I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 194



“Hufff!”


Leathina kembali menghela nafa berat dan memijat keningnya perlahan untuk mengurangi frustasinya karena menghadapi naga gila dan keras kepala yang tidak mau melepaskannya.


“Kalau aku terus-menerus bertengkar dengan naga gila ini bisa-bisa aku benar-benar akan tinggal selamanya disini, itu tidak boleh terjadi aku harus segera mencari jalan keluarnya agar aku bisa segera keluar dari tempat ini.” Batin Leathina yang mulai kembali frustasi memikirkan bagaimana caranya ia bisa pergi dari tempat aneh itu dan kembali ke kerajaan untuk menemui keluarganya.


“Aku mau pulang!” ucap Leathina lagi setelah lama terdiam.


“Pulang saja sana, aku tidak akan pernah mau mengantarmu jadi pulang sendiri jika kau mau.  Itu pun jika kau bisa asal kau tahu tidak ada tempat yang lebih aman dari tempat tinggal ku ini.”


“Kau sengaja menakut-nakuti aku kan!”


“Kau kan liat sendiri saat aku membawamu ke sini, kita melewati barrier pelindung yang aku buat. Penghalang itu untuk melindungi semua orang yang tinggal disini karena banyaknya monster dan hal berbahaya lainnya di luar sana.”


“Baiklah kalau kau tidak mau membawaku kembali maka aku yang akan pulang sendiri dengan caraku sendiri.” Ucap Leathina yakin kemudian langung pergi meninggalkan mansion dan yang lainnya bergegas untuk kembali ke kerajaan.


“Ini kesempatanku masalah bahaya atau menghadapi monster di luar sana itu urusan belakangan yang lebih penting sekarang adalah keluar dari sini terlebih dahulu.” Batin Leathina sambil cepat-cepat melangkah pergi sebelum naga yang menculiknya itu berubah pikiran dan kembali menahannya.


“Hah, jangan main-main aku yakin kau akan kembali ke sini untuk meminta bantuan sesaat setelah kau menginjakkan kakimu ke luar penghalang itu.” Ucap sang naga acuh tak acuh.


“Bukan urusanmu juga dan aku tidak akan pernah kembali lagi ke sini dengan kemauanku sendiri, dasar naga gila.” Umpat Leathina dalam hati.


“Anu... tuan.” Panggil pelayannya.


“Ada apa?”


“No-nona Leathina benar-benar pergi melewati barrier pelindung.” Ucapnya takut memberitahu tuannya.


“Biarkan saja aku yakin tidak lama lagi dia akan kembali dengan sendirinya, aku akan beristirahat di dalam mansion sebelum itu aku akan memberishkan diriku jadi siapkan untukku.”


“Baik tuan.”


Tanpa memperdulikan kepergian Leathina ia kembali ke mansionnya karena berpikir Leathina pasti akan lengsung terbiri-birit kembali ke kediamannya karena ketakutan setelah merasakan betapa mengerikannya berada di luar barrier pelindung.


Kemudian satu jam telah berlalu, setelah itu dua jam kemudian berjam-jam berikutnya Leathina tetap tidak kembali seperti dugaannya membuatnya tidak bisa beristirahat dengan tenang sesuai harapannya karena memikirkan Leathina yang benar-benar pergi dan belum juga kembali.


“Apa perempuan aneh itu kembali?” tanyanya saat salah satu pelayannya datang ke ruangannya.


“Beluam tuan, sepertinya nona Leathina benar-benar pergi sekarang.”


"Benarkah?” tanyanya lagi mencoba mencari pembenaran.


“Iya tuan, Nona Leathina masih belum kembali.”


“Baguslah, aku jadi tidak perlu mengurusi wanita berisik itu. Lagi pula apa yang aku pikirkan saat itu sampai membawanya ke tempat tinggal ku yang berharga ini.” Gumamnya kemudian kembali merebahkan tubunya dengan nyaman di atas tempat tidurnya mencoba kembali tertidur.


“Perempuan itu belum kembali?” tanyanya lagi ke setiap pelayan yang datang ke ruangannya.


“Belum tuan.”


Ia bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya kemudian mengusap kasar rambutnya yang jatuh menutupi separuh wajahnya.


“Bagaimana dengan perempuan itu masih belum kembali?” tanyanya lagi pada pelayannya yangg kebetulan datang untuk merapikan ruangannya.


“Belum tuan.”


“Dia pasti kembali aku yakin itu, belum pernah ada manusia yang kembali hidup-hidup terlebih lagi semua manusia itu lemah kan bahkan jatuh saja bisa langsung mati jika dia pintar dia pasti akan kembali.” Gumamnya yang masih yakin Leathina pasti akan kembali ke mansionnya.


Lama ia berdiam diri di ruanganya menghabiskan waktu kemudian melihat keluar jendela dan mendapati bahwa matahari sudah akan tenggelam.


“Apa perempuan itu masih belum kembali?” gumamnya penasaran.


“Tuan apa ada yang ingin anda makan untuk makan malam nanti?” tanya pelayannya yang datang.


“Apa dia masih belum kembali?” tanyanya lagi mengabaikan pertanyaan pelayannya.


“Siapa tuan?”


“Perempuan gila yang aku bawa itu?”


“Belum tuan, dia belum kembali dan ini sudah pertanyaan yang ke 67 kalinya tuan bertanya tentangnya tapi sepertinya dia sudah mati.”


“Benarkah?!”


“Kenapa terkejut bukankah manusia memang lemah Tuan, lagi pula jika tuan mau saya akan mengutus seseorang untuk membawakan manusia baru.”


“Tidak usah, yang aku tanyakan perempuan itu kenapa kau malah menawarkan manusia baru mengurusi satu manusia saja sudah repot kau malah ingin menambahnya.”


“Kalau begitu apa perlu saya mengutus seseorang untuk mencarinya dan membawanya kembali.”


“Tidak perlu, biarkan saja. Dia sendiri yang mau pergi.”


“Baiklah saya mengerti tuan, jadi makan malamnya?”


“Apa saja, cepat keluar dari ruanganku”


“Baik tuan”


Setelah pelayannya keluar ia kembali duduk bersantai tapi pikirannya tidak bisa santai sedikipun di kepalanya masih terbayang-bayang sosok perempuan gila yang secara sembarangan ia bawa ke tempat tinggalnya.


“Akh!” kekesalannya memuncak saat mengingat perkataan pelayannya sebelumnya yang mengatakan bahwa perempuan yang ia bawa mungkin sudah mati serta kata manusia lemah terus berputar-putar di kepalanya.


“Aku bukannya khwatir pada perempuan gila itu, aku hanya ingin memastikan saja apa dia masih hidup atau sudah mati dan kalau sudah mati sebagai mahkluk yang baik aku akan memberikannya pemakaman yang baik sebagai bentuk pertanggungjawaban ku telah membawanya kesini.” Ucapnya meyakinkan diri kemudian keluar dari kamarnya menuju balkon dan langsung melopat ke luar.


Dengan cepat ia sudah berpindah dari tempat ke tempat lainnya mencari keberadaan Leathina di luar barrier yang melindungi wilayahnya.


“Permisi tuan makananya sudah siapa silah...” ucapan si pelayan terhenti saat tidak menemukan tuannya di ruagannya.


“Kemana dia?” gumamnya sambil menelusuri seluruh ruangan dengan matanya tapi tetap tidak menemukan siapa-siapa di sana.


“Kenapa kau datang sendiri kemana tuan?” tanya teman-temannya yang lain saat melihatnya datang sendiri.


“Tuan tidak ada di ruangannya dan sepertinya sedang ada urusan penting.” Ucapnya sambil kembali memunguti piring-piring yang sudah di tata rapi di atas meja makan.


“Kenapa tiba-tiba sekali?”


“Aku juga tidak tahu, cepat rapikan kembali kita hanya perlu mempersiapkan ulang makan malamnya jika tuan kembali."


“Baiklah.”


Seluruh makanan dan piring-piring yang sudah di tata di atas meja makan dikembalikan ke dapur oleh para pelayan kemudian setelah itu melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


...


“Seharusnya dia masih belum pergi terlalu jauh kan?” ucapnya kemudian kembali melakukan pencariannya.


Lama dia mencari tapi masih belum juga menemukan keberadaan Leathina sementara matahari sudah benar-benar tenggelam hanya cahaya bulan yang bisa menjadi sumber cahaya pengelihatan di tengah gelapnya hutan.


“Aku bisa melihat dengan mudah tapi bagaimana manusia lemah bisa melewati malam yang berbahaya di dalam hutan ini.”


“Mungkin benar dia sudah mati kalau begitu tinggal cari mayatnya saja.” Ucapnya sambil terus melakukan pencarian.


Ia sudah semakin menjauh dari mansionnya tapi belum juga menemukan keberadaan Leathina membuatnya emosi karena terlalu sulit menemukan satu manusia mungil di tengah hamparan hutan walaupun bisa melihat dan mendengar dengan jelas yang membingungkan adalah dia masih belum bisa menemukan keberadaan Leathina.


“Bau darah.” Gumamnya ketika tidak sengaja mencium bau menyengat.


“Ini bukan darah manusia tapi darah monster apa mereka saling bertarung dan kemudian saling membunuh kenapa ada banyak yang mati.” Ucapnya saat mendapati banyak mayat-mayat monster yang ditemukannya.


...


“Astaga kenapa hutan ini luas sekali sih!” Umpat Leathina yang mulai kelelahan berjalan dan masih belum berhasil keluar dari hutan.


“Aku juga tidak tahu kemana aku harus pergi tidak ada jalan yang bisa aku lewati apa mereka semua tidak pernah keluar dari mansion itu?!” gumamnya kesal karena benar-benar tidak bisa menemukan jalan dan terpaksa harus menerobos semak belukar di dalam hutan.


Setelah Leathina berhasil melewati barrier pelindung dan memilih untuk pergi ia sebenarnya tidak tahu jalan pulang yang ia pikirkan hanyalah pergi terlebih dahulu dan sejak tadi Leathina hanya menerobos hutan tanpa tahu kemana ia pergi.


“Apa naga gila itu hanya menakut-nakutiku saja ya? sejak tadi aman-aman saja belum ada monster yang muncul ataupun makhluk aneh yang berkeliaran di hutan ini.” Gumam Leathina sambil mengamati sekitarnya dan tidak menemukan adanya tanda-tanda makhluk berbahaya.


Setelah lama memeriksa Leathina kembali meneruskan perjalanannya untuk menemukan jalan kembali.


Tujuannya saat ini hanyalah menemukan ujung hutan dan menemukan orang ataupun desa yang paling terdekat untuk menanyakan dimana sekarang dia berada agar bisa mengetahui kemana ia harus pergi.


Leatina terus berjalan tanpa tahu arah berharap menemukan seseorang atau petunjuk jalan hingga tanpa ia sadari matahari telah tenggelam dan memasuki waktu malam membuatnya menghentikan perjalanannya karena terlalu gelap untuk melihat jalan dan memilih untuk beristirahat sampai matahari terbit kembali.


“Trak!”


“Trak!”


Belum lama Leathina beristirahat di tempatnya tiba-tiba terdengar suara aneh tidak jauh dari tempat peristirahatannya.


“Tak!”


“Tak!”


Terdengar lagi suara aneh dari arah yang berlawanan membuat Leathina panik dan menjadi was-was.


Karena tidak tahu apa yang datang mendekatinya cepat-cepat Leathina memanjat naik ke atas pohon sebisanya dan bersembunyi di atas sana.


“Apa-apaan ini?!” gumamnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat dari atas pohon yang dipanjatinya.


Leathina mendapati bahwa hutan itu sepertinya hidup di malam hari, terlihat beberapa monster yang mulai berkeliaran bahkan ada pula yang bergerombol, mereka semua seperti beraktivitas selayaknya manusia di malam hari bedanya mereka terlihat tidak berbaur dengan yang lainnya dan hanya berurusan dengan ras mereka masing-masing.


“Kalau aku ketahuan, aku mungkin jadi makanan mereka.” Batinnya mulai cemas dan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara agar keberadaanya tidak diketahui.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang, bagaimana bisa aku tidur di atas pohon semalaman.” Batin Leathina.


Sekelompok Monster berkepala botak dan berbadan kerdil dengan taring besar keluar dari mulutnya lewat di bawah pohon yang ditempati Leathina bersembunyi membuat Leathina panik dan sebisa mungkin tidak bersuara karena tidak memiliki apaun yang bisa melindungi dirinya sendiri, ia pergi tanpa membawa apa-apa dan hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.


“Ada apa?” tanya salah satu monster pada temannya yang tiba-tiba berhenti tepat di bawah pohon tempat Leathina bersembunyi.


“Aku mencium aroma manis.”


Setelah mendengar ucapan temannya yang tiba-tiba berhenti tadi yang lainnya kemudian ikut terdiam dan malah fokus mencium bau manis yang di maksud temannya.


“Ini seperti bau manuisa perempuan.”


“Mati aku!” Batin Leathina panik kemudian karena saking takutnya ketahuan ia sampai menahan nafas karena merasa bahwa suara nafasnya pun pasti bisa mereka dengar.


“Benarkah? Aku tidak tahu karena sudah lama tidak pernah bertemu manusia.”


“Mana mungkin ada manusia disini, kalaupun ada yang masuk ke dalam hutan berbahaya ini seluruh penghuni hutan yang lainnya pasti sudah gempar.” Ucap temannya menimpali.


"Benar juga, kau pasti lapar.”


“Iya ayo jalan kembali.”


“Huff...” Leathina menghela nafas lega setelah melihat mereka berjalan pergi kemudian kembali panik saat melihat ada gerombolan monster lagi dari arah berlawanan yang datang mendekat ke tempatnya bersembunyiannya.


“Apa lagi ini.” Ucap Leathina panik kemudian cepat-cepat memperbaiki posisinya yang hampir terjatuh.


“Trak!”


“Akh!”


Tidak sengaja Leathina mematahkan ranting kecil dan menimbulkan suara dan berhasil menarik perhatian monster yang melewati pohon tempatnya bersembunyi.


“Ada kelompok lain yang mengikuti?” tanya salah satu monster pada temannya yang mulai was-was.


“Tidak tahu aku periksa dulu.” Ucap lawan bicaranya sambil mengawasi sekitanya.


“Kalau dia mendongak ke atas sudah pasti dia akan melihatku.” Batin Leathina yang kembali panik.


“Tak!”


“Arrrgh!”


Sebelum monster itu mendongak cepat-cepat Leathina mematahkan ranting baru kemudian melemparkannya sampai mengenai gerombolan monster sebelumnya yang pergi dan belum terlalu jauh serta masih berada dalam jarak jangkauan lemparan Leathina.


Ujung ranting yang Leathina lemparkan berhasil melukai salah satu monster yang sebelumnya pergi dan membuatnya marah kemudian mengamuk mencari tahu siapa pelakunya.


“Kelompok sialan!” Teriaknya marah saat melihat ke arah gerombolan monster yang masih berdiri tepat di bawah pohon tempat Leathina bersembunyi.


Mereka mengira bahwa merekalah yang melempar kemudian langsung membalas dengan melemparkan dahan pohon yang berukuran sedikit lebih besar hingga mengenai salah satu dari mereka.


Kesalahapahaman diantara dua kelompok yang sengaja Leathina buat langsung memancing perseteruan kemudian berujung pada pertengkaran dan berakhir pada pertarungan antara dua kelompok monster membuat Leathina yang menonton dari atas pohon merasa bersalah karena pertengkaran dua kelompok itu.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kalian bertengkar kok tapi nyawaku lebih penting." Batin Leathina yang merasa bersalah atas pertarungan yang terjadi diantara dua kelompok monster.


Masing-masing dari dua kelompok sama-sama tangguh dan belum juga ada yang kalah atau menang hingga pertarungan antar dua kelompok itu terus berlanjut dan menimbulkan banyak kerugian di antara keduanya.


Barang-barang yang mereka angkut hancur kemudian beberapa dari mereka berakhir mati mengenaskan dan tidak sedikit yang terluka dan karena belum juga ada pemenang atau yang kalah kedua kelompok akhirnya memilih untuk berhenti dan segera pergi memisahkan diri.


“Dua orang mati dari kelompok yang tadi mencium aroma manusiaku dan tiga dari kelompok yang mendengar saat aku tidak sengaja mematahkan ranting selebihnya banyak yang luka-luka, sayang sekali. Tapi maafkan aku.” Batin Leathina sambil fokus melihat ke bawah pohon takut jika ada lagi monster yang tiba-tiba muncul.


...***...