
...
...
“Ibu.. ibu!”
“Ada apa Nora? jangan berteriak seperti itu.”
“Katanya Leathina sudah sadar.”
“Iya dia sudah sadar, ibu sudah mengunjunginya kemarin, kenapa kamu bertanya Nora?”
“Benarkah, apa dia baik-baik saja? Apa aku boleh mengunjunginya juga?”
“Dia tampak baik-baik saja, tapi sepertinya otaknya tampak lebih bermasalah dari sebelumnya, mungkin dia sudah gila sekarang.”
“Ibu jangan berbicara seperti itu.”
“Ibu sarankan kamu tidak usah mengunjunginya, kamu tau sendirikan dia tidak menyukaimu.”
“Tapi aku sangat penasaran ibu, apa yang akan ia lakukan kali ini dia selalu berbuat di luar dugaan bukannya dia keren, ibu?”
“Oh maksudmu dia gila, Nora. Sudahlah ibu sibuk, pergilah bermain.”
Walau ibu melarangku menemui Leathina aku tetap ingin menemuinya, bagaimana ini aku sudah terlanjur di depan pintu kamarnya di sini tidak ada pelayan yang bisa aku tanyai apakah aku boleh masuk atau tidak, apa aku langsung masuk saja yah barang kali Leathina sedang tidur. Aku hanya ingin melihat wajahnya sekali saja. Leathina selalu saja seperti ini selalu sendirian dan tidak memperbolehkan orang lain melihat bagaimana dirinya yang sebenarnya dia tidak dekat dengan siapapun baik itu ayah atau ibu dan karena itulah aku sangat ingin dekat dengannya, bukankah terdengar keren jika aku mempunyai kakak perempuan yang menyayangimu dan kakak laki-laki yang melindungimu.
Pintunya tidak terkunci, ini bisa dibuka. Bagaimana ini apa dia akan memarahiku? Apa dia akan menghukumku? Biar saja lah urusan itu aku pikirkan belakangan jika dia marah aku tinggal pasang telinga saja dan jika dia ingin menghukum aku tinggal pasang badan saja yang penting aku bisa melihat wajahnya. Uh itu dia, wah dia tetap selalu terlihat cantik walau hanya menggunakan pakaian tidur saja.
“Trekkk.” Oh tidak pintunya berderit apa aku mengganggunya.
“Duhh siapa lagi yang datang sekarang Anne?”
“Uh.. No.. nona Leathina ma..maafkan aku karena sudah menganggu aku dengar nona Leathina sudah bangun jadi.. jadi aku datang untuk melihat kondisimu.”
Aku mohon.. aku mohon jangan marah, jangan memarahiku biarkan aku berada di sini sedikit lebih lama, aku tahu dia akan memarahiku, ada banyak alasan aku harus dimarahi olehnya pertama aku masuk tanpa izin dan kedua aku sudah menganggu waktu istirahatnya. Walaupun Aku sudah mempersiapkan diri untuk dimarahi dan dihukum ini tetap menakutkan jika membayangkan bagaimana Leathina akan memarahiku.
“Uh siapa?”
“Apa aku sangat menganggumu sampai kamu berpura-pura tidak mengenaliku?”
Huh pertanyaan macam apa itu, aku tahu bawa Leathina tidak menyukaiku tapi apa dia benar-benar sangat membenciku sampai-sampai berpura-pura tidak mengenaliku. Apa kali ini aku membuat kesalahan fatal sehingga Leathina benar-benar marah padaku padahal aku hanya ingin akrab saja dengannya.
“Bukan.. bukan itu maksudku, kau sudah dengarkan, aku baru saja sembuh dan sebagian ingatanku sedang terganggu.”
“Benarkah, berarti kamu tidak membenciku?”
“Iya tentu aku tidak membenci anak selucu kamu.” Wah bagaimana ini dia mengatakan aku lucu apa kami sudah akrab sekarang atau aku coba bertanya sekali lagi.
“Kalau begitu bolehkah aku masuk.”
“Iya tentu saja masuklah.”
“Boleh aku mendekat padamu?”
“Boleh.”
“Kalau begitu aku akan memperkenalkan diriku padamu dengan baik, perkenalkan namaku Nora Yarnell .”
“Nora Yarnell? Berarti kamu adiknya Nicholas dan adik tiriku?”
“Iya.”
“Kau tampak terlihat sangat bahagia, ada apa?”
“Itu karena ini pertama kalinya kamu mengakuiku sebagi adik, selama ini kamu tidak mau mengakuiku bahkan tidak mau bertatapan denganku.”
“Oh ternyata seperti itu, apa aku seburuk itu padamu Nora?”
“Tidak, itu bukan masalah bagiku. Aku tetap sangat menyukaimu, kalau begitu aku pamit dulu.”
“Iya hati-hati dan terima kasih telah mengunjungiku Nora.”
“Apa aku boleh berkunjung lagi besok.”
“Boleh datang saja semaumu.”
“Benarkah, kalau begitu sampai jumpa besok.”
Wah apa aku tidak salah dengar Leathina memperbolehkanku untuk datang menemuinya lagi besok, apa aku harus memberitahu ibu? jangan aku tidak boleh memberitahu ibu bisa-bisa aku dilarang menemui Leathina lagi, bagaimana ini aku tidak sabar menuggu hari esok.
.........
Wah aku gugup sekali aku sudah ada di depan pintu kamar Leathina apa aku langsung masuk saja seperti kemarin. Aku coba ketuk saja dulu “Tok.. tok.. tok” tidak ada jawaban apa leathina baik-baik saja, aku masuk sajalah pintunya juga sudah terbuka sedikit. Itu dia Leathina tapi tampaknya dia sedang sibuk dan apa yang dia fikirkan sampai ekspresinya seserius itu, apa sebaiknya aku kembali saja sebelum dia menyadari keberadaanku. “siapa di kerajaan ini yang sangat menginginkan kematianku?” huh apa maksudnya itu, apa seseorang sedang mengincar nyawanya.
“Siapa yang ingin membunuhmu Nona Leathina.”
“Huh.. rupanya kamu sudah datang Nora. Sejak kapan kamu berdiri di sana? Apa saja yang kamu dengar tadi?”
“Aku baru saja datang, tadi aku mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban jadi aku buka sendiri pintunya, dan aku hanya mendengar bahwa ada yang ingin membunuhmu, apa aku menganggu?” Sepertinya Leathina tidak ingin membicarakannya denganku mungkin aku hanya salah dengar saja dan siapa juga yang berani menganggu Leathina dia bahkan menguasai ilmu berpedang orang itu pasti akan langsung kalah.
“Tidak.. tidak.. kamu tidak mengangguku sama sekali kemari dan duduklah bersamaku Nora.”
“Baiklah nona Leathina, woah ini pertama kalinya aku duduk berdua denganmu?”
“Kenapa kamu terus memanggilku Nona Leathina, apa kita tidak akrab sebelumnya?”
“Umm itu a..aku.” Bagaimana ini jika aku mengatakan yang sebenarnya bahwa dulu Leathina membenciku dan bagaimana jika dia tiba-tiba ingat segalanya apakah dia akan kembali tidak menyukaiku seperti dulu lagi.
“Iya katakan saja Nora aku tidak akan marah.”
“Kamu tidak mengakuiku sebagai saudara dan katamu kamu jijik mendengarku memanggilmu kakak.”
“Uhm jadi aku dulu seperti itu yah, kalau begitu maafkan aku Nora.”
“Tidak. Itu bukan salahmu dan sekarang aku sudah sangat bahagia.”
“Kalau begitu sebagai permintaan maaf, apa kamu mau memanggilku kakak Lea.”
“Apa aku boleh?”
“Iya tentu saja kamu adikku walau tidak dilahirkan dengan ibu yang sama, tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa.”
“Aku mau.. aku mau KAKAK LEA, aku menyukainya kakak Lea, apa aku boleh memelukmu.”
“Boleh, mendekatlah padaku Nora.”
“Umm Nora, sepertinya kamu harus kembali ke tempatmu, hari sudah mulai gelap dan kamu sudah hampir seharian berada bersamaku.”
“Kenapa Kak Lea, apa aku menganggumu?”
“Bukan-bukan tapi kamu seharusnya pulanglah dulu bersihkan dirimu lalu beristirahat, kamu akan sakit jika terus-terusan bermain.”
“Wah sekarang kak Lea bahkan mengkhawatirkan kesehatanku, baiklah kalau begitu aku pamit dulu dan akan berkunjung lagi besok, sampai jumpa kak Lea.”
“Baiklah sampai jumpa Nora.”
......***......