
“Sudah sore ya?” gumam Leathina saat melihat ke luar jendela dan menemukan langit telah berubah berwarna menjadi jingga.
Dengan susah payah Leathina mengubah posisi tidurnya agar bisa melihat keluar jendela dan melihat matahari tenggelam, dilihatnya matahari perlahan-lahan menghilang dan kemudian pelan-pelan berubah warna menjadi gelap.
“Tidak ada masalah dengan fungsi tubuh, tangan dan kakiku masih berfungsi dengan baik. Hanya saja tubuhku masih kaku semua karena lama tertidur dan sulit menggerakannya. Sebaiknya besok aku harus mulai berlatih fisik untuk membiasakan tubuhku bergerak kembali.” Gumam Leathina pelan sambil mencoba menggerakkan tangan dan kakinya agar tidak terlalu kaku.
“Ah, aku lupa bertanya pada Anne mengenai apa yang terjadi pada Denisa dan Diane. Aku juga penasaran apakah Yasmine telah tertangkap atau bahkan telah dihukum sesuai kejahatannya.” Gumam Leathina kemudian menghela nafas panjang. “Akan aku tanyakan nanti saja saat Anne datang lagi.” Ucap Leathina kemudian menutup matanya karena merasa lelah.
“Tok... tok.. tok...”
Baru saja Leathina menutup matanya dan berusaha untuk tertidur, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang hingga membuatnya langsung tersadar kembali.
Leathina menunggu beberapa saat dan belum ada seorang pun yang masuk, itu berarti itu bukan anne dan orang yang mengetuk tengah menunggu persetujuan dari si pemilik kamar agar bisa masuk ke dalam.
“Masuk!” teriak Leathina mempersilahkan.
“Permisi Nona,” ucapnya sopan kemudian membungkuk memberi hormat setelah masuk ke dalam ruangan Leathina.
“Kalian?!” Leathina terkejut saat melihat siapa yang mengunjungunya.
“Nona Leathina apa kabar,” ucapnya kemudian tersenyum ramah senang melihat Leathina. “Saya senang melihat nona bisa sehat kembali, saya hanya ingin menyapa dan melihat nona Leathina secara langsung.”
“Leathina!” teriak salah satu dari mereka kemudian segera memeluk Leathina, “Aku pikir kau tidak akan membuka matamu lagi.” Ucapnya dan masih memeluk Leathina.
“Ni- nina, apa yang kalian lakukan disini? Apa sekarang kalian menyusup ke rumahku?” tanya Leathina yang terkejut melihat ketiga teman-temannya.
Troy tersenyum bahagia melihat Leathina dan adam hanya melambaikan tangan untuk menyapa nya sementara Nina sudah memuluk Leathina sedari tadi.
“Hei! Kau membuatnya sesak berhentilah memeluknya.” Ucap Troy memberitahukan Nina.
“Kau seharunya tidak ikut kemari, kau penganggu!” ucap Nina kesal dan segera melepaskan Leathina.
“Ah, maafkan aku. Aku tidak bisa menyambut kalian dengan baik, kau tahu tubuhku sekarang masih lemah dan kaku karena terlalu lama berbaring.” Leathina tersenyum canggung melihat mereka bertiga.
“Kau kenapa bertingkah aneh seperti itu Leathina, bersikaplah seperti biasanya. Ah, tenang saja kami kesini bukan dalam misi pembunuhan dan walaupun kami dalam misi tentu saja targetnya bukan kamu.” Ucap Adam dengan nada bercanda tapi Leathina yang mendengarnya malah merasa sedikit ngeri dengan mereka bertiga, Leathina berfikir bagaimana jika mereka benar-benar mendapatkan misih pembunuhan dan tergetnya adalah dia.
“Candaanmu tidak lucu Adam!” ucap Leathina kemudian bergidik ngeri.
“Hahaha!!!” Mereka pun tertawa bersama.
“Nona apa anda baik-baik saja?!” tanya seorang penjaga yang tidak sengaja melewati ruangan milik Leathina dan mendengar suara berisik, mereka semua langsung terdiam.
“Aku baik-baik saja!” teriak Leathina untuk memberitahu si penjaga yang sepertinya sedang berpatroli.
“Baiklah Nona, saya paham.” Jawabnya kemudian terdenga suara derap kaki berjalan pergi.
“Untung saja, kalian jangan terlalu berisik.” Nina dengan ketus menonjok lengan Troy.
“Aww!” Troy menahan sakit karena nina memukulnya sangat keras.
“Jadi malam itu, apa yang kalian lakukan? Tentu saja kalian tidak datang hanya untuk menikmati pesta bukan?” tanya Leathina yang secara mendadak menjadi serius.
“Hei, hei, kau baru saja sadar kenapa malah mengintrogasi kami.” Ucap Troy yang ingin mengalihkan pembicaraan.
“Katakan yang sejujurnya bukankah Edward memerintahkanmu sesuatu malam itu?” tanya Leathina lagi yang tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk mengalihkan pembicaraan.
“Ah, kau tahu siapa pageran Edward?” tanya Nina yang terkejut mendengar ucapan Leathina.
“Iya aku tahu. Aku tahu untuk siapa kalian bekerja dan siapa yang kalian ikuti, jadi katakan padaku malam itu apa yang terjadi?”
“Pangeran Edward meminta kami untuk mencari Yasmine yang masuk ke dalam hutan hitam.” Jawab Adam.
“Jadi, apa kalian menemukan perempuan itu?” tanya Leathina lagi penasaran apa yang telah terjadi pada Yasmine.
“Kami mengejarnya masuk ke dalam hutan malam itu, tapi kami tidak dapat menemukannya.”
“Sama sekali tidak ada jejaknya?”
“Kami mengikuti jejak darah karena Yasmine terluka setelah bertarung dengan Pangeran Edward tapi di tengah-tengah pencarian tiba-tiba jejaknya menghilang, kami bahkan menyusup ke dalam regu pencari yang dibentuk oleh Winter dan hasilnya pun sama. Tidak ada yang bisa menemukannya bahkan tidak ada jejak atau pun petunjuk.”
“Apa mungkin dia telah mati?”
“Itu dugaan kami, tapi kami tidak menemukan mayatnya dimana pun.”
“Jadi seperti itu, Yasmine masi belum ditangkap dan belum diadili atas perbuatan kejahatan yang telah ia lakukan.”
“Jika Yasmine masih belum tertangkap, itu berarti dia kapan saja bisa kembali untuk membalaskan dendamnya padaku dan disaat itu mungkin dia telah menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.” Batin Leathina yang kemudian menjadi kepikiran mengenai apa yang harus ia lakukan kedepannya.
“Maafkan kami Lea, kami tidak bisa menangkapnya untukmu. Tapi kami masih dalam misi pencarian.” Ucap Nina mencoba menyemangati Leathina yang terlihat murung.
“Tok... tok... tok ...”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar membuat mereka berempat saling bersitatap karena terkejut.
“Mungkin itu duke,” bisik Leathina yang kemudian segera meminta mereka bertiga untuk bersembunyi di bawah kasurnya.
“Tidak perlu, kami dalam masa penyamaran.” Ucap Troy sambil menunjuk pakaiannya yang ternyata sedang mengenakan pakaian pelayan.
“Ah, kalau begitu keluar lah senatural mungkin.” Ucap Leathna paham dan memerintahkan mereka untuk segera keluar.
“Selamat tinggal Lea,” ucap Nina mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi meninggalkan Leathina dan memeluk Leathina singkat dan segera pergi.
Leathina tersenyum kemudian balas memeluk Nina, “Hati-hati, dan sampai bertemu kembali.” Bisik Leathina dan melepaskan pelukannya.
“Aku pergi Lea,” ucap Adam sambil mengajak-acak rambut Leathina yang memang sudah berantakan.
“Jaga dirimu,” ucap troy yang menepuk pelan lengan Leathina.
“Trak” pintu berderit saat Adam membuka pintu dari dalam dan melihat dua orang pria yang kini berdiri di depan pintu.
“Salam tuan.” Ucap Adam menyambutnya dan sedikit membungkuk diikuti oleh Troy dan Nina agar wajahnya tidak terlihat.
“Apa nona Leathina ada di salam?” tanyanya ragu-ragu.
“Nona ada di dalam.” Jawab troy singkat.
“Apa kami boleh masuk?” tanyanya lagi.
“Saya akan menanyakannya dulu Tuan,” ucap Nina dan kembali berjalan ke arah Leathina berada.
“Ada dua orang yang ingin bertemu dengan anda nona Leathina,” ucap Nina yang sengaja membesarkan suaranya agar dua orang di depan pintu itu percaya jika mereka bertiga benar-benar seorang pelayan.
“Baiklah, suruh mereka masuk.” Jawab Leathina paham, dan mengikuti alur peran yang Adam, Troy dan nina lakukan.
“Silahkan masuk tuan,” ucap Nina mempersilahkan setelah mendapati jawaban dari Leathina.
Troy, Adam, dan Nina pun langsung keluar dan segera pergi meninggalkan ruangan Leathina membiarkan dua pria tadi masuk untuk menemui Leathina.
“Salam Nona Leathina, lama tidak bertemu.” Ucapnya kemudian membungkuk untuk memberi hormat pada Leathina.
“Damian!” seru Leathina melihat Damian kembali. “Dan siapa ini aku rasa wajah kakakmu tidak seperti ini?” tanya Leathina ketika bingung melihat satu pria lagi yang berdiri di sampingnya.
“Ah, Ini Farkas.” Jawab Damian kemudian langsung menarik bahu Farkas untuk membungkuk dan memberi hormat. “Perkenalkan dirimu dan jangan menatapnya seperti itu dia bukan makanan dia itu putri tuan duke Leonard orang yang membawamu kesini.” Bisik Damian memberitahu Farkas dan menegur Farkas karena sedari tadi terus menatap Leathina.
“Sa- saya Farkas,” ucapnya terbata-bata saat memperkenalkan dirinya dan masih menatap ke arah Leathina.
Farkas menurut pada Damian dan langsung membungkuk dan memperkenalkan dirinya pada Leathina.
“Apa yang membawa kalian kemari?”
“Kami ingin mengunjungi Nona Lea.” Jawab Damian kemudian tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ah, terimakasih. Ternyata kalian juga menkhawatirkan aku, tapi siapa yang mengizinkan kalian masuk?”
“Tuan duke yang membawa kami ikut bersamanya, kami bertemu saat dalam perjalanannya ke hutan timur.”
“Jadi seperti itu, maafkan aku yang tidak bisa menyambutmu karena tubuhku masih lemah.” Leathina tersenyum ramah.
“Ah, tidak apa-apa Nona. Kami yang salah datang berkunjung diwaktu yang kurang tepat kalau begitu kami perisi dulu silahkan beristirahat.” Ucap Damian canggung tapi masih merasa senang ketika bisa melihat Leathina kembali.
Damian pun pamit dan segera keluar karena takut menganggu Leatina dan membuat Leathina kelelahan.
“Dia itu putru tuan duke, sekaligus orang yang menyelamatkan aku dan semua orag yang ada di desaku jadi kau harus berbuat baik padanya Farkas.” Damian terus berbicara memberitahu Farkas mengenai seluruh pengalamannya dari awal pertama ia bertemu dengan Leathina.
“Farkas?” panggil Damian lagi karena selama ia berbicara tidak ada tanggapan dari Farkas.
“Farkas!” serunya saat ternyata farkas tidak ada disekitarnya dan segera kembali ke ruangan Leathina untuk mencarinya.
“Maaf tuan apa masih ada yang ingin anda bicarakan dengan saya?” tanya Leathina yang merasa canggung bersama dengan Farkas yang masih belum keluar sementara Damian telah keluar.
Farkas hanya terdiam, dan masih terus melihat Leathina membuat Leathina merasa risih karena ia belum mengenal Farkas.
“Kau mau menjadi pasanganku?” tanya Farkas tiba-tiba.
Leathina membulatkan matanya terkejut dengan pernyataan Farkas yang secara mendadak memberikan pertanyaan tidak masuk akal dengannya.
“Plak!”
Damian memukul kepala Farkas yang mendengar apa yang barusan Farkas katakan kemudian memaksanya menunduk untuk meminta maaf.
“Dia bukan sebangsamu, dia itu manusia jangan asal bicara.” Bisik Damian gemas dengan perilaku Farkas.
“Sebangsamu, apa dia bukan manusia?” tanya Leathina dan menatap Farkas yang memang berperilaku aneh sejak tadi.
Farkas sesekali mengusap punggung tanganya sendiri dengan wajahnya dan selalu menatap ke satu arah seperti mengintai sesuatu.
“Ah, sebenarnya Farkas adalah ras dari manusia serigala dan tidak sengaja bertemu dengan tuan duke leonard. Dia terpisah dari keluarganya dan tidak memiliki tujuan jadi duke leonard memperbolehkannya ikut kekerajaan, ini pertama kalinya dia melihat banyak manusia selama ini dia tinggal dihutan hitam.”
“Manusia serigala?”
“Iya Nona Leathina, saya mohon tolong dirahasiakan karea jika tersebar tuan duke akan dalam masalah nantinya.”
“Baiklah, Farkas terimakasih telah datang mengunjungiku.” Ucap Leathina paham dan tersenyum ramah menyambut farkas yang ternyata adalah tamu yang dibawa ayahnya.
“Kalau begitu kami permisi nona, maaf karena telah menganggu waktu istirahat Nona Leathina.” Ucap Damian dan segera menarik paksa Farkas keluar.
“Duh, aku kan sudah memberitahumu kalau dia itu putri tuan duke leonard jadi jangan macam-macam dengannya. tuan duke bisa langsung membunuhmu jika dia tahu kau menganggu putrinya.” Damian terus menceramahi Farkas sepanjang perjalanannya kembali ke ruangan mereka.
“Kenapa?” tanya Farkas lugu.
“Itu karena dia berbeda denganmu, pokoknya kau tidak boleh berkata seperti itu dengannya lagi. Apa selama ini kau hidup seperti itu, melihat lawan jenis langsung ingin menjadikannya pasanganmu?”
“Tidak, dia yang pertama. Dia cantik dan baik.”
“Dia memang cantik dan baik, tapi bukan berarti dia milik semua orang.”
“Kenapa? dia menyukaiku, dia tersenyum padaku.” Ucap farkas bersikeras.
“Dia tersenyum padamu karena memang dia orang baik, tidak semua senyuman menandakan rasa suka Farkas. Nona Leathina juga tersenyum padaku tadi.” Damian emosi menjelaskan pada Farkas yang tak kunjung paham.
“Pokonya dunia manusia itu rumit, jadi jangan membawa kebiasaan aneh dari asalmu ke sini. Tuan duke kan sudah bilang kau harus patuh dengannya apapun itu, dan dia tidak mungkin mengizinkanmu menganggu putrinya.”
“Kenapa, dia menyukaiku?” tanya Farkas lagi.
Damian menarik rambutnya karena kesal Farkas masih saja belum paham.
“Farkas aku peringatkan pokoknya jangan berani macam-macam dengan nona Leathna, intinya jangan pernah mendekatinya lagi jika tidak ingin mati, paham?”
“Ken ...?”
“Bilang saja kau paham, jangan bertanya lagi, pokoknya jangan! Kau boleh melihatnya dari kejauhan tapi jangan mendekatinya.”
Farkas hanya terdiam kemudian segera mengangguk paham karena Damian memelototinya.
“Disampingnya banyak laki-laki hebat, contonya Pangeran Edward dan tuan Zeyden. Sekali serang kau bisa langsung mati jadi jangan mecam-macam untungnya Nona Leathina tidak seperti kebanyak bangsawan lainnya dan membiarkan masalah ini begitu saja, jika dia seperti yang lainya lidahmu mungkin sudah dipotong oleh penjaga. Ayo kita harus kembali ke ruangan kita, sepertinya banyak yang mengawasi kita sekarang.” Ucap Damian saat merasa terus diawasi oleh para pelayan dan penjaga karena mereka berdua hanyalah orang biasa, tapi duke memperlakukannya dengan baik jadi tidak ada yang berani menganggu mereka.
Farkas menoleh dan melihat ke sekelilingnya, dilihatnya beberapa orang memang diam-diam mengamatinya tapi kemudian berpura-pura tidak melihat mereka berdua saat farkas menoleh melihat mereka.
...
“Ah, apa itu tadi? Apa itu pernyataan cinta? Ada-ada saja.” Gumam Leathina saat mengingat kembali saat farkas dan Damian mengunjunginya.
Leathina menghela nafas panjang dan menarik selimutnya sampai menutupi seluruh wajahnya.
“Memangnya ada apa dengan hutan hitam? Kalau tidak salah sepertinya Damian tadi mengatasi bahwa Farkas berasal dari sana, sebaiknya aku harus ke hutan hitam memeriksa secara langsung mengenai situasi disana jika sudah sehat nanti.” Batin Leathina yang kemudian perlahan-lahan kehilangan kesadarnya dan beberapa saat kemudian Leathina pun tertidur dengan pulas dengan wajah tertutup selimut.
...***...