I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 211



Leathina menggeliat kemudian perlahan menyentuh bagian belakang lehernya yang terasa sakit serta perlahan-lahan membuka matanya.


“No- na Lea?” Panggil Troy panik.


“Akh!” pekik Leathina.


Troy ditugaskan untuk menjaga Leathina untuk beberapa saat sampai Adam dan Nina kembali sayangnya saking paniknya karena tidak tahu harus bagaimana Troy malah memukul kembali Leathina hingga pingsan kembali.


“Troy kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Nina yang baru saja kembali sehabis membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Dilihatnya wajah Troy yang pucat dan dipenuhi keringat.


“Apa kau habis melihat hantu?” tanya Adam yang membuntuti Nina masuk sambil membawa beberapa makanan untuk mereka maka setelah seharian beraktifitas.


Troy tidak menjawab satupun pertanyaan dari Nina ataupun Adam, ia hanya terus menatap Leathina yang tadi dibuatnya pingsan dan kembali memeriksa jika ada kelainan akibat pukulannya barusan.


“Apa Nona Leathina belum bangun? Jangan terlalu dekat dengan Nona Leathina, bagaimana jika nanti Nona Leathina bangun dan kembali pingsan karena melihat wajah jelek mu itu.” Tanya Nina ikut duduk bersama Adam yang telah mengambil tempat duduk terlebih dahulu dan menyantap kentang rebus yang Adam bawa.


“Kau kenapa?” tanya Adam mulai curiga, “Jangan bilang tadi dia sudah bangun?!” Tanyanya lagi.


Troy akhirnya mengalihkan perhatiannya dari Leathina ditatapnya Adam dan Nina secara bergantian. "Tadi Nona Leathina bangun.” Ucapnya pelan dipenuhi rasa bersalah.


“Terus kenapa kembali tidur?” tanya Adam.


“Karena panik aku pukul sampai pingsan lagi.” Jelas Troy dengan suara lebih seperti berbisik.


“Kau bodoh ya!” teriak Nina marah kemudian melemparkan sepotong kentang rebus ke arah Troy.


“Tadi tiba-tiba Nona Leathina bangun karena takut aku malah spontan memukulnya hingga pingsan kembali.” Jelasnya membela diri.


“Bagaimana kalau Nona Leathina mati kelaparan karena seharian tidak makan, ini sudah sehari semalam ia tidur.” Ucap Nina kemudian segera menghampiri Leathina dan ia goyang-goyangka tubuh Leathina untuk membuatnya bangun tapi Leathina tidak kunjung bangun.


“Bagaimana jika lehernya patah?” Tanya Troy takut karena sebelumnya Leathina juga dipukul di bagian yang sama oleh Edward


“Maka Tuan Ed, akan langsung menghabisimu di tempat.” Jawab Nina sarkas.


Adam meletakkan kentang rebus yang baru di kupasnya kemudian beranjak mendekati Leathina pelan-pelan ia angkat kepalanya untuk memeriksa lehernya dan dilihatnya bagian belakang Lehernya membiru bekas pukulan.


“Lihat apa yang telah kau lakukan, bodoh!” Adam menyibak sedikit rambut Leathina menunjukkan pada Troy lehernya yang kini membiru.


“Maafkan aku, jadi harus bagaimana?” tanya Troy bingung.


“Mau bagaimana lagi, kita harus menunggu sampai dia bangun lagi Tuan Ed juga belum kembali.”


“Iya benar, sudah lama ia keluar.”


“Sebaiknya kita tunggu, untuk sekarang jangan berbuat yang aneh-aneh.” Ucap Nina kemudian segera mengambil obat untuk di oleskan luka yang ada di leher Leathina.


...


Edward akhirnya sampai di kota tujuan kemudian langsung membantu Tuan Cade untuk mengantarkan barang ke toko-toko yang akan menjadi tujuan pengantaran serta membantu untuk mengangkut barang turun dari kereta.


“Terimakasih tumpangannya Tuan Cade,” Ucap Edward setelah seluruh barang telah selesai diantarkan.


“Tidak masalah.” Jawab Tuan Cade sambil menghitung-hitung uang bayaranya tanpa menoleh ke arah Edward karena fokus dengan jumlah bayarannya.


“Tuan kalau begitu saya ingin berkeliling sebentar, jangan pulang ke desa tampaku ya.”


“Iya, aku akan kembali dalam tiga jam lagi. Kita bisa bertemu di gerbang kota, kalau kamu terlambat maka kau akan ku tinggal.”


“Tidak akan paman kalau begitu sampai jumpa di gerbang nanti,” Ucap Edward ramah.


“Hei! Ambil ini.” Tiba-tiba Tuan Cade melemparkan beberapa keping uang pada Edward.


“Untuk apa paman?” tanya Edward bingung.


“Bayaran pertama untuk pekerjaan pertamamu di kota, kau sudah membantuku mengantar dan mengangkut barang bawaan ku itu gaji yang aku berikan padamu.”


Edward menatap satu keping uang emas dan empat lainnya merupakan koin perak kemudian segera pamit dan langsung pergi,”Terimakasih paman.” Serunya sambil berjalan pergi meninggalkan Tuan Cade yang kini beristirahat di samping kereta kudanya.


Edward berjalan-jalan mengelilingi kota mencari informasi tentang orang paling kaya di kota kecil yang didatanginya itu, mencoba melacak siapa orang-orang yang mengikutinya dan orang-orang yang mencari tahu informasi keberadaan Leathina.


“Saya akan bantu angkat madam.” Ucap Edward ramah saat melihat seorang wanita paruh baya kesulitan mengangkat sebuah kotak buah yang dibawanya.


Wanita paru baya tersebut terdiam sejenak menatap Edward dengan seksama kemudian langsung balas tersenyum, “Aku belum pernah melihatmu berkeliaran di kota ini nak, kau baru datang ya?” tanyanya penasaran matanya tidak lepas menatap wajah Edward yang kini berekspresi tidak nyaman karena terus di tatap.


“Iya Madam saya baru datang hari ini, saya dari desa.” Jawab Edward seadanya.


“Kalau begitu kau pasti datang untuk mencari pekerjaan, kau cukup tampan dan tubuhmu bagus mau bekerja denganku? Pekerjaannya tidak susah kau hanya perlu menemani orang-orang yang datang berkunjung ke toko ku.”


“Ah? Hahaha!” Adam sedikit terkejut kemudian disusul dengan tawa canggungnya tahu apa yang di pikirkan wanita yang dibantunya itu karena sejak tadi matanya tidak lepas dari wajahnya. “Saya tidak berniat bekerja seperti ini Madam, tapi terimakasih telah menawarkan.” Jawab Edward segera menolak tidak ingin terlibat dengan nya.


 “Hah! Sayang sekali, padahal kau pasti akan mendapat gaji yang tinggi jika mau ikut denganku, baiklah sampai disini saja nak, terimakasih bantuannya.” Ucapnya ramah. “Ini ambillah, sebagai ucapan terimakasihku,” ia memberikan Edward beberapa keping uang. “Kalau kau butuh pekerjaan kau bisa datang kesini kapan saja aku akan langsung menerimamu.” Sambungnya lagi kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Edward.


“Tapi madam kalau boleh tahu, siapa orang yang sering berkunjung ke tempat anda ini?”


“Ini sebenarnya rahasia tapi walaupun rahasia orang-orang sudah banyak yang tahu, pengunjung setia di tempat ini bernama Tuan Baul, tapi kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?”


“Tidak, saya hanya penasaran saja. Apa Tuan Baul itu orang terkaya di kota ini?”


“Ummm, mungkin bisa dibilang begitu tapi masih ada orang kaya lainnya juga hanya saja yang paling terkenal itu Tuan Baul karena senang memamerkan kekayaannya jadi diberi julukan orang kaya kota, ah! Kau pasti telah mendengar julukannya itulah kenapa kau bertanya karena penasaran bukan?”


“Iya Madam, orang-orag di desa sering menyebut-nyebut namanya jadi saya penasaran.”


“Karena kau sudah membantuku aku akan memberimu nasehat, jangan berurusan dengannya tidak akan ada hal baik yang akan datang kalau bisa jaga jarak dengan keluarga itu, walaupun banyak uang sikapnya buruk suka merendahkan orang lain.” Bisiknya pada Edward memberikan nasehat singkat setelah itu beberapa pria keluar dari toko yang perempuan itu maksud dan langsung mengangkut buah yang ia bawa ke dalam, “Jangan lupa datang jika ada waktu luang ya, tampan.” Ucapnya lagi kembali mengedipkan sebelah matanya kemudian menyusul orang-orang yang membawa barang-barang nya.


“Terimakasih Madam saya pasti akan berkunjung jika punya waktu luang.” Ucap Edward ramah, kemudian menatap bangunan yang berdiri di depannya itu. Terlihat beberapa pasang wanita dan pria sibuk menghabiskan waktu di dalam, membuat Edward bergidik kemudian langsung kembali ke jalan utama.


“Minggir!” teriak seorang kusir yang tiba-tiba melaju dengan cepat di tengah keramaian pejalan kaki, tidak ia pedulikan orang-orang yang kini berhamburan saling tabrak karena takut terlindas keretanya.


“Minggir!”


“Minggir!” teriaknya lagi memberi peringatan.


“Awas!”


Edward yang kebetulan berada di jalan yang sama segera menyingkir memperhatikan dengan seksama si kusir kasar dan melihat sekilas siapa yang duduk di dalamnya.


“Awas!” teriak para pejalan kaki lainnya saat melihat seorang anak kecil yang tinggal mematung di tengah jalan yang akan di lalui kereta tidak bisa bergerak karena terlanjur terkejut dengan kedatangan kereta yang melaju dengan cepat.


“Akh!”


Edward refleks melompat ke tengah jalan kemudian berguling sampai ke pinggir jalan sambil memeluk anak kecil yang tadi berdiri di tengah jalan tadi.


“Hei! Nak, kau tidak apa-apa?” Tanya Edward kemudian kembali berdiri dan memeriksa apakah ada luka di tubuh anak kecil yang ditolongnya itu.


“Humm!”


“Apa ada yang sakit?” tanya Edward lagi.


“Hhuuuaaaa!” tidak lama kemudian tangisannya pecah sambil menyentuh lututnya.


“Ah! Kau terluka di bagian situ ya?” gumam Edward, melihat orang-orang mulai berkerumun Edward segera menyingkir dan pindah ke sisi jalan agar tidak menganggu pejalan kaki lainnya, di lihatnya juga kereta yang hampir menabrak itu mendadak singgah.


“Kau tidak apa-apa nak!” tanya seorang wanita yang datang menerobos kerumunan dengan panik menggendong anak yang di tolong Edward tadi.


“Ibu!!” ucapnya sambil sesenggukan.


“Tidak apa-apa, hanya tergores, jangan menangis lagi, ibu akan mengobatinya.” Ucapnya sambil merobek pakaiannya dan menutupi luka yang ada di lutut anaknya itu.


Melihat si anak akhirnya telah bertemu dengan ibunya dan sudah ada yang mengurusnya, Edward pun diam-diam pergi tidak ingin menganggu lagi.


“Ah! Tuan, tunggu sebentar.” Cegat ibu dari anak yang diselamatkannya. “Saya benar-benar berterimakasih karena telah menyelamatkan anak saya, kalau mau saya akan memberikan sedikit uang yang saya punya.” Ucapnya sopan.


“Tidak masalah madam,” tolak Edward sopan. “Hanya saja tolong hati-hati untuk kedepannya. Kalau begitu saya pergi dulu.” Ucap Edward kemudian berjalan pergi namun tiba-tiba kusir gila yang mengendarai kereta tadi datang menghadangnya.


“Kalau mau minta maaf, minta maaflah pada anak itu kalau tidak segera menyingkir dari hadapanku sekarang.” Ucap Edward.


Si kusir tidak menjawab ia hanya melirik ke arah anak kecil dan ibunya sebentar kemudian mengerutkan alisnya dan mengalihkan pandangannya kembali ke arah Edward.


“Apa?!” tanya Edward sarkas.


“Nona ku ingin bertemu denganmu!” ucapnya tidak kalah sarkasnya.


Edward mengerutkan alisnya tidak paham kemudian melirik ibu dari anak yang diselamatkannya tadi yang kini telah berdiri di sampingnya.


“Ah! Tuan, nona yang dia maksud itu anak tertua dari tuan Baul orang kaya di kota ini.” Bisiknya memberitahu Edward. “Dia suka mengoleksi pria-pria tampan Tuan, sebaiknya tidak usah pergi.” Bisiknya lagi khawatir Edward akan benar-benar di bawa secara paksa.


“Kalau akau tidak mau, apa yang akan kalian lakukan terhadapku?!” Tanya Edward pada si kusir sengaja memancing emosinya untuk membuatnya marah.


“Kau pasti datang dari desa kan.” Si kusir mencemooh Edward. “Kalau kau ikut maka kau akan dibayar dengan gaji yang tinggi setiap harinya.” Sambungnya lagi sambil melihat Edward dari atas sampai ke bawah. “Melihat bentuk tubuhmu dan wajahmu nona ku pasti akan senang.” Gumamnya lagi.


“Kalau begitu melihat dari penampilanmu dan wajahmu yang jelek, kau dan nona mu itu pasti akan akan menjadi pasangan serasi.” Balas Edward sambil melihat dari kaki sampai wajah si kusir.


“Argh! Berani sekali kau menghina ku.” Ucapnya emosi kemudian menarik pecut kuda yang tergantung di pinggangnya sesaat ia akan melayangkan pecutnya ke arah Edward turunlah seorang perempuan dari kereta kemudian berjalan menghampiri Edward.


“Apa yang kau lakukan!” Ucapnya membuat si kusir langsung mengurungkan niatnya dan menyimpan kembali pecutnya.


“Kalau kau ikut denganku aku akan memberikanmu banyak uang.” Ucapnya memberi tawaran.


Edward memperhatikan wanita yang sedang berdiri di depannya itu.


“Dia putri tertua Tuan Baul, namanya Nona Aleda. Gagal pada pernikahannya dan kembali ke rumah ayahnya kemudian mempunyai hobi mengoleksi pria-pria tampan.” Bisik wanita yang tadi ia selamatkan anaknya, memberitahu Edward.


“Hei! Kau, untuk apa dekat-dekat dengannya sebentar lagi dia jadi milikku! Bentaknya emosi ketika Edward lebih mendengarkan wanita paruh bayah yang ada di sampingnya di bandingkan dirinya yang memiliki segalanya.


Cepat-cepat wanita paruh baya itu mendur dengan menggendong anaknya sedikit menjauh dari Edward karena takut.


“Jadi, kau mau ikut denganku atau tidak?” tanyanya lagi.


“Baik, aku akan ikut. ”Edward pada akhirnya setuju.


“Bahaya jika kau mengikuti mereka, sekali terjerumus kau tidak akan bisa bebas lagi.” Cegat ibu dari anak yang ditolongnya karena khawatir dengan Edward


“Tidak apa-apa Madam, aku akan baik-baik saja sebaiknya anda segera kembali dan mengobati luka anak anda sebelum lukanya memburuk.”


Edward akhirnya mengikuti Aleda naik ke dalam kereta kuda yang sama.


“Dasar murahan, pada akhirnya mau juga.” Cemooh si kusir saat Edward baru akan naik menyusul Aleda masuk ke dalam kereta.


“Apa yang kau tunggu, cepat masuk!” seru Aleda tidak sabar.


Aleda membawa Edward menuju kediamannya, mereka disambut oleh beberapa pelayan. Aleda meminta para pelayannya untuk membersihkan tubuh Edward dan mengantarkannya ke ruangannya.


“Silahkan lewat sini Tuan.” Ucap salah satu pelayan yang ditugaskan untuk membantu Edward membersihkan dirinya. Edward menurut mengikuti mereka hingga melewati sebuah pintu yang dijaga oleh beberapa penjaga di depannya.


“Ini ruangan apa?” tanyanya pada para pelayan.


Awalnya tidak ada yang menjawab tapi Edward kemudian mendekati salah satu pelayan tersenyum ramah kemudian mengulangi pertanyaannya kembali.


“Tadi ruangan apa?” tanyanya lagi.


“I- itu ruangan milik Tuan Baul, untuk jaga-jaga sebaiknya jangan pernah mendekati pintu itu apa lagi mencoba untuk masuk.”


“Ah! Jadi itu ruangannya ya.” ucap Edward paham.


“Tapi kenapa kamu bisa terlibat dengan Nona Aleda?” tanyanya penasaran dengan suara kecil karena takut di dengar oleh pelayan yang lainnya.


“Memangnya untuk apa lagi?” Edward menjawab dengan balas bertanya.


"Apa kau sebegitu butuhnya uang sampai terlibat dengan Nona Aleda?" tanyanya lagi.


“Maaf ya kamu terlalu banyak bertanya dan sepertinya saya tidak harus menjawab bukan?” Ucap Edward setelah memasuki sebuah ruangan, sementara para pelayan langsung mempersiapkan peralatan mandi untuk Edward.


Ditengah kesibukan para pelayan Edward perlahan mendekati kemudian memukul targetnya hingga pingsan begitu juga dengan pelayan yang lainnya.


Setelah membereskan para pelayan Edward kembali mengenakan penutup wajah dan jubahnya keluar dari ruangan dan berjalan kembali menuju pintu yang tadi di lihatnya.


“Siapa kamu?!” tanya penjaga yang berjaga di pintu curiga dengan Edward.


“Tak!”


Dengan cepat Edward membuat dua penjaga tadi pingsan kemudian langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.


“Siapa kau!” teriak pria tua yang terkejut ketika melihat Edward tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


“Kau pasti Tuan Baul ya.” gumam Edward, kemudian melihat ke sekelilingnya.


Tidak ada yang aneh dari ruangan yang di masuki Edward hanya saja terlalu banyak barang koleksi antik dan mahal di dalam sana.


“Siapa kau berani-beraninya masuk ke sini!”


“Penjaga!”


“Penjaga!”


“Penjaga!”


Teriak Tuan Baul panik saat Edward mulai mendekati barang koleksinya dan menyentuhnya, ia takut jika barang koleksi miliknya rusak atau pecah.


“Ini pasti sangat mahal ya?” Gumam Edward lagi sambil memperhatikan sebuah guci kecil dengan lukisan ornamen di permukaannya.


“Jangan! Jangan sentuh itu harganya sangat mahal dan susah di cari!” teriaknya panik kemudian berlari ke arah Edward dan merebut kembali guci kesayangannya itu.


“Penjaga!”


“Penjaga!”


“Kenapa kalian membiarkan preman masuk ke sini!” teriaknya emosi terus memanggil penjaganya untuk menyeret Edward keluar.


“Penjaga yang bertugas di depan pintu sedang tidur, jangan berisik nanti mereka bangun.”


“Sialan! Siapa kau berani- berani .... ekh!”


“Brak!”


Belum sempat Tuan Baul menyelesaikan ucapannya Edward telah lebih dulu menarik pedangnya dan mengayunkannya ke arah Tuan Baul membuat Tuan Baul panik dan tanpa sadar melepaskan guci mahalnya hingga terjatuh.


“Arg!” teriak Tuan Baul geram.


Dengan cepat ujung pedang Edward telah berpindah ke leher Tuan Baul membuatnya tidak bisa berkutik lagi dan langsung duduk berlutut karena takut.


“To– tolong jangan bunuh saya.” Ucapnya lirih, “Saya mohon, sa- saya akan memberikan segalanya, uang, emas, apapun tapi jangan bunuh saya.”


“Benarkah?!” tanya Edward.


Tuan Baul langsung mengangguk mengiyakan takut jika Edward benar-benar memotong lehernya.


“Jadi aku dengar ada beberapa tamu mu yang datang dari kerajaan kemudian mengumumkan sesuatu, apa yang mereka umumkan?”


“I- itu, mereka datang dari kerajaan untuk menyebarkan informasi mengenai hadiah yang akan diberikan jika memberikan informasi atau menemukan perempuan dengan ciri-ciri yang sama dengan putri Duke yang hilang."


“Mereka datang hanya untuk menyebarkan informasi tentang hadiah bukan informasi untuk mencari?” batin Edward merasa orang yang menyebarkan informasi bukanlah bagian dari orang suruhan Duke Leonard.


“Siapa mereka?” tanya Edward.


“Mereka datang dengan mengatakan bahwa mereka adalah utusan dari Duke Leonard dan kerajaan untuk menyampaikan informasi pada kami.”


“Kau bohong! Siapa mereka?”


“Ekh! Sa- saya juga tidak tahu Tuan, mereka datang sebagai utusan kalau tidak percaya silahkan buka laci saya di dalam sana ada surat yang  mereka tunjukkan sebagai perintah resmi dari kerajaan.


“Duke tidak pernah meminta surat pemberitahuan persetujuan dari kerajaan hanya untuk mencari putrinya, dia tidak pernah melibatkan masalah keluarganya dengan  kerajaan tapi kalau memang ada maka kerajaan memang mencari Leathna karena Leathina dianggap sebagai seorang pahlawan karena menyelamatkan kerajaan.” Batin Edward, kemudian mencari surat yang diaksud oleh Tuan Baul.


“Ini surat palsu!” gumam Edward setelah melihat surat yang dia ambil dari laci.


“Dimana mereka sekarang?”


“Saya tidak tahu, mereka datang haya untuk meminta saya untuk membuat pengumuman resmi disini.”


"Mana laki-laki yang tadi ku bawa pulang?!"


"Kami tidak tahu Nina."


...


“Ada apa!”


‘Apa yang terjadi?!”


“Kenapa kalian bisa tidur di depan pintu?!”


“Ada penyusup!”


Terdengar keributan di luar ruangan, Aleda datang mencari Edward yang tidak kunjung datang ke ruangannya disaat yang bersamaan prajurit yang kebetulan lewat berpatroli menemukan rekannya yang berjaga di depan pintu pingsan kemudian memaksa masuk ke dalam ruangan Tuan Baul karena tahu ada penyusup di kediaman mereka.


“Sepertinya di luar sedikit kacau.” Gumam Edward sambil melihat pintu yang kini sudah digedor-gedor dari luar oleh para prajurit.


“Kau!”


“I- iya?!” Jawab Tuan Baul spontan.


“Tidak ada orang yang pernah datang kesini!! katakan pada orang-orangmu bahwa kau sengaja mengunci pintu dari dalam, paham!”


“Ba- baik.”


“Jika kau mencoba mengejarku maka aku akan mengejarmu kembali, dan melaporkan pada Kerajaan bahwa kau menyelundupkan barang-barang berharga masuk ke kerajaan tanpa membayar pajak pada kerajaan,”


“Ekh! Da- darimana kau tahu?!”


...***...