I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 162



Ruangan berangsur-angsur menjadi tenang setelah kepergian semua orang dan hanya menyisakan keluarga inti yang masih tinggal di ruangan leathina menemaninya untuk mengawasi kondisi Leathina.


Hanya tersisa duke leonard, Duchess nice, nicholas, nora dan anne yang tinggal. Leathina menatap dengan canggung melihat semua orang, ia bingung harus mengatakan apa untuk menyapa mereka semua.


“Anne siapkan makanan untuk Leathina.” Ucap Duchess, meminta Anne untuk menyiapkan makan untuk Leathina.


“Baik Madam,” jawab Anne dan segera keluar menuju dapur dan meminta orang dapur untuk segera menyiapkan makanan untuk Leathina.


“Nona sudah bangun?” tanya orang-orang dengan penuh harap.


Anne menghela nafas panjang kemudian diam sebentar.


“Hais, lama sekali. Jangan memperburuk keadaan Anne, aku tidak ingin mansion menjadi suram untuk waktu yang lebih lama lagi.” Ucap kepala koki yang muncul dari balik ruangan penyimpanan makanan dengan membawa beberapa bahan makanan dan akan dimasaknya seperti yang diminta Anne.


“Nona Leathina sudah sadar.” Jawab Anne pada akhirnya, tidak ingin membuat mereka penasaran lebih lama lagi.


“Ya, tuhan syukurlah.” Jawab para pelayan hampir bersamaan.


“Tunggu saja sebentar lagi keadaan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.” Ucap pelayan yang lain.


“Maksudmu, menunggu keadaan kembali suram seperti sebelumnya? Kenapa kalian lupa bagaimana dia dulu memperlakukan kalian!” ucap seorang pelayang yang berbicara sambil mengupas seember kentang di pojokan.


“Ada apa sih denganmu. Bantah Anne kesal dengannya kemudian segera duduk menunggu masakan yang dimasak oleh kepala koki matang agar bisa segera membawakannya pada Leathina dalam kondisi hangat.


“Jangan kau pedulikan, dia mungkin masih dendam.” Bisik salah seorang pelayan kemudian menunjuk ke wajahnya sendiri seakan memperlihatkan sesuatu pada Anne.


Anne paham dan mengangguk tapi wajahnya masih ia tekuk karena kesal dengan ucapan pelayan tadi. Ia adalah pelayan yang menyimpan dendam pada Leathina karena Leathina membuat wajahnya rusak dengan menyiramkan air panas padanya, tidak ada yang berani menentang ucapannya atau menegurnya karena merasa prihatin dengannya sebab ia sudah sangat lama bekerja dan telah menjadi pelayan senior yang bekerja untuk keluarga Yarnell. Kebanyakan pelayan tua sangat tidak menyukai Leathina.


...


“Acuh!” tiba-tiba Leathina bersin.


“Kau pasti kedinginan.” Ucap duke sambil menghangatkan tubuh Leathina dengan selimut.


“Apa ada orang yang sedang membicarakannku sekarang?” batin Leathina setelah bersin, karena perasaannya sekarang sangatlah baik kecuali merasa sangat lemah karena kelaparan.


“Leathina apa tubuhmu benar-benar baik-baik saja?” tanya Duchess yang masih saja khawatir.


“Aku baik-baik saja.” Leathina menjawab dengan tersenyum untuk megurangi kekhawatiran semua orang, sebenrnya Leathina lebih lelah jika terus menerus ditanyai hal yang sama secara berulang-ulang.


“Kakak lain kali jangan membiarkan orang untuk mencium punggung tanganmu, kakak nanti akan merasa garal dan akan menimbulkan alergi.” Ucap Nora memperingati Leathina.


“Tapi bukankah itu akan menjadi tidak sopan, orang-orang mungkin akan berfikir aku ini tidak pernah diajarkan tatakrama.” Ucap Leathina memberitahukan pada Nora.


“Ka- kalau begitu, jangan membiarkan mereka berlama-lama mengenggam tanganmu.”


“Baiklah, akan aku lakukan.”


“Panggil aku Nico, Nicholas terlalu panjang kau mungkin akan lelah.” Ucap Nicholas dan duduk di sisi tempat tidur sambil melipat tangannya di dapan dadanya.


“Tapi bukankha kau bilang aku tidak diizinkan memanggilmu dengan nama itu.”


“Aku tidak bermaksud mengatakannya seperti itu waktu itu, aku hanya tidak ingin banyak orang memanggilku seperti itu."


“Ba- baiklah jika itu yang kau inginkan n- nico.”


Nicholas pun tersenyum puas saat Leathina memanggilnya dengan panggilan Nico.


“Aku tahu sekarang dia menyukaiku hingga memperbolekan aku memanggilnya dengan nama akrabnya, tapi lidahku terlalu kaku memanggilnya dengan nama nico karena sejak awal aku memang memanggilnya Nicholas. Terlebih sikapnya yang berubah drastis membuatku semakin merasa aneh berada disekitarnya dia seperti bukan Nicholas saja.” Batin Leathina saat melihat perubahan pola perilaku dan sikap Nicholas yang kini berubah menjadi lebih lembut padanya.


Terasa aneh bagi Leathina meilhat Nicholas bertingkah lembut padanya karena selama ini dia salau berteriak dan membentaknya jika berbicara dengan dirinya.


“Nicholas, Nora, kembalilah biarkan Leathina beristirahat kondisi tubuhnya masih sangat buruk.” Duchess Nice meminta Nora dan nicholas untuk keluar agar tidak menganggu Leathina lagi.


“Aku juga akan keluar, beristirahatlah.” Ucap Duchess kemudian ikut menyusul Nicholas dan Nora yang telah keluar terlebih dahulu.


“A- ayah, Apa ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Leathina pada duke leonard karena ia terus menatapnya.


“Aku hanya ingin melihatmu saja.”


“Ayah kan bisa melihatku kapa saja, jadi jangan menatapku seolah-olah aku akan menghilang. Cara ayah melhatku seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang akan hilang.” Leathina masih merasa canggung bersikap akrab dengan keluarganya, tapi walaupun demikian Leathina masih mencoba membiasakan dirinya karena tidak ingin lagi hdup dalam sekat-sekat hubungan yang rumit.


“Ayah apa kau terluka?” tanya Leathina ketika menyadai bahwa ada bercak darah yang menempel di pakaian duke leonard.


“Ah, tadi ada beberapa hal yang harus ayah tangani dan tidak sengaja terkena tinta merah.” Duke leonard mengelak, tidak membertahukan Leathina tentang kondisi keluarga yang tertuduh sebagai pemberontak sekarang.


“Siapaun yang melihat itu pasti akan tahu bahwa itu adalah darah.” Batin Leathina kembali mengamati bercak-bercak merah di pakaian milik ayahnya, ia juga melihat beberapa bercak yang masih menempel di pedangnya. “Apa dia habis bertarung dengan seseorang?” tanyanya tapi kemudian perhatiannya terahlikan ketika melihat wajah ayahnya yang sepertinya menyusut dari terakhir kali ia melihatnya.


Tampak wajah duke sangat tirus dan disekitar matanya menghitam, duke juga tampak sangat lesu. “Orang yang harus dikhawatirkan disini bukan aku, tapi kamu.” Batin Leathina melihat kondisi duke leonard yang terlihat begitu buruk.


“Jadi seperti itu, kalau begitu ayah juga kebalilah dan beristirahat. Sepertinya ayah terlihat sangat kelelahan.” Leathina meminta ayahnya segera beristirahat sebelum jatuh sakit karena kelelahan dan terlalu banyak pikiran.


“Baiklah kalau begitu aku akan pergi, istirahatah dengan baik Leathina. Tunggulah Anne dia akan segera membawakanmu makanan.” Ucap Duke Leonard mengusap lembut kepala Leathina kemudian segera berjalan keluar.


“Baik ayah, teriamakasih.” Jawab Leathina melepas kepergian ayahnya.


“Ah, akhirnya tenang juga.” Gumam Leathina pelan dan kemudian kembali berbaring, beberapa kali Leathina mengela nafas panjag karena memikirkan apa yang selanjutnya akan dia lakukan.


“Duke leonard terlihat sangat kelelahan, dan salah satu yang mungkin membuatnya lelah adalah karena mengkhawatirkan aku.” Gumamanya pelan dan kembali menghela nafas berat.


“Apa sekarang semuanya akan baik-baik saja? Banyak yang berubah sekarang tapi aku belum tentu akan selamat dari takdir yang mengikat ku.” Gumam Leathina kemudian kembali mengela nafasnya untuk yang kesekian kalinya.


...***...