I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 209



Troy dan Nina akhirnya memilih untuk kembali ke penginapan sebelum orang - orang yang sedang mereka ikuti itu menjadi curiga bahwa mereka sedang diawasi, terlihat dari luar seperti nya penginapan tersebut telah sepenuhnya di sewa oleh satu kelompok terlihat dari bagaimana orang yang mereka ikuti tadi dapat dengan nyaman memasuki penginapan dan menyapa orang-orang yang berada di dalam sana. Cepat-cepat keduanya kembali setelah berkeliling di sekitar sana untuk mencari informasi.


“Sepertinya sedang senang ya?” tegur Troy saat memasuki penginapan dan melihat si pemilik penginapan terus tersenyum seperti orang bodoh.


“Hik!” pekiknya terkejut tidak menyadari kedatangan Troy dan Nina karena terlalu asik membayangkan bagaimana cara menghabiskan uangnya yang baru ia dapatkan dari Edward.


“Ti- tidak ada apa-apa kok,” ucapnya sambil terburu-buru menyembunyikan kantung uangnya. “Se- selamat datang kembali tuan dan Nona.” Sambutannya ramah pada Nina dan Troy.


“Sediakan air hangat, aku ingin mandi.” Ucap Nina kemudian langsung berlalu dan berjalan menuju ruangannya.


“Baik akan segera disediakan Nona.”


“Ah! Aku juga.” Pinta Troy setelah Nina kemudian menepuk-nepuk punggung si pemilik penginapan setelah itu ikut menyusul Nina yang telah pergi lebih dahulu.


“Ukh! Apa dia tidak tahu kalau tepukan nya itu seperti menampar seseorang, lagi pula dari mana orang itu mendapatkan semua otot-otot itu.” Gerutu si pemilik penginapan setelah Nina dan Troy meninggalkannya sendiri kemudian mengusap-usap punggungnya karena merasa perih setelah di tepuk oleh Troy.


“Ban!” Teriaknya kemudian memanggil nama seseorang.


“Ban!”


“Ban! Ban! Ban!”


Teriaknya lagi yang semakin menjadi-jadi sebab orang yang di panggil tidak kunjung datang ke hadapannya.


“I- iya tu- tuan!” seorang anak laki-laki yang berumur sekitar lima belas tahun dengan terburu-buru menyauti orang yang memanggilnya kemudian secepat yang ia bisa ia datang menghadap.


“Ada apa tuan?” tanyanya sambil mengatur nafasnya setelah berlari sekuat mungkin.


“Dari mana saja kau!” bentak si pemilik penginapan marah karena orang yang ia panggil tidak meresponnya cepat.


“Sa- saya sedang ...”


“Kau keluyuran lagi ya?!” bentaknya lagi tidak memberi kesempatan anak yang di panggilnya Ban itu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


“Rugi aku mempekerjakan mu di penginapanku, kalau kau mau main-main sebaiknya berhenti saja masih banyak yang mau bekerja untukku tahu!”


“Maafkan saya tuan, tapi saya benar-benar tidak keluyuran saya habis membersihkan pekarangan belakang dan ...”


“Berani kau menjawab!”


“Gaji mu minggu ini aku potong!”


“Akh! Ja- jangan tuan aku mohon saya sudah bekerja sangat keras untuk mendapatkan bayaran kenapa tiba-tiba di potong.”


“Saya potong karena kamu tidak cepat merespon saat dipanggil dasar lemot.”


“Tuan, kalau di potong maka saya akan kelaparan untuk minggu selanjutnya. Berilah sedikit kelonggaran tuan, tidak akan saya ulangi lagi.” Pinta Ban sambil memohon pada si pemilik penginapan.


Si pemilik penginapan melipat kedua tangannya di depan dadanya kemudian dengan arogan melihat anak yang bekerja untuk nya itu yang kini sedang memohon di bawahnya, merasa puas dengan dirinya sendiri, tersungging senyuman di wajahnya kemudian memicingkan matanya sambil menunduk kemudian berhenti tepat di depan wajah pekerjanya yang kini tengah memohon agar gajinya tidak dipotong minggu ini.


“Makanya jadi bos seperti saya!” ucapnya pongah kemudian mendorong Ban menjauh dari kakinya.


Ban hanya terduduk lesu kemudian tidak bisa lagi berbuat apa-apa, Ban akhirnya harus menerima dengan paksa jika minggu ini gajinya yang tidak seberapa harus si potong lagi hanya karena lambat menjawab panggilan si pemilik penginapan.


“Cepat panaskan air, ada dua tamu yang ingin mandi!” Ucap si pemilik penginapan memerintah.


Dengan tertatih Ban kembali berdiri dan beranjak menuju belakang untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh bos tempatnya bekerja.


“Tak.”


Tiba-tiba sebuah gelas jatuh dan pecah air yang ada di dalamnya pun ikut membuat sekitarnya enjadi basah.


“Orang bodoh mana yang memecahkan gel ...” Si pemilik penginapan berhenti mengumpat saat melihat Troy dan Adam kini menatapnya dengan tatapan tidak bersalah, “Ah! Ternyata tamu yang menyewa penginapan ya.” ucapnya menjadi ramah seketika melihat Adam dan Troy, takut jika mereka berdua kembali berbuat sesuatu padannya.


“Aku orang bodoh yang memecahkan gelas,” Ucap Troy dengan sengaja kemudian melihat pecahan-pecahan gelas yang kini berserakan di mana-mana.


“Ti- tidak apa-apa tuan, anda pasti tidak sengaja, pekerjaku akan segera membersihkannya jadi tidak perlu khawatir.” Si pemilik penginapan berusaha mengontrol emosi dan ekspresi wajahnya khawatir jika menunjukannya secara terang-terangan, ia pun kembali mengingat ucapan yang dikatakan Edward sebelum pergi bahwa ia harus berhati-hati dengan ketiga orang yang datang bersama nya karena mereka bertiga lebih gila dari nya.


“Tapi aku sengaja,” jelas Troy berterus terang.


“Ah, sungguh tidak apa-apa Tu... Eh?” si pemilik penginapan terkejut tidak percaya bahwa Troy mengatakan dengan terus terang tanpa rasa bersalah atau pun empati padanya, “Anda sengaja menjatuhkannya ya?” ucapnya lagi cepat-cepat tersenyum ramah setelah menunjukkan ekspresi kesalnya, “Kalau begitu juga tidak apa-apa, akan segera kami bersihkan.”


“Tapi aku mempermasalahkannya!” bantah Adam tiba-tiba angkat suara setelah lama berdiam tanpa menganggu percakapan mereka sebelumnya.


“Kalau begitu apa ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya si pemilik penginapan pada Adam.


“Bersihkan sekarang!” Adam memerintah membuat si pemilik penginapan benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah semua penyewa nya yang aneh dan menyeramkan.


“Kakak ipar ku sebentar lagi akan bagun bagaiman jika terluka karena pecahan kacanya atau terjatuh karena terpeleset sebab lantainya licin.”


“Hah?! Kakak ipar?” bisik Troy belum paham dengan Adam yang sekarang sedang menyembunyikan identitas mereka itulah mengapa ia menyebut Leathina dengan kakak iparnya.


“Hussst! Kau diam saja bodoh, sebentar lagi juga Leathina pasti akan menikah dengan bos dan menjadi kakak ipar kita.” Bisiknya sambil cepat-cepat menutup mulut Troy sebelum mengatakan hal aneh lainnya.


“Huppt! Troy melepas paksa tangan Adam yang menutup mulutnya, “Kenapa Nona Leathina jadi kakak ipar mu dia kan istrinya Tuan Ed, jadi harusnya dia jadi bosmu kan.”


“Kau diam saja,” ucap Adam kemudian kembali menutup paksa mulut Troy dengan menginjak kakinya agar tidak lagi mengganggunya.


“Kenapa belum dibersihkan?!” ucap Adam menaikkan intonasi suaranya berpura-pura marah.


“Ba- baik tuan akan segera kami bersihkan,” ucap si pemilik penginapan kaget karena Adam tiba-tiba membesarkan suaranya kemudian segera berbalik ke arah pekerjanya dan memelototinya Samapi matanya terlihat akan meloncat keluar. “Hei kau! Tunggu apa lagi cepat bersihkan, dasar pemalas mau gaji mu minggu ini tidak aku berikan!” Bisiknya memerintah pekerjanya.


“Ba- baik, baik, akan segera saya bersihkan tuan. Tolong jangan potong gaji saya lagi saya bisa benar-benar mati kelaparan jika gaji saya terus di potong.” Ban dengan terburu-buru kemudian langsung berlutut cepat-cepat memunguti satu persatu pecahan gelas yang berserakan di lantai.


“Akh!” pekik ban kesakitan saat tidak sengaja terkena pecahan beling dan terluka namun si pemilik penginapan kembali memelototinya dan karena takut ia kemudian kembali memunguti pecahan-pecahan kaca takut jika gajinya benar-benar tidak diberikan.


“Lagi pula apa-apaan orang-orang aneh ini dia sendiri yang menjatuhkan gelas kemudian mengeluh takut terkena pecahannya, jika saja mereka tidak membayar ku dengan baik sudah pasti akan aku usir!” gumam si pemilik penginapan pelan dan karena kesal tidak bisa melampiaskan amarahnya dan harus menahannya akhirnya yang menjadi tempatnya melampiaskan emosinya itu adalah Ban pekerjanya yang telah bekerja untuknya selama beberapa bulan terakhir karena terpaksa.


“Hei!” panggil Adam yang ternyata belum kembali dan masih tinggal untuk mengawasi si pemilik penginapan dengan pekerjanya yang kini sibuk membersihkan.


“I- iya Tuan?!” jawab si pemilik penginapan spontan, “Te- ternyata anda masih disini dan belum kembali, ada apa?” ucapnya gugup takut jika gumamannya barusan dapat mereka dengar dan melakukan hal gila lainnya untuk mengganggunya.


“Ini sudah pekerjannya tuan, anak ini sudah terbiasa. Jika pekerjaannya sudah selesai maka luka nya akan segera dia obati nanti, benarkan?”


“I-iy a tuan, ini hanya luka kecil jadi tidak masalah.” Jawab Ban dengan terpaksa membenarkan perkataan si pemilik penginapan.


“Tidak bisa seperti ini, aku tidak suka bau darah jadi cepat obati lukamu, dan kau yang harus mengambil pekerjannya tuan pemilik penginapan.”


“Eh! Apa?! Kenapa harus aku!” seru si pemilik penginapan spontan tidak setuju dengan perkataan Adam barusan.


“Kalau bukan kau siapa lagi, kau kan bos dan seorang bos akan bertanggung jawab untuk pekerjanya apa pun yang terjadi.” Ucap Troy menyela percakapan Adam dan si pemilik penginapan karena sedari tadi mulutnya sudah gatal ingin membalas namun ia tahan karena Adam masih terus menginjak kakinya.


“Duh!” Gerutu Troy saat Adam kembali menginjak kakinya dengan keras memintanya untuk tetap diam dan jangan menyelanya.


“Benar apa yang dikatakan saudaraku ini, bukankah bos yang harus bertanggung jawab atas bawahannya jadi tentu saja anda selaku pemilik penginapan ini harus bertanggung jawab dan sekarang bawahan anda sedang terluka sepertinya butuh istirahat jadi silahkan gantikan pekerjaannya, benarkan?” Ucap Adam kemudian melihat ke arah Troy yang kini bergidik jijik melihat Adam karena melihatnya dengan senyuman bodoh dan bahkan menyebutnya sebagai saudara. “Benarkan?!” tanya Adam lagi memaksa Troy untuk menjawab.


“Be- benar, kau harus mengantikan bawahan mu.”


“Tidak bisa ini pekerjaannya makanya harus dia yang kerjakan, dia kan aku gaji kalau tetap aku yang mengerjakan pekerjaan kotor seperti itu untuk apa aku mempekerjakannya dan memberinya gaji seminggu sekali!” tolak si pemilik penginapan menolak.


“Oh, jadi kau di gaji nak?” Tanya Adam kemudian di balas degan anggukan. “Tapi yang aku dengar tadi minggu ini kau tidak akan di gaji kan?” tanya Adam lagi kemudian kembali di balas dengan anggungkan oleh Ban, “Jadi sekalian tidak usah bekerja saja kau duduk lah disitu dan biar dia yang mengerjakannya sendiri.” Ucap Adam memerintah kemudian menatap si pemilik penginapan dingin.


“Tidak bisa! Dia bekerja untukku kenapa harus menurut padamu? Dan kau kenapa juga harus menurut padanya padahal aku yang mempekerjakan mu!” bentaknya pada pekerjanya dengan emosinya yang kini meledak-ledak karena merasa posisinya disamakan dengan bahwan nya orang yang ia pekerjakan sementara Ban hanya terdiam tidak berbicara membela diri karena takut.


“Ah! Aku pikir kau tidak ingin mendapatkan bayaran mu kali ini ya?”  Adam tersenyum ramah kemudian menunjuk dengan dagunya ke arah Troy yang kini memegang sebuah kantung uang yang Troy lempar-lemparkan ke atas dan kemudian menangkapnya kembali sengaja ia lakukan karena ingin memamerkannya pada si pemilik penginapan.


“Akh! Buntalan uangku!” teriaknya karena terkejut melihat bantalannya yang berisi uang yang di berikan Edward kini telah berpindah tangan pada Troy.


“Bagaimana bisa ada padamu!” serunya tidak percaya bahkan tidak menyadari kapan buntalan berisi uangnya itu hilang.


“Kau mau kantung uang ini kembali?” tanya Adam dan dengan cepat si pemilik penginapan mengangguk untuk menjawab pertanyaan Adam.


“Kalau begitu bersihkan pecahan kaca dan pel lantainya sampai bersih dan tidak licin.” Pinta Adam.


“Tapi itu bukan peke ...”


“Harus kau yang mengerjakan jika ingin kantung uang beserta isinya ini kembali padamu!” Sebelum si pemilik penginapan kembali mengelak dan menolak Adam sudah menegaskan ucapannya terlebih dahulu.


“Tapi itu kan bukan kau yang berik ...”


“Ini kantung uang milikku yang diambil kakak ku, dan dia malah memberikan milikku padamu. bukankah biaya sewa penginapan kami sudah dibayarkan dengan harga yang jauh lebih tiggi sebelum kami menginap, bayaran mu terlalu mahal hanya untuk menyewa penginapan bobrok seperti ini jadi jika ingin uang ini kembali padamu kau harus menurut kalau tidak mau ya apa boleh buat kami aka ....”


“Baik, baik, akan akau lakukan, hanya membersihkan pecahan gelas ini kan? ini bukan masalah akan aku lakukan.” Karena takut uang yang tadinya sudah ia pegang benar-benar diambil kembali cepat-cepat si pemilik penginapan mengantikan Ban untuk membersihkan pecahan gelas direbutnya sepotong kain lap yang selalu dibawa oleh Ban dan kemudian mulai membersihkan lantai.


“Ah dan jangan sampai lupa panaskan air mandi untukku juga, jadi kau harus mengisi tiga bak mandi.” Pinta Adam lagi.


“Hah! Harus aku juga yang melakukan itu?” tanya si pemilik penginapan tercengang, tidak percaya jika ia harus memanaskan air dan membawanya sendirian untuk tiga orang sekaligus.


“Iya harus kau yang melakukanya karena bawahan mu itu sedang terluka sekarang, bisa bahaya untuk luka nya jika terkena air. Jadi tolong lakukan secepat yang kau bisa ya,”


“Akh!” Si pemilik penginapan jatuh terduduk karena kedua kakinya lemas, pertama karena memikirkan uangnya yang banyak bisa lenyap begitu saja kedua karena ia harus memanaskan tiga bak air mandi sendirian.


“Tuan, kenapa harus aku yang melakukannya sendirian?!” gumamnya pasrah.


Adam melepaskan kaki Troy yang sedari tadi sengaja ia injak kemudian berdehem meminta Troy untuk berbicara untuknya.


Troy melihat Adam dengan tatapan tidak percaya karena melepaskannya dan membiarkannya bebas tapi melihat Adam tidak main-main ia akhirnya mengerti apa yang Adam maksud.


“Ehem!” Troy Berdehem pelan setelah mendengar gumaman si pemilik penginapan hingga pemilik penginapan melihatnya.


Troy beranjak dari tempatnya berjalan mendekati si pemilik penginapan kemudian setelah jarak mereka telah cukup dekat Troy menunduk kemudian berbisik “Makanya jadi tamu kaya dan kuat seperti saya!” ucapnya dengan arogan kemudian langsung pergi meninggalkan si pemilik penginapan dan kembali ke ruangannya.


Si pemilik penginapan terbelalak setelah Troy berbisik di telinganya begitu juga dengan Adam ia terdiam beberapa saat kemudian langsung menutup mulutnya berusaha menahan tawanya agar tidak pecah dan menghancurkan susana yang menurut Troy sangat mengguncang si pemilik penginapan setelah berbisik ditelingannya.


“Hei nak!” panggil Adam pada Ban yang masih diam mematung karena takut pada bosnya. “Jika seseorang dengan pakaian hitam dan separuh wajahnya tertutupi telah kembali segera kau tutup pintu dan semua jendela di penginapan, mengeri?”


Ban mengangguk paham kemudian langsung mengambil posisi jaga seperti menunggu orang di depan pintu penginapan.


“Aku percayakan padamu ya nak!” Ucap Adam kemudian segera pergi menyusul Troy yang telah lebih dulu kembali.


“Pufftt!” Adam berusha menahan tawa saat melihat punggung Troy.


“Kenapa kau tertawa? Padahal kau yang bilang aku boleh bicara.” Ucap Troy kesal karena Adam terus menerus menahan tawanya saat melihatnya.


“Ah! Hahahaha.” Tawa adam akhirnya pecah, “Kau sendiri kenapa bilang seperti itu dengan wajah mengerikanmu, jadi kau terlihat lucu.” Ucap Adam yang kemudian kembali tenang setelah puas tertawa.


“Jadi seharusnya aku bilang apa? Bukankah yang kita dengar si gendut itu bilang begitu juga pada anak buahnya itu, jadilah bos seperiku maka kau akan bisa berbuat seenaknya makanya aku bilang jadilah kaya dan kuat sepertiku maka kau bisa melakukan apapun!”


“Iya, iya, tidak ada yang salah! Tapi aku tidak berfikir kau akan bilang seperti itu dengan wajah mengerikanmu itu.”


“Jadi harusnya aku bilang apa tadi dengan wajah mengerikanku ini?”


“Kau bisa bilang masih ada langit di atas langit!” ucap Adam sambil meniru cara Troy tadi saat berbisiki si teliga si pemilik penginapan. “Atau kau juga bisa bilang jangan angkuh jadi manusia atau aku akan membunuhmu!”


“Hais! Berhenti menertawankanku, kalau kau bisa kenapa bukan kau sendiri saja yang mengancamnya seperti ini kenapa harus memintaku yang melakukannya, dasar sialan!”


“Iya, iya, aku tidak akan tertawa lagi. Tapi, kenapa kau bisa berfikir untuk mencuri kantung uangnya?”


“Aku mengambilnya karena tahu itu kantung uang milik Tuan Ed, aku hanya ingin menanyakannya secara langsung jika memang tuan Ed yang langsung memberikannya padanya maka akan aku kembalikan.


Beberapa saat yang lalu saat Nina dan Troy kembali ke penginapan dan bertemu dengan si pemilik penginapan Troy melihat ia sedang memegang sebuah kantung uang yang diketahuinya milik Edward, karena penasaran Troy akhirnya mengambilnya secara diam-diam saat berbicara dengan si pemilik penginapan tangannya dengan lihai merebut kantung uang itu dan saat akan ketahuan cepat-cepat Troy menepuk punggungnya untuk mengalihkan perhatiannya dan akhirnya berhasil tanpa ketahuan kemudian membawa kantuang uang itu untuk di kembalikan pada Edward.


“Aku hanya meminta kalian untuk memberitahu si pemilik penginapan agar tidak berisik kenapa kalian berdua malah tidak kembali dan semakin bersisik di luar?” tanya Nina saat Troy dan Adam memasuki ruangan.


“Ah! Ada masalah kecil tapi sudah selesai dengan baik, ini semua berkat Troy.”


“Diam kau berensek, berhenti menertawaiku!”


...***...