
Rapat malah diakhiri dengan perdebatan hanya karena putri Duke Leonard yang kabarnya masih simpang-siur, mau tidak mau Raja Daylen dengan tegas membatasi pembahasan kemudian diakhiri segera, masing-masing petinggi meninggalkan ruangan sampai haya tersisa beberapa bangsawan saja yang sepertinya sengaja tinggal serta pangeran Edward yang malas beranjak karena sudah terlanjur nyaman duduk, sesekali ia bahkan cekikikan sendiri, orang-orang yang melihatnya bahkan terang-terangan mencemooh pangeran Edward.
“Apa anda ini sudah benar-benar gila.” Tegur seseorang kemudian berlalu begitu saja dengan berkas laporannya.
“Cih.” Seorang lainnya yang meremehkan sebelum pergi namun Pangeran Edward tidak ambil pusing masih nyaman dengan posisi duduknya.
Lalu Marquis Barnum pun beranjak lalu dengan sengaja berhenti di depan Pangeran Edward. “Anda bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa jadi jangan berlagak, hanya karena anda seorang pangeran tidak ada bangsa yang mau mendukung anda setidaknya tahu dirilah sedikit jangan hanya menyisakan yang mulia dan putra mahkota.” Ucapnya lalu berlalu begitu saja.
"Terimakasih telah menaruh perhatian lebih padaku tuan Marquis Barnum, tapi saya tidak membutuhkan perhatian anda, jadi tolong Minggir dari pandangan ku wajah keriputmu tidak enak di pandang pantas saja istri anda selalu terlihat berkeliaran di rumah malam bersama pria-pria muda."
"Ucapan anda sungguh sangat vulgar pangeran Edward." balasnya lalu bergumam lagi, "Kurang ajar." lalu Marquis Barnum segera pergi dengan wajah merah padam karena malu dan marah.
“Duh, duh, angkuh sekali orang-orang itu.” Gumam seseorang dengan pakaian pengawal , “Tuan silahkan meninggalkan ruangan,” Ucapnya sopan lalu Pangeran Edward beranjak dan orang itu ikut di belakang pangeran Edward.
“Bagaimana Adam, apa ada hal menarik di luar sana?” Tanya Pangeran Edward sambil berjalan.
“Tuan, ada beberapa mata-mata masuk ke dalam kediaman Duke Leonard, sepertinya mereka diutus untuk melihat keadaan disana.”
“Itu, aku sudah tahu aku melihatnya mengikuti kami saat aku berkunjung terakhir kali.”
“Ratu dan orang-orang kekaisaran sepertinya menaruh mata-mata juga, mungkin sebentar lagi akan ada perdebatan mengenai keberadaan Nona Leathina dengan kemampuannya itu.”
“Benar, kita harus berhati-hati.”
“Saya tidak mengerti lagi kenapa harus mengincar satu orang padahal banyak orang yang juga bisa menggunakan sihir yang sama.” Gumam adam sambil menggelengkan kepalanya melihat betapa gigihnya para bangsawan tadi.
“Itu karena kemampuan Leathina berbeda, kau lihat sendiri kan malam dimana naga itu menyerang dia bahkan menyembuhkan puluhan orang sekaligis kemampuannya tidak terbatas dan mutlak bisa menyebuhkan bukan seperti penyihir yang sering kau temui yang hanya mampu mencegah saja dan masih perlu perawatan lebih lanjut, kemampuan Leathina lebih bisa disebut berkah daripada sihir.”
“Nahkan, tidak ada hubungannya dengan kerajaan tapi kenapa masih disuruh mengabdi.”
“Itu, mereka saja yang otaknya aneh.”
“Ah! Dan pemilik menara sihir itu sedikit bertingkah aneh.”
“Apa maksdumu, Adam?”
“Aku menemukan bahwa belakang ini dia sering mengirimkan buket bunga dan hadiah ke kediaman nona Leathina.”
“Benarkah? Aneh sekali.”
“Humm….” Adam berfikir mencoba mengingat sesuatu. “Ah! Dan putri Leathina sepertinya sering keluar diam-diam.”
“Kemana?!” laporan yang terakhir lebih mengejutkan Pangeran Edward daripada yang lainnya.
“Sayangnya saya tidak tahu, dia pandai mengelak dan tahu bahwa dia sedang diikuti.”
“Baiklah biar aku selidiki sendiri.”
“Baik tuan Ed.”
“Dan adam, selidiki keluarga Marquis Barnum dan orang-orang yang tadi menyebut nama Leathina, semuanya laporkan padaku.”
“Baik Tuan Ed.”
“Kau kembalilah ke posisimu, sampaikan pada Troy dan Nina untuk terus megawasi dan kau laporkan padaku apapun yang ada.”
“Segera saya laksanakan.” Ucapnya, “Ah! Tuan Ed, sepertinya jalan terbaik untuk melindungi nona Leathina dengan cara ........” Adam tidak meneruskan kalimatnya.
“Apa sih maksudmu, jangan berbelit-belit Adam.”
“Jadi, maksud saya adalah segeralah menikah dengan Mlnona Leathina nanti diambil orang.” Ucap Adam kemudian segera lari dan menghilang.
“Ah! Ada-ada saja.” Gumam Pangeran Edward bercampur dengan rasa kesal terhadap Adam.
“Apa pertemuannya berjalan lancar Pageran?” Tanya Ratu Juliette melihat Anaknya termenung setelah kembali dari pertemuan tadi pagi.
“Ibu, saya baik-baik saja hanya saja….” Tidak ia terus kan kalimatnya.
“Apa ada hal penting?” Tanya Ratu Juliette, tangannya mengibas mengusir semua orang keluar dan semua orang pengawal dan pelayan langsung menjauh.
“Apa ibu mendengar rumor yang sedang hangat belakangan ini?”
“Ah! Maksudmu kembalinya putri Duke Leonard?”
“Benar Ibu, para bangsawan punya ketertarikan aneh dengannya aku jadi heran.”
“Itu hanya rumor, dia belum tentu kembali hidup-hidup jika beruntung mungkin dia hidup tapi seperti kata rumor dia pasti akan cacat tidak mungkin dia selamat dalam insiden itu.”
“Tapi ibu….” Kalimat Pangeran Yardley terjeda ragu-ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.
“Kenapa, katakan lah.”
“Leathina benar-benar kembali.”
“Benarkah?!” Ratu sedikit terkejut tapi kembali tenang dengan cepat.”Apa dia selamat?” Tanyanya lagi sedikit tertarik dengan informasi yang diberikan Pangeran Yardley.
Pangeran Yardley mengangguk membenarkan, “Dan dia selamat, tidak cacat sedikit pun.” Lanjutnya.
“Dari mana kau tahu?” Tanya Ratu.”
“Zeyden, dia melihatnya secara langsung.”
“Humm, menarik.” Gumamnya tersenyum lalu mengusap lembut wajah anaknya itu. “Itu informasi yang bagus, kau fokuslah dengan pekerjaanmu Yardley, kalau begitu kembalilah ke kamarmu ibu punya urusan.”
Tanpa bertanya lagi pangeran Yardley langsung kembali ke ruangannya meninggalkan ibunya yang kemudian segera memanggil pengawalnya dan mendiskusikan sesuatu.
Pangeran Yardley melirik ibunya sekali lagi sebelum benar-benar pergi sembari menghela nafas, sebab tidak pernah bisa dia menebak apa yang akan dilakukan ibunya itu dengan informasi tadi.
“Cari tahu semua informasi tentang Leathina Yarnell dan laporkan padaku segera.” Ratu Juliette memerintah, pengawalnya mengangguk paham dan tanpa bertanya lagi langsung melaksanakan apa yang diperinahkan padanya tadi.
Ratu Juliette lalu menyesap teh nya dan kemudian bersandar di bangkunya dengan tersenyum puas, tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya itu sekarang.
…
Hacuh!
Leathina tiba-tiba bersin.
'Apa ada orang yang membicarakan ku?' batin Leathina.
“Nona Leathina kembali lah ke dalam, anda akan sakit jika terus terkena udara dingin.” Anne dengan gesit menyelimuti Leathina dan memasangkannya syal di lehernya.
Leathina menggosok hidungnya yang gatal, “Aku baik-baik saja, Anne.” Ucapnya tapi tetap menerima perlakukan protektif dari Anne.
Baru saja dipasangkan tiba-tiba selimut yang baru dipakaikan Leathina terbang karena angin yang tiba-tiba kencang, Anne langsung memeluk Leathina untuk menjaganya takut jika ada ranting yang terbang dan menggores Leathina.
“Apa anda baik-baik saja?” Tanya Anne panik karena angin itu berpusat hanya di satu tempat saja.
“Aku tidak apa-apa Anne, bagaimana denganmu.” Leathina dengan cepat berbalik kemudian menarik Anne ke belakangnya untuk melindunginya tanpa disadari oleh Anne bahwa sekarang Leathina lah yang melindunginya.
“Rasanya aku akrab dengan pusaran angin ini.” Gumam Leathina menungu pusaran angin itu berhenti.
...***...