke dalam kesadaranya.
“Tidak, kepalaku tidak pernah terbentur. Aku hanya mencoba menjadi adik yang baik untukmu.”
“Ah, jadi begitu. Tapi saranku bersikaplah seperti biasanya, kau membuatku merinding setengah mati.”
“Kenapa? Kau juga sering memeluk Nora jadi kenapa aku tidak boleh?”
“Cukup.” Leathina mendorong Nicholas hingga pelukannya terlepas, “Bertingahlah seperi yang biasanya. Itu akan sangat membantuku.”
Setelah mendoromg Nicholas menjauhinya Leathina menggunakan kesempatannya untuk segera masuk ke ruangannya dan langsung menguncinya dari dalam. Khawatir jika Nicholas ikut masuk bersamanya dan bertindak aneh lagi.
“Ada apa dengan anak itu? Kenapa tiba-tiba menjadi tidak waras. Ini pasti karena aku menyentuh kepalanya.” Leathina bergidik ngeri, kemudian menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidurnya.
“Ah, tidak tahu pokonya aku mau istirahat saja.” Ucapnya sebelum benar-benar terlelap karena kelelahan setelah hari yang panjang yang telah ia lalui.
“Tak!”
Samar-sama Leathina mendengar suara berisik dari dalam ruangannya sendiri, dan membuanya menjadi ekstra hati-hati.
“Leathina kau tidur?” Panggil seseorang hingga Leathina mengintip.
“Zeyden?!” Seru Leathina yang terkejut.
“kenapa kau datang?”
“Aku dengar kau hampir ditangkap oleh pedagang manusia di kota jadi aku ingin memeriksanya secara langsung.”
“Ada apa denganmu, untuk apa kau peduli.”
“Aku hanya penasaran saja, jika saja kau betulan di jual maka aku yang akan membelimu!”
“Uangmu tidak akan cukup untuk membeliku.”
“Tapi kau tidak apa-apa kan? Aku bisa membawa andy ke sini untuk mengobatimu.”
“Kau lupa ya, kalau aku lebih hebat dari bawahannmu.”
“Ah, Leathina. Kau ini benar-benar dingin, setidaknya peka lah sedikit.”
“Duh, kau menganggu waktu istirahatku. Kembali saja sana!” teriak Leathina dan melempar Zeyden dengan bantalnya.
“Nona apa ada sesuatu yang terjadi!” teriak penjaga dari luar ruangan ketika mendengar keribut dari dalam.
“Ini ada mppp!!” saat Leathina akan melapor Zeyden malah menutup mulut Leathina.
“Jangan melapor aku akan kembali sekarang!” ucapnya setelah itu benar-benar menghilang dengan sihir teleportasinya.
“Nona?” panggil penjaga lagi untuk memastikan keadaan Leathina.
“Aku baik-baik saja, kembalilah berjaga.”
“Baik Nona.”
“Kenapa orang-orang selalu datang dan pergi seenakanya ke kamarku.” Leathina yang kesal meninju bantalnya beberapa kali untuk mengurangi rasa amarahnya sendiri.
Setelah Zeyden pergi Leathina segera memastikan jendela dan pintu ruangannya terkunci karena tidak ingin diganggu lagi.
...***...