
Perjalanan yang dipimpin oleh Duke Leonard kembali berlanjut meninggalkan gua tempat mereka beristirahat, tidak ada masalah yang terjadi selama mereka menginap di gua semalam. Farkas menjalankan tugasnya dengan baik ia bahkan tidak tidur menggantikan mereka untuk mengawasi sekitarnya.
Mereka pun kemudian memutuskan untuk membebaskan Farkas dan membiarkannya begitu saja karena sepertinya Farkas merupakan manusia serigala yang belum dewasa dan tidak berbahaya bagi mereka, duke Leonard menyarankan padanya untuk bergegas mengejar kawanannya yang mungkin belum pergi terlalu jauh.
“Duke apa kita akan membiarkannya begitu saja?” tanya Damian yang masih terus menoleh ke belakang setelah meninggalkan Farkas sendiri di gua.
Farkas jatuh tertidur saat matahari terbit dan tidak menyadari kepergian mereka berlima.
“Tidak apa-apa, dia hewan hutan. dia pasti tahu caranya bertahan hidup,” jawab Zeyden menggantikan Duke Leonard.
Mereka pun kembali fokus melanjutkan perjalanan menuju hutan timur, melewati gunung curam dan dengan hati-hati agar kaki mereka tidak salah memilih tempat untuk menapak jika tidak ingin terperosok dan jatuh ke dalam jurang.
“Dia datang.” Ucap Aelfric memberitahu semua orang dan membuat yang lainnya refleks menoleh ke belakang.
“Siapa?” tanya Damian penasaran.
Tidak beberapa lama kemudian muncul seekor serigala kecil yang datang mengejar mereka, dan berhenti di kejauhan saat semua orang menatap nya.
“Astaga dia menyusul kita,” Damian melihat farkas dalam wujud serigalanya yang ternyata tidak mengejar kawanannya tapi malah menyusul mereka.
“Biarkan saja, kalau bosan juga nanti dia akan pergi sendiri. Perhatikan langkah kalian jangan sampai terperosok ke dalam jurang,” ucap Duke Leonard kemudian kembali fokus melanjutkan perjalanannya.
“Benar, dia menyusul kita mungkin hanya karena penasaran sebentar lagi dia pasti akan bosan karena sepertinya dia baru kali ini melihat manusia secara langsung setelah keluar dari hutan hitam.” Zeyden ikut menimpalinya dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah berjam-jam berjalan mereka akhirnya memilih untuk beristirahat di sebuah daerah datar yang cukup aman untuk ditempati beristirahat.
Damian mengeluarkan daging yang ia bungkus dengan daun dan telah mereka asapi semalam agar bertahan sedikit lebih lama dan menjadikannya sebagai makanan simpanan untuk mereka. Ia memotongnya menjadi bagian-bagian kecil dan membagikannya secara merata pada yang lainnya.
mereka semua makan sekaligus beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali.
“Dia masih mengikuti kita,” ucap Aelfric saat masih melihat Farkas dari kejauhan dan bersembunyi di balik pepohonan.
“Apa yang kau lakukan Damian!” bentak Aelfric saat melihat Damian melemparkan sepotong daging ke arah Farkas.
“Dia sepertinya kelaparan,”
Terlihat Farkas sedikit keluar dari persembunyiannya ketika Damian melemparinya dengan sepotong daging kemudian mengendusnya sebentar setelah itu langsung memakannya sampai habis.
“Ayo, kita harus bergegas.” Ucap edward kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka semua kemudian kembali berjalan dan tidak mempedulikan Farkas lagi, tapi semakin lama Farkas semakin mempersempit jarak diantara mereka lagi dan sudah terang-terangan memperlihatkan dirinya berjalanan tidak jauh di belakang mereka.
“Apa yang kau lihat?” Tanya Aelfric pada Damian karena terus melihatnya menoleh ke belakang.
“Astaga,” serunya saat melihat Farkas kini telah ikut bergabung dalam perjalanan mereka dan membuntuti dari belakang, Farkas sudah terlihat seperti ekor dari mereka berlima.
“Tuan Duke?” Panggil Damian kemudian terlihat sedikit memohon untuk membiarkan Farkas ikut dengan mereka.
“Terserah kau saja, yang penting kau harus memastikan bahwa dia tidak akan menghambat perjalanan atau menganggu nantinya,” Jawab Duke Leonard pada Damian yang masih terus melihatnya.
“Terimakasih Tuan Duke,” seru Damian kegirangan kemudian segera memanggil Farkas.
“Ayo kemari Farkas jalan di sebelahku, jika ingin ikut bersama kami maka aku harus mengawasi mu selama 24 jam penuh.”
Farkas yang paham juga ikut gembira kemudian segera berjalan di samping Damian menuruti semua perkataan Damian dan karena saking gembiranya diizinkan ikut bersama mereka ia bahkan berjalan dengan mengibas-gibaskan ekornya.
“Kenapa kau tidak berubah ke dalam bentuk manusia?” Tanya Damian penasaran.
Mendengar pertanyaan Damian, Farkas tiba-tiba berubah menjadi manusia sementara Damian yang melihat itu segera paham kenapa selama diperjalanan Farkas tidak pernah berubah menjadi manusia.
Damian segera membuka tas kain miliknya dan dengan senang hati memberikan pada Farkas salah satu pakaian miliknya yang ia bawa dan Farkas pun segera memakainya.
“Kita sampai di rumahku,” Ucap Aelfric saat melihat dari kejauhan sebuah barrier pelindung transparan dari kejauhan.
“Dimana? Aku tidak melihat apapun,” tanya Damian kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah mencari perkampungan yang dimaksud oleh Aelfric.
“Itu karena kamu tidak akan bisa melihatnya dengan mata biasa, atau bisa dikatakan kamu tidak akan bisa melihatnya jika kau mencarinya karena rasa penasaranmu itulah yang akan membuatmu tersesat."
“Oh, seperti itu. Jadi kemana kita akan pergi sekarang?” Damian mengangguk paham setelah mendengar penjelasan singkat dari Aelfric.
Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka, jalanan yang tadi menanjak kini berubah menjadi kebalikannya dan curam turun kebawa. Dengan hati-hati mereka turun dan berusaha agar tidak terperosok ke bawah.
“Kenapa jauh sekali, perasaan saat kita turun dari gunung dan memasuki hutan matahari masih di atas kita dan sekarang lihat lah sekarang sudah mau malam,” Zeyden menggerutu, pasalnya sudah sejak dari tadi mereka terus berjalan memasuki hutan dan masih tidak menemukan pintu masuk ke dalam hutan timur.
“Sebentar lagi,” Ucap Duke Leonard menenangkan mereka semua.
Merekapun kembali memasuki hutan dan terus masuk ke dalam sampai rerimbunan pohon sudah menghalangi cahaya matahari masuk hingga hanya terlihat gelap karena tidak ada cahaya matahari lagi yang dapat menerangi jalan mereka.
“Apa jalannya memang benar ke arah sini?” tanya Edward mulai meragukan Duke Leonard.
“Aku yakin aku tidak salah mengenali jalan,” Jawab Duke Leonard yang sekarang mulai meragukan ingatannya sendiri, “Aelfric apa kau tahu sesuatu?” Tanyanya kemudian pada Aelfric untuk memastikan.
Aelfric menggeleng lemah, ia pun terlihat kebingungan dengan jalannya sendiri pandangannya terus mengamati setiap jalan-jalan yang ia lalui untuk memancing ingatannya tentang kampung halamannya tapi sekeras apapun ia berusaha ingatannya terus mengabur tidak dapat mengingat apapun.
“Tunggu,” Edward menyadari sesuatu yang aneh, “Sudah sejak kapan kita memasuki hutan timur?” tanya nya yang terlihat tidak asing saat melihat ke sekelilingnya.
“Entahlah, mungkin sekitar tiga puluh menit? Sejam? Atau bahakan leb ...? eh, sudah sejak kapan kita masuk ke dalam hutan ini?” Jawab Zeyden kemudian terhenti saat ia merasa kebingungan mengenai kapan tadi mereka memasuki hutan timur.
“Apa kita tersesat?” tanya Damian yang juga ikut merasa bingung.
Edward menggores beberapa pepohonan sengaja untuk memberikan tanda pada jalan yang mereka lalui, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan.
“Ini aneh,” gumamnya pelan saat mereka menyadari bahwa ternyata tidak melewati jalan yang sama, mereka tidak menemukan pohon-pohon yang tadi di gores Edward.
“Apa anda tidak salah mengenali jalan duke?” tanya Zeyden yang tidak setuju dengan pendapat Duke Leonard.
“Benar Edward sudah memberi tanda beberapa pohon tadi tapi kita bahkan tidak melihat pohon-pohon yang telah ditandai tadi oleh Edward.”
“Tentu saja tidak akan kalian temukan, Lihat dan tunggu lah.” Duke Leonard mengambil pedangnya kemudian menggores beberapa pohon seperti yang dilakukan Edward sebelumnya dan setelah itu mereka menunggu beberapa saat.
“Apa-apaan itu?” Seru mereka semua hampir bersamaan saat melihat pohon yang telah Duke Leonard tandai dengan pedangnya pelan-pelan kembali pulih seperti sebelumnya.
“Pohon-pohon ini diberkahi oleh para elf yang dapat hidup lebih lama dari makhluk hidup mana pun dan sebaliknya pohon-pohon ini menyembunyikan pintu masuk menuju wilayah bangsa elf.” Ucap Aelfric yang akhirnya dapat mengingat sesuatu.
“Jadi apa yang harus kita lakukan?” Tanya Damian kebingungan dan ikut menggores-gores pepohonan sebanyak yang ia bisa berharap bahwa goresannya dapat meninggalkan bekas hingga bisa mereka jadikan petunjuk nantinya tapi hasilnya sia-sia, pohon-pohon yang ia gores terus-menerus kembali pulih seperti sebelumnya.
“Zeyden tidak bisakah kamu menemukan sesuatu dengan sihirmu?” Tanya Duke Leonard pada Zeyden.
“Aku sudah mencobanya beberapa kali, tapi sejauh apapun aku melepaskan sihirku aku tidak bisa menemukan petunjuk apa-apa dan tidak bisa merasakan aura apapun ataupun sumber kehidupan dari makhluk hidup, dengan kata lain satu-satunya makhluk hidup yang ada di dalam hutan ini sekarang adalah hanya kita saja.”
“Aelfric?” Panggil duke Leonard pada Aelfric.
“Maafkan aku Duke, aku juga tidak bisa merasakan apapun disini. Disini bahkan tidak ada angin.” Aelfric berbicara sambil mengankat tangannya berusaha untuk merasakan arah angin tapi ia tidak bisa merasakan apapun.
Mereka semua kemudian hanya terdiam dan tidak beberapa lama kemudian mereka semua memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan dari pada hanya berdiam diri dalam kebingungan.
“Matahari mungkin sudah benar-benar tenggelam di luar dan kita masih saja tersesat di dalam hutan ini.” Zeyden mulai mersa resah karena mesih belum menemukan titik terang yang bisa membawa mereka ke jalan yang benar.
“Tenang lah, Zeyden. Jangan menularkan keresahanmu itu pada yang lainnya jika kau ingin kembali maka kembali lah pilihan ada di tangannmu.” Ucap Edward yang memperingati Zeyden yang sedari tadi menggerutu, Edward juga sebenarnya kawatir jika ucapan Zeyden dapat mempengaruhi yang lainnya.
“Maafkan aku Edward, aku hanya merasa gusar setelah perjalanan kita masih berada di jalan buntu.”
“Baiklahlah, aku paham akan kekhawatiran kalian tapi untuk sekarang cobalah untuk tetap tenang. Pertengkaran dan perselisihan tidak akan menyelesaikan masalah apapun.” Ucap Duke Leonard menenangkan keduanya.
“Farkas,” panggil Duke Leonard pada Farkas yang sedari tadi hanya diam karena tidak tahu mengenai situasi mereka.
Farkas mendongak melihat Duke Leonard karena tubuhnya lebih kecil dari yang lainnya, mata merahnya terus menatap ke arah Duke Leonard dalam posisi seperti itu Farkas lebih seperti hewan peliharaan yang sedang menunggu perintah dari tuannya.
“Farkas cobalah untuk mengendus bau kita dan tuntun kita ke jalan yang belum pernah kita lewati sebelumnya, walaupun pohon-pohon tadi dapat menyesatkan kita dengan kembali memulihkan diri jika diberi tanda tidak mungkin mereka bisa menghilangkan bau dan jejak kita.” Duke Leonard menemukan sebuah ide yang menurutnya dapat membantu mereka untuk menemukan jalan yang baru, dan meminta Farkas untuk membantunya.
Farkas yang mendengar ucapan Duke Leonard segera mengangguk paham kemudian segera berubah wujud menjadi serigala dan mulai menuntun dengan mengendus jalan dan jika ia mencium bau mereka sendiri di jalan yang akan mereka lalui dia segera mengambil jalan lain.
“Ini tidak benar Duke,” Edward menghentikan Farkas.
“Farkas memang berhasil menuntun kita tapi ia menuntun kita keluar dari hutan bukan memasuki hutan,” Ucap Edward menjelaskan pada Duke Leonard tapi sebenarnya Duke Leonard memang sudah tahu bahwa Farkas sedang menuntun mereka keluar dari hutan.
“Aku tahu,” jawab Duke Leonard paham dengan apa yang membuat Edward bersikap seperti itu, “Aku memang sengaja tidak menghentikannya untuk menuntun kita keluar dari hutan ini.”
“Tapi kenapa? Seharusnya kita tetap masuk ke dalam bukan malah keluar seperti ini. Apa kau tidak sadar perbuatan mu sekarang malah membahayakan Leathina, sudah dua minggu lebih kita di perjalanan itu berarti Leathina pun sudah selama itu hanya berbaring di tempat tidur walaupun kita berhasil mendapat bantuan Leathina akan tetap mati jika berbaring terlalu lama karena kehilangan fungsi tubuhnya!” Edward emosi karena Duke Leonard membuat keputusan sendiri tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada yang lainnya.
“Aku tahu!” teriak Duke Leonard tidak kalah besarnya dari suara Edward, “Aku tahu lebih dari siapapun, bahwa putriku berada dalam bahaya sekarang dan jika tidak segera ditolong dia akan mati, tapi aku tidak mungkin membiarkan kalian mati karena kelaparan disini.”
“Edward tenaglah,” Zeyden berusaha menenangkan Edward yang terlihat sangat emosi sekarang, “Aku rasa sekarang aku paham kenapa Duke Leonard ingin keluar dari hutan ini, dia berencana keluar untuk mengumpulkan perbekalan terlebih dahulu sebelum masuk kembali karena di dalam hutan ini tidak ada yang bisa kita makan jika kita terus masuk ke dalam maka kita akan kelelahan dan kelaparan kemudian mati perlahan.”
Edward terdiam, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua jatuh ke dalam pemikiran masing-masing, berusaha memikirkan jalan keluar yang aman untuk mereka semua.
“Kalau aku tidak bisa menemukan jalan ke sana dengan cara baik-baik, maka aku akan mencarinya sendiri dengan caraku!” Ucap Edward kemudian menarik pedangnya.
“Apa yang akan kau lakukan?” teriak Aelfric saat Edward menarik pedangnya dari sarungnya.
“Aku akan menemukan jalannya dengan caraku,” Ucap Edward.
“Dengan cara apa?” Jangan bilan kau akan ...”
“SREKK”
Belum sempat Aelfric menyelesaikan ucapannya Edward telah mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh hingga menumbangkan beberapa pohon sekaligus.
“Dengan kekerasan tentu saja,” ucapnya dan kembali melanjutkan menebang pohon satu persatu.
“Jika pohon-pohon dapat menyebuhkan diri sendiri bahkan setelah aku gores maka tidak mungkin pohon-pohon ini akan hidup kembli jika aku tebas dari akarnya.” Batin Edward yakin.
“Itu tidak mungkin, dia akan kembali hidup seperti sebelumnya.”
“Tidak, lihatlah Aelfric.” Zeyden menyenggol Aelfric dengan sikunya karena tidak melihat pohon-pohon yang telah ditebang oleh Edward kembali hidup seperti yang dikatakannya.
Benar saja pohon-pohon yang Edward tebas dengan kekuatannya tidak bisa kembali memulihkan diri seperti sebelumnya dan tetap pada tempatnya.
“Baiklah aku juga akan menebangmu pohon-pohon sialan,” Teriak Damian dan mulai menggila, walaupun kekuatannya tidak sekuat milik Edward dan memotong satu pohon saja sudah sangat kesulitan baginya ia tetap berusaha untuk menebang pohon sebanyak mungkin.
“Ayo hancurkan hutan keramat ini!” teriak Zeyden yang kembali bersemangat dan melepaskan bom sihir yang langsung merebahkan beberapa pohon sekaligus.
Duke Leonard juga melakukan hal yang sama, Farkas pun juga sama dengan wujud serigalanya ia dapat menendang batang pohon sampai rebah dan mereka semua menggila melepaskan penat dan amarah mereka dengan menghancurkan hutan bersama-sama.
“Aelfric! Kenapa hanya bengong saja, lakukan saja ini menyenagkan.” Teriak Damian saat menyadari Aelfric masih tetap berdiam diri dan tidak bergerak sama sekali.
“Astaga, kampung halamanku dirusak oleh orang-orang gila ini, dan itu dilakukan di depan mataku. Aku sendiri mungkin tidak bisa menghentikan mereka,” batin Aelfric merasa bersalah dengan apa ynag terjadi pada hutan timur.
“Jika aku tidak bisa menghentikan kalian, maka aku tentu akan bergabung bersama kalian untuk bersenang-senang!!” teriak Aelfric kemudian ikut bergabung memotong pohon sebanyak mungkin.
...***...