I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 26



“Karena Nona Leathina masih sakit silahkan beristirahat kembali.”


“Tidak usah, aku sudah tidak mengantuk lagi, persiapkan air untukku, aku akan membersihkan diriku sendiri.”


“Baik Nona Leathina.”


Anne pergi meninggalkan Leathina untuk mempersiapkan air mandi yang akan digunakan oleh Leathina, setelah itu Anne langsung mengambilkan gaun yang akan dikenakan oleh Leathina setelah selesai mandi nanti.


Leathina telah menyelesaikan ritual mandi paginya dan sekarang Leathina dibantu oleh Anne membalut kembali luka pada lengannya dan kemudian mengenakan gaun yang telah dipersiapkan Anne untuknya, dengan hati – hati Anne membantu Leathina berpakaian agar luka di lengannya tidak tersentuh oleh kain. Anne sengaja memilihkan Leathina gaun berwarna biru muda tanpa lengan agar lukanya tidak tertutupi oleh kain sementara bagian pinggang gaun tersebut agak sedikit ketat sehingga memamerkan pinggang ramping milik Leathina, tidak ada manik – manik yang menempel pada gaun tersebut hanya ada sedikit renda pada ujung gaun membuat Leathina terlihat anggun walaupun mengenakan pakaian yang tergolong sederhana. setelah itu Anne  dengan cekatan merapikan rambut merah Leathina menyisir rambutnya dan membiarkannya terurai.


“Nona memang selalu cantik.”


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Anne memuji hasil kerja kerasnya sendiri setelah melihat Leathina dari ujung kaki sampai ujung rambut Leathina secara berulang – ulang.


“Terimakasih atas kerja kerasmu Anne, tapi kamu tidak perlu melihatku seperti itu kamu membuatku merinding saja.” Leathina merasa lucu melihat Anne yang tak henti – hentinya memandang Leathina dengan mata berbinar – binar.


Setelah selesai berpakaian yang dibantu oleh Anne, Leathina beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju sebuah cermin besar yang diletakkan tidak jauh dari tempatnya tadi. Leathina kemudian menatap pantulan dirinya yang ada di cermin.


Wah lihatlah wajah yang ada di dalam cermin ini. Bukankah dia seperti peri, walaupun tidak dipolesi dengan bedak atau pemerah bibir wajahnya tetap segar dan cerah serta bibir kecilnya yang berwaran merah secara alami. Bagaiman bisa semua karakter laki – laki di dunia ini tidak ada yang jatuh hati pada Leathina? Sayang sekali gadis secantik ini kalian sia – siakan padaha kalau gadis ini tinggal di bumi pasti sudah jadi primadona di sana.


“Nah baiklah hari ini apa yang harus aku lakukan?” Leathina menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin kemudian bertanya kegiatan apa yang akan dia lakukan sekarang.


“Bagaimana kalau nona berjalan – jalan di taman saja?” Anne yang mendengar perkataan Leathina segera memberikan usulan.


“Ah iya, aku akan berjalan – jalan sebentar di taman.”


Aku akan berjalan – jalan sebentar di taman untuk menenangkan pikiran siapa tahu akan ada ingatan lain dari Leathina yang akan muncul dan sekaligus mencari kolam tempat terjadinya insiden yang akan membunuh Nora di masa depan nanti.


“Tunggu sebentar.” Setelah mendengar Leathina menyetujui pendapatnya untuk berjalan – jalan di taman Anne segera berlari ke lemari pakaian milik Leathina dan mengambil sebuah kaian yang dipintal dari bulu domba dan menggunakan kain yang diambilnya itu untuk menutupi bahu sampai lengan leathina yang sedikit terbuka.


“Nona harus memakai ini agar tidak kedinginan terkena angin.”


“Terimakasi Anne.”


Anne tersenyum lebar setelah Leathina berterimakasih padanya. Leathina kemudian berjalan keluar dari ruangannya yang di ikuti oleh Anne di belakangnya.


Saat Anne keluar dari ruangan miliknya seluruh pelayan yang kebetulan sedang bekerja di sekitar tempat itu segera menundukkan kepalanya karena takut menatap mata Leathina secara langsung, sebagian dari mereka segera terburu – buru menyelesaikan pekerjaanya membersihkan dan segera meningglakan tempat tersebut ada juga pelayan yang segera terbirit – birit beranjak dari tempatnya untuk mempersilahkan Leathina lewat. Leathina sendiri hanya fokus berjalan menuju taman tanpa memperdulikan tatapan aneh dan takut dari para pelayan yang dilaluinya.


“Sudalah jangan pedulikan mereka, Anne.” Leathina dengan tenang membalas perkataan Anne yang merasa sangat kesal dengan apa yang dialaminya.


“Tapi mereka itu sangat menyebalkan.”


“Sudah aku katakan sebelumnya bukan, jika kamu menjadi pelayan pribadiku maka kamu akan mengalam hal – hal yang tidak menyenagkan. Bahkan Kamu akan mengalami keadaan yang lebih buruk dari ini di masa depan nanti, maka dari itu persiapkan saja dirimu.”


“Aku tidak menyesali menjadi pelayan pribadimu Nona Leathina. Dan tenang saja aku telah mempersiapkan diri jika ada perkelahian.” Anne berbicara sambil menepuk – nepuk otot lengannya yang dia angkat dan menunjukkannya pada Leathina.


“Kenapa kamu mempersiapkan diri untuk berkelahi?”


“Iya, jika nanti ada pelayan yang berani menghina, nona tidak perlu repot – repot menampar mereka dengan tangan Nona. Aku sendiri yang akan menghukum mereka dengan tanganku ini.”


Leathina hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Anne dan kebali fokus pada perjalanannya menuju taman yang ada pada kediaman keluarga Yarnell.


Setelah berjalan agal lama melewai koridor mansion menuju taman akhirnya mereka berdua Anne dan Leathina sampai pada sebuah taman yang telah di kunjungi oleh Leathina beberapa hari yang lalu.


Leathina berjalan memasuki area taman diikuti oleh Anne, Leathina sibuk melihat – lihat bunga yang sedang bermekaran dan terus berjalan mengelilingi taman tersebut.


Leathina melihat berbagai macam bunga yang sedang bermekaran, Leathina kemudian berhenti pada bunga anggrek berwarna biru yang disusun dan diletakkan dengan rapi pada area taman, bunga anggrek tersebut memiliki warna yang sama dengan gaun yang dikenakan oleh Leathina juga sama dengan warna matanya yang juga berwarna biru. Leathina memperhatikannya dengan kedua matanya yang sama birunya dengan bunga anggrek tersebut setelah puas memandanginya Leathina kemudian perlahan – lahan merendahkan tubuhnya dan berjongkok tepat di depan bunga anggrek biru tersebut.


“Bunga ini cantik dan aromanya menyegarkan.” Leathina bergumam pelan setelah mencoba mencium aroma bunga anggrek tersebut dan mencium aroma segar dari bunga anggrek yang ada di depannya itu.


“Apa bunga itu cantik nona, warnanya seperti warna mata Nona Leathina.” Anne yang dari tadi memperhatikan apa yang dilakukan Nona yang dilayaninya itu tanpa sadar melontarkan pujian untuk Leathina.


“Benarkah?”


“Iya benar. Apa kita harus memetiknya kemudian memasukkan bunga biru ini di dalam vas bunga dan meletakkanny di kamar Nona? Aku dengan senang hati akan melakukannya jadi nona bisa terus melihat bunga cantik ini setiap hari tanpa harus capek – cakep berjalan ke taman terlebih dahulu.”


“Terimakasih karena telah memikirkan kesenanganku Anne, tapi itu tidak perlu kamu lakukan aku lebih senang melihatnya secara lengsung di sini.”


“Kenapa? Bukankah lebih mudah jika meletakkannya di kamar padahal bungan ini cantik.”


“Itu karena jika kamu menyukai bunga ini kamu seharusnya akan menjaganya dengan baik jadi dia bisa  terus tumbuh dan bunga ini masih bisa kembali berbunga lagi, bukan malah memotongnya. Jika kamu memotong bunga ini, bunga ini hanya akan layu dalam beberapa hari dan pastinya akan berakhir dengan sia – sia.


......***......