I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 90



“Permisi, apa boleh anda membuka jubah anda sebentar kami sedang mencari seseorang.” Prajurit itu berbicara sambil menunjukkan sebuah gambar ke arah Adam yang kebetulan duduk menghadap si prajurit sementara Leathina duduk membelakanginya.


Mata Leathina membulat karena terkejut, makanan yang baru akan ia masukkan di mulutnya ia letakkan kembali berusaha tidak membuat banyak gerak karena takut identitasnya terbongkar. "Duh, kenapa harus sekarang sih mereka datang."


 “Maaf, tuan prajurit pacar saya sedang makan. Lagipula yang tuan cari seorang laki-laki.”


Adam mencoba menghentikan Prajurit tersebut yang kini sudah memegang bahu Leathina.


“Oh, dia perempuan yah maafkan aku karena tidak menyadarinya. Kalau begitu Nona bisakah anda berbalik sebentar kami juga sedang mencari seorang gadis.”


Si prajurit tadi menyimpan kembali lembaran berisi gambar laki-laki yang sedang ia cari tadi kemudian menggantinya dengan lembaran lain yang berisikan gambar seorang wanita cantik berambut merah dan meletakkannya di atas meja.


“Oh, bukankah ini Nona Leathina, putri tertua dari keluarga Duke Yarnell?” Adam segera mengambil kertas yang diletakkan si prajurit tadi, pura-pura terkejut dan membacanya dengan memasang wajah serius.


Ada apa dengannya? Wajahnya terlihat natural bahkan saat dia berbohong seperti itu, tapi apa hanya perasaanku saja seakan-akan Adam tidak ingin aku melihat lembaran informasi yang diletakkan prajurit tadi. Apa hukumanku seburuk itu sampai Adam tidak ingin aku membacanya. Leathina meremas kedua tangannya karena khawatir tertangkap.


“Kau mengetahuinya Tuan?” Mendengar perkataan Adam membuat prajurit sedikit berharap karena selama ini jika mereka menunjukkan gambar Leathina pada orang reaksinya tidak selalu bagus bahkan kadang-kadang beberapa orang tanpa perasaan mengatakan bahwa Leathina tidak harus ditemukan, itu semua karena rumor yang terus menghantui Leathina bahwa ia adalah wanita jahat.


“Tentu saja aku mengetahuinya Tuan, bukankah dia penyihir jahat dari kediaman Duke?”


“Srek”


“Jaga ucapanmu Tuan, jika tidak ingin dihukum!”


Mendengar hinaan dari Adam Prajurit tersebut dengan gesit menarik pedangnya dan menodongkannya tepat di leher Adam karena kata-katanya yang menghina keluarga Duke.


“Ah, maafkan aku karena tidak bisa menjaga ucapanku tuan tapi bisakah anda menjauhkan benda berbahaya ini dari leherku? Ini.. ini.. sedikit menakutkan.”


“Lain Kali kau harus memperhatikan apa yang keluar dari mulutmu Tuan jangan sembarangan menghina.”


“I..iya sekali lagi aku minta maaf tuan, aku hanya mendengar rumornya saja.”


“Hey! Ayo kembali kita akan segera pindah ke tempat lain untuk mencari.” Prajurit lain memanggil prajurit yang sedang berselisih dengan adam.


“Baiklah.” Si prajurit segera menarik pedangnya dan menyimpannya kembali kemudian berlari kecil mengejar temannya yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan kedai makanan yang ditempati Adam dan Leathina.


“Huff, akhirnya pergi juga.”


Setelah memastikan bahwa para prajurit telah meninggalkan kedai makan Leathina segera merenggangkan badannya yang menjadi sedikit kaku karena terlalu tegang.


“Hampir saja kepalaku lepas karena mu, Lea.” Adam memegang lehernya sambil menatap Leathina dengan tatapan menyedihkan.


“Maafkan aku, dan terimakasih telah membantuku Adam.”


“Aku tidak sebaik itu akan membantumu, kau ingat kau sekarang punya dua hutang padaku.”


“Ah, i..iya iya aku tau, mana mungkin orang selicik kamu mau membantu orang dengan percuma.”


“Yup, kamu harus pintar-pintar jika ingin bertahan hidup.”


Aku tau pasti dia akan meminta imbalan. Dasar ular berbisa. “Huff.”  Leathina menghembuskan nafas panjang khawatir jika bayaran yang Adam minta nantinya tidak bisa ia penuhi.


“Tapi tetap saja aku harus mengucapkan terimakasih karena telah membantuku. Jadi, Adam Terimakasih telah membantuku.” Leathina tertawa dengan gembira berterimakasih kepada Adam dengan tulus hingga memperlihatkan deretan gigi-giginya yang tersusun rapi.


Adam kembali tertegun matanya masih fokus melihat seluruh gerakan Leathina yang sedang duduk tepat dihadapannya itu.


“Adam, hari ini kau aneh. Entah sudah berapa kali aku melihatmu tertegun seperti itu hari ini.”


“Benarkah? Ternyata kau memperhatikan aku yah?”


“Kamu.” Mulut adam reflek menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Leathina untuknya.


“Ah, aku?”  Leathina menunjuk dirinya sendiri, penasaran apa yang dipikirkan Adam tentangnya.


“Ma.. maksudku, aku masih tidak percaya bagaimana bisa sekarang aku duduk dengan wanita bangsawan yang memiliki derajat yang lebih tinggi dengan bangsawan lainnya, kau tahu kan apa yang aku maksud. Penjahat sepertiku bahkan tidak boleh membayangkannya.”


“Eh.. apa maksudmu, aku sekarang bukan nona bangsawan lagi. Sekarang aku hanya Lea, hanya Lea, ingat itu jadi jangan mengharapkan apa-apa dariku aku miskin sekarang.”


“hahaha begitukah? Aku baru akan meminta bayaran tinggi padamu tapi mendengarmu mengatakan bahwa kamu sekarang miskin membuatku berubah pikiran.”


“Nah betul jadi mintalah bayaran yang masuk akal, jangan yang aneh-aneh.”


“Baiklah akan aku pikirkan lagi, untuk sekarang habiskan makananmu cepat dan jangan bicara sambil mengunyah.”


“Siap, laksanakan Tuan. Aku pikir ini adalah perintah dan jika aku melakukan perintahmu berarti aku telah membayar satu hutang ku hahah.”


“Hei! Tidak, itu bukan perintah tau. Tapi memang kegiatan yang akan kamu lakukan bukan?” Adam terlonjak kaget mendengar perkataan Leathina.


“Hutangku tinggal satu ya, kau harus pintar-pintar memikirkan imbalan dariku nanti.” Leathina tidak mempedulikan Adam yang sekarang sedang meneriakinya ia sibuk dengan makanan yang ada di depannya.


“Kau, kau, dari mana kau belajar keahlian seperti itu?” Melihat Leathina tidak mempedulikannya Adam akhirnya hanya menghembuskan nafas dan menyandarkan punggungnya ke kursi.


“Darimu hehehe.”


“Aku tidak ingat aku pernah seperti itu di depanmu, Lea.”


“Kau harus pintar-pintar jika ingin bertahan hidup.” Leathina berbicara sambil mengikuti gestur tubuh Adam dan mengucapkan kalimat yang tadi dilontarkan adam untuknya.


“Kau mencuri kata-kataku tau, dan jangan meniruku!”


“Um tidak, aku sedang belajar darimu jadi jika kedepannya aku menyebalkan maka itu akan menjadi salahmu Adam hahaha.”


“Kau ini, bagaimana bisa itu menjadi salahku jika kau secara suka rela belajar dariku.”


“Aku tidak belajar secara suka rela tapi terpaksa, terpaksa tau.” Leathina berbicara sambil menekankan kalimat terakhir tidak setuju dengan ucapan Adam.


“Hahaha.” Adam hanya tertawa menanggapi ucapan Leathina.


“Tapi, adam informasi macam apa yang kamu beli di toko antik tadi dan kau juga membeli racun bukan?”


“Lea, darimana kau tahu aku membeli informasi dan sebuah racun?”


Dari mana Lea mengetahui bahwa aku membeli informasi dan sebuah racun apa jangan-jangan memang benar memiliki sesuatu yang dia rahasiakan?


Ekspresi Adam yang tadinya ramah dengan cepat berubah datar dan menatap Leathina dengan serius.


“Um.. Adam aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan tentangku sekarang, tapi aku bersumpah aku bukan orang seperti itu, hanya saja aku pernah mendengarnya sekali jika kau mengatakan ingin membeli ular berarti kau akan membeli racun, jika kau mengatakan ingin membeli merpati maka kau pasti sedang mencari sebuah informasi, nah kira-kira begitu analoginya.”


Leathina merasa tidak enak karena adam tiba-tiba saja berubah, bahkan ia bisa merasakan aura Adam juga tiba-tiba berubah menjadi lebih waspada berbeda dengan sebelumnya.


“Baiklah aku percaya, cepat selesaikan makananmu kita harus segera pergi dari sini.”


“Ah, i..iya Adam aku sudah selesai.”


...***...