I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 226



“Ah!”


“Aku sudah merasa lebih baik sekarang.”


Troy meminum segelas air dari gelasnya sampai habis sepenuhnya, kemudian bersandar di kursinya.


“Ayo!” Ajak Nina sembari meletakkan beberapa keping koin emas untuk membayar makanan mereka berdua.


“Cepat!” Ucap Nina sekali lagi membuat Troy bergegas berdiri dan mengekorinya keluar dari rumah singgah orang-orang yang sedang bepergian.


Mereka meneruskan perjalanannya Kembali, sesekali beristirahat sembari terus melakukan pengawasan karena masih ada orang-orang yang terus mengikuti mereka secara diam-diam.



“Kau lihat itu? Apa kita mungkin salah mengikuti orang?”  tanya orang berjubah sembari menyesap rokoknya dengan kesal.


“Mana mungkin, mereka orang yang sama dengan yang keluar dari penginapan itu.”


“Baiklah, tapi kapan kita baru boleh bertindak?” tanyanya lagi pada rekannya yang tengah sibuk membaca sebuah surat di tangannya.


“Tenang kita akan segera memulainya.” Ucapnya sambil tersenyum tipis kemudian melipat Kembali surat yang telah dibacanya dengan rapi dan menyimpannya dengan baik di sakunya.


“Jadi kapan?!” tanyanya rekannya lagi penasaran tidak sabar menuggu jawaban rekannya.


“Setelah kita sudah memastikan bahwa perempuan itu benar-benar orang yang ditargetkan baru kitab oleh bertindak.”


“Apa perintahnya?”


“Kita disuruh menangkapnya hidup-hidup.”


“Hanya harus tetap hidupkan? Tidak ada perintah lainnya kan? Perempuan tadi terlihat cukup cantik.” Ucapnya sambil tersenyum dan mengedipkan matanya pada temannya yang tadi membaca surat perintah.


“Jangan macam-macam dengannya, orang-orang yang diatas meminta kita menangkapnya hidup-hidup tanpa ada luka bahkan segorespun, perempuan ini cukup berharga membuat kesalahan sedikit saja maka kita berdua akan berakhir tanpa nyawa.”


“Haiss! Iya, iya, aku tahu.”


“Ayo, kita harus mengikuti mereka sekarang, tapi kenapa mereka tidak pernah berpisah? Kita harus menemukan kesempatan agar bisa menangkap perempuan itu.”


“Apa kita tidak bisa langsung membunuh pria yang selalu mengekorinya itu?”


“Bisa saja jika kau bisa, tapi aku beri saran jauhi saja sebisamu pria yang berama nya itu nampaknya bukan pria biasa.”


“Kau terlalu penaku, aku jadi penasaran kenapa kau bisa  bekerja di bidang ini.” Ucapnya meremehkan temannya yang baru saja memberinya saran.


“Terserah padamu.” Ucapnya menanggapi ucapan rekannya sambil terus mengikuti beberapa orang di depannya secara diam-diam.


“Ah! Aku lelah, berapa lama lagi kita harus terus mengikuti mereka?”tanya rekannya lagi dengan emosi.”


“Hustt! Tenanglah sedikit, pasti ada saatnya mereka berpisah.”


“Tapi ini sudah terlalu lama, sudah berhari-hari kita mengikuti mereka kenapa tidak langsung di tangkap saja dan bunuh pria yang terus mengekorinya itu.”


“Diam sebentar!” ucap rekannya sambil terus fokus mengawasi orang yang mereka ikuti. “Ayo pakai penutup kepalamu dengan benar, laki-laki itu tampaknya akan pergi sebentar kita harus menggunakan kesempatan ini.”


Mereka berdua dengan hati-hati perlahan mendekat, menuggu laki-laki yang di maksud benar-benar pergi terlebih dahulu kemudian segera melakukan pekerjaannya.



“Mereka masih mengikuti kita.” Gumam Leathina memberitahu Edward.


“Iya, mereka pasti benar-benar diutus untuk menculikmu.” Jawab Edward sambil memperbaiki jubah Leathina yang hampir terbuka.


“Leathina dari mana aku tahu lokasimu, sampai aku benar-benar menemukanmu secepat ini?” ucap Edward membalas ucapan Leathina dengan pertanyaan.


“Apa maksudmu? Bukankah kamu tahu lokasiku karena aku menggunakan korek api pemberian bawahanmu itu?”


“Itu benar tapi bukankah aneh jika saat itu aku tiba-tiba muncul?”


“benar juga, kenapa malam itu kamu bisa tiba-tiba muncul seperti itu dan menemukan keberadaanku?”


“Tentu saja dengan mencari tahu terlebih dahulu, dengan banyaknya desas-desus keberadaanmu di beberapa tempat aku mengutus beberapa bawahanku mencarimu secara langsung namun beruntungnya kamu mengirimkan surat dari kertas yang tidak biasanya digunakan di perkotaan maka dari itu aku mendatangi tempatmu walau sedikit tidak yakin namun malam mungkin keberuntungan sekali lagi berpihak padaku kau tiba-tiba menyalakan korek api itu dan tentu saja kami menerima simbolnya.”


“Jadi mereka semua termaksud kamu mati-matian mencariku.” Gumam Leathina.


“Tentu saja, mereka mati-matian mencarimu. Kemampuanmu itu sangatlah spesial, kamu bisa menggunakan sihir penyembuh sepuluh kali lebih hebat dari biasanya bahkan sampai menyembuhkan penyakit bawaan kau bahkan menyembuhkan Duke yang jelas-jelas sekarat tertimpa reruntuhan waktu itu.”


“Kau benar, aku jadi menyesal menggunakannya malam itu.”


“Tapi berkatmu, tidak ada korban jiwa malam itu jika tidak pasti hari itu akan dikenal sebagai hari kelam, terimakasih untukmu Leathina. Kau bahkan jadi pahlawan kerajaan sekarang, sekarang orag-orang di kerajaan sedang mengidolakanmu hahah.” Ucap Edward diakhiri dengan tawanya mencoba menghibur Leathina yang terlihat sedih.


“Sebenarnya aku tidak butuh semua gelar dan pujian itu.” Ucap Leathina tiba-tiba dengan candaan. “Setelah merasakan kematian dan bangkit lagi dalam situasi sekarat keinginanku hanya ingin hidup, makanya aku terus menerus mencoba melarikan diri kamu juga mungkin sudah tahu bahwa aku banyak menjual gaun dan perhiasanku hahah.” Ucapnya lagi disusul dengan suara tawanya namun dengan ekspresi yang ia paksakan untuk tertawa.


“Jangan tertawa seperti itu, aku tahu kamu tidak sedang ingin tertawa.” Ucap Ed mencoba menenangkan Leathina.


“Ah! Kamu tahu ya?” tanya Leathina sedikit canggung.


“Kalau kamu mau aku bisa membawamu kemanapun kamu mau.”


“Hahaha iya, aku ingat waktu aku putus asa sebenarnya aku memikirkanmu bahkan membuat rencana untuk membuatmu jatuh cinta padauk waktu pertama kali kita ketemu dulu, apa kau ingat sebenarnya pertemuan kita waktu itu bukan kebetulan aku sengaja mencarimu di sana karena ingin melihatmu yang dirumorkan jadi pembunuh gila, sayangnya aku malah hampir dibunuh waktu itu.” Leathina tidak lagi terlihat murung ia dengan senang menceritakan kejadian yang menurutnya lucu untuk diingat.


“Benarkah?” tanya Edward melihat Leathina dengan senyuman tipis di wajahnya.


“Iya, karena aku tahu saat itu kamu belum pernah bertemu dengan Yasmine dan belum tertarik pada perempuan itu.”


“Kalau begitu aku sebaiknya berterimakasih padamu.”


“Eh kenapa kau harus berterimakasih?” tanya Leathina bingung.


“Aku berterimakasih karena aku bertemu denganmu terlebih dahulu daripada perempuan itu, menyebut Namanya saja aku tidak mau.” Jawab Edward.


“Jangan seperti itu, sebaiknya kamu jangan terlalu membenci Yasmine. Gadis malang itu menjadi jahat karena dorongan orang-orang disekitarnya, aku pernah melihat ibunya yang menjerumuskan anaknya sendiri ke dunia yang kelam.”


“Tapi caranya tidak bisa dibenarkan.”


“Iya aku tahu, aku harap kamu memaafkannya Ed.” Ucap Leathina pelan karena merasa kasihan Ketika mengingat bagaimana akhir Yasmine sekarang. “Tapi apa kerajaan masih jauh? Sudah berhari-hari kita melakukan perjalanan bahkan mungkin sudah berminggu-minggu.” Ucap Leathina yang tiba-tiba mengeluh.


“Itu karena kamu pergi terlalu jauh.”


“Ini bukan salahku, ini salah Almo yang membawaku terlalu jauh.” Gerutu Leathina kesal.


“Almo?” tanya Edward .” Siapa itu? Terdengar seperti nama laki-laki.” Tanyanya lagi penasaran.


“Duh, aku lupa apa aku sudah memberitahunya tentang Almo apa belum ya? walaupun aku mempercayainya tapi sepertinya aku juga harus tetap berhati-hati lagi.” Batin Letahina.


“Maksudku naga yang membawaku, dia membawaku terlalu jauh.” Jawab Leathina cepat.


“Aku penasaran, bagaimana kabarnya sekarang.” Batin Leathina yang tiba-tiba merindukan Almo, naga yang pernah membawanya dan menjadi alasan kenapa ia bisa pergi jauh dari kerajaan dalam semalam.


...***...